Jumat, 05 Juni 2015

Sebuah Nama Sebuah Masa

                Aku masih terpaku di balik pintu gerbang papan rumah Meisya. Mendengar semua percakapan mesra dari dua insan yang sedang dimabuk cinta diluar pintu gerbang ini. Tanganku yang keduanya kusembunyikan ke dalam saku jaket jemperku kukepalkan menahan beratnya himpitan di dalam dadaku yang bergolak.
            Lalu kudengar sebuah deru mobil diiringi seruan selamat malam Meisya yang terkesan manja dan centil. Setelah suara mobil itu cukup jauh, barulah kudengar langkah sepatu berhak tinggi itu mendekat. Pintu gerbang terbuka perlahan, dan saat menyadari kehadiranku Meisya nyaris terlonjak dengan pekikan kecil.
" Sejak kapan kau punya bakat mengagetkanku?" Gerutunya ringan seraya mengelus dadanya yang mungkin sempat berdebar-debar karena menyangka aku bukan manusia. Wajar saja karena aku berdiri ditempat yang minim pencahayaan lampu terasnya.
" Aku menunggumu pulang. Sejak bertemu lagi dengannya kau jadi seperti artis booming yang sulit kutemui." Kataku lebih seperti mengeluh dengan kebiasaannya akhir-akhir ini yang suka sekali pulang malam. Dan Meisya menanggapinya dengan tawa renyah, lalu melangkah memasuki rumahnya.
         Meisya, aku sampai lupa kapan kami kenal dan akhirnya bersama seperti benda dan bayangan meski hanya dengan label ikatan persahabatan. Bahkan bisa dibilang kami sudah mirip saudara. Sejak masuk kuliah kami kost bersebelahan, sampai kemudian kami bekerja dibidang keahlian masing-masing dan mampu membeli rumah, kamipun tetap bersebelahan. Tapi takdir kami mungkin memang hanya sebatas bersebelahan. Karena saat dia terpuruk sangat hancur berantakan 5 tahun lalu, saat Khan meninggalkannya yang terlanjur dimabuk cinta pada pandangan pertama, aku hanya mampu duduk disebelahnya meminjamkan bahu untuknya bersandar tanpa berani merengkuh bahunya dengan tanganku. Aku tetap hanya sebagai sahabat yang membantunya memunguti kepingan hatinya yang hancur berantakan sepeninggal Khan yang begitu sempurna dimatanya.
       Kalo boleh jujur, aku memang cemburu dengan pria bernama Khan itu. Bukan hanya karena kalah dalam dalam penampilan dan kharismatik yang mampu membuat Meisya tergila-gila, aku juga nyata-nyata kalah telak saat Khan tiba-tiba muncul lagi dihadapan Meisya setelah 5 tahun menghilang seperti ditelan bumi. Merebut kembali kesempatan yang kubangun sedikit demi sedikit.

        " Siapa? Khan?" Desisku waktu itu, menanggapi semburat kebahagiaan yang begitu berkilauan menyinari wajah manisnya menceritakan bahwa tadi siang dikantor dia kedatangan tamu perusahaan dari luar negeri yang ternyata Khan.
" Yuupps.... Khan. Love of my life. Kau tau, dia sekarang sudah menjadi eksekutif muda yang sangat sangat sukses. Dia mewakili perusahaan dari Singapura, Ron...." Ceritanya sangat antusias.
" Lalu? Bukankah yang kau dengar dia sudah menikah?" Tanyaku sedikit hati-hati mengucap beberapa kata terakhirku.
Seketika semburat kekecewaan menyiram raut wajahnya.
" Ya, aku tau." Jawabnya seperti setengah kesal.

       Tapi beberapa minggu kemudian Meisya menemuiku di depan kantor kerjaku dengan wajah yang sangat kentara bahagia. Bahkan saat melihatku dia langsung berhambur meraih tanganku dengan lompatan-lompatan kecil, seperti seorang anak kecil menanggapi kedatangan ibunya yang baru pulang membawa sebuah hadiah besar. 
" Khan ingin kembali padaku, Ron.... Khan ingin kembali padaku!" Serunya mempererat genggaman tanganku dengan masih tetap melompat-lompat.
" Apa?" Aku tak mengerti maksud ucapan Meisya.
         Apa maksudnya Khan ingin kembali pada Meisya? Dia laki-laki yang sudah beristri.  Jadi sangat aneh jika seorang yang sudah menyandang predikat 'suami' mengatakan pada seorang mantan pacarnya kalo berniat ingin kembali.
" Kau tak senang ya?" Tanyanya cemberut melihat reaksiku yang mungkin jauh dari dugaaannya.
" Bukan begitu, Mei, tapi Khan itu sudah beristri."
" Kau pikir aku lupa itu?"
" Lalu kenapa kau begitu bahagia mendengar itu?"
" Karena dia akan menceraikan istrinya. Dia sudah lama tak mencintai istrinya. Dia ingin bercerai, dan akan menikahiku."
Deg!!
           Waktu itu aku benar-benar merasakan duniaku sempat gelap tak bercahaya meski sore masih belum separuh jalan. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku hanya seorang sahabat bagi Meisya, tak pernah lebih.

        " Memang ada apa?" Tanya Meisya setelah membuka pintu rumahnya, menatapku sebentar lalu melangkah masuk.
Kuikuti langkahnya memasuki rumah bergaya minimalis yang begitu sederhana itu.
" Memang ada apa? Waah...hanya karena kau sudah bertemu lagi dengan Khan, kau langsung mencampakkan sahabat yang menemanimu selama ini?" Gerutuku dengan sedikit mendramatisir.
Meisya tergelak. Dilepas sepatunya sembarangan, sembari melempar tas kerjanya ke sofa. Lalu langkahnya menuju dapur yang tak bersekat bersebelahan dengan ruang tamu. Meisya membuka kulkas dan mengambil sebotol air minum. Kupungut sepatunya yang tercecer sembarangan dan menempatkannya ke rak sepatu di sudut ruangan dekat pintu masuk kamarnya.
" Apa dia benar-benar serius mau menikahimu?" Tanyaku menunggunya ikut duduk di sofa tamu.
" Dia sudah mengurus kepindahanya dari kantor di singapura. Apa itu masih kurang untuk menunjukkan keseriusannya?"
" Lalu bagaimana dengan masalah pernikahannya?"
Meisya termangu tak jadi meneguk lagi air dalam botol yang dipegangnya.

         Kemarin sore di depan pintu pagar rumah ini aku sedikit terganggu dengan keberadaan seorang wanita sederhana yang seperti gelisah menunggu kedatangan seseorang. Karena sesekali juga melonggok ke dalam pintu pagar rumah Meisya, akhirnya aku memutuskan menyapanya. Dan aku sempat syok saat wanita itu mengaku bernama Rizsaya, istrinya Khan.
" Jadi anda Rizsaya, istrinya Khan?"
" Panggil saja Aya, dan tak perlu bicara seformal itu." Katanya dengan mengulum senyum tipis.
" Kedatanganku bukan untuk menyalahkan apalagi memarahi Meisya." Ungkapnya datar,
Akhirnya aku mengajaknya ke rumahku, mempersilahkannya duduk di teras rumahku dan menyuguhinya secangkir teh.
" Antara aku dan Khan, memang sudah tak mungkin diperbaiki. Sudah tak ada rasa cinta yang perlu dipertahankan. Karena kami sadar, pernikahan kami berawal dari sesuatu yang tak baik." Lanjutnya tetap datar dan tenang. Aku juga heran, kenapa wanita yang sudah tau dikhianati suaminya, tapi bermaksud menemui wanita perebut suaminya masih bisa berbicara dengan nada bicara yang begitu tenang tanpa terasa amarah sedikitpun.
" Yang kudengar, mereka sudah kenal lebih dari 5 tahun yang lalu, benarkah begitu?" Tanyanya sembari menatapku.
Aku mengangguk pelan, lalu menunduk, terlalu malu menatap wajah wanita yang rumah tangganya diujung tanduk karena gadis yang sangat kusayangi.
" Jadi itu benar, jadi sebelum akhirnya menikahiku, mereka sudah kenal. Apa mungkin malah mereka dulu adalah sepasang kekasih?" Tebak Rizsaya.
Aku  memilih diam tak menjawab pertanyaan Ny. Khan itu.
" Kenapa anda kesini? Kenapa anda ingin bertemu Meisya?" Tanyaku, mungkin terdengar sangat kasar dan tak berperikemanusiaan. Tapi entah kenapa wajah sederhana itu tetap tenang, tak sedikitpun menyemburatkan kekesalan.
Rizsaya meneguk teh dihadapanya. Mungkin semacam penataan kembali gejolak hatinya yang sejak tadi dikendalikannya dengan sangat baik. Lalu senyumnya mengembang sempurna. Membuatku makin merasa bersalah. Kenapa wanita sebaik ini harus menjadi korban kebahagiaan cinta Meisya?
" Entahlah, aku hanya ingin bertemu dengan gadis yang bisa mencintai Khan meski telah lama berpisah, meski saat bertemu sudah berstatus tidak lajang. Aku ingin belajar darinya tentang arti cinta yang menerima. Karena meski sudah 5 tahun bersama Khan, aku belum bisa mengerti bagaimana caranya menjalankan cinta yang menerima itu." Paparnya menatap lembayung senja ufuk barat sana.
" Maafkan Meisya."
Rizsaya menatapku dengan sisa senyumnya, dengan sinar yang sulit kueja namanya. Aku menunduk menghindari tatapan itu. Dan lamunanku berakhir saat kusadari Meisya menghempaskan tubuhnya disampingku.
" Kau benar-benar akan menikah dengannya?" Tanyaku 
Meisya menatapku dengan marah sembari melipat tangannya ke dada.
" Pertanyaan itu sudah kau tanyakan 127 kali sejak aku bilang Khan mau menikahiku. Dan meskipun kau menanyakannya 127 kali lagi, jawabanku tetap sama. Ya, aku akan menikah dengannya!" Tegas Meisya.
Kuacuhkan kemarahannya dan malah menyambar remote TV dan menyalakan TV di depan kami.
" Apa kau tak terlihat terlalu berharap padanya? Dia pernah meninggalkanmu tanpa alasan 5 tahun lalu. Dan ternyata dia meninggalkanmu untuk menikah dengan wanita lain."
" Tidak." Jawab Meisya singkat, padat, dan menjelaskan bahwa dia benar-benar yakin keputusannya ini benar. Tapi entah kenapa aku malah yang merasa makin tak tenang.
" Apa tak sebaiknya kau menemui Rizsaya?" Tanyaku lagi, dan kali ini Meisya tak langsung menjawab. Hanya matanya langsung membulat menatapku.
" Darimana kau tau nama Rizsaya?"
" Tadi sore dia kesini."
" Mau apa dia kesini?" Sungutnya.
" Meisya!"
" Benar-benar tak tau malu."
" Meisya!!" Hardikanku kian meninggi.
" Kenapa? Dia sudah dicerai oleh Khan, hanya menunggu sidangnya saja." Suara Meisya kian angkuh.
" Kau harusnya menemuinya dan minta maaf padanya."
Meisya bangkit dari duduknya lalu disusul tawanya yang begitu tak enak kudengar.
" Apa? Minta maaf? Aku minta maaf pada wanita itu? Untuk apa?"
Aku ikut bangkit.
" Karena kau sudah merebut suaminya."
" 5 tahun lalu dia yang membuat Khan meninggalkanku!"
" Jangan hanya karena 5 tahun lalu kau dicampakkan Khan, lalu sekarang kau bisa merebutnya. Pelaku tak akan berubah posisi menjadi korban hanya karena kejadian masa lalu." Kataku mencoba menjelaskan kalo Meisya tak seharusnya melanjutkan semua ini.
Meisya mundur perlahan dengan tatapan yang membuatku merasa bersalah. Karena aku paling tak ingin mata Meisya berkaca-kaca seperti itu.
" Ada apa ini, Ron, kenapa kau tiba-tiba begini? Kenapa kau malah membela wanita itu? Bukankah biasanya kau selalu membelaku?"
" Ini aku juga sedang membelamu, Mei, kau akan menyadarinya saat nanti Khan akan kembali meninggalkanmu."
" Apa kau menyumpahiku kalo kelak Khan akan meninggalkanku lagi? Kau suka itu?"
      Sesaat aku kelu melihat wajah dan tatapan Meisya. Sungguh, aku tak pernah berharap itu terjadi. Aku tak ingin keadaan 5 tahun lalu terjadi lagi pada gadis kesayanganku ini. Tapi jika dulu Khan pernah meninggalkan Meisya tanpa alasan jelas, bukankah kemungkinan kelak hal itu bisa terjadi lagi? Meski Khan adalah orang yang tak pernah lepas dari kehidupan Meisya selama hampir 6 tahun terakhir ini, tapi aku tak cukup mengenal Khan secara pribadi. Jadi aku tak mengerti dengan jelas maksud dan tujuannya yang saat bertemu lagi dengan Meisya yang telah dicampakkannya, kemudian malah memutuskan mengajaknya menikah dengan mengorbankan pernikahannya yang sebelumnya. Orang seperti apa itu Khan?
" Meskipun kau selalu curiga dengan niat Khan yang mau menikahiku, aku tak akan terpengaruh, Ron. Aku mencintai Khan, dulu dan sekarang. Jadi biarpun dia pernah meninggalkanku dan menikahi wanita itu, toh akhirnya Khan kembali lagi padaku. Bukankah itu semacam jodoh?"
        Aku masih termangu menanggapi ucapan Meisya. Jodoh? Kalo ini seperti jodoh yang agung, kenapa aku merasa ini sangat menggelikan? Dulu dan sekarang, firasatku tak pernah baik setiap kali Meisya bahagia bersama Khan. Dulu kuanggap sebagai rasa cemburu dan tak rela dari hatiku karena jauh sebelum Khan, aku sudah bersama, menjaga juga mencintai Meisya. Tapi sekarang, aku merasa ini bukan hanya rasa cemburu dan tak rela. Entah apa namanya, yang pasti sangat membuatku tak nyaman.
" Jangan berharap terlalu tinggi, karena semakin tinggi harapan akan semakin besar pula jika nanti kau mendapatkan kekecewaan." Kataku mencoba seringan mungkin, lalu menekan tombol remote, memindah chanel TV. 
Kudengar Meisya mendesah jengkel, tiba-tiba merebut remote ditanganku dan mematikan TVnya dengan wajah kesal.
" Apa kau berusaha menghalangi rencana pernikahan kami?" Dengusnya menatapku geram.
" Aku hanya tak ingin akhirnya kau terpuruk lagi seperti 5 tahun lalu." Jawabku datar
" Siapa yang bilang aku akan terpuruk lagi? Aku akan bahagia dengan Khan."
" Siapa yang bisa menjamin Khan kelak tak akan meninggalkanmu lagi?  Apa kau yakin tetap akan sekuat dulu jika kelak kau ditinggalkanya lagi?" Balasku tetap berusaha datar.
" Siapa kau? Aku tak butuh kau cemaskan!" Geram Meisya dengan suara meninggi.
         Sungguh, rasanya sangat sakit saat gadis yang kusayangi selama ini bersikap begini. Bukan hanya karena dia 'mencampakkanku' setelah bertemu Khan, tapi Meisya benar-benar telah 'mengusirku' dari sisinya.
" Jangan hanya karena kau bertemu dan berbicara dengan wanita itu, prasangka burukmu pada Khan makin besar. Akan kubuktikan kalo keputusanku benar. Aku tak pernah merebut Khan dari sisi wanita itu. Mereka sudah saling menjauh sebelum aku dan Khan bertemu lagi. Jadi, aku tak perlu bertemu apalagi minta maaf padanya." Ucap Meisya yakin.
Aku menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dadaku. Aku buru-buru bangkit agar rasa sakitku tak makin membelengguku.
" Ini hidupku, Ron, aku bebas bersama siapa. Aku berhak bahagia dengan siapa. Terimakasih karena selama ini kau sudah menjagaku dan menyayangiku. Tapi maaf, jika aku tak bisa membalas semua itu. Karena sejak dulu hatiku benar-benar hanya untuk Khan." Kali ini suara Meisya terkesan berat.
Kutekan sisa rasa sakitku sebelum kumunculkan seulas senyum dibibirku. Lalu perlahan langkahku beringsut ke arah gadis yang berdiri dengan sedikit gelisah itu.
" Maaf, atas semua prasangka burukku." Kataku meraih jemarinya. Meisya menatapku perlahan.
" Aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu. Tapi jika ini sudah keputusanmu, berjanjilah kau benar-benar akan bahagia dengannya."
       Meisya menatapku sedikit menyipitkan matanya. Aku tersenyum membelai rambutnya, layaknya seorang kakak yang mencoba meyakinkan pada adik kecilnya yang sedang galau. Padahal, kenyataannya akulah yang butuh untuk diyakinkan bahwa Meisya benar-benar akan bahagia dan tak akan ditinggalkan lagi.
" Apa kau benar-benar tak percaya kalo Khan bisa membahagiakanku?" Tanya Meisya sedikit merajuk.
" Masalahnya sekarang bukan aku percaya atau tidak, tapi dia harus membuktikan kalo dia benar-benar bisa membahagiakanmu dan tak akan pernah meninggalkanmu lagi, apapun alasannya." Kataku menghempaskan rasa sakitku tadi ke dasar hatiku.
" Apa sekarang kau berperan sebagai kakak laki-lakiku?" Selidik Meisya.
" Ya, jadi katakan pada pacar tercintamu itu, jangan pernah sekali-kali meninggalkanmu lagi, kalo tidak aku akan mendatanginya dan memberinya pelajaran." Jawabku tegas.
Meisya tersenyum, wajah yang tadi sempat memerah karena dipenuhi amarah kini kembali ceria. Wajah yang sangat kusukai.
" Jadi kau bermaksud memberinya pelajaran?"
" Tentu saja. Meski aku kalah dalam pendapatan dan tampang, tapi aku yakin bisa menjatuhkannya hanya dengan satu pukulanku."
" Apa itu tak terlalu anarkis?"
Aku tersenyum menjawab pertanyaannya kali ini.
        Untuk gadis kesayanganku hal anarkis pun akan kulakukan jika sampai kejadian 5 tahun lalu itu terjadi lagi. Tapi bukan berarti aku berharap itu terjadi lagi. Aku juga ingin Meisya bahagia, meski bukan denganku. Karena aku tau aku sudah cukup bahagia saat melihat wajah ceria itu tersenyum dihadapanku. Dan jika sesekali aku teringat wajah wanita sederhana yang mengaku bernama Rizsaya itu, aku mungkin akan sedikit merasa sesak menyerang dadaku. Semoga saja wanita itu juga berfikir bahwa Meisya juga berhak bahagia dengan pilihan cintanya. Karena benar kata Meisya, ini adalah sebuah jodoh. Meski 5 tahun lalu Khan sudah meninggalkan Meisya dan menikah dengan Rizsaya, 5 tahun kemudian mereka bertemu dan melanjutkan cinta lama itu. Itulah jodoh, serumit apapun lika-likunya, jodoh tetaplah indah.
        Dan untuk perasaanku sendiri, aku tak tau seperti apa akhirnya.  Sepanjang bersama gadis ini, sering aku bertanya-tanya, jika ini cinta tak peduli seberapa kerasnya aku berfikir ingin seutuhnya memikinya, aku tetap kalah oleh senyum bahagianya yang tak pernah ditujukan padaku. Entah cinta apa ini namanya, yang hanya mengutamakan kebahagiaannya tanpa peduli diam-diam aku terbunuh oleh kebahagiaan itu. Dan meskipun aku bisa terbunuh oleh kebahagiaan itu, tetap saja aku masih mengkhawatirkannya. Seperti aku yang tak bisa mengerti kenapa Rizsaya tak memendam kebencian pada Meisya yang telah 'menghancurkan' pernikahannya, seperti itu pula aku yang tak bisa menterjemaahkan cintaku pada Meisya.

Meisya, seperti aku yang tak bisa menarikmu menjauh dari cinta masa lalumu yang kembali menjeratmu, seperti itu pula aku yang tak bisa lepas dari keinginanku yang selalu ingin bersamamu. Kau boleh saja menjadi wanita jahat yang tersenyum bahagia diatas kehancuran pernikahan wanita lain, daripada aku harus melihatmu menjadi wanita yang lemah dan menyedihkan. Dan seperti jodohmu, takdir bersebelahan antara kau dan aku, juga sangat indah meski hanya ditakdirkan bersebelahan.


Selasa, 02 Juni 2015

Penghargaan Cinta

          Gemerisik dedaunan pohon tanjung diterpa angin bulan Februari menghadirkan alunan musik surgawi yang begitu indah sore ini. Paling tidak cukup menentramkan hatiku yang sedang dilanda kegelisahan karena kedatangan pemuda tampan yang duduk dibangku kayu dihadapanku. Sesekali mata beningnya yang 'bak tetesan embun pagi menatapku dengan sinar yang membuatku tak sanggup menikmatinya lama-lama.
         Aku cukup kaget dan bisa dibilang benar-benar tak siap dengan kedatangan pemuda tampan yang memiliki nama Aji itu. Bukan karena kedatangannya disertai raut muka memendam amarah dan kekecewaan. Bukan pula kedatangannya sempat menghebohkan seisi para penghuni rumah sore ini. Aku hanya takut tak bisa menahan perasaanku saat berhadapan dengannya, saat menatap mata beningnya.
           Aji, dia sebenarnya satu-satunya pemilik hatiku. Dia orang pertama yang mengajariku tentang arti mencintai dengan sepenuh hati. Dia pula yang mengajariku tentang indahnya bertahan dalam badai gelombang kehidupan demi keyakinan sebuah akhir yang membahagiakan. Dan dia juga yang akhirnya menyadarkanku bahwa selain diperjuangkan, cinta juga sangat butuh dengan yang namanya penghargaan. Karena tanpa penghargaan, cinta bukanlah cinta, hanya sederet beban kehidupan yang merantai langkah kaki pemiliknya.
Terdengar Aji mendesah berat. Kuangkat pandanganku sejenak lalu bersembunyi lagi dibalik kesibukanku menyulam.
       Sebenarnya berat rasanya detik-detik kulalui saat ini, tapi aku tak mungkin tega menyuruhnya pulang atau kutinggalkan dia sendirian disini.
" Pergilah, selesaikan apa yang belum selesai." Ujar mbak Dilla saat mengetahui tempat persembunyianku dari kehebohan Aji yang datang-datang mencariku ke seluruh penjuru rumah meski dengan sikap penolakan beberapa anggota keluargaku.
Aku terpaku menatap mbak Dilla.
" Melarikan diri seperti ini tak akan menyelesaikan masalah. Lagipula semua orang sudah tau, Aji pun juga tau, tapi kedatangannya pasti ingin sebuah penjelasan langsung darimu. Hargai sedikit perjuangannya yang kesini, karena pasti dia mempertaruhkan harga dirinya saat memutuskan datang kesini." Lanjut mbak Dilla seperti memojokkanku mesti tau saat ini posisiku sudah cukup sulit.
Kutatap wajah mbakku itu dengan tatapan memelas.
" Kenapa? Apa kau takut pendirianmu akan goyah jika bertemu dengannya? Lebih baik mengetahuinya saat ini daripada nanti. Jika setelah bertemu dengannya pertahananmu goyah, kau bisa menghentikan keputusan konyolmu ini sebelum semua terlambat."
" Mbak Dilla...." Rengekku 

         Tapi akhirnya aku menuruti saran kakak tertuaku itu. Meski harus mengumpulkan sisa-sisa keberanianku aku menemui Aji.
" Aku tanya sekali lagi, benarkah ini benar-benar keputusanmu sendiri?" Tanya Aji tetap dengan nada suara beberapa menit lalu, saat pertama kali melontarkan pertanyaan itu.
" Hmm....Ya!" Jawabku lirih tetap sibuk menyulam.
" Jawab dengan menatapku, Ai....!!!" Nada suara Aji meninggi. Sedetik sempat membuatku terkejut dan menggetarkan dadaku.
Aji hampir tidak pernah membentakku seperti itu. Dia memang termasuk pribadi yang keras, tapi selama ini selalu bersikap lembut padaku. Dan inilah pertama kalinya dia bicara denganku dengan nada suara setinggi itu setelah kami bersama belasan tahun.
" Maaf..." Pintanya kemudian, dengan mendesah panjang.
Aku menunduk lebih dalam.

          Prahara ini akhirnya terjadi pula. Prahara yang sering aku khawatirkan tapi juga sering kami diskusikan. Aku dan Aji menjalin kisah yang cukup sederhana tapi juga penuh resiko. Melalui kisah Devdas & Paro, kami sering membandingkan dengan lika-liku kisah kami. Dimana perasaan yang nyaman ini terjalin begitu saja lewat kebersamaan yang sederhana kami. Aji berasal dari keluarga yang cukup terpandang di daerah sini. Keluarganya begitu menjunjung aturan bibit, bobot, dan bebet untuk masalah perkawinannya. Berbeda dengan keluargaku yang begitu demokratis.
           Dan hari itu adalah hari dimana aku sadar, bahwa selama ini perasaanku yang kujaga selama Aji melaksanakan tugas kantor ke luar kota, ternyata bukanlah sesuatu yang berharga di mata keluarga besar Aji.
" Tapi kenapa?" Tanya Aji gemetar.
Aku memejamkan mataku sejenak, mencari kekuatan melihat mata bening itu. Lalu kutaruh hasil sulamanku seraya menatapnya.
" Kenapa? Harusnya sebelum bertanya itu, tanyakan dulu pada keluargamu. Bukankah mereka yang memaksaku memulai semua ini?" Jawabku juga sedikit gemetar menahan  sesak dadaku mengingat kembali prahara hari itu. Dimana aku dan keluargaku dipermalukan dirumah kami sendiri. 
 Orang tua Aji mendatangi rumahku dan mengataiku sebagai gadis yang tak tau diri karena selama ini selalu menempel pada Aji.
" Aku selama ini bertahan dengan semua badai gelombang yang selalu kau yakinkan akan berakhir indah, tapi jika kemudian orang tuamu mengataiku gadis tak tau diri dan membandingkan dengan masa lalu ibuku, aku tak akan diam." Geramku teringat lagi derai air mata perempuan kesayanganku yang atas segala ucapan pedas orang tua Aji.
Aji menatapku dengan tatapan nanar. Hingga aku begitu sakit untuk melihatnya terlalu lama. Aku menunduk.
" Kita, dari awal juga sudah tau bahwa akan sulit dan  mungkin kita tak akan berakhir bersama kan?" Tanyaku lirih, mengingatkan tentang hal yang sering kami khawatirkan.
" Tapi kita saling mencintai, Ai." Sanggahnya seperti memelas.
Aku tergelak lirih,
" Dan aku baru sadar, cinta ini sedikitpun tak dihargai oleh keluargamu, lalu apa masih perlu dipertahankan?"
Dan, terngiang kembali kata-kata pedas menyakitkan dari ibunya Aji kala itu. Membuat dadaku sakit.
" Sejak kapan kau mempedulikan omongan ibuku? Kita bersama bukan setahun dua tahun, tapi belasan tahun. Dan selama itu kau sudah sering mendengar segala bentuk omongan ibuku kan? Kenapa sekarang kau mempermasalahkannya?" Tanya Aji lagi.
" Karena kita semakin dewasa, karena aku juga perlu menata masa depanku, karena aku juga ingin membahagiakan orang tuaku." Berondongku menjawab pertanyaannya dengan nafas tersenggal-senggal. Lalu perlahan aku menatapnya yang ternyata sudah menatapku lekat.
" Ada banyak jawaban untuk satu pertanyaanmu itu, apa aku perlu menyebutkan semuanya?" 
Aji terdiam seperti tak percaya dengan yang dilihat dan didengarnya. Mungkin tak percaya bahwa aku juga punya sisi pemberontak seperti ini. Jauh dari semua yang kutunjukkan selama ini, bahwa aku orang yang penurut dan tak banyak bicara.
" Dan aku, mulai lelah karena kau ternyata terlalu penurut pada orang tuamu. Aku tak mungkin menggantungkan sisa hidupku pada orang yang tak bisa melindungiku dihadapan orang-orang yang tak menghargaiku."
" Kau juga mulai mempedulikan harga diri? Apa aku selama ini pernah mempedulikan harga diriku?" Tanya Aji makin terheran-heran.
Aku mendesah.
            Namanya Karel, dia adalah putra tunggal pemilik perusahaan tempat kakakku Andi bekerja. Dia juga menjadi kepala bagian, boss di divisi mas Andi. Sebulan lalu kami bertemu saat aku mengantar berkas mas Andi ke kantor, dan beberapa hari lalu Karel mengutarakan maksudnya untuk melamarku dihadapan orang tuaku. Dan karena semua kata-kata pedas yang masih sering berdatangan di otakku itulah aku menyetujuinya. Awalnya semua terkejut dengan persetujuanku. Bahkan ibu juga tak percaya, terlebih mbak Dilla yang begitu tau semua kisahku dengan Aji.
" Kau serius menerima tawaran pak Karel tadi?" Tanya mbak Dilla waktu itu, tergopoh-gopoh menyusulku ke dapur.
" Ya. " Jawabku pendek sambil meletakkan nampan berisi cangkir kosong bekas menjamu Karel tadi.
Mbak Dilla menarik lenganku, memaksaku menghadapnya.
" Apa karena kedatangan orang tua Aji waktu itu?" 
" Ya."
" Kau tau yang sudah kau perbuat?"
" Ya."
" Aira!!!" Desis mbak Dilla sembari menampar pipiku. Terlihat sekali perempuan yang juga seperti ibu keduaku itu menatapku penuh amarah.
" Kenapa mbak? Apa aku salah? Aku hanya tak ingin menyesal lagi nantinya, aku hanya ingin membahagiakan kalian, aku hanya ingin menunjukkan pada mereka yang telah menghina kita bahwa kita juga patut dihargai! Apa itu juga salah dimata mbk Dilla?" Emosiku mencuat begitu saja.
" Kau yakin ini bukan hal yang akan kau sesali? Kau yakin ini akan membuat kami bahagia? Hah?!"
Aku mendesah panjang, kusadari kehadiran ibu diambang pintu dapur menatap kedua putrinya dengan genangan air mata dikelopak matanya yang mulai keriput.
" Paling tidak aku tak akan mempermalukan kalian lagi, dan kita akan lebih dihargai di masyarakat. Itu sudah cukup bagiku." Ucapku sedikit serak karena menahan tangis. 
" Apa kau pikir menikah dengan orang yang tak kau cintai itu kau sebut mempedulikan harga diri?" Ucapan meninggi Aji menyadarkanku dari lamunan. 
" Anggap saja aku menjual harga diriku yang terakhir untuk mendapatkan harga diri yang lebih banyak."
" Kau picik sekali, Ai." Sungut Aji sinis." Pernikahan tanpa cinta tak akan berakhir bahagia."
" Percintaan tanpa pernikahan apa bisa berakhir bahagia?"
" Kita bahkan belum mencoba, Ai!" Suara Aji meninggi lagi.

         Ternyata hubunganku dengan Aji selama ini tak sesederhana yang aku kira. Bahkan sangat rumit bagai kumpulan benang sulaman ini. Kami saling mencintai dan menjaga cinta itu, tapi semua terlihat percuma karena kenyataannya cinta kami tak pantas untuk dijaga keberadaannya. Bahkan aku pun tak mampu membayangkan sebuah pernikahan dengan Aji. Bukankah itu sangat menyedihkan? Dibelahan bumi manapun semua gadis ingin kisah percintaannya berakhir pernikahan. Lalu kenapa akhir itu seperti hal yang sangat mewah dan begitu mustahil hingga harus kulupakan saat menjalin kisah dengan Aji?
" Apa jika aku meninggalkan keluargaku kau akan kembali padaku?" Tanya Aji membuatku kaget.
" Apa itu cukup, Ai?"Lanjutnya mencoba meraih jemariku.
" Tidak." Sergahku cepat seraya menjauhkan jemariku dari jangkauan tangannya. Aji tercekat.
" Aku akan tetap memilih keluargaku daripada orang yang kucintai. Karena keluarga, meski kadang seperti beban, kita akan kesepian jika tak ada mereka. Karena keluarga adalah pemberian Tuhan yang paling berharga. Jadi kau juga jangan mencampakkan pemberian untuk sebuah pilihan. Belum tentu pilihan itu benar."
Aji tertawa sinis mendengar jabaranku, entah bagian mana yang dirasanya lucu.
" Jika kau menganggap keluarga adalah pemberian, cinta adalah pilihan, lalu apa nama untuk pernikahan? Takdir?"
" Anggap saja begitu."
" Kali ini kau salah, Ai."
Aku termangu dengan penyalahannya.
" Mencintai itu yang takdir, sedang menikah adalah nasib. Seperti sekarang ini, kau bisa memutuskan menikah dengan siapa. Tapi kau tak bisa memutuskan mencintai siapa. Kau hanya akan selalu mencintaiku, bukan orang yang akan menikahimu. Kau tau kenapa? Karena mencintai bukanlah sebuah pilihan seperti yang kau katakan tadi. Mencintai juga adalah pemberian Tuhan. Apa kita sebelumnya pernah memilih akan saling mencintai? Tidak kan? Itu karena cinta kita sudah ditentukan oleh Tuhan, seperti juga kita yang tak bisa memilih kita terlahir di keluarga apa." Paparnya

         Aku memang hanya mencintai pemuda tampan dihadapanku ini. Tapi agar semua yang kutakutkan selama ini lenyap, aku harus menempuh jalan ini. Jalan yang dibukakan oleh seorang pemuda matang bernama Karel. Bagiku inilah pilihan yang harus aku jalani. Siapa yang kunikahi dan siapa yang akhirnya kudampingi, adalah dua orang yang berbeda. Karena aku tak mungkin membangun masa depan dengan orang yang selama ini kucintai. Sebaliknya aku harus rela membangun cinta dari awal lagi dengan orang yang akan menikahiku. Benar kata mbak Dilla tadi, dengan bertemu Aji aku akan bisa menegaskan tentang keputusanku. Dan sepertinya sejauh ini hal itu tak menggoyahkanku.
" Apa ini semacam balas dendam, Ai?" Tanya Aji berat.
Kutatap wajah sedih itu sekilas.
       Mungkin, ya mungkin memang ini bentuk balas dendamku akan perlakuan buruk orang tua Aji waktu itu. Hanya dengan ini derajat keluargaku yang selama ini sering dipandang sebelah mata akan menjadi berbeda. Dan benar kataku tadi, aku telah menjual harga diriku yang terakhir untuk mendapatkan harga diri yang lebih banyak. Memang sedikit berlawanan dengan hati, tapi....
" Mungkin kita awalnya memang ditakdirkan untuk saling mencintai, tapi pada akhirnya kita juga harus terima jika kita ditakdirkan begini." Ucapku menahan sesak dadaku yang tiba-tiba saja menyerang.
" Atau mungkin kita sendiri yang menentukan takdir ini. "
" Percuma kalo kita tetap berjuang...."
" Aku tau, aku terlalu lemah pada orang tuaku yang tak pernah menghargai cinta kita."
      Dan entah kenapa dadaku makin sakit mendengar ucapan Aji kali ini. Kenapa aku seperti tak rela Aji menyalahkan dirinya sendiri untuk semua prahara ini? Bukan, bukan Aji yang harusnya merasa bersalah. Mungkin lebih baik aku yang mengambil kesalahan itu. Aku yang tak bisa memilih terlahir dari pasangan yang lebih memilih memperjuangkan cinta dan meninggalkan keluarga mereka. Aku yang meski terlahir dan tumbuh tanpa kekurangan cinta kasih, tetap saja membawa sekilas tatapan sinis dan cibiran pedas dari beberapa pihak. Termasuk dari keluarga Aji yang cukup terpandang disini.
        Bukan aku membenci orang tuaku, karena tanpa tindakan mereka yang mempertahankan cinta sampai meninggalkan semuanya, tak akan ada aku terlahir ke dunia. Tapi, bukan berarti aku harus mengikuti jejak mereka kan?
" Setelah belasan tahun melewati semuanya bersama aku baru tau satu hal." Ucapan Aji memecah lamunanku.
" Aku memang tak punya keberanian melawan orang tuaku, Ai, tapi selama ini aku selalu berusaha mencari cara agar mereka merestui cinta kita."
        Rasanya tulang-tulangku seperti terlepas dari sendi-sendinya. Menatap mata bening penuh harapan itu, ditambah mendengar penuturannya itu, aku hampir tak bisa berkutik. Ternyata, aku tak setegar yang kukira. Pertahananku mulai goyah. Ibu....mbak Dilla....tolong aku!!!
" Alasanmu sampai memutuskan menerima pinangan orang itu bukan agar mendapat harga diri yang lebih banyak, tapi karena kau tak pernah sepenuhnya percaya padaku, bahwa aku bisa membuat cinta kita lebih berharga dari apapun. Iya kan, Ai?" Berondong Aji melucuti semua harga diriku yang sejak tadi kusombongkan padanya.
" Kupikir selama ini kau tetap bertahan karena kau percaya padaku, tapi ternyata...." Aji tak melanjutkan ucapannya dan malah tergelak. Aku menggeleng pelan sebagai tanda protes bahwa yang semua yang dikatakannya tadi tidaklah benar.
           Tidak, bukan karena aku tak pernah sepenuhnya percaya, akhirnya aku menyerah begini, Ji. Justru kepercayaan penuh padamulah yang membuatku tetap bertahan selama belasan tahun ini. Karena aku terlalu percaya, terlalu berharap bahwa kisah kita akan berakhir seindah angan-angan kita, aku menjadi begitu terpuruk begini. Kepercayaan penuh itulah yang membuatku sangat terluka saat menyadari bahwa orang tuamu sangat menghina cinta yang selama ini kujaga. Ceracauku dalam hati.
" Kisah Devdas dan Paro yang sering kita bicarakan, akhirnya kita alami juga."
" Aji...."
Aji tersenyum, tapi terlihat sekali senyum itu sangat dipaksakan.
" Dengarkan ini baik-baik Aira, seperti halnya Devdas, yang selama hidupnya hanya ada Paro sebagai cintanya, kau juga akan jadi satu-satunya yang menjadi cintaku. "
Hatiku serasa runtuh mendengar pengakuan itu. Tapi tetap kucoba untuk bertahan agar air mataku tak menggenangi mataku.
" Kuharap, ah...tidak, semoga...semoga ini adalah keputusan yang tak akan berujung penyesalan. Dan kalaupun ini akan menimbulkan penyesalan, jadikan penyesalan itu sebagai alasan untuk terus melangkah. Berbahagialah dengan keputusan yang telah kau buat. Berbahagialah seperti tekadmu yang ingin membahagiakan orang-orang terkasihmu."
Aku gagal, aku tak cukup kuat menahan air mata itu. Kutundukkan wajahku seiring air mataku terjatuh. Kuseka dulu air mataku sebelum mendongak menatap Aji lagi.
" Benar, tak ada yang bisa melawan takdir. Seperti kita yang tak bisa menghentikan perasaan kita untuk saling mencintai, seperti itu pula kita tak mungkin bisa mengubah akhir kisah kita. Karena ini adalah takdir." Suara terakhir Aji terasa begitu bergetar. Makin menggoyahkan hatiku. Kuhela nafas pendek, menata hatiku lagi.
" Ji, suatu saat nanti kau pasti juga akan menemukan takdir terbaikmu. Suatu saat nanti kau pasti juga akan berbahagia. Aku percaya, suatu saat nanti kau pasti juga bisa."
Aji tersenyum mendengar ucapanku kali ini.
" Tidak, Ai, jangan menyuruhku percaya hal itu terjadi, karena aku sudah tak mampu berharap apapun lagi. Aku tak tau lagi apa tujuanku ke depan. Aku sudah tak peduli apapun lagi. Inilah keputusan yang kubuat untuk mengimbangi keputusanmu."
Kugigit bibirku menahan sesak dadaku untuk kedatangan isakku yang mulai bergemuruh. Kudengar Aji mendesah panjang.
" Aku pergi...." Katanya seperti orang linglung, bangkit dan beringsut pergi. Melangkah dengan gontai.
           Aku masih bertahan menahan isakku dengan menggigit bibirku. Dengan tangan gemetar kuraih benang dan hasil sulamanku, tapi baru dua detik kupegang benang sulamku terjatuh, menggelinding disusul isakku yang akhirnya tak terbendung. 
            Tiba-tiba sebuah tangan mengambil benang sulam itu dan meletakkannya ke tanganku yang masih mengambang di udara. Aku mendongak dan menemukan sosok mbak Dilla yang menatapku penuh prihatin. Isakku makin menjadi.
" Aku harus bagaimana mbk? Aku harus bagaimana...??" Ceracauku disela isak tangisku.
" Kami selalu takut kisah kami berakhir seperti kisah Devdas dan Paro, tapi aku sendiri yang telah membuatnya berakhir seperti kisah itu. Aku membuatnya menjadi Devdas, mbak..." Lanjutku penuh hiba.
Mbak Dilla yang masih berdiri disampingku memelukku lembut, membelai punggungku yang bergetar hebat.
" Maafkan mbak, Ai, harusnya tadi mbak tak menyuruhmu menemuinya. Mbak tak tau kalo akhirnya kau malah terguncang sehebat ini. Mbak yang salah, Ai. Harusnya mbak ingat bahwa cinta Aji juga tak kalah besarnya dengan cintamu." Ucap mbak Dilla lama-lama terdengar ikut menangis. Kudekap benang dan hasil sulaman ditanganku. 
           Pada akhirnya aku menyadari bahwa memang benar mencintai adalah bukan hal yang bisa ditentukan apalagi dipilih seperti keputusanku yang akhirnya memutuskan menikah dengan siapa. Dan untuk keputusan yang sangat fatal itu aku mungkin memang harus menukarnya dengan seumur hidupku terbelenggu oleh cinta lain. Cinta yang begitu berharga sepanjang hidupku. Cinta yang begitu diperjuangkan olehnya agar menjadi sesuatu yang paling berharga nantinya. Tapi pada akhirnya cinta itu harus menyerah pada harga diri terakhirku. Harga diri yang terpaksa kujual untuk mendapat lebih banyak harga diri lain.
         Mungkin bagi sebagian orang akan berkata, lebih baik kehilangan harga diri untuk orang yang paling dicintai. Daripada kehilangan orang yang dicintai untuk sebuah harga diri. Tapi bagiku, jika tanpa harga diri, apakah cinta kita masih dihargai? Sedang cinta yang tak dihargai adalah hal yang sia-sia untuk dipertahankan lagi.