Jumat, 23 Januari 2015

Sang Mantan

         Audy mendesah lagi, tak jadi di teguknya minuman kaleng ditangannya saat disadari sepasang mata dihadapannya sedang memperhatikannya tanpa kedip.
" Kau banyak berubah Dy,.." Katanya, entah memuji atau yang lain.
" Bukankah memang begitu seharusnya hidup? Harus selalu berubah." Tanggap Audy dingin.
Pemilik mata yang tak pernah bergeser menatap Audy itu bernama Kiran. Mereka dulu adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, tapi ternyata cinta yang indah itu tak begitu kokoh. Terbukti begitu mudah goyah saat mereka baru ditahun  pertama.
" Sudah 2 tahun sejak perpisahan itu." Ucap Kiran seperti bergumam, dan Audy hanya berdehem.
" Bagaimana kabarmu selama ini?"
" Aku baik."
" Maaf untuk semua yang dulu..."
" Apa kita harus mengungkit hal yang sudah lama berlalu?" Desis Audy seperti protes
" Apa kau tak suka kita bertemu lagi begini?" 
" Jujur, iya."
Kiran tergelak lirih.

Bagi Audy pertemuan kembali dengan mantan yang dulu sangat dicintainya adalah siraman air garam pada luka lama yang belum kering benar. Meski tidak terpuruk jatuh tapi luka yang tercipta 2 tahun lalu itu tetaplah pukulan yang cukup menyakitkan. Dan cukup membuat Audy harus mengumpulkan sisa kekuatannya untuk tetap berdiri tegar hingga sampai detik ini. Dan kalo sekarang semua perjuangannya harus terusik sikap-sikap ramah itu, rasanya sangat tidak adil. Paling tidak, itulah menurut Audy.
" Kau terlalu jujur mengungkapkan perasaanmu." Ucap Kiran seperti menyindir
" Selama ini dialah yang menjadi alasanku hidup. Bagiku, meski menyakitkan tapi jujur tetap selamanya jauh lebih baik daripada bermanis-manis dalam kebohongan."
" Apa sekarang kau sedang menyindirku?" Sergah Kiran.
Audy menatap Kiran sekilas,
" Aku hanya sedang bicara. Tapi kalo kau merasa tersinggung, tolong dimaafkan."
Kiran tergelak lagi, tak percaya bahwa wanita dihadapannya saat ini adalah Audy yang dulu pernah dipacarinya.
" Kau memang banyak berubah. Apakah keberadaanku dihatimu juga sudah sepenuhnya kau ubah?"
Audy menatap Kiran lagi, tapi kali ini cukup lama. Sampai kemudian Audy mengalihkan pandangannya seraya meneguk minuman kalengnya.
" Bukankah memang itu yang dulu yang kau inginkan? Kau menyuruhku untuk mengakhiri semuanya, melupakan semuanya, dan tak pernah lagi berharap akan kembali selamanya?" Tanya Audy mengingatkan.
" Kau masih mengingat kata-kata yang terjadi dalam amarah itu?"
" Aku sudah banyak melupakan kata-kata yang menyakitkan, tapi untuk kalimat itu, aku masih cukup kesulitan. Mungkin butuh beberapa lama lagi."
Kiran menunduk.
" Maaf, dulu aku begitu banyak menyakitimu."
" Itu bukan hal penting lagi bagiku."
Kiran menatap wajah serius Audy yang sedikitpun seperti tak punya niat menatapnya.
" Aku menyukai kehidupanku yang sekarang. Tenang tanpa kebisingan suara kebohongan yang manis, juga pertengkaran."
" Tapi meskipun sangat pelan, kau tetap mendengar seruan kembali itu kan? Impian untuk bisa kembali itu masih ada kan?" Selidik Kiran 
Audy menatap wajah dihadapannya itu dengan tatapan yang seperti mencari kepastian hatinya sendiri.
" Tak ada gunanya memperhatikan keinginan lemah itu, toh, jalan untuk menuju kesana pun sudah mustahil." Lalu Audy bangkit.

Bagi Audy, butuh perjuangan keras dan panjang untuk keluar dari luka hati 2 tahun lalu itu. Mungkin memang tak bisa dipungkiri, dulu Audy memang mencintai Kiran. Bahkan telah dengan indahnya merangkai masa depan yang sesempurna mungkin dengannya. Tapi semua itu malah terbalas dengan berbagai sayatan tajam dan perih. Dan untuk mengobati semua itu Audy menggunakan serpihan cintanya. Terlalu banyaknya luka itu hingga tanpa disadarinya serpihan cinta itu habis tak bersisa.
" Apa sekarang kau memang sulit untuk tersenyum?" Tanya Kiran sebelum Audy melangkah untuk kedua kalinya.
" Dulu kau sangat pandai tersenyum, tapi hari ini sekalipun aku bahkan tak pernah melihat senyummu. Apa karena aku?"
Audy menunduk sebentar seraya menata hatinya yang sedikit goyah.
" Meskipun terluka, aku masih bisa tersenyum. Tapi aku tak perlu tersenyum didepan orang yang pernah membuatku terluka." Ucap Audy datar, tapi cukup membuat Kiran menatap wajah Audy dengan tatapan sayu.
Audy lalu melangkah pergi.

Minggu, 18 Januari 2015

Forgive & Forget

       Kuamati bergantian dua ABG dihadapanku saat ini dengan tatapan yang cukup menunjukkan kemarahan. Bukan hanya karena merusak meeting-ku dengan seorang klien baruku, tapi juga sudah cukup lebar mengorek luka lamaku. Dua ABG itu tertunduk.
Mereka salah satunya adalah Rizsaya, adik manisku yang menurutku begitu cepat tumbuh. Aku bahkan masih ingat betul saat aku tersenyum bahagia dihari pertamanya lahir kedunia, kebahagian yang sama seperti yang dirasakan ibu dan ayah tiriku. Adik tiri yang begitu kusayangi seperti ayah kandungnya yang begitu menyayangiku hingga sampai mengantarkanku meraih impian pengacara ini.
Tapi siang ini aku benar-benar tak percaya dengan yang ada. Saat adik tiri kesayanganku itu kudapati bersama dengan Arthur, pemuda kaya anak dari seorang pengusaha sukses yang cukup terkenal bernama Danny Ariyanto, ayah kandungku.
Aku mendesah,
" Kak....Aku..." Rizsaya mencoba menjelaskan, tapi saat mataku makin tajam menatap wajah manisnya turunan ayah Willy, suaranya mengabur.
" Mulai kapan ini?" Tanyaku gusar, kedua tanganku kulipat ke dada dengan punggung kusandarkan ke kursi.
Kedua ABG itu saling pandang.
" Perlu aku ulangi lagi pertanyaan tadi?" Aku makin gusar.
" Kak... kami sudah kuliah, kami sudah besar, bukan anak kecil lagi..." Sergah Rizsaya mencoba membela diri.
Aku tergelak
" Kalo begitu dengar baik-baik mahasiswa semester 1, selama biaya hidup, biaya kuliah, uang jajan, uang transport, bahkan uang untuk kotak amal masih minta orang tua dan kakakmu ini, jangan berani-berani mengaku sudah besar!"
" Iya, tapi..." Sanggahan Rizsaya tak jadi berlanjut.
" Memang apa salahnya sih kalo kami pacaran?" Arthur yang sejak tadi diam mulai angkat bicara.
Aku tergelak mendengar itu, sekilas menatap mata indah itu, mata yang kata ibu juga aku miliki.
" Diam kau tuan muda nakal, belum saatnya kau ngomong!" 
" Hei, aku kan juga adikmu."
Deg!
Kalimat itu seperti setrum kecil yang cukup menyengat tubuhku. Aku bahkan hampir bisa melupakan keruwetan kisah hidupku. Mencoba menjalani hidup sewajar mungkin meski trauma itu tetap membekas padaku. Sebanyak apapun ibu mencoba mengobatinya tetap saja masih menghantui.
" Kau sudah dewasa, sudah saatnya membuka pintu hatimu itu dan memberi kesempatan orang lain menyapanya." Ucap ibu lembut, tiap kali aku mengunjunginya dirumah.
" Lalu membiarkan mereka melukainya? Tidak bu, aku tak bisa terluka."
" Kadang kita harus merasakan terluka dulu agar tau seberapa kuat kita nak."
Kutatap wajah yang mulai menua yang terbalut kerudung itu,
" Aku tau dengan kemampuanku bu, aku tau aku tak bisa sekuat ibu. Aku terlalu takut sekedar untuk mencoba terluka seperti itu bu."
Ibu meraih jemariku dan memegang pipiku.
" Ibu mohon, jangan hukum kami dengan ketakutanmu itu sayang." 
Aku mendesah,
Kata-kata ibu tak mampu kulerai membelengguku saat ini. Kehidupanku memang terlalu pelik untuk kumaklumi meski umurku telah seperempat abad. Sudah 20 tahun sejak kejadian yang begitu menghantam hatiku itu, ketika ayah meninggalkan aku dan ibu demi wanita kaya raya. 
" Maafkan dan kau pasti bisa melupakan semua yang menyakitkan. Membuat terus terpendam didalam sini hanya akan membuat luka yang lebih dalam." 
Kata-kata ibu terngiang lagi.
Kutatap Arthur lagi.
'' Kau mengakui kalo aku ini kakakmu?" Tanyaku seperti tak percaya, 
" Ya, kita kan memang satu ayah."
" Dan apa kau tau kalo Aya itu juga adikku?"
" Tentu saja"
" Lalu kenapa kau berani memacarinya?!" Bentakku memukul meja didepanku.
Tak ayal semua mata dikafe menatap kearah kami.
Aku mengatur nafasku untuk mengontrol emosiku.
" Aku bisa gila lebih cepat kalo begini." Rutukku menjambak rambutku sendiri.
" Kak... Bukankah dari segi manapun kami tak ada hubungan darah?" Tanya Rizsaya hati-hati.
" Kau bisa bilang begitu kalo kakak sudah tak ada. Selama kalian menganggap aku ini sebagai 'kakak' jangan pernah berharap yang kalian impikan bisa terwujud."
" Kau hanya terlalu takut menghadapi apa yang ada dihadapanmu." Sela Arthur membuatku tersentak kedua kalinya
" Apa?"
" Ya,"
Aku tertawa sinis 
" Bukankah itu alasannya sampai sekarang kau tak pernah berani menjalin hubungan dengan seorang laki-laki?" 
Tawaku seketika lenyap, mataku lekat menatap wajah Arthur.
" Kau tak jauh beda dengan ayahmu." Tudingku
" Jangan lupa kalo dia juga ayahmu." Balasa Arthur tak kalah lekat menatapku
Kentara sekali meski belum genap 19 tahun tapi anak ini memang jauh lebih berani dibanding keberanian yang kumiliki. Berani mencintai adik tiriku. 
" Aya, kuantar kau pulang, dan jangan coba-coba menemui anak ini lagi." Desisku bangkit.
" Tapi kak...."
" Aku bahkan bisa membuat ibu setuju kau dipulangkan ke kampung tinggal dengan nenek" Lanjutku tanpa ekspresi,
" Kau terlalu kuat melawan arus, suatu saat kau sendiri yang akan terseret arus itu, jadi berhati-hatilah." 
Kata-kata Arthur lebih mirip omongan orang dewasa yang sudah berpengalaman. Sesaat aku memang takjub dan mengagumi pemikirannya.Tapi kemudian aku tersadar,
" Kau belum mengerti apa itu melawan arus, jadi jangan menasihatiku tentang bahaya terseret arus." Lalu aku melangkah sembari menggandeng tangan Rizsaya.

Mungkin aku memang terlalu pengecut menghadapi apa yang ada dihadapanku. Sejak kecil hidupku memang sudah penuh dengan ketakutan yang bahkan belum terjadi. Tapi aku bisa apa? Hidupku sudah cukup rumit dengan silsilah keluarga dikanan dan kiri tanganku, aku bisa membayangkan lebih rumitnya lagi hidupku jika kedua adik tiriku pacaran.
" Kau masih belum cukup kuat melawan kekuatan cinta, kak." Ucapan Rizsaya membuatku tak jadi membuka pintu mobil.
" Apa?"
" Meski ada 10 orang seperti kakak berkumpul jadi satu, juga tak akan bisa melawan kekuatan cinta. Jangan karena ketakutan kakak, lalu menghalangi langkah kakak untuk terus melangkah." Lanjut Rizsaya 
" Hei anak kecil..."
" Aku memang selalu anak kecil dihadapan kakak," Sela Rizsaya lagi, 
" Tapi paling tidak aku masih lebih berani menghadapi apa yang ada dihadapanku. Memang butuh cukup waktu mengumpulkan keberanian itu, tapi akhirnya kami berhasil, kami memutuskan untuk menghadapi perasaan kami. Karena kami sadar, kami tak cukup kuat melawan arus itu."
Kuamati adik kecilku yang tak jauh beda membuatku takjub seperti pada Arthur tadi.
" Itu akan buat ibu terluka lagi." Kataku dingin.
" Ibu selalu mengajarkan forgive and forget. Maafkan kesalahannya maka kau bisa melupakan rasa sakitnya. Jadi aku yakin ibu tak akan terluka lagi, karena cinta kami bukan kesalahan."
Kulihat sosok Arthur sudah menjulang tak jauh dari Rizsaya berdiri. Lidahku kelu, yang berkecamuk didalam sini tak hanya 1-2 perasaan, aku benar-benar kewalahan menghadapinya. Kulihat mereka yang juga sedang memperhatikanku, seakan sama-sama sedang menantiku untuk jatuh dan mengaku menyerah.
" Kuharap ini bukan perasaan sesaat kalian, terutama kau tuan muda." kataku sedatar mungkin, lalu kubuka pintu mobil dan masuk.
Tanpa menunggu Rizsaya masuk, kujalankankan mobilku meninggalkan mereka berdua dengan perasaan yang masih tak karuan.

Rabu, 14 Januari 2015

Bukan Penjaga Hati

Giok mendekati Naura yang duduk di bangku taman, sibuk membolak balik tumpukan kertas ditangannya. Giok duduk disamping Naura seraya menyodorkan air mineral yang tadi dipesannya saat pamit mau membeli minuman dan beberapa makanan kecil untuk teman ngobrol mereka sore ini.
" Ahh... ini benar-benar menyebalkan!" Dengus Naura tiba-tiba.
Giok mendelik, 
" Apa yang kau maksud aku?"
" Bukan." Sahut Naura singkat tanpa menoleh
Giok mencondongkan wajahnya melihat raut muka Naura yang masam.
" Tadi pagi aku melihatnya lagi." Katanya seperti melapor " Ahh...ini sangat menyebalkan, aku benar-benar sampai tidak bisa konsentrasi kerja, bahkan ditempat terbuka beginipun tidak bisa. Aku bisa gila!!" Lanjutnya lebih seperti mengomel.
Giok tertawa lirih.
" Kenapa? Suka ya melihat aku begini? Belum ada seminggu aku tak sengaja bersamanya dalam satu bis, itu belum bisa kulupakan, tapi tadi pagi sudah dia tambahi lagi."
Pasti dia mmbicarakan 'penjaga hati' itu lagi. Dengus Giok dalam hati
" Siapa?" Tanya Giok pura-pura tau.
" Siapa lagi, si Rayyan."
Giok hanya ber-o pendek.
" Dia seperti hantu saja, aku tidak suka begini. Lebih baik aku seperti dulu saja, bekerja dirumah dan tidak berkeliaran diluar. "
" Heii.... " Protes Giok membuat Naura tersentak " Aku hampir 3 tahun berusaha mengeluarkanmu dari tempat persembunyianmu, baru 3 bulan ini berhasil. Kau baru memulai hidup orang normal, tiap pagi berangkat kerja naik bis dan bekerja seperti kebanyakan orang. Belanja di mall dan melihat orang banyak, bahkan sesekali bersantai ditempat terbuka begini. Lalu kenapa hanya karena bertemu mantan pacarmu yang tak penting itu kau punya niat mau kembali bersembunyi di kontrakan sempitmu itu?" Geram Giok panjang lebar.
Naura sempat melongo.
" Kau marah Gi?" Tanya Naura seperti tak percaya.
Selama ini Gioklah yang begitu setia menemani kehancuran Naura usai putus dengan Rayyan 3 tahun lalu.

Terkenang lagi 3 tahun lalu, saat awal-awal kepergian Rayyan dari hidup Naura. Tak banyak yang bisa dilakukannya selain meratapi semuanya. Lalu hadirlah Giok. Memang tak banyak berarti bagi Naura, tapi bagi Giok, melihat keterpurukan Naura yang begitu menyedihkan membuat Giok yang waktu itu baru masuk kuliah punya keinginan suatu hari akan membawa Naura keluar dari lubang gelap itu.
" Gi, sejak awal aku membiarkanmu memasuki duniaku karena kau..."
" Adik sepupumu. Ya, aku masih ingat itu." Sela Giok tak suka.
Naura mendesah.
" Gi, aku tak bisa begini. Aku benar-benar tak nyaman hidup seperti ini."
" Hidup seperti apa yang kau maksud? Kau mau bilang tak nyaman hidup seperti orang normal? Kenapa? Karena kau tak tahan bertemu laki-laki itu? Come on Na, hidup itu menatap kedepan, kau tak perlu terus-terusan terbelenggu dengan masa lalumu yang tak penting itu."
Naura lagi-lagi mendesah. Mendekap tumpukan kertas itu seraya menatap ke hamparan cakrawala.
" Aku memang terlalu naif, setelah 3 tahun aku tetap belum bia melupakannya. Jantungku masih berdebar tiap kali melihatnya. Aku sudah berusaha sangat kuat Gi, inilah yang kudapat, aku jadi takut melangkah lagi. Aku takut. " Ratap Naura
Giok mengulurkan tangannya, Naura menatap Giok dan tangan kekar itu bergantian.
" Ini tanganku, peganglah kuat-kuat jika kau takut. " 
Naura tak langsung merespon, meski tangan itu benr-benar terlihat ikhlas terulur.
" Kau tau kan aku tak pernah suka menjadi Bu guru Hirose Michi untuk Hikaru?"
Giok tergelak.
" Kau tak pernah bosan mengingat drama jepang itu. Drama itu sangat menyedihkan, ya... meski akhirnya juga bersatu tapi alurnya hampir tak ada yang benar-benar bahagia. Paling tidak pakailah perumpamaan drama korea saja. Apa judulnya itu, drama tentang si cewek yang pengacara yang selalu ditemani anak SMA yang bisa membaca pikiran orang? Kalau tak salah pemainnya namanya Park  So Haa dan pengacara jang."
Naura tergelak seketika.
" Apanya yang lucu?"
" Aku hanya tak menyangka saja kau ternyata suka nonton drama, drama korea pula."
" Itu karena aku manajer lapangan di perusahaan TV kabel. SBS adalah salah satu channel favorite para pelanggan." Ujar Giok menjelaskan.
" O... kukira kau penggemar drakor." 
Keduanya tertawa kecil. Giok mengamati Naura tanpa kedip.
Kenapa kau tak pernah sekalipun memberiku kesempatan itu Na? Padahal aku benar-benar tulus mencintaimu. Bathin Giok. Apa karena kita saudara sepupu? Apa karena aku 5 tahun lebih muda darimu?
Giok mendesah berat, membuat Naura meliriknya heran.
" Kenapa? Ada masalah ditempat kerja?" 
" Masalahnya ada disini." Jawab Giok menepuk dadanya sebelah kiri.
Naura tersipu.
" Kau ini...."
" Jika selama ini kau tak bisa melupakan mantan pacarmu, itu karena kau tak pernah berusaha membuka hatimu untuk orang lain. Jadi cobalah untuk membuka hatimu untuk orang lain agar kau bisa melupakan orang itu. Berjalanlah ke depan dan berhentilah menoleh kebelakang."
Naura pura-pura sibuk membuka tumpukan kertasnya.
" Gaya bicaramu malah seperti seorang politisi. panjang dan banyak tapi intinya cuma disitu saja." Ujar Naura menunduk tak berani menatap wajah Giok. 
Giok menggeser duduknya lebih mnghadap Naura.
" 3 tahun aku berusaha meyakinkanmu Na, apakah masih kurang lama?"
Naura seperti terpojok, digeser tubuhnya sedikit menjauh.
" Jangan selalu membuatku jadi wanita jahat Gi, kau tau aku tak mungkin menerima ini."
" Aku tau alasanmu cukup rasional, tapi apakah cinta itu bisa dirasioanal? Cinta itu sendiri dari hati dan hati bertolak belakang dengan rasional. Kenapa kau begitu keukeuh menghindari perasaan itu sementara kau mengakui kau bisa merasakan kenyamanan dari perasaan itu?" Berondong Giok membuat Naura makin gelisah.
" Kumohon Gi, maafkan aku, tapi aku benar-benar tak bisa." Lirih Naura menunduk merengkuh tumpukan kertasnya kedada.
Giok mendesah panjang.
" Maaf, harusnya kau tak melepas cinta yang indah itu demi cinta tak berbalas ini." Lanjut Naura penuh penyesalan. Mengingat 2 tahun lalu Giok berpisah dengan pacarnya karena Giok terlalu memikirkan Naura.
" Ini bukan cinta tak berbalas atau cinta bertepuk sebelah tangan, Na. Ini adalah perasaan yang kumulai sendiri tapi yakin tak bisa kuakhiri sendiri."
Naura menatap Giok nanar. Giok tersenyum.
" Tenanglah, aku bisa mengatasi ini selama 3 tahun. Bisa dibilang aku sudah berpengalaman. Aku memang tak bisa memaksamu menerima cintaku. Tapi paling tidak biarkanlah aku terus berusaha untuk menarikmu keluar dari bayang-bayang masa lalu itu."
Naura menggigit bibirnya pelan. Mungkin trenyuh melihat kegigihan Giok, sepupunya.
Giok tersenyum tipis.
" Kalau kau menganggapnya sebagai 'penjaga hati', berarti dia seperti satpam. Dan satpam itu hanya berdiri didepan ruangan. Dia hanya berdiri didepan hatimu, menjagamu agar tak keluar dari dalam hati, dari dalam masa lalumu." Giok meraih jemari kiri Naura.
" Aku tak akan jadi penjag hati yang menjagamu diluar ruangan. Aku akan masuk dan menyeretmu keluar, agar kau bisa melihat terangnya sinar matahari dan dinginnya angin malam. Agar kau bisa merasakan sejuknya embun pagi dan segarnya guyuran air hujan. Agar kau bisa tau bahwa dunia ini luas dan ada seseorang yang menganggapmu sebagai dunianya."
Spontan Naura menarik tangannya. Giok menatap Naura sedih
Dan semua tanggapanmu selama ini benar-benar membuatku sakit. Bathin Giok melanjutkan.
" Benar, diluar sana pasti ada yang menganggap seseorang sebagai dunianya. Begitu juga kau, Gi ." Respon Naura akhirnya.
" Cinta itu sangat indah, jadi sangat sayang jika harus disia-siakan. Jangan menyia-yiakan perasaanmu demi cinta yang tak mungkin bersatu, Gi."
" Bukan tak mungkin, tapi hanya saja kau tak cukup berusaha memahami kehadirannya." Sanggah Giok.
Naura menunduk lagi. 

Sungguh, aku tak pernah peduli semua ini akan berujung kapan. Memang benar alur kisah ini tak setragis kisah Hirose Michi dan Hikaru, masih banyak keping-keping bahagia yang bisa aku nikmati. Dan meski kebahagiaan itu seperti sinar hangat mentari atau sejuk embun di pagi hari, aku sudah cukup bahagia bisa duduk disampingmu dan menggenggam erat jemarimu saat kau sedih begini. Karena ini menandakan kau membutuhkanku, Naura-ku.