Entah sejak kapan awalnya, tiba-tiba aku suka sekali dengan yang namanya hujan. Dan setelah kejadian itu, aku makin tergila-gila pada hujan. Aku akan bersorak kegirangan meski hanya dalam hati, saat tiba waktunya musim hujan.
Sore itu, setahun yang lalu pada awal musim hujan seperti ini. Saat aku baru keluar dari tempat kerjaku di perpustakaan daerah menuju tempat kostku. Bus yang kutunggu tak juga datang-datang akhirnya aku memutuskan berjalan sambil menunggu, dan tiba-tiba gerimis turun dengan cukup deras diiringi desir angin yang cukup kencang menerpa tubuhku. Aku mendongak ke atas, dan langsung saja titik-titik anak air hujan langsung menyapaku. Aku tersenyum kecil. Saat tanganku perlahan hendak terangkat, tiba-tiba sebuah benda menghalangi pandanganku akan indahnya air hujan. Payung.
Aku menoleh, saraut wajah seorang pria menatapku dengan payung ditangannya sedang memayungiku.
" Kata orang, air hujan awal musim penghujan tidak baik untuk kesehatan, pakailah payung ini" Katanya kemudian, sambil menyodorkan payung yang dipegangnya.
" Kenapa?ah... benar, kau pasti tak ingat siapa aku, kau kan melihat orang tak pernah lebih dari sedetik, jauh lebih lama dari saat kau menatap air hujan yang turun dari langit" Lanjutnya membuatku sedikit tersinggung.
" Coba kau menatap orang didepanmu selama kau menatap air hujan, kau pasti mengenalku." Kali ini dia meraih tanganku dan membuatku memegang payung yang tadi ditangannya.
" Aku berkunjung 2-3 kali dalam seminggu di perpustakaan tempat kerjamu, dan itu sudah hampir setahun lamanya. Jadi tak usah khawatir, 3-4 hari lagi kau bisa mengembalikan payung ini saat aku berkunjung nanti."
Aku masih terbengong saat itu, dan hanya menatap kepergiannya menerobos gerimis hujan yang kian deras dan besar dengan berlari cukup kencang.
Besoknya, di tempat kerjaku, perpustakaan daerah, kucari daftar nama pengunjung dan alhasil kutemukan sebuah nama Damar.
Mungkin memang tak salah tuduhannya waktu itu, aku memang tak akan mengenali orang meski 2-3 kali seminggu bertemu, karena aku menatap wajah mereka tak lebih dari sedetik.
Sejak hari itu aku seperti menanti kedatangannya yang dapat dipastikan hari selasa, kamis, dan sabtu. Meski sudah 2 minggu tetap tak kukembalikan payungnya dengan berbagai alasan. Aku takut saat payung itu kukembalikan aku tak punya alasan pulang bersamanya bila hujan turun.
" Kau sepertinya suka sekali dengan hujan, kenapa?" Tanyanya sore itu, saat kami berjalan bersama dalam satu payungnya menuju halte bus.
" Mereka irama alami yang indah. Aku merasa bila musim penghujan datang, duniaku makin berirama. Karena akan sering kudengar nyanyian langit, titik-titik bermelodi yang jatuh lewat dedaunan dan ranting. Melihat hujan yang deras di tanah yang lapang seperti melihat langkah2 kecil yang begitu banyak berlarian gembira."
Damar tersenyum mendengar penjelasanku.
" Kau pasti juga menyangka kalau hujan itu hanya tetesan air dari langit kan?" Tanyaku
" Apa lagi? Hujan kan memang tetesan air dari langit." Jawabnya membenarkan.
Aku tersenyum, kami duduk di bangku halte yang sepi, hanya 2 orang yang di sebelah kami yang juga sedang menunggu bus.
" Tapi menurutku hujan adalah tetesan air mata langit"
Damar mengerutkan dahinya , lalu tersenyum lebar
" Kau ini..." Katanya mengambang
Lalu ada seorang pemuda berlari menutupi kepalanya dengan tas ranselnya, buru-buru sampai di halte, dan bergabung dengan kami.
" Kau lihat orang itu." Tanyaku sedikit berbisik.
Damar melirik sebentar ke pemuda yang kumaksud.
" Dia tadi berlari menghindari hujan kan? Dulu waktu kau memberikan payungmu padaku, kau juga berlari menghindari hujan."
Damar tergelak.
" Kau ini, ya iyalah, kan hujan."
" Ya itu..."
Damar mendelik.
" Semua orang menghindari hujan, padahal mereka datang untuk membasahi tanah yang kering, daun-daun yang layu, bunga-bunga yang hampir mati...Langit kan jadi sedih."
" Tapi kalau kita hujan-hujan akhirnya kita bisa sakit. Jadi selama ada aku kau tak akan punya alasan berjalan dibawah hujan. Karena aku akan selalu membagi payungku denganmu. Dan kalau aku tak datang, kau harus pakai payung yang kau simpan di tasmu itu, ok?!"
Aku terhenyak kaget campur malu karena ternyata Damar tau aku berbohong soal payungnya yang selalu lupa kubawa.
Damar hanya tersenyum.
Dan setelah hari itu, tiap selasa-kamis-sabtu kami bertemu. Aku tak tau sampai kapan kami akan terus begini, tapi aku merasa nyaman saat ada disisi Damar, meski aku harus mengorbankan hujan-ku. Damar selalu melarangku berjalan dalam hujan, bahkan untuk sekedar mengulurkan tangan pada mereka pun aku tak boleh lama-lama.
Tapi saat musim hujan mulai berakhir, saat pelangi mulai sering menghiasi langit usai hujan turun, Damar jadi makin jarang mengunjungi perpustakaan. Sempat kuhubungi ponselnya, tapi tak aktif. Bahkan aku mencoba mengunjungi apartemen kecilnya, tapi juga sepi tak berpenghuni. Menurut tetangganya, Damar memang jarang pulang, tapi akhir-akhir ini dia makin hampir tak terlihat.
Aku terngungu dibangku taman dekat perpustakaan tempat kerjaku. Ditanganku payung Damar setahun lalu itu masih terlihat tak banyak berubah, karena aku memang hampir tak pernah membukanya. Aku tak pernah menuruti pesannya yang menyuruhku memakai payung ini jika dia tidak ada. Aku menunggunya mendatangiku dan memayungiku dengan payungnya. Tapi sampai musim hujan datang lagi tak juga kudapati itu.
Bagi beberapa orang, mungkin hujan hanya sebuah titik-titik air yang jatuh dari langit. Tapi bagiku, mereka adalah kawan dalam duniaku yang sepi. Mereka sempat kujauhi saat seorang pemuda baik itu datang menhiasi hidupku dengan gemerlap lampu-lampu cinta. Sayang gemerlap itu tak bertahan lama. Untunglah hujan masih bersedia menerimaku kembali. Dan aku makin menyukai mereka
Aku tak peduli jika esok akan datang lagi 'Damar' yang lain, yang mencoba menawariku gemerlap lampu-lampu cinta, aku tak akan meninggalkan hujan-ku lagi. Mereka lah yang setia menemaniku sepanjang musim penghujan dan akan selalu berjanji kembali pada waktunya tiba. Mereka yang paling mengerti mengapa aku suka berjalan penuh bahagia bersama mereka saat orang lain berlarian menghindari curahan itu.
Kudongakkan wajahku menyambut sapaan lembut mereka, lalu tiba-tiba....
" Bukankah ditanganmu ada payung? Kenapa tak memakainya?" Tanya sebuah suara
Aku menoleh ke sumber suara itu, derai hujan kian deras.
" Karena aku menyukainya." Jawabku pasti.
" Karena mereka tak pernah membohongiku. Tak pernah meninggalkanku saat semua orang tak bisa berlama-lama denganku. Dan tak pernah berjanji apapun padaku." Lanjutku sedih
" Maaf." Ucapnya. Damar.
" Hujan tak pernah menyalahkan orang-orang yang menghindari kedatangan mereka. Hujan juga tak berharap orang-orang mendatangi mereka karena alasan merasa bersalah."
Damar menunduk, dan untuk pertama kalinya aku dan Damar berada ditengah-tengah hujan-ku.
" Jujur, sebenarnya aku iri pada hujan-mu. Mereka begitu kau sayangi bahkan tanpa peduli sayangmu itu mungkin bisa menyakitimu. Aku iri karena cintamu pada hujan jauh lebih besar dibanding dengan aku yang begitu menyayangimu. "
Aku membisu.
Aku tak pernah berfikir sampai kesitu untuk alasan Damar yang tiba-tiba menghilang.
" Aku memang menyayangi mereka, tapi aku tak pernah merasa kehilangan saat mereka tak lagi datang. Perasaan itu berbeda saat kau tiba-tiba tidak lagi menemuiku." Ucapku akhirnya.
Damar mengambil payung ditanganku dan membukanya. Memayungkannya padaku.
" Aku mungkin tak bisa seperti hujan-mu yang tak pernah membohongimu, tak pernah meninggalkanmu, ataupun berjanji apapun padamu. Tapi beri aku kesempatan memayungimu seperti ini. Karena aku selalu takut hujan merebutmu dari aku."
Sekarang aku sadar, Damar memang tak setulus hujan yang datang menemaniku. Mungkin ada kalanya dia pun meninggalkanku dalam kesepian yang tak tentu, tapi aku tak bisa pungkiri, aku merasa sangat kehilangan saat dia tak lagi menyapaku. Dan itu tak pernah kurasakan pada hujan-ku.
Aku bangkit dan mendekat pada Damar, tanganku ikut memegang payung itu.
" Bukankah kau yang bilang akan selalu berbagi payung denganku? Kenapa sekarang hanya memayungiku dan membiarkanmu kehujanan? Kau juga kan yang bilang air hujan tak baik untuk kesehatan."
Damar hanya tersenyum menanggapi omelanku.
Hujan, aku tak pernah menduakanmu, aku tetap menyukaimu, tapi memang adakalanya kita perlu seseorang yang menemani kita berjalan dibawah derasnya air hujan.
rhythm of the rain
26/12/2014