Giok mendekati Naura yang duduk di bangku taman, sibuk membolak balik tumpukan kertas ditangannya. Giok duduk disamping Naura seraya menyodorkan air mineral yang tadi dipesannya saat pamit mau membeli minuman dan beberapa makanan kecil untuk teman ngobrol mereka sore ini.
" Ahh... ini benar-benar menyebalkan!" Dengus Naura tiba-tiba.
Giok mendelik,
" Apa yang kau maksud aku?"
" Bukan." Sahut Naura singkat tanpa menoleh
Giok mencondongkan wajahnya melihat raut muka Naura yang masam.
" Tadi pagi aku melihatnya lagi." Katanya seperti melapor " Ahh...ini sangat menyebalkan, aku benar-benar sampai tidak bisa konsentrasi kerja, bahkan ditempat terbuka beginipun tidak bisa. Aku bisa gila!!" Lanjutnya lebih seperti mengomel.
Giok tertawa lirih.
" Kenapa? Suka ya melihat aku begini? Belum ada seminggu aku tak sengaja bersamanya dalam satu bis, itu belum bisa kulupakan, tapi tadi pagi sudah dia tambahi lagi."
Pasti dia mmbicarakan 'penjaga hati' itu lagi. Dengus Giok dalam hati
" Siapa?" Tanya Giok pura-pura tau.
" Siapa lagi, si Rayyan."
Giok hanya ber-o pendek.
" Dia seperti hantu saja, aku tidak suka begini. Lebih baik aku seperti dulu saja, bekerja dirumah dan tidak berkeliaran diluar. "
" Heii.... " Protes Giok membuat Naura tersentak " Aku hampir 3 tahun berusaha mengeluarkanmu dari tempat persembunyianmu, baru 3 bulan ini berhasil. Kau baru memulai hidup orang normal, tiap pagi berangkat kerja naik bis dan bekerja seperti kebanyakan orang. Belanja di mall dan melihat orang banyak, bahkan sesekali bersantai ditempat terbuka begini. Lalu kenapa hanya karena bertemu mantan pacarmu yang tak penting itu kau punya niat mau kembali bersembunyi di kontrakan sempitmu itu?" Geram Giok panjang lebar.
Naura sempat melongo.
" Kau marah Gi?" Tanya Naura seperti tak percaya.
Selama ini Gioklah yang begitu setia menemani kehancuran Naura usai putus dengan Rayyan 3 tahun lalu.
Terkenang lagi 3 tahun lalu, saat awal-awal kepergian Rayyan dari hidup Naura. Tak banyak yang bisa dilakukannya selain meratapi semuanya. Lalu hadirlah Giok. Memang tak banyak berarti bagi Naura, tapi bagi Giok, melihat keterpurukan Naura yang begitu menyedihkan membuat Giok yang waktu itu baru masuk kuliah punya keinginan suatu hari akan membawa Naura keluar dari lubang gelap itu.
" Gi, sejak awal aku membiarkanmu memasuki duniaku karena kau..."
" Adik sepupumu. Ya, aku masih ingat itu." Sela Giok tak suka.
Naura mendesah.
" Gi, aku tak bisa begini. Aku benar-benar tak nyaman hidup seperti ini."
" Hidup seperti apa yang kau maksud? Kau mau bilang tak nyaman hidup seperti orang normal? Kenapa? Karena kau tak tahan bertemu laki-laki itu? Come on Na, hidup itu menatap kedepan, kau tak perlu terus-terusan terbelenggu dengan masa lalumu yang tak penting itu."
Naura lagi-lagi mendesah. Mendekap tumpukan kertas itu seraya menatap ke hamparan cakrawala.
" Aku memang terlalu naif, setelah 3 tahun aku tetap belum bia melupakannya. Jantungku masih berdebar tiap kali melihatnya. Aku sudah berusaha sangat kuat Gi, inilah yang kudapat, aku jadi takut melangkah lagi. Aku takut. " Ratap Naura
Giok mengulurkan tangannya, Naura menatap Giok dan tangan kekar itu bergantian.
" Ini tanganku, peganglah kuat-kuat jika kau takut. "
Naura tak langsung merespon, meski tangan itu benr-benar terlihat ikhlas terulur.
" Kau tau kan aku tak pernah suka menjadi Bu guru Hirose Michi untuk Hikaru?"
Giok tergelak.
" Kau tak pernah bosan mengingat drama jepang itu. Drama itu sangat menyedihkan, ya... meski akhirnya juga bersatu tapi alurnya hampir tak ada yang benar-benar bahagia. Paling tidak pakailah perumpamaan drama korea saja. Apa judulnya itu, drama tentang si cewek yang pengacara yang selalu ditemani anak SMA yang bisa membaca pikiran orang? Kalau tak salah pemainnya namanya Park So Haa dan pengacara jang."
Naura tergelak seketika.
" Apanya yang lucu?"
" Aku hanya tak menyangka saja kau ternyata suka nonton drama, drama korea pula."
" Itu karena aku manajer lapangan di perusahaan TV kabel. SBS adalah salah satu channel favorite para pelanggan." Ujar Giok menjelaskan.
" O... kukira kau penggemar drakor."
Keduanya tertawa kecil. Giok mengamati Naura tanpa kedip.
Kenapa kau tak pernah sekalipun memberiku kesempatan itu Na? Padahal aku benar-benar tulus mencintaimu. Bathin Giok. Apa karena kita saudara sepupu? Apa karena aku 5 tahun lebih muda darimu?
Giok mendesah berat, membuat Naura meliriknya heran.
" Kenapa? Ada masalah ditempat kerja?"
" Masalahnya ada disini." Jawab Giok menepuk dadanya sebelah kiri.
Naura tersipu.
" Kau ini...."
" Jika selama ini kau tak bisa melupakan mantan pacarmu, itu karena kau tak pernah berusaha membuka hatimu untuk orang lain. Jadi cobalah untuk membuka hatimu untuk orang lain agar kau bisa melupakan orang itu. Berjalanlah ke depan dan berhentilah menoleh kebelakang."
Naura pura-pura sibuk membuka tumpukan kertasnya.
" Gaya bicaramu malah seperti seorang politisi. panjang dan banyak tapi intinya cuma disitu saja." Ujar Naura menunduk tak berani menatap wajah Giok.
Giok menggeser duduknya lebih mnghadap Naura.
" 3 tahun aku berusaha meyakinkanmu Na, apakah masih kurang lama?"
Naura seperti terpojok, digeser tubuhnya sedikit menjauh.
" Jangan selalu membuatku jadi wanita jahat Gi, kau tau aku tak mungkin menerima ini."
" Aku tau alasanmu cukup rasional, tapi apakah cinta itu bisa dirasioanal? Cinta itu sendiri dari hati dan hati bertolak belakang dengan rasional. Kenapa kau begitu keukeuh menghindari perasaan itu sementara kau mengakui kau bisa merasakan kenyamanan dari perasaan itu?" Berondong Giok membuat Naura makin gelisah.
" Kumohon Gi, maafkan aku, tapi aku benar-benar tak bisa." Lirih Naura menunduk merengkuh tumpukan kertasnya kedada.
Giok mendesah panjang.
" Maaf, harusnya kau tak melepas cinta yang indah itu demi cinta tak berbalas ini." Lanjut Naura penuh penyesalan. Mengingat 2 tahun lalu Giok berpisah dengan pacarnya karena Giok terlalu memikirkan Naura.
" Ini bukan cinta tak berbalas atau cinta bertepuk sebelah tangan, Na. Ini adalah perasaan yang kumulai sendiri tapi yakin tak bisa kuakhiri sendiri."
Naura menatap Giok nanar. Giok tersenyum.
" Tenanglah, aku bisa mengatasi ini selama 3 tahun. Bisa dibilang aku sudah berpengalaman. Aku memang tak bisa memaksamu menerima cintaku. Tapi paling tidak biarkanlah aku terus berusaha untuk menarikmu keluar dari bayang-bayang masa lalu itu."
Naura menggigit bibirnya pelan. Mungkin trenyuh melihat kegigihan Giok, sepupunya.
Giok tersenyum tipis.
" Kalau kau menganggapnya sebagai 'penjaga hati', berarti dia seperti satpam. Dan satpam itu hanya berdiri didepan ruangan. Dia hanya berdiri didepan hatimu, menjagamu agar tak keluar dari dalam hati, dari dalam masa lalumu." Giok meraih jemari kiri Naura.
" Aku tak akan jadi penjag hati yang menjagamu diluar ruangan. Aku akan masuk dan menyeretmu keluar, agar kau bisa melihat terangnya sinar matahari dan dinginnya angin malam. Agar kau bisa merasakan sejuknya embun pagi dan segarnya guyuran air hujan. Agar kau bisa tau bahwa dunia ini luas dan ada seseorang yang menganggapmu sebagai dunianya."
Spontan Naura menarik tangannya. Giok menatap Naura sedih
Dan semua tanggapanmu selama ini benar-benar membuatku sakit. Bathin Giok melanjutkan.
" Benar, diluar sana pasti ada yang menganggap seseorang sebagai dunianya. Begitu juga kau, Gi ." Respon Naura akhirnya.
" Cinta itu sangat indah, jadi sangat sayang jika harus disia-siakan. Jangan menyia-yiakan perasaanmu demi cinta yang tak mungkin bersatu, Gi."
" Bukan tak mungkin, tapi hanya saja kau tak cukup berusaha memahami kehadirannya." Sanggah Giok.
Naura menunduk lagi.
Sungguh, aku tak pernah peduli semua ini akan berujung kapan. Memang benar alur kisah ini tak setragis kisah Hirose Michi dan Hikaru, masih banyak keping-keping bahagia yang bisa aku nikmati. Dan meski kebahagiaan itu seperti sinar hangat mentari atau sejuk embun di pagi hari, aku sudah cukup bahagia bisa duduk disampingmu dan menggenggam erat jemarimu saat kau sedih begini. Karena ini menandakan kau membutuhkanku, Naura-ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar