Mereka salah satunya adalah Rizsaya, adik manisku yang menurutku begitu cepat tumbuh. Aku bahkan masih ingat betul saat aku tersenyum bahagia dihari pertamanya lahir kedunia, kebahagian yang sama seperti yang dirasakan ibu dan ayah tiriku. Adik tiri yang begitu kusayangi seperti ayah kandungnya yang begitu menyayangiku hingga sampai mengantarkanku meraih impian pengacara ini.
Tapi siang ini aku benar-benar tak percaya dengan yang ada. Saat adik tiri kesayanganku itu kudapati bersama dengan Arthur, pemuda kaya anak dari seorang pengusaha sukses yang cukup terkenal bernama Danny Ariyanto, ayah kandungku.
Aku mendesah,
" Kak....Aku..." Rizsaya mencoba menjelaskan, tapi saat mataku makin tajam menatap wajah manisnya turunan ayah Willy, suaranya mengabur.
" Mulai kapan ini?" Tanyaku gusar, kedua tanganku kulipat ke dada dengan punggung kusandarkan ke kursi.
Kedua ABG itu saling pandang.
" Perlu aku ulangi lagi pertanyaan tadi?" Aku makin gusar.
" Kak... kami sudah kuliah, kami sudah besar, bukan anak kecil lagi..." Sergah Rizsaya mencoba membela diri.
Aku tergelak
" Kalo begitu dengar baik-baik mahasiswa semester 1, selama biaya hidup, biaya kuliah, uang jajan, uang transport, bahkan uang untuk kotak amal masih minta orang tua dan kakakmu ini, jangan berani-berani mengaku sudah besar!"
" Iya, tapi..." Sanggahan Rizsaya tak jadi berlanjut.
" Memang apa salahnya sih kalo kami pacaran?" Arthur yang sejak tadi diam mulai angkat bicara.
Aku tergelak mendengar itu, sekilas menatap mata indah itu, mata yang kata ibu juga aku miliki.
" Diam kau tuan muda nakal, belum saatnya kau ngomong!"
" Hei, aku kan juga adikmu."
Deg!
Kalimat itu seperti setrum kecil yang cukup menyengat tubuhku. Aku bahkan hampir bisa melupakan keruwetan kisah hidupku. Mencoba menjalani hidup sewajar mungkin meski trauma itu tetap membekas padaku. Sebanyak apapun ibu mencoba mengobatinya tetap saja masih menghantui.
" Kau sudah dewasa, sudah saatnya membuka pintu hatimu itu dan memberi kesempatan orang lain menyapanya." Ucap ibu lembut, tiap kali aku mengunjunginya dirumah.
" Lalu membiarkan mereka melukainya? Tidak bu, aku tak bisa terluka."
" Kadang kita harus merasakan terluka dulu agar tau seberapa kuat kita nak."
Kutatap wajah yang mulai menua yang terbalut kerudung itu,
" Aku tau dengan kemampuanku bu, aku tau aku tak bisa sekuat ibu. Aku terlalu takut sekedar untuk mencoba terluka seperti itu bu."
Ibu meraih jemariku dan memegang pipiku.
" Ibu mohon, jangan hukum kami dengan ketakutanmu itu sayang."
Aku mendesah,
Kata-kata ibu tak mampu kulerai membelengguku saat ini. Kehidupanku memang terlalu pelik untuk kumaklumi meski umurku telah seperempat abad. Sudah 20 tahun sejak kejadian yang begitu menghantam hatiku itu, ketika ayah meninggalkan aku dan ibu demi wanita kaya raya.
" Maafkan dan kau pasti bisa melupakan semua yang menyakitkan. Membuat terus terpendam didalam sini hanya akan membuat luka yang lebih dalam."
Kata-kata ibu terngiang lagi.
Kutatap Arthur lagi.
'' Kau mengakui kalo aku ini kakakmu?" Tanyaku seperti tak percaya,
" Ya, kita kan memang satu ayah."
" Dan apa kau tau kalo Aya itu juga adikku?"
" Tentu saja"
" Lalu kenapa kau berani memacarinya?!" Bentakku memukul meja didepanku.
Tak ayal semua mata dikafe menatap kearah kami.
Aku mengatur nafasku untuk mengontrol emosiku.
" Aku bisa gila lebih cepat kalo begini." Rutukku menjambak rambutku sendiri.
" Kak... Bukankah dari segi manapun kami tak ada hubungan darah?" Tanya Rizsaya hati-hati.
" Kau bisa bilang begitu kalo kakak sudah tak ada. Selama kalian menganggap aku ini sebagai 'kakak' jangan pernah berharap yang kalian impikan bisa terwujud."
" Kau hanya terlalu takut menghadapi apa yang ada dihadapanmu." Sela Arthur membuatku tersentak kedua kalinya
" Apa?"
" Ya,"
Aku tertawa sinis
" Bukankah itu alasannya sampai sekarang kau tak pernah berani menjalin hubungan dengan seorang laki-laki?"
Tawaku seketika lenyap, mataku lekat menatap wajah Arthur.
" Kau tak jauh beda dengan ayahmu." Tudingku
" Jangan lupa kalo dia juga ayahmu." Balasa Arthur tak kalah lekat menatapku
Kentara sekali meski belum genap 19 tahun tapi anak ini memang jauh lebih berani dibanding keberanian yang kumiliki. Berani mencintai adik tiriku.
" Aya, kuantar kau pulang, dan jangan coba-coba menemui anak ini lagi." Desisku bangkit.
" Tapi kak...."
" Aku bahkan bisa membuat ibu setuju kau dipulangkan ke kampung tinggal dengan nenek" Lanjutku tanpa ekspresi,
" Kau terlalu kuat melawan arus, suatu saat kau sendiri yang akan terseret arus itu, jadi berhati-hatilah."
Kata-kata Arthur lebih mirip omongan orang dewasa yang sudah berpengalaman. Sesaat aku memang takjub dan mengagumi pemikirannya.Tapi kemudian aku tersadar,
" Kau belum mengerti apa itu melawan arus, jadi jangan menasihatiku tentang bahaya terseret arus." Lalu aku melangkah sembari menggandeng tangan Rizsaya.
Mungkin aku memang terlalu pengecut menghadapi apa yang ada dihadapanku. Sejak kecil hidupku memang sudah penuh dengan ketakutan yang bahkan belum terjadi. Tapi aku bisa apa? Hidupku sudah cukup rumit dengan silsilah keluarga dikanan dan kiri tanganku, aku bisa membayangkan lebih rumitnya lagi hidupku jika kedua adik tiriku pacaran.
" Kau masih belum cukup kuat melawan kekuatan cinta, kak." Ucapan Rizsaya membuatku tak jadi membuka pintu mobil.
" Apa?"
" Meski ada 10 orang seperti kakak berkumpul jadi satu, juga tak akan bisa melawan kekuatan cinta. Jangan karena ketakutan kakak, lalu menghalangi langkah kakak untuk terus melangkah." Lanjut Rizsaya
" Hei anak kecil..."
" Aku memang selalu anak kecil dihadapan kakak," Sela Rizsaya lagi,
" Tapi paling tidak aku masih lebih berani menghadapi apa yang ada dihadapanku. Memang butuh cukup waktu mengumpulkan keberanian itu, tapi akhirnya kami berhasil, kami memutuskan untuk menghadapi perasaan kami. Karena kami sadar, kami tak cukup kuat melawan arus itu."
Kuamati adik kecilku yang tak jauh beda membuatku takjub seperti pada Arthur tadi.
" Itu akan buat ibu terluka lagi." Kataku dingin.
" Ibu selalu mengajarkan forgive and forget. Maafkan kesalahannya maka kau bisa melupakan rasa sakitnya. Jadi aku yakin ibu tak akan terluka lagi, karena cinta kami bukan kesalahan."
Kulihat sosok Arthur sudah menjulang tak jauh dari Rizsaya berdiri. Lidahku kelu, yang berkecamuk didalam sini tak hanya 1-2 perasaan, aku benar-benar kewalahan menghadapinya. Kulihat mereka yang juga sedang memperhatikanku, seakan sama-sama sedang menantiku untuk jatuh dan mengaku menyerah.
" Kuharap ini bukan perasaan sesaat kalian, terutama kau tuan muda." kataku sedatar mungkin, lalu kubuka pintu mobil dan masuk.
Tanpa menunggu Rizsaya masuk, kujalankankan mobilku meninggalkan mereka berdua dengan perasaan yang masih tak karuan.
" Kuharap ini bukan perasaan sesaat kalian, terutama kau tuan muda." kataku sedatar mungkin, lalu kubuka pintu mobil dan masuk.
Tanpa menunggu Rizsaya masuk, kujalankankan mobilku meninggalkan mereka berdua dengan perasaan yang masih tak karuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar