Jumat, 26 Desember 2014

KAU & HUJAN-KU

Musim hujan telah datang lagi. Hatiku bersorak menyambutnya. Hari-hari kedepan aku pasti akan lebih terhibur oleh mereka. Duniaku akan jadi sedikit berirama, akan sedikit punya teman dalam kesunyian. 
Entah sejak kapan awalnya, tiba-tiba aku suka sekali dengan yang namanya hujan. Dan setelah kejadian itu, aku makin tergila-gila pada hujan. Aku akan bersorak kegirangan meski hanya dalam hati, saat tiba waktunya musim hujan.

Sore itu, setahun yang lalu pada awal musim hujan seperti ini. Saat aku baru keluar dari tempat kerjaku di perpustakaan daerah menuju tempat kostku. Bus yang kutunggu tak juga datang-datang akhirnya aku memutuskan berjalan sambil menunggu, dan tiba-tiba gerimis turun dengan cukup deras diiringi desir angin yang cukup kencang menerpa tubuhku. Aku mendongak ke atas, dan langsung saja titik-titik anak air hujan langsung menyapaku. Aku tersenyum kecil. Saat tanganku perlahan hendak terangkat, tiba-tiba sebuah benda menghalangi pandanganku akan indahnya air hujan. Payung.
Aku menoleh, saraut wajah seorang pria menatapku dengan payung ditangannya sedang memayungiku.
" Kata orang, air hujan awal musim penghujan tidak baik untuk kesehatan, pakailah payung ini" Katanya kemudian, sambil menyodorkan payung yang dipegangnya.
" Kenapa?ah... benar, kau pasti tak ingat siapa aku, kau kan melihat orang tak pernah lebih dari sedetik, jauh lebih lama dari saat kau menatap air hujan yang turun dari langit" Lanjutnya membuatku sedikit tersinggung.
" Coba kau menatap orang didepanmu selama kau menatap air hujan, kau pasti mengenalku." Kali ini dia meraih tanganku dan membuatku memegang payung yang tadi ditangannya.
" Aku berkunjung 2-3 kali dalam seminggu di perpustakaan tempat kerjamu, dan itu sudah hampir setahun lamanya. Jadi tak usah khawatir, 3-4 hari lagi kau bisa mengembalikan payung ini saat aku berkunjung nanti." 
Aku masih terbengong saat itu, dan hanya menatap kepergiannya menerobos gerimis hujan yang kian deras dan besar dengan berlari cukup kencang.
Besoknya, di tempat kerjaku, perpustakaan daerah, kucari daftar nama pengunjung dan alhasil kutemukan sebuah nama Damar. 
Mungkin memang tak salah tuduhannya waktu itu, aku memang tak akan mengenali orang meski 2-3 kali seminggu bertemu, karena aku menatap wajah mereka tak lebih dari sedetik.

Sejak hari itu aku seperti menanti kedatangannya yang dapat dipastikan hari selasa, kamis, dan sabtu. Meski sudah 2 minggu tetap tak kukembalikan payungnya dengan berbagai alasan. Aku takut saat payung itu kukembalikan aku tak punya alasan pulang bersamanya bila hujan turun.
" Kau sepertinya suka sekali dengan hujan, kenapa?" Tanyanya sore itu, saat kami berjalan bersama dalam satu payungnya menuju halte bus.
" Mereka irama alami yang indah. Aku merasa bila musim penghujan datang, duniaku makin berirama. Karena akan sering kudengar nyanyian langit, titik-titik bermelodi yang jatuh lewat dedaunan dan ranting. Melihat hujan yang deras di tanah yang lapang seperti melihat langkah2 kecil yang begitu banyak berlarian gembira."
Damar tersenyum mendengar penjelasanku.
" Kau pasti juga menyangka kalau hujan itu hanya tetesan air dari langit kan?" Tanyaku
" Apa lagi? Hujan kan memang tetesan air dari langit." Jawabnya membenarkan.
Aku tersenyum, kami duduk di bangku halte yang sepi, hanya 2 orang yang di sebelah kami yang juga sedang menunggu bus.
" Tapi menurutku hujan adalah tetesan air mata langit"
Damar mengerutkan dahinya , lalu tersenyum lebar
" Kau ini..." Katanya mengambang
Lalu ada seorang pemuda berlari menutupi kepalanya dengan tas ranselnya, buru-buru sampai di halte, dan bergabung dengan kami.
" Kau lihat orang itu." Tanyaku sedikit berbisik.
Damar melirik sebentar ke pemuda yang kumaksud.
" Dia tadi berlari menghindari hujan kan? Dulu waktu kau memberikan payungmu padaku, kau juga berlari menghindari hujan."
Damar tergelak.
" Kau ini, ya iyalah, kan hujan."
" Ya itu..."
Damar mendelik.
" Semua orang menghindari hujan, padahal mereka datang untuk membasahi tanah yang kering, daun-daun yang layu, bunga-bunga yang hampir mati...Langit kan jadi sedih."
" Tapi kalau kita hujan-hujan akhirnya kita bisa sakit. Jadi selama ada aku kau tak akan punya alasan berjalan dibawah hujan. Karena aku akan selalu membagi payungku denganmu. Dan kalau aku tak datang, kau harus pakai payung yang kau simpan di tasmu itu, ok?!"
Aku terhenyak kaget campur malu karena ternyata Damar tau aku berbohong soal payungnya yang selalu lupa kubawa.
Damar hanya tersenyum.
Dan setelah hari itu, tiap selasa-kamis-sabtu kami bertemu. Aku tak tau sampai kapan kami akan terus begini, tapi aku merasa nyaman saat ada disisi Damar, meski aku harus mengorbankan hujan-ku. Damar selalu melarangku berjalan dalam hujan, bahkan untuk sekedar mengulurkan tangan pada mereka pun aku tak boleh lama-lama.

Tapi saat musim hujan mulai berakhir, saat pelangi mulai sering menghiasi langit usai hujan turun, Damar jadi makin jarang mengunjungi perpustakaan. Sempat kuhubungi ponselnya, tapi tak aktif. Bahkan aku mencoba mengunjungi apartemen kecilnya, tapi juga sepi tak berpenghuni. Menurut tetangganya, Damar memang jarang pulang, tapi akhir-akhir ini dia makin hampir tak terlihat.
Aku terngungu dibangku taman dekat perpustakaan tempat kerjaku. Ditanganku payung Damar setahun lalu itu masih terlihat tak banyak berubah, karena aku memang hampir tak pernah membukanya. Aku tak pernah menuruti pesannya yang menyuruhku memakai payung ini jika dia tidak ada. Aku menunggunya mendatangiku dan memayungiku dengan payungnya. Tapi sampai musim hujan datang lagi tak juga kudapati itu.

Bagi beberapa orang, mungkin hujan hanya sebuah titik-titik air yang jatuh dari langit. Tapi bagiku, mereka adalah kawan dalam duniaku yang sepi. Mereka sempat kujauhi saat seorang pemuda baik itu datang menhiasi hidupku dengan gemerlap lampu-lampu cinta. Sayang gemerlap itu tak bertahan lama. Untunglah hujan masih bersedia menerimaku kembali. Dan aku makin menyukai mereka
Aku tak peduli jika esok akan datang lagi 'Damar' yang lain, yang mencoba menawariku gemerlap lampu-lampu cinta, aku tak akan meninggalkan hujan-ku lagi. Mereka lah yang setia menemaniku sepanjang musim penghujan dan akan selalu berjanji kembali pada waktunya tiba. Mereka yang paling mengerti mengapa aku suka berjalan penuh bahagia bersama mereka saat orang lain berlarian menghindari curahan itu.
Kudongakkan wajahku menyambut sapaan lembut mereka, lalu tiba-tiba....
" Bukankah ditanganmu ada payung? Kenapa tak memakainya?" Tanya sebuah suara
Aku menoleh ke sumber suara itu, derai hujan kian deras.
" Karena aku menyukainya." Jawabku pasti.
" Karena mereka tak pernah membohongiku. Tak pernah meninggalkanku saat semua orang tak bisa berlama-lama denganku. Dan tak pernah berjanji apapun padaku." Lanjutku sedih
" Maaf." Ucapnya. Damar.
" Hujan tak pernah menyalahkan orang-orang yang menghindari kedatangan mereka. Hujan juga tak berharap orang-orang mendatangi mereka karena alasan merasa bersalah."
Damar menunduk, dan untuk pertama kalinya aku dan Damar berada ditengah-tengah hujan-ku.
" Jujur, sebenarnya aku iri pada hujan-mu. Mereka begitu kau sayangi bahkan tanpa peduli sayangmu itu mungkin bisa menyakitimu. Aku iri karena cintamu pada hujan jauh lebih besar dibanding dengan aku yang begitu menyayangimu. "
Aku membisu. 
Aku tak pernah berfikir sampai kesitu untuk alasan Damar yang tiba-tiba menghilang.
"  Aku memang menyayangi mereka, tapi aku tak pernah merasa kehilangan saat mereka tak lagi datang. Perasaan itu berbeda saat kau tiba-tiba tidak lagi menemuiku." Ucapku akhirnya.
Damar mengambil payung ditanganku dan membukanya. Memayungkannya padaku.
" Aku mungkin tak bisa seperti hujan-mu yang tak pernah membohongimu, tak pernah meninggalkanmu, ataupun berjanji apapun padamu. Tapi beri aku kesempatan memayungimu seperti ini. Karena aku selalu takut hujan merebutmu dari aku."
Sekarang aku sadar, Damar memang tak setulus hujan yang datang menemaniku. Mungkin ada kalanya dia pun meninggalkanku dalam kesepian yang tak tentu, tapi aku tak bisa pungkiri, aku merasa sangat kehilangan saat dia tak lagi menyapaku. Dan itu tak pernah kurasakan pada hujan-ku.
Aku bangkit dan mendekat pada Damar, tanganku ikut memegang payung itu.
" Bukankah kau yang bilang akan selalu berbagi payung denganku? Kenapa sekarang hanya memayungiku dan membiarkanmu kehujanan? Kau juga kan yang bilang air hujan tak baik untuk kesehatan." 
Damar hanya tersenyum menanggapi omelanku.
Hujan, aku tak pernah menduakanmu, aku tetap menyukaimu, tapi memang adakalanya kita perlu seseorang yang menemani kita berjalan dibawah derasnya air hujan.


rhythm of the rain
26/12/2014



Sabtu, 20 Desember 2014

Sisi Lain Sisy


           Kupandangi punggung kecil didepanku itu, berjalan tanpa suara dan seperti juga tanpa ekspresi. Untuk ukuran orang yang baru dua jam lalu pingsan, dia terlihat sudah bugar. 
Huuuhh... aku bahkan belum bisa melupakan kejadian tadi, saat tiba-tiba dia pingsan saat aku ada didekatnya, dan itu bukan sebuah kesengajaan seperti saat ini. Tapi aku sadar, tanpa pernyataannya tadi , mungkin aku akan kena masalah
" Apa? Ibu bilang aku mau menjahati Sisy? Apa aku punya tampang seperti itu?" Desisku pada Bu Aida, dosen konseling kampus.
" Bukankah itu ciri khasmu?" Sanggah Bu Aida telak,
Aku tersenyum kecut, 
Sebejat-bejatnya aku, tak mungkin aku berbuat tidak baik pada Sisy, dia salah satu dari segelintir teman kampusku yang memandangku lain. Lagipula Sisy sering meminjamiku catatan makul kalo aku lagi bolos kuliah. Paling tidak, aku cukup menghormati gadis ini, diluar dia adalah anak salah satu pemilik saham kampus ini, dan kakaknya juga seorang pengacara. 
Sisy adalah salah satu bintang dikampus ini, memang untuk ukuran wajah dia tetap satndart, tapi soal IQ dan partisipasinya dalam berbagai kegiatan membuatnya seperti artis kampus. Mungkin semua orang dikampus ini mengenalnya dengan baik. Mulai dari tukang sapu kampus, satpam kampus,dosen dan rektor, mahasiswa mulai tingkat paling awal sampai yang mau lulus, bahkan penjual asongan di depan kampus pun pasti mengenal Sisy.Dan tentu saja dengan pribadinya yang baik, tidak sombong, suka menolong, dan selalu bersahaja. Dia andalan di setiap program amal dan kegiatan kampus lainnya. Entah darimana energi yang membuatnya aktif seperti itu, yang pasti Sisy memang pantas diacungi jempol dalam segala hal. Dan satu lagi, dirumahnya pasti ada lebih dari 1-2 mobil, tapi Sisy lebih sering naik bus, kadang kala saja terlihat diantar kakak laki-lakinya yang pengacara itu.
" Ini tak ada kaitannya dengan Bram." Sela Sisy tiba-tiba, entah kapan dia tersadar dari pingsannya karena beberapa menit sebelumnya aku masih melihat matanya tertutup.
" Owwhh... Ya sudah kalo begitu. Aku percaya yang kau katakan." Ujar Bu Aida kemudian berlalu.
Aku tergelak tak percaya.
" Hah? Sisy hanya bilang begitu anda langsung percaya? Apa ini tidak keterlaluan? Anda percaya aku tak melakukan kejahatan kalo orang lain yang bilang?" Protesku diiringi gelak pahit. Tapi siapa yang mau mendengarku? Aku terkenal mahasiswa badung, bahkan dicap playboy kelas kakap yang selalu mempermainkan cewek-cewek. Huuuffttt....
Dan untuk rasa terimakasihku karena Sisy sudah 'membawaku' keluar dari jebakan dosen konseling, aku menawarkan diri mengantarnya pulang ke rumahnya. Tapi lorong gang sempit ini bukan jalan menuju rumahnya. Karena setahuku, Sisy tinggal di real estate mewah.
" Sisy..." Panggilku tetap berjalan mengikutinya.
Sisy hanya berdehem pendek, tak berhenti atau sekedar menoleh ke belakang. 
Sebenarnya aku malas sekali berjalan dibelakang orang yang kuajak bicara, tapi mau bagaimana lagi, lorong gang ini terlalu sempit, tak cukup untuk berjalan 2 orang beriringan.
" Kita sebenarnya mau kemana? Tadi aku kan menawarimu pulang." Tanyaku akhirnya, karena lama-lama aku tak bisa menahan rasa ingin tauku, kenapa Sisy malah ke tempat lumayan kumuh begini.
Belum juga Sisy menjawab pertanyaanku, tiba-tiba ada sebuah seruan dari seseorang di sebuah loteng,
" Sisy, makin cantik saja kau!" 
Seruan itu seperti sebuah sapaan familiar untuk orang semewah Sisy, bahkan aku pun belum cukup berani menyapa begitu. Tapi pemuda di loteng itu berani, dan Sisy hanya menanggapi dengan senyum lebar dan melambai. Lalu melangkah lagi. Tak hanya itu, beberapa orang, paruh baya atau seumuran kami pun banyak yang menyapa Sisy, dan anehnya Sisy menanggapinya dengan sangat gembira. Kontras sekali dengan mimik wajahnya saat berhadapan dengan kakaknya tadi.
" Jangan terlalu banyak berfikir, nanti kau juga akan tau, dan kuharap setelah tau kau jangan terlalu kaget. Dan..." Sisy spontan membalikkan tubuhnya, terang saja aku kaget dan berhenti mendadak.
" Tak perlu katakan pada yang lain tentang kunjunganku ke tempat ini." Lanjutnya serius
Alisku terangkat.
" Bukan soal aku malu, tapi aku hanya malas kalo terdengar keluargaku."
" Hah?" Tak sadar aku menganga.
Sisy kembali melangkah, menuju sebuah rumah kecil lagi sangat sederhana. Tangannya hendak membuka handle pintu tapi sepertinya terkunci. Sisy lalu duduk di kursi kayu yang usang disebelah pintu.
" Rumah siapa ini?"Tanyaku ikut duduk.
" Ibuku"
Mataku memicing. Jujur, aku benar-benar kaget.
" Ibu? Bukannya mamamu pemilik salon yang cukup terkenal itu?"
" Tidak. Wanita itu bukan siapa-siapa, selain orang yang aku benci." Kata terakhirnya cukup membuat suasana hati Sisy makin berbeda dari biasanya yang kukenal, wajahnya tertunduk.
Aku tak menyangka saja, ternyata Sisy sang malaikat kampus itu, yang selalu terlihat serba bisa, enerjik, dan seperti matahari ceria itu punya sisi lain dalam raut wajahnya. Wajah yang sendu, penuh kesedihan.
Aiiiiiiiissshh...... apa pula ini? Kenapa aku jadi lebay begini? Rutukku
" Sisy..."
Kami berdua kaget dengan sapaan itu. Kami mendongak, sekitar 2 meter dari tempat kami duduk ada seorang ibu paruh baya berjilbab lebar dan gamis murahan menenteng sebuah box makanan.
" Ibu." Seru Sisy bangkit mendekat.
Aku melongo lagi.
Ibu?!
Sisy mengambil alih box makanan itu dari tangan wanita bernama "ibu" itu, lalu Sisy mencium tangannya dengan lembut.
" Sudah kesini lagi, nanti ayahmu mencari." Kata wanita paruh baya itu seperti khawatir
" Makin hari dia makin sayang dengan uangnya, bukan dengan anaknya" Sungut Sisy manyun, aku sampai tersenyum kecil melihat ekspresi childish itu.
" Eehh... tak boleh begitu."
" Apanya yang tak boleh? Ibu tau dimana dia seminggu ini? Ke malaysia, dan dia tak pernh sekalipun menelponku. Apa itu namanya?" Kali ini ekspresinya berubah marah
" Ya itu kan karena sibuk."
" Ibu... kenapa sih selalu membelanya? Dia itu jahat!" Sergah Sisy, makin geram.
Wanita paruh baya itu kemudian menyadari keberadaanku, menatapku sekilas, aku tersenyum kecil.
" Dia teman kuliahmu?"
Sisy mengangguk, 
" Tadi aku kurang enak badan, dan dia menawariku mengantarku, jadi ya kusuruh dia mengantarku kesini"
" Kurang enak badan?" Ulang sang Ibu.
" Tak apa, paling cuma kecapekan kemarin habis koordinir kegiatan amal" Timpal Sisy berbohong. Padahal aku tau pasti kemarin tak ada jadwal apapun di kampus.
Sang Ibu melangkah masuk rumah setelah membuka kunci pintunya.
" Masuklah, tapi rumahnya sangat sederhana" Ucapnya padaku, aku hanya mengangguk

Dan rumah ini memang sangat sederhana. Ruang tamu hanya berisi 2 buah kursi sedang mengapit meja kecil disudut ruangan. Lalu ada ruang lain tersekat, mungkin kamar tidur. Dan disisi ruang itu seperti dapur. Tapi meskipun sederhana dan sempit, tetap rapi dan bersih. Tapi yang terlihat janggal, meskipun orang tua Sisy tidak bersama lagi, bukankah seharusnya Sisy bisa membantu agar kehidupan ibunya lebih baik? 
" Sy,..." Panggilku berbisik,
Lagi-lagi Sisy hanya berdehem, dia lebih sibuk memberesi bawaan ibunya tadi
" Itu benar ibumu?"
" Hmmm.. ibu yang melahirkanku."
" Lalu..."
" Bu... kenapa dagangan ibu masih banyak?" Seru Sisy pada ibunya, memotong rasa penasaranku.

Kupandangi wajah enerjik itu, sungguh diluar dugaanku bahwa Sisy yang sehari-hari kulihat ternyata dulu berasal dari rumah kecil ini. Dan meski sudah belasan tahun dia meninggalkan rumah ini dan pindah ke istana besar tapi tetap saja dia mendatangi rumah ini. Pasti Sisy sangat mencintai tempat ini. Dan yang tinggal disini tentunya.
Intinya, tak ada yang akan menyangka tentang yang kuketahui hari ini tentang sisi lain kehidupan Sisy. Andai ada yang tau mungkin banyak yang tak peduli. Dan kalo ada yang peduli, mungkin karena ingin memcemoohnya.
" Kenapa kau percaya kalo aku tak akan mengatakan semua ini pada yang lain?" Tanyaku serius. Paling tidak, aku memang harus tau alasan Sisy mengajakku kesini, karena ini pertama kalinya Sisy mengajak orang lain dari dunianya sekarang berkunjung ke dunianya yang ini.
Sisy yang asyik menikmati kue pastel menatapku sekilas, tapi seperti masih ingin menghabiskan sisa pastelnya sebelum menjawab pertanyaanku tadi.
" Kadang ada beberapa hal yang tak memerlukan alasan. Jadi jangan terlalu memikirkan kenapa aku mengajakmu kesini." Jawabnya dengan seulas senyum.
" Bu, aku antar ini ke tempat Ayla ya..." Pamitnya sembari berdiri.
Terdengar sahutan mengiyakan dari dalam kamar.
" Aku pergi ke depan sebentar ya." 
Aku mengangguk pelan.

Mungkin bagi Sisy masih banyak hal yang lebih besar dan lebih rumit untuk dia pikirkan daripada memikirkan alasan mengajakku ke dunia asalnya. Dan memang benar, kadang ada beberapa hal yang tak memerlukan alasan, karena kadang alasan itulah yang justru mengubah sesuatu dari sifat hakikinya.
Sekarang aku mengerti kenapa Sisy begitu giat dalam segala kegiatan amal dan kegiatan lain di kampus. Kenapa dia tetap hidup bersahaja, lebih suka naik bis ke kampus dan bersikap seadanya, meski kenyataannya dia bisa hidup mewah dan semaunya. Karena dia punya sisi lain dalam hidupnya yang bertentangan dengan dunianya yang sekarang.




love, life, and the reason



Senin, 01 Desember 2014

TENTANG AKU, KAU, DIA & HATI KITA

     Kumatikan mesin motorku ditepi jalan taman kota ini. Mataku dengan mudah menemukan sosok yang memang sedang kucari. Dia ada disebuah kursi taman di dekat jajaran pohon akasia sana. Duduk terpekur sendirian. Seperti menunggu seseorang dengan setianya meski senja mulai merayapi cakrawala. Seperti yakin, orang yang ditunggunya pasti akan datang meski terlambat cukup lama dan sangat menyita semua ketenangannya.
   
      Namanya Lira, rumah kami hanya berjarak beberapa rumah tetangga. Sejak kecil sudah menjadi teman bermainku, masuk bangku sekolah pun selalu sekelas.  Hanya kemudian masuk bangku kuliah kami beda jalur fakultas. Aku mengikuti bakatku di arsitektur dan dia menekuni kegemarannya di dunia teater. Tapi kami masih sering bersama. Berangkat kuliah bersama, ke kantin saat istirahat, dan kadang pulang pun bersama. Semua tetap tak ada perubahan meski usia kami sudah berjalan begitu jauh, sampai kemudian sosok Hanung menyelinap diantara kami.
Memang selama belasan tahun mengenal Lira, aku tak pernah sedikitpun berhasil menjamah salah satu sisi hidupnya, yang sangat penting. Kehilangan figur ayah diusia yang baru 3 tahun membuat Lira tak pernah mau membuka hatinya untuk pria manapun. bahkan untukku yang selalu setia menjadi bayang-bayangnya. Tapi saat bertemu Hanung, teman sekelasku dikampus, aku tau ada seberkas cahaya indah yang ingin Lira raih bersama Hanung. Dan ternyata melihat orang yang paling kita sayangi tersenyum bahagia, meski bukan dengan kita, adalah sesuatu yang sangat istimewa.

       Aku turun dari motorku dan melangkah mendekati Lira yang masih belum menyadari kedatanganku. Semakin dekat aku semakin merasakan dadaku sesak. Apalagi saat teringat yang kulihat tadi diperempatan lampu merah sana. Hanung satu mobil dengan gadis lain.
Langkahku terhenti seketika saat tiba-tiba Lira menoleh dan mendapatiku.
" Endru..." 
Aku cukup salah tingkah mendapati sinar matanya yang semula sedih dan gelisah dipaksakan berubah lain.
" Aku kebetulan lewat tadi dan melihatmu sendirian disini. Sudah hampir petang, siapa tau kau mau membonceng pulang." Kataku berbohong.
Tergelar senyumnya yang sejak kecil sampai sekarang selalu sama, dipaksakan terlihat manis.
" Kau pulang saja dulu, aku masih menunggu Hanung."
" Kemana memangnya Hanung?" Tanyaku, pura-pura tak tau kemana Hanung.
Sesak dadaku kian menghebat menahan rasa amarah.
" Dia pergi sebentar."
" Kemana?"
Lira diam sebentar, menggigit bibir bawahnya sedikit. Seperti mengumpulkan sebuah tenaga untuk melanjutkan penjelasannya.
" Mengantar Angel pulang."
Aku tergelak tak percaya, Lira menatapku protes.
" Apa-apaan ini Lir, kau tau siapa Angel?"
Lira menunduk sembari mengangguk.
" Kalau tau kenapa membiarkan Angel dekat-dekat dengan Hanung? Jangan-jangan kau juga akan diam saja kalau Angel meminta Hanung darimu." Geramku kesal
" Kalau itu juga kemauan Hanung dan membuat Hanung jauh lebih bahagia, kenapa tidak Ndru?"
Aku tertawa tak percaya. Lira menatapku sejenak.
" Apa-apaan ini Lir? Kau bukan malaikat, kenapa harus jadi sangat mengalah begini? Hanung itu pacarmu, kau berhak melarangnya pergi dengan siapa, sekalipun itu mantan pacarnya saat SMA yang masih punya perasaan padanya." Dan aku merasa makin geram.
" Tapi siapa yang bisa mengikat hati orang Ndru? Meskipun Hanung pacarku tetap saja hatinya tetap miliknya sendiri, dia tetap berhak penuh mengikatkan hatinya pada siapa. Paksaan tak kan menghasilkan sesuatu yang baik selain rasa sakit." Sanggahnya.
Aku terpaku mendengar ucapannya.

        Mungkin secara pribadi Lira memang punya masalah serius tentang hati. Tapi aku tak menyangka akan sedalam ini efek yang ditimbulkan dari semua itu, hingga membuat Lira menjadi sosok yang begitu pasrah pada kemauan hati.
Dan ini makin membuat hatiku sakit.
" Lir..." Panggilku lirih,. perlahan mendekatinya dan berjongkok dihadapannya.
" Dibanding Hanung, aku jauh lebih mengerti dirimu. Dan mungkin perasaanku pun jauh lebih besar daripada yang dimiliki Hanung. Tapi, saat melihatmu bersama Hanung aku merasa kebahagiaan dimatamu jauh lebih jelas kulihat. Aku baru sadar kalau aku juga tak jauh beda denganmu, Sama-sama tak punya keberanian memaksa hati orang lain terikat pada kita, sekalipun dia yang paling kita sayangi."
" Ndru, jangan bicara begitu" Kilah Lira tak suka.
Aku tersenyum kecil.
" Kita ini orang-orang yang bodoh, jelas-jelas mencintainya tapi kenapa begitu rela dia bersama orang lain, hanya beralasan karena mungkin dia bisa lebih bahagia dengan yang lain. Apa ada yang salah dengan hati kita?" Lanjutku apatis
" Ndru...." Desis Lira meraih tanganku,
Dan kulihat, cahaya dari bola mata bening itu kian mengikatku lebih erat, membuat dadaku kian sesak rasanya.
" Sejak kecil aku paling tak suka melihatmu berwajah murung bahkan sampai menangis. Rasanya dadaku begitu sulit bernafas melihatmu begitu. Sampai sekarangpun tetap begitu. Aku tak tau kenapa."
" Ndru, aku..."
" Dan aku sebenarnya tak pernah suka kepura-puraanmu. ekspresi wajahmu yang kadang kau ubah dengan tiba-tiba. Senyummu yang sering memaksakan diri. Juga ketegaranmu yang terlalu kamuflase. Aku tau semua itu, dan aku sangat tidak suka itu. Tapi aku bisa apa? Aku hanya bisa menggerutu dalam hati, karena selebihnya adalah hakmu begitu."
Lira mengenggam jemariku lembut dengan seulas senyum kecil.
" Seperti saat ini.." Lanjutku berhasil membuat senyum kecilnya mengabur
" Kau terlalu memaksakan diri untuk tegar menghadapi ini. Kau terlalu menyiksa dirimu sendiri untuk kebahagiaan orang lain."
Lira menunduk menghindari tatapan penghakimanku.
" Jangan bersikap begini Lir. Aku juga ada diposisi seperti ini, dan aku tak ingin kau juga merasakan kesakitan ini. Aku tau kau tak setegar itu. "
Lira mendesah berat.
" Andai kita bisa memilih kepada siapa hati kita terikat, pasti tak kan serumit ini. Kita akan lebih mudah mendapatkan kebahagiaan. Tak perlu ada penderitaan diatas kebahagiaan orang yang kita sayangi. Tapi nyatanya memang begitu rumus kebahagiaan, berdiri diatas penderitaan yang lain."
" Kadang aku berharap bisa mencintaimu seperti cintaku pada Hanung" Ucap Lira seperti berkhayal.
Aku tertawa lirih. Sekilas memang ada semburat bahagia mendengar pernyataan semu itu, tapi secepatnya aku tersadar.
" Aku serius Ndru. Kau satu-satunya orang yang paling mengenalku. Tapi..." Suara Lira menghilang
" Tapi kita bahkan seperti tak punya hak mengatur pada siapa hati kita terikat kan?" Ungkapku melanjutkan jabarannya.
Lira bungkam, hanya sinar matanya yang berusaha mengungkapkan sebuah kalimat yang lain.
Aku bangkit,
" Tenanglah Lir, aku tak masalah kau mengikat hatimu pada siapa, yang penting kau bahagia. Karena bagiku, melihatmu bahagia jauh lebih membuatku tenang daripada kau bersamaku dengan wajah muram."
" Kau sama saja sengaja meletakkan kebahagiaanku diatas penderitaanmu  Ndru," Keluh Lira.
Aku tersenyum seyakin mungkin.
" Mau bagaimana lagi, aku tak punya mengatur hatiku sendiri."
Lira meraih jemariku, meremasnya lembut. Dan senyumnya lagi-lagi terlihat memaksakan diri untuk menyetujui ini.

Senja sudah menutup sempurna, lampu-lampu taman disekeliling kami sudah menyala. Dan ternyata, Hanung belum datang juga. Mungkin Lira tak setegar yang terlihat, tapi pasti dia lebih tegar dri yang kukira. Karena menghadapi hati yang rumit begini tak semudah yang dibayangkan.






semoga ini jadi desember ceria
1 desember 2014