Dengungan adzan magrib dari mushola dekat rumah mendekati bait-bait terakhir. Mataku masih terasa kosong menatap semangkok kecil es campur yang belum ada semenit tadi diletakkan Lukas pada tangannku yang kurasakan memang masih gemetar.
Di depanku juga masih ada beberapa macam makanan berbuka yang tadi dibeli Lukas. Meja di depan sofa ini disulap menjadi meja makan yang ramai akan makanan. Memang sejak aku tinggal berdua saja dengan Muthia, meja makan di dekat dapur sana hampir tak pernah digunakan untuk ritual makan. Kursinya yang awalnya ada 3 kini hanya tinggal 1. Yang lain aku jejerkan di dekat mesin jahit, aku gunakan untuk tempat menumpuk baju garapanku. Maklum, tiap kali menyuapi Muthia memang lebih banyak di depan tivi atau malah di depan rumah.
Yang sekarang ada di otakku sama banyaknya dengan isi dari es campur ini. Merah, kuning, hijau, putih. Semua ada. Bedanya, semua isi es campur ini enak untuk dinikmati. Sedang yang bergolak di otakku, tentu saja tak ada yang enak.
Tadi, sekitar sejam lalu, saat akhirnya aku menyerah mau diajak Lukas dan Muthia pergi berburu takjil dan makanan untuk berbuka di pasar sore sana kejadian itu seperti masih terus terulang di depan mataku. Seperti sebuah replay video film.
"Muthia, ati-ati dong, tuh kan nabrak or... " seruanku pada polah Muthia yang terus melangkah cepat dengan kelima jemari dalam genggaman tangan Lukas terputus begitu saja saat aku tau siapa 'korban' yang baru saja ditabrak tubuh kecil Muthia.
Entah harus kuucap hamdalah atau malah istifar menemukan seraut wajah khas yang ditopang tubuh ideal berbalut kemeja sesiku dan celana berbahan drill dengan model yang fashionable warna senada. Aroma harum tubuhnya pun mampu tercium oleh hidungku meski kami berjarak hampir 2 meter.
Ya, dia Mas Baim!
Mantan suamiku.
Rasanya ada yang tercerai berai di dalam sini saat dia membalikkan tubuhnya penuh menatapku sekilas lalu setengah membungkuk ke arah Muthia. Dan, masya Allah, dia kah dia? Perempuan disebelah Mas Baim itu...
Aku kelu mengamati perempuan semampai dengan kulit yang putih bersih dan rambut hitam lurus tergerai. Tubuhnya terbalut baju yang... Oh, perut itu...
Aku tak sadar memejam perlahan demi melihat perut perempuan yang menggamit lengan Mas Baim mesra itu seperti sedang hamil tua. Ah, bukan seperti, tapi memang sedang hamil.
"Muthia... sini, peluk ayah!" serunya merentangkan tangan.
Tapi gadis kecilku yang makin ayu dengan balutan hijab warna pink itu bukannya berhambur menyambut rentangan tangan itu, malah membalikkan tubuhnya dan bersembunyi di balik gamis cotton yang kukenakan yang mulai pudar warna maroon-nya.
"Lihat, Muthia yang masih kecil saja membencimu!" sungut Lukas tiba-tiba dan langsung membuat Mas Baim menengakkan tubuhnya seperti semula dengan kilatan tatap sinis.
"Kamu, ngapain kamu bisa sama mereka?"
Lukas tergelak, "Mereka? Siapa yang kamu sebut mereka? Aku yang hanya penonton saja tau apa yang seharusnya mereka terima, Mas!" geram Lukas cukup keras.
Ya, cukup keras dan cukup membuat banyak mata disekitar kami menatap ke arah kami berlima.
Kupeluk Muthia sekenanya dan berharap telinganya tak cukup banyak mendengar suara-suara penuh amarah itu.
Giliran Mas Baim yang tergelak.
"Jangan-jangan kalian memang sudah ada hubungan sejak dulu, "
Aku sontak mendongak seiring terucap istigfar.
"Gak usah memutar balikkan fakta! Jangan menuduh Mbak Gin sembarangan. Lihat kamu sendiri? Apa ini? Surat cerai belum keluar tapi perut wanitamu sudah sebesar itu!"
Aku menunduk dalam-dalam seraya menggigit bibirku kuat. Menahan sesak dadaku yang serasa mau meledak. Kutenggelamkan wajah Muthia dalam kain gamisku. Kini aku berharap dia tak mendengar apapun. Apapun!
"Ayolah, Lukas, aku sudah tau gelagatmu sejak pertama kali kukenalkan dia padamu. Kamu menyukainya..."
Bukkk!!
Lalu disusul suara gaduh disekitar kami. Seiring tubuh Mas Baim yang terhuyung kesamping juga pekikan kecil perempuan itu. Tak hanya itu, tangisan Muthia pun terdengar.
Ya Allah, telingaku penuh dengan suara-suara yang membuatku nyaris tersungkur.
"Dengar, mau kamu suka dia atau tidak, aku sudah tak peduli! Dan asal kamu tau, aku sudah cerai dari dia, sah!" tegas Mas Baim geram.
Mau tak mau aku mendongak, tapi payahnya bersamaan dengan genangan air mata yang sejak tadi kutahan ikut jatuh mengaliri pipiku.
"Jadi kamu mengurus ceraimu sendiri?" tanya Lukas setengah tak percaya.
''Kenapa aku harus peduli dengan orang yang punya rasa percaya diri tinggi seperti dia?"
Bukkk!!
Lagi.
Kali ini Mas Baim tersungkur cukup keras. Postur tubuh Mas Baim yang memang tak setinggi Lukas memang membuat Lukas lebih menguasai keadaan.
Keributan makin menjadi. Entah apa saja yang kemudian terjadi. Aku dan Muthia menjadi terdorong ke belakang dan tak mampu melawan orang-orang disitu yang bermaksud melerai perkelahian itu.
Aku terlalu sibuk dengan tangis histeris Muthia dalam bekapan gamisku, juga isakku sendiri. Dan mungkin, setelah ini aku akan lebih dalam menundukkan wajahku jika keluar rumah.
Tapi, dari sekian banyak yang kucemaskan itu yang paling membuat dadaku menjadi sesak adalah pernyataan Mas Baim tadi.
Apa maksudnya dia sudah cerai secara sah dariku sementara aku sendiri sejak dia mengatakan akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan 7 bulan lalu itu belum mendapat kabar apapun?
Apa ini? Kenapa jadi begini? Bukannya dulu Mas Baim yang bilang bahwa aku tak boleh mempersulit proses perceraian atau dia mengambil Muthia? Bukankah aku sudah sangat menurut dengan semua syaratnya agar Muthia tetap bersamaku?
"Mbak, "
Seluruh lamunanku buyar saat suara Lukas terdengar memanggilku. Aku mendongak sedikit. Kini dia sudah memangku Muthia yang sibuk menyendoki es cream cup kesukaannya sebagai menu takjil yang dipilhnya sendiri tadi.
"Sudah waktunya berbuka, batalkn dulu puasanya. Jangan cuma diliatin aja." lanjutnya membuatku teringat bahwa sejak tadi aku memang belum membatalkan diri untuk puasa hari ini.
Tapi kenapa tanganku terasa berat untuk digerakkan? Bahkan rasanya gemetaran.
Iqomah sudah mulai terdengar dari speaker Mushola. Sekuat tenaga kucoba mengangkat sendok dalam mangkok es campur itu. Kuseruput pelan santan bercampur susu dalam sendok itu.
Ya Allah, kenapa kenikmatan berbuka ini jadi hilang? Apa karena insiden tadi.
"Kas," panggilku serak.
"Iya, Mbak?"
"Kamu tau maksud ucapan Mas Baim tadi?" Kutatap Lukas penuh.
Lukas menurunkan Muthia dari pangkuannya dan membisikkan sesuatu ke telinga Muthia sembari memperlihatkan selembar uang lima ribuan. Muthia tersenyum kecil menerima uang itu dan berlalu menuju pintu keluar dengan masih memegang cup ice cream-nya.
Aku tak begitu peduli. Paling juga Lukas membujuk Muthia untuk membeli jajan di warung sebelah.
"Diminum dulu esnya Mbak, kan seharian Mbak Gin puasa, " bujuknya.
"Kenapa dia bilang sudah cerai secara sah? Padahal aku bahkan belum pernah mendapat panggilan dari pengadilan. "
Terdengar Lukas mendesah berat.
"Istilahnya Putusan Verstek. Jadi dalam kasus ini Mbak Gin sebagai pihak tergugat tidak pernah hadir atau mendatangkan wakil kuasanya dalam sidang. "
"Aku mana tau... "
"Itulah yang dimaksud manipulasi, Mbak! Uang bisa mewujudkan segalanya!"
"Jadi maksudnya dia sudah sah secara hukum bercerai dariku? Dan aku harus mengurus sendiri jika mau statusku jelas?"
Diam.
Lukas hanya menanggapi dengan helaan nafas panjang dan berat.
Tak sadar aku malah tergelak seiring ada setetes bulir keluar dari sudut mataku.
Ya Allah, aku tak perlu mencari dimana jalan keluar untuk semua kesempitan ini kan? Aku hanya perlu sabar dan sholat kan?
"Berhentilah menatapku seperti itu, Kas! Aku tak sehancur yang kamu pikirkan. " sergahku menyeka sisa air mata yang tadi lewat di pipi kiriku.
Ya, aku tau Lukas lagi-lagi menatapku dengan tatapan yang selalu dan selalu membuatku riskan akan keadaan ini.
Kuletakkan mangkok es campurku yang belum berkurang lagi selain sesendok tadi seiring desah nafas beratnya.
"Aku tinggal sholat magrib dulu ya, " pamitku bangkit.
Lukas melebarkan sedikit sudut bibirnya. Aku melangkah meninggalkan ruang tamu itu
Mungkin benar, aku tak perlu memikirkan sampai penat penyelesaian untuk semua masalah ini. Aku hanya perlu lebih banyak sabar dan sholat. Allah pasti sudah menyediakan proses penyelesaiannya secara detail sampai akhir ceritanya.
Hanya perlu lebih meyakinkan diri bahwa semua ini, bahwa perpisahan ini adalah yang terbaik. Meski ini sebuah perpisahan yang pahit, tapi aku yakin sebenarnya ini adalah jalan untuk sebuah kebersamaan yang manis.
Dan untuk Lukas,
Allah pasti punya alasan tersendiri kenapa menghadirkan dia yang 'berbeda' dalam perjalanan hidup kami.
BYL, 8/6/2016
22;50 WIB
Ciee... gak tau kenapa sejak tadi siang kepikiran melanjutkan cerita terdahulu "BERPISAH" dan [BENAR-BENAR] BERPISAH yang ada di bulan februari kemarin. Tapi intinya, jadi orang yang bisa berimajinasi itu sesuatu bwanget. Khayalannya bisa sampe kemana-manaaa....
Apa ini akhir dari sekuel ini? May be not, may be yes, wallahu alam.
Hehehehe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar