Sabtu, 18 Juni 2016

Berpisah [Ending]



Sepuluh menit yang terasa sangat panjang.

Yah, bahkan seeperti lebih panjang dan berat dari sepuluh tahun yang telah aku lewati selama ini.
Ya Allah, benarkah hati ini benar-benar sudah berubah warna? Benarkah sudah mati rasa dengan sosok di depan itu?

Semilir angin siang menjelang sore menyeruak masuk dari pintu rumah sederhanaku yang memang terbuka penuh. Beberapa garapan baju yang beberapa hari ini kukerjakan terbengkalai begitu saja di belakang sofa tamu yang kududuki.

Ya Allah, kalo boleh minta, bisakah Engkau percepat jalannya waktu? Dadaku terasa sangat sesak mendengar detak sekon jam dinding itu.

Sosok di depan itu sepertinya masih sibuk meneliti satu persatu foto yang terpajang di dinding dan beberapa di buffet yang merapat dekat pintu kamar tidur Muthia.

"Jadi Muthia salah satu anggota Marchingband? " tanyanya seperti menggumam, tanpa mengalihkan pandangannya pada foto ukuran 30R Muthia yang sedang berpose dengan seragam kebesarannya juga bellyra-nya saat mengikuti lomba Marchingband antar sekolah 2 tahun lalu, awal masuk SLTP.

"Padahal dulu waktu kecil takut sama orang, gak nyangka gede-gede jadi pede begini? Pasti dia sudah jago banget memainkan... apa ini namanya?" Kali ini wajahnya menoleh ke arahku sebentar dengan senyum bangga yang begitu kentara.

"Bellyra," jawabku singkat, tapi rasanya berat sekali tenggorokan ini mengeluarkan kata itu.

Dia manggut-manggut seperti mengerti sambil kakinya bergeser ke bingkai foto yang lain.

"Berarti Muthia mahir dalam melodi ya? Hmmm, tak jauh beda denganku."

Hei, kenapa rasanya ada yang sakit mendengar pengakuan itu?

"Dia tumbuh jadi gadis yang cantik, sama sepertimu, Gin,"

Deg!
Tak sadar aku mendongak menatapnya yang memunggungiku. Meski perlahan tubuhnya memutar dan menghadap padaku, mataku belum juga beranjak menatapnya. Tapi entah karena apa, aku kemudian malah tergelak.

Sumpah, kalimatnya barusan seperti sebuah fatamorgana. Bahkan seperti ilusi yang aneh. Siapa yang dibilangnya cantik? Aku? Setelah lebih dari 10 tahun terlewatkan? Yang benar saja!

"Maaf, Gin!" katanya kemudian, dengan menunduk. Seperti tak berani menatap mataku yang sedang memancarkan sinar sepanas terik matahari di luar sana.

"Aku memang sangat terlambat menyadari bahwa hanya kamu yang bisa menerima dan menemani aku dalam berbagai keadaan, "

"Mas..., " sergahku menyela pengakuan manisnya yang kurasakan begitu aneh menelusupi telingaku.

Kali ini dia seperti salah tingkah. Tubuhnya yang berbalut celana kain hitam yang sedikit kusam juga kemeja yang kusut karena-mungkin-sudah dipakai seharian atau bahkan lebih, ditambah tatanan rambutnya yang sedikit berantakan membuatnya sedikit berbeda dari biasanya. Tapi mengingatkanku pada sosoknya beberapa belas tahun lalu.

"Assalamuallaikum Ibu... " Tiba-tiba suara khas Muthia memburu dari luar rumah, bahkan dia belum sepenuhnya masuk rumah. Tubuhnya yang berbalut rok panjang biru, kemeja putih dan jilbab putih segera menuju ke arahku dengan seulas senyum lebar.

"Kenapa ibu tadi pagi gak bilang kalo Om Lukas... " Seketika ocehan tanpa rem Muthia lenyap demi menyadari ada orang lain di ruangan ini selain ibunya. Bersamaan pula dengan sosok Lukas yang kontan berhenti diambang pintu. Tangannya menenteng sebuah kresek ukuran sedang. Mungkin sebelum pulang, Lukas mengajak Muthia ke pasar dulu,

Berbeda dengan Muthia dan Lukas yang kehilangan senyumnya, justru sosok di sisi lain tempatku duduk ini malah tersenyum makin lebar. Menatap Muthia dengan mata berbinar.

"M-Muthia? Putri Ayah... "

Yah! Dia Mas Baim.
Setelah sepuluh tahun lebih tanpa kabar sejak kejadian di satu sore di bulan Ramadhan kala itu, siang ini dia tiba-tiba muncul lagi di rumah ini. Menginjakkan kaki lagi dirumah sederhana yang dulu ditinggalkannya.

Mas Baim merentangkan tangannya, kakinya merambat perlahan dan berat mendekati Muthia yang mematung tanpa ekspresi. Aku pun tak mampu beranjak dari dudukku. Ikut mematung.

"Kamu sudah besar, Nak. Kamu cantik sekali." Dan tangan itu perlahan merengkuh tubuh diam Muthia.

Tapi yang kemudian terjadi, benar-benar diluar perkiraanku.
Muthia memundurkan kakinya dua langkah. Hingga rengkuhan tangan itu tak jadi sempurna menjadi sebuah pelukan. Mas Baim terperangah.

"Muthia..., ini Ayah, Nak!"

Kembali kaki Muthia mundur selangkah.

"Ibu, Muthia kedalam dulu, belum dzuhur tadi, " pamitnya tanpa mentapku, dan langsung beeringsut menuju kamarnya. Menutup rapat pintunya.

"Untuk apa kamu kesini?" sungut Lukas.

Mas Baim menoleh geram ke arah Lukas yang masih berdiri di ambang pintu.

"Untuk apa? Aku Ayahnya, jadi wajar... " jawaban Mas Baim terpenggal dengan gelak tawa Lukas.

"Apa? Ayah katamu?" sindirnya dengan rentetan tawa.

Aku memilih diam ditempat.

"Dia memang anakku, apa kamu bisa merubah itu?"

Braakkk!!!

Lukas sedikit membanting kresek yang sejak tadi ditentengnya, lalu langkahnya menuju Mas Baim.

"Setelah 10 tahun lebih menelantarkannya, kamu masih tak malu menyebut diri sebagai ayahnya? Hah?" geram Lukas menatap Mas Baim nyalang.

"Kalo kamu ayahnya, dimana kamu saat dia takut-takut memasuki sekolah SD-nya yang baru? Kalo kamu ayahnya, dimana saat dia sakit karena kelelahan setelah mengikuti karnaval 17-an? Apa kamu tau siapa artis idolnya? Apa lagu yang sering dinyanyikannya? Hah???" Kali ini Lukas mengucapkan semua kalimatnya dnegan emosi penuh. Tak jauh beda dengan volume DVD player dari dalam kamar Muthia yang menghentakkan alunan lagu Hello Kitty-nya Avril Lavigne. Seakan ingin menelan habis semua suara yang terdengar dari sini.

Dan sama seperti aku, Mas Baim diam membisu.

Tapi tak ada yang salah untuk semua kalimat Lukas tadi.
Sejak kejadian sore itu, Lukas menjadi jauh lebih sering berkunjung. Seharian atau hanya beberapa puluh menit sekedar mampir. Tapi dari semua waktu itu, tak ada yang terlewatkan oleh Muthia. Bahkan bisa dibilang semuanya dihabiskan oleh Muthia.
Ya, Lukas dan Muthia menjelma menjadi sahabat karib yang mesra. Mungkin, yang diketahui Lukas tentang apa yang terjadi pada Muthia, jauh lebih benyak dibanding yang sempat diceritakan Muthia padaku.
Dan meski tak mampu berharap lebih, tapi aku sangat bahagia Lukas mampu mengisi kekosongan tempat 'figur ayah' untuk Muthia.

"Iya kan?" sengit Lukas mendorong tubuh Mas Baim pelan.

Mas Baim masih tak bereaksi.

"Jadi merasa malulah kalo mau mengaku kamu ini ayahnya!" lanjutnya pelan, tapi cukup menyayat.

"Aku tau aku salah, Kas."

Pengakuan Mas Baim langsung ditanggapi dengan tawa sinis.

"Sejak kapan seorang Baim salah? Apa roda kehidupanmu sudah berputar?" ejeknya.

Mas Baim menunduk dalam.

Tadi, saat kami masih hanya berdua, Mas Baim sempat cerita kalo kini dia sudah jatuh miskin. Seluruh asetnya berpindah tangan ke nama istri dan anaknya. Yang bahkan ternyata anaknya itu bukan darah dagingnya.

"Istriku sejak awal sudah mengkhianatiku. Anaknya ternyata bukan anak kandungku. Dan saat aku marah dan hendak menceraikannya, dia mengambil semuanya. Semuanya... "

Trenyuh!
Mungkin karena aku terlalu memanjakan empatiku. Mendengar pengakuan dari Mas Baim aku merasa kasihan dengan orang yang dulu pernah kuabdikan seluruh hidupku itu. Dulu, sebelum dia merampas hampir seluruh hidupku.

Tapi tidak reaksi Lukas. Lukas malah tersenyum sinis.

"Apa kamu sedang mengeluh? Disini? Apa kamu sudah lupa apa yang kamu lakukan 10 tahun lalu pada orang yang duduk itu?" tanya Lukas menunjuk ke arahku yang masih diam terpekur, "Kalo kamu lupa, dengan senang hati aku akan membantumu mengingatkannya!"

Dan akhirnya air mataku meleleh.
Ini bukan bukti aku meluruh untuk semua ini. Aku hanya marah kenapa tak bisa seperti Lukas. Kenapa aku hanya bisa diam mematung begini? Padahal begitu banyak kata-kata yang ingin aku perdengarkan pada sosok yang diadili Lukas itu. Begitu banyak umpatan yang ingin aku keuarkan. Tapi ternyata semua hanya mampu bergolak sebatas perang bathin.

Perlahan Mas Baim menatapku. Aku tak mampu menghindari tatapan memelas itu. Apalagi saat tiba-tiba tubuh itu meluuruh dihadapanku. Bersimpuh 'bak pesakitan yang memohon pengampunan.

"Gin, semua yang kulakukan padamu dulu memang sangat keterlaluan, tapi... maafkan aku, Gin!"

Maaf?
Satu kata itu seperti gaung suara yang memantul begitu nyaring dan panjang.
Apakah jika aku benar-benar memafkan semua yang dia lakukan dulu, maka segala luka yang selama ini bergumul di dalam dadaku akan lenyap dengan mudah? Apa semua bisa hilang tanpa bekas seperti kubangan air yang menguap oleh terik matahari?

Bahkan, sekalipun aku mencoba mati-matian melupakan dan mengikhlaskan semua itu. Aku masih belum bisa sempurna melakukannya. Buktinya rasa hancur itu tetap melandaku saat kejadian di sore bulan ramadhan kala itu. Aku juga masih diam-diam merasakan penuhnya dadaku oleh amarah saat mendengarnya berbahagia atas kelahiran anaknya kala itu. Dan saat tadi dia tiba-tiba menjulang di ambang pintu, aku juga terlanjur tak bisa mengembalikan bias kebahagiaan dalam versi apapun.

"Aku memaafkanmu, Mas, " kataku akhirnya.

"Mbak...!" protes Lukas seiring senyum bahagia Mas Baim menjelma.

"Aku akan memaafkan semua yang sudah terjadi, "

"Terimakasih, Gin, kamu memang... "

"Tapi... " selaku datar.

Dahi Mas Baim mengkerut, "Tapi... ?"

Kutarik nafas pelan, mencoba menatap wajah yang sempat kupuja dulu.

"Tapi tolong jangan ganggu hidupku dan Muthia lagi. Kami juga ingin bahagia, Mas... "

Mas Baim terperangah tak percaya, lalu menggeleng dengan air mata mulai menggumpal di kedua matanya.

"Aku mohon, Gin... "

"Aku juga mohon, Mas...!"

Sungguh,
Sampai kapanpun aku tak akan lupa setiap helai kisahku dengan Muthia kecil. Masa-masa sulit yang begitu menguras ketabahan sekaligus kesabaran.
Ketika masa-masa kemruwetnya mengurus surat perceraianku. Ketika masa-masa Muthia butuh dukungan moril yang nyaris tak mampu kugantikan. Juga ketika masa-masa krisis keuangan melanda; pemasukan minim, pengeluaran maksimal.

Dan untunglah dari semua masa-masa itu, hampir selalu ada Lukas disana.

"Gin... " keluh Mas Baim makin mendekat dan hendak meraih jemariku.

"Maaf, Mas!" Aku buru-buru bangkit.

"Aku hanya manusia biasa, Mas! Aku bukan malaikat yang bisa dengan mudah melupakan sebuah kejadian,"

"Itulah yang dinamakan pembalasan!" sela Lukas, "Apa yang kamu tanam, maka suatu saat pasti akan kamu tuai."

"Kamu mana tau rasanya dicampakkan, Kas!" Gigi-gigi Mas Baim sampai menggeretak menahan marah.

"Jadi kamu ingin tau siapa yang tau rasanya dicampakkan? Hah?"

Mas Baim menunduk.

Dan sekali lagi, mungkin benar lagi ucapan Lukas tadi. Inilah yang disebut pembalasan. Bukan dariku, tapi dari Tuhan. Dan jika semua ketetapanNya sudah berjalan, maafpun hanya sebatas lisan yang membelai sekilas jajaran luka yang masih menganga.

"Aku bisa memaafkanmu, Mas. Aku hanya tak bisa jika harus memulai semua yang dulu telah kita akhiri."

Nanar.
Mata itu benar-benar penuh luka. Sungguh membuatku kelu.
Ya Allah, kuatkanlah dia, seperti Engkau kuatkan aku dan Muthia dulu.

"Pergilah, Mas, disini sudah tidak ada tempat untukmu. Maaf!"

Dan meski aku mampu mengucap kalimat 'kejam' itu, toh air mataku kembali menetes.

Alunan musik dari dalam kamar Muthia sudah berganti lagu 'Fly' dengan masih suara Avril Lavigne.
Dan meski hanya dengan satu sayap, ternyata selama lebih dari 10 tahun ini kami, aku dan Muthia, bisa mengepakkan sayap dan terbang di angkasa. Tanpa menghiraukan rasa sakit pada bekas sayap kami yang patah.

Dan sekarang aku mulai tau kenapa Allah menghadirkan Lukas pada langkah-langkah kecil kami; meski bukan sebagai 'pengganti' sayap, tapi paling tidak bisa menjadi penopang ketika kami lelah. Dan itu sudah cukup membuatku bahagia. Meski tanpa kehadiran si 'sayap patah' itu lagi.



BYL, 18/06/2016
21:35 wib





Inget yaa... ini pure fullfiction.
Jadi dibikin hepi aja bacanya, okeeyyy



Win@rinda,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar