Eksan menyodorkan secarik kertas ke hadapan Tantri. Sebuah cek. Tantri mengambil kertas itu dan memandanginya dengan kerutan di dahinya yang terpayungi jilbab hitam sebagian. Ekspresinya bukan langsung bersorak girang seperti kebanyakan orang yang menerima cek, tapi lebih pada berfikir dulu, meneliti dulu, seakan-akan butuh beberapa menit untuk merealisasi apa ekspresi selanjutnya yang akan dimunculkannya.
"1 milyar, langsung bisa kamu cairkan atau ditransfer ke rekening pribadimu." Eksan menjelaskan diantara kegiatannya memberesi kertas cek dan bolpointnya, dimasukkan kembali ke dalam tas kerjanya. Lalu mengangkat cangkir kopinya.
Tantri terlihat makin serius meneliti secarik kertas persegi panjang itu.
"1 milyar itu berarti seribu juta kan? Berarti nolnya ada berapa ya?" Pertanyaan lugu Tantri berakibat Eksan tersedak kopi yang baru disesapnya. Untung saja tidak sampai muncrat.
"Yak, kamu ini lulusan apa sih, 1 milyar saja nolnya gak tau?" desis Eksan kesal.
Tantri mengedikkan bahunya cuek, "Bukannya gak tau."
"Trus?"
"Gak ingat."
Eksan sampai ingin menyiramkan isi cangkirnya pada wanita yang baru ditemuinya sejam lalu itu di sebuah taman sudut kota.
"Maklum, aku baru kali ini liat angka duit semilyar." lanjut Tantri tetap cuek.
Eksan mendesah dengan setengah tergelak, disesapnya lagi kopinya.
Sejam lalu Eksan dan Tantri tak sengaja bertemu di sebuah bangku taman sudut kota...
Eksan mengendurkan dasinya yang serasa mencekik lehernya. Dihempaskan tubuhnya pada sebuah bangku taman. Jadwal kunjungan ke beberapa pabrik seperti yang diperintahkan mamanya tadi pagi sungguh membuat Eksan ingin menenggelamkan diri ke danau di tengah taman itu. Makanya setelah keluar dari pabrik terakhir, Eksan menyuruh sopirnya untuk menurunkannya di luar taman ini. Dan sopirnya disuruh pulang saja.
"Tapi, Pak..." Sopirnya yang umurnya sebenarnya sebaya dengan Eksan hendak membantah.
"Kalo sampai rumah, dan Ibu suri tanya, bilang aku sedang ingin bertemu orang dan gak ingin diganggu. Beres kan?"
Si sopir mengangguk ragu. Dan saat mobil Marcedes metalik itu merayap lagi, Eksan baru menyadari kalo tas kerjanya masih ditentengnya.
"Aiishh... ini kenapa tadi kamu ikut sih?" bentaknya pada tas yang diangkatnya.
Bisa saja Eksan melemparkan tasnya ke semak-semak. Tapi Eksan teringat kalo di dalam tasnya ada beberap dokumen penting yang besok pagi pasti ditanyakan Mamanya. AKhirnya Eksan melangkah masuk ke taman menenteng tas kerja. Sudah mirip banget eksekutif muda yang baru pulang kantor.
Sore hari taman memang tepat sekali untuk bersantai. Banyak anak-anak dan orang-orang yang melepas penat atau sekedar jalan-jalan menunggu malam. Dan Eksan selalu suka berjalan-jalan di taman jam-jam seperti ini. Mengamati orang-orang dengan ekspresi yang beragam dan membayangkan kehidupan mereka yang sudah pasti berbeda dengan kehidupannya.
Eksan, dia putra tunggal seorang pengusaha sukses Arini Widyayanti. Mungkin banyak yang mengenal wanita tangguh itu. Terlebih di kalangan pebisnis di negeri ini. Benar, Eksan adalah putra tunggal seorang pengusaha wanita tersukses di negeri ini. Memiliki lebih dari 6 pabrik garmen dan makanan kaleng. Juga beberapa supermall dan puluhan usaha lainnya. Mungkin saking workholic-nya, sejak Papa Eksan meninggal saat Eksan baru menginjak SD, Arini tak pernah menikah lagi.
Dan meski Eksan tak se-workholic mamanya, tapi Eksan menjadi pribadi yang juga malas menikah. Jadi saat Mamanya mendesak untuk segera mencari pasangan karena umur Eksan sudah lebih dari 30 tahun, Eksan menjadi lebih malas pulang ke rumah.
"Mama gak peduli perempuan seperti apa pilihanmu. Yang penting kamu mencintainya. Mama gak akan menjodohkanmu dengan anak-anak relasi Mama. Mama gak butuh merger atau akuisisi seperti yang banyak pengusaha lakukan. Itu karena Mama sayang kamu, Eksaaann..."
Itu ceramah Arini kepada putranya beberapa hari lalu saat mereka makan malam. Dan Eksan malah sibuk menyesapi cangkang-cangkang lobster. Dan itu membuat sang Mama marah.
Eksan mendesah, nyaris meluruhkan tubuhnya penuh. Disandarkan kepalanya ke sandaran bangku. Menatap langit sore yang indah.
"Sebenarnya dulu Eksan punya pacar."
Ingatan Eksan kembali mengembara.
"Benarkah?" pekik sang Mama setengah histeris. Seakan-akan pernyataan itu sebuah titik terang kalo kisah percintaan putranya pernah terjadi. Sudah seperti sebuah keajaiban dunia.
Eksan memang terkesan seperti malas berhubungan dengan yang namanya perempuan. Temannya semua laki-laki, meski dia yakin dia bukan gay atau punya tanda-tanda menjadi gay. Mungkin karena teman-temannya juga tak ada yang punya kelainan gender. Eksan hanya malas berhubungan dengan kaum hawa. Karena baginya, satu wanita dalam hidupnya saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling.
Arini memang workholic, tapi sejak dulu selalu punya waktu untuk putra tunggalnya. Itu yang membuat Eksan seperti selalu terikat Mamanya.
"Tapi itu dulu, sekitar 7 tahun lalu, waktu Eksan masih kuliah. Dan Eksan bahkan lupa namanya."
Plaaakkk..
Arini memukul tangan putranya sedikit keras, membuat Eksan memekik.
"Maa... sakit!"
"Kamu ya, masa punya pacar sampai lupa namanya?"
Eksan nyengir seraya mengelus-elus tangannya yang baru menjadi korban pemukulan.
"Sebenarnnya bukan pacar sih, ya... kalo dianggap pacar, ya kaya pacar semalam lah. Lagian itu juga pas Eksan dipaksa ikut Mama ke daerah mana itu, yang banyak hutan jatinya?"
"Blora?"
"Apalah namanya, pokoknya selang beberapa bulan aku tanya kenalanku yang disana, katanya dia sudah menikah dan sedang hamil."
Arini tersedak air yang baru diminumnya.
"Hamil?"
Eksan manatap ekspresi Mamanya. Eksan tau sudah salah mengarang cerita fiksi di hadapan Mamanya.
"Jangan-jangan itu anakmu, San?"
Kini Eksan yang tersedak, bahkan Eksan tidak sedang minum atau makan apapun.
"Maa... "
"Katamu tadi dia cuma pacar semalam kan? Waktu itu kamu juga bercinta dengannya kan?"
Eksan menelan saliva-nya sedikit kesulitan.
Mampus gue!
Eksan mendesah lagi.
Akibat cerita fiksi yang diceritakan pada Mamanya secara tak berencana, akhirnya Eksan malah dipaksa Mamanya untuk mencari wanita itu dan memastikan anak itu cucunya atau tidak.
Susah memang kalo punya Mama yang sudah ingin punya Mantu dan cucu.
Kenapa sih Mama gak menjodohkanku dengan anaknya siapa pilihannya gitu? Kenapa malah buat aku susah begini?
Eksan menegakkan tubuhnya saat seorang wanita melewatinya dan duduk di bangku sebelahnya. Rok panjang, kaos panjang, jilbab besar.
Sudah seperti dandanan teroris, pikir Eksan saat matanya sempat mengikuti pergerakan wanita yang tangannya sedang memegang ponsel.
"Mbaaak... aku mana punya duit segitu? Lagian jatah bulanan udah aku tambahi, udah aku transfer kan? Ini ada juga cuma cukup untuk biayaku sebulan disini."
Eksan mencoba acuh dengan suara sedikit meninggi wanita itu. Dan kembali merebahkan kepalanya pada sandaran bangku, lalu memejamkan matanya.
"Iya... aku tau mbak, tapi... ini Kia bahkan minta tas baru juga aku janjiin bulan depan."
Eksan masih bisa mendengar percakapan wanita itu dengan seseorang di ponselnya yang dipanggilnya 'mbak' itu.
"Masa iya, aku perlu cari suami kaya raya biar hutang-hutang di rumah lunas?"
Mata Eksan langsung membelalak. Untung dia masih bisa menahan tubuhnya tak terlonjak. Lalu samar-samar Eksan mendengar suara isak. Eksan belum merubah posisinya, hanya menoleh sedikit ke arah wanita dibangku sebelah. Benar, kini wanita itu menutupi wajahnya. Sedang terisak lirih. Akhirnya Eksan menegakkan tubuhnya sempurna. Dirogohnya saku celananya, lalu dikeluarkannya bersama sebuah sapu tangan.
"Ambilah!" Ucap Eksan menyodorkan sapu tangannya ke arah wanita itu.
Perlahan wanita itu mendongak dan menatap Eksan dengan sisa air matanya.
Wajah natural tanpa maskara, eye shadow, eye liner, atau blush on. Jadi biarpun berlinang air mata gak akan seberantakan wajah wanita yang bermake-up lengkap.
"Terimakasih." katanya menerima sapu tangan itu dan dibuatnya untuk mengusap sisa-sisa air matanya.
Eksan masih diam-diam mengamati wanita disebelahnya ini. Lalu mendadak muncul sebuah ide. Ide gila mungkin.
"Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Eksan sok baik, sok akrab pula.
Padahal sebenarnya Eksan sangat dingin dengan yang namanya wanita. Kalo tak begitu, mana mungkin sampai tersiar khabar kalo ternyata dia seorang gay. Untung Eksan tak menggubris itu. Teman-temannya pun malah menertawakannya karena mereka tak pernah merasa diri mereka gay, terlebih menganggap Eksan gay. Eksan hanya tak suka bercinta. Itu saja. Mereka lebih suka menyindir Eksan sebagai biksu. Dan Eksan juga tak peduli sindiran itu.
Wanita yang kalo dilihat lewat mata laki-laki terbilang pas-pasan itu malah tergelak.
Ya, benar, sangat standar. Wajah tak jelek, tapi juga tak cantik. Mungkin dimata Eksan nilai plusnya karena wanita ini bisa terlihat seperti ini meski tanpa make-up. Berbeda dengan perempuan metropolitan pada umumnya yang kecantikannya meningkat 90% karena make-up. Kalo tak bermake-up mereka kebanyakan sangat jauh dari standar.
Penampilannya pun jauh banget dari standarisasi wanita kekinian. Kalo pun kini banyak perempuan kekinian memakai hijab, style busana mereka pun sangat beragam. Ada yang pake cardigan, bolero, atau apalah itu namanya. Tapi wanita di sebelah Eksan ini sangat simple banget. Rok panjang polos, kaos panjang biasa, dan jilbab besarnya juga biasa.
"Tidak, terimakasih. Ini saja sudah cukup." Wanita yang ditaksir Eksan umurnya sudah lebih dari 25 tahun itu tersenyum kecil memperlihatkan sapu tangan pemberiannya tadi.
"Eksan." Kini Eksan mengulurkan tangannya, mengawali perkenalan.
Wanita itu sedikit meragu, meski akhirnya menyambut uluran tangan Eksan. "Tantri."
Dan.... akhirnya dikafe inilah kemudian mereka berdua. Setelah secara to the point Eksan mengatakan maksud dan tujuannya.
"Jadi ini maksudnya, kamu mengajakku kawin kontrak?" tanya Tantri meletakkan kembali selembar cek yang sepertinya sudah puas ditelitinya.
"Semacam itulah. Kamu hanya perlu berperan sebagai pacarku dulu yang aku bahkan lupa namanya. Kukenalkan pada Mamaku. Kalo Mamaku langsung menyuruhku menikah, maka kita menikah. Setelah 6 bulan, kita bercerai. Kamu lanjutkan kehidupanmu, aku juga akan kembali pada kehidupanku. Simpel kan?" Eksan memaparkan semudah mungkin untuk dipahami.
"Aku punya anak."
Eksan berfikir dua detik.
"Owh, itu malah bagus."
Tantri mengerutkan dahinya.
"Menurut cerita yang kuceritakan pada Mamaku, pacarku itu sedang hamil dan Mamaku mengira itu adalah anakku."
Tawa Tantri meledak. "Maksudmu, anakku disini juga ikut berperan?"
Eksan mengangguk, "Anggap aja dia anakku. Lima tahun? Enam tahun?"
"Lima setengah."
"Perfect!"
Mata Tantri menyipit. Memandang Eksan sebagai orang yang kurang waras. Apa iya ada orang yang dengan mudah diajak berkoalisi hanya karena kepentingan yang serba kebetulan saling berhubungan? Berani membayar orang satu milyar hanya untuk jadi pacarnya? Jaman sekarang, sejuta pun bisa untuk menyuruh orang membunuh orang lain. Ini kenapa uang semilyar hanya dipakai untuk menyuruh orang menjadi pacarnya, kalo perlu istrinya untuk jangka 6 bulan saja?
"Kamu gila ya?" desis Tantri.
Eksan tergelak, "Apanya yang aneh? Dalam hal ini kita semua diuntungkan. Aku paling tidak akan terbebas dari kejaran Mama yang menyuruhku menikah selama 6-7 bulan. Dan kamu dapat uang satu milyar. Lebih untung daripada harus nyari suami kaya raya dulu kan?"
Tantri sedikit kaget mendengar kalimat terakhir itu. Ada sedikit bias malu menyergap pipinya. Apalagi ditambah tatapan Eksan yang terkesan begitu menyindir.
"Oke, deal." Tantri mengulurkan tangannya.
Kini Eksan yang terhenyak.
"Kenapa? Meragu?"
Eksan malah tergelak. " ternyata wanita sama saja, semua matre, mata duitan."
Tantri ketularan tergelak. "Semua kan? Jadi kenapa kaget kalo aku juga termasuk? Lagipula kamu sendiri yang mengajak membuat kesepakatan ini. Hanya wanita bodoh yang tak butuh uang karena sekarang apa-apa perlu uang."
Eksan mencoba mengacuhkan itu. Benar juga kata temannya, kalo wanita didebat dengan 1 kalimat, dia akan membalasnya 10 kalimat. Itu juga salah satu alasan Eksan menjauhi makhluk bernama wanita.
Wajah tertutup jilbab hitam itu meletakkan tangannya ke meja. Menjauhkan cangkir tehnya ke samping. Lalu menatap Eksan lekat.
"Dengar, saat ini, aku benar-benar butuh yang namanya uang. Aku punya 5 kakak yang sudah berkeluarga, tapi semuanya sedang kesulitan. Aku juga punya anak perempuan yang bahkan harus kutitipkan pada salah satu kakakku karena aku harus mencari uang."
"Lalu suamimu?" tanya Eksan sedikit ragu. Hal yang sejak tadi terlupa untuk dipikirkan Eksan. Bagaimana kalo Tantri masih punya suami? Sama saja dia mencari gara-gara dengan rumah tangga orang.
Tantri menunduk sedikit. "Sejak setahun lalu dia kabur dengan pacar lamanya, akhirnya aku menceraikan diri darinya."
Eksan terdiam beberapa detik meresapi kalimat Tantri yang terkesan angkuh meski kenyataannya rapuh.
"Jadi___"Tantri mengangkat wajahnya lagi, menatap Eksan dengan sinar keyakinan, "___tak ada salahnya kan aku menerima kesepakatan gila ini? Daripada aku gila mendengar keluhan para kakakku, juga mencoba mencukupi kebutuhanku yang makin menggila, aku lebih baik seperti ini kan? Dapat semilyar hanya dengan berperan sebagai istri orang selama 6 bulan." Tantri mengibaskan kertas ceknya tadi.
Mungkin bagi Eksan ini cukup beresiko kalo sampai Mamanya tau sudah dibohonginya. Eksan bukan bermaksud menguasai kekayaan mamanya, yang kata mamanya akan dilimpahkan padanya kalo mau menikah. Eksan hanya tak rela kalo sampai hasil kerja keras mamanya selama hidupnya malah dimanfaatkan orang-orang serakah macam om dan tantenya. Dan dengan memilih Tantri sebagai partner untuk misi ini memang sudah pas.
Tantri, jika Eksan lihat secara sekilas, adalah wanita yang polos. Dia mungkin matre, tergoda uang semilyar meski harus kawin kontrak dengan orang yang baru dikenalnya, tapi perlu digaris bawahi kalo dia tergoda uang untuk membereskan masalah keuangan keluarganya. Jadi ini cukup berbeda jika disamakan dengan wanita-wanita pada umumnya yang memang nyata-nyata matre. Yang bahkan rela menjadi simpanan para pengusaha untuk memenuhi hasrat seks juga hasrat berbelanja.
Eksan disadarkan tatapan Tantri yang mendesak untuk segera menyambut uluran tangannya. Eksan mendesah panjang dan akhirnya mengangkat tangan kanannya. Mereka pun berjabat tangan.
"Oke, deal!" ucap mereka bersamaan.
Dan terjadilah kesepakatan itu.
***
“Ini
duit apaan, Tan?” tanya Mbak Mia di seberang telpon, saat Tantri menelpon dan
mengabari sudah mentransferkan uang sebesar 50 juta ke rekeningnya.
“Udah,
gak usah banyak tanya, pokoknya sekarang beresi semua hutang-hutang Mbak Mia.”
Tandas Tantri setengah jengkel karena merasa serba salah menghadapi kakaknya
yang terlalu banyak terlilit hutang hingga membuat Tantri selama ini sering
dikejar-kejar dimintai pertolongan untuk mencarikannya pinjaman.
“Ya
gak bisa begitu dong, Tan. Ini duitnya banyak banget lho.”
“Utang
Mbak Mia juga banyak kan?”
Diam.
Tak ada sahutan.
“Pokoknya
beresi semua hutang-hutang yang ada, aku mau menelpon Mbak Upik.
Assalamuallaikum.” Lalu Tantri menutup pembicaraan.
Eksan
yang sejak tadi memperhatikan itu kemudian mendorongkan sebotol air mineral ke
arah Tantri.
“Minumlah
dulu, sudah hampir sejam kamu menelpon kesana kemari seperti pekerja yang
dikejar deadline.”gusar Eksan yang
memang tak pernah suka melihat orang yang sibuk sendiri.
“Aku
sudah cerita kan kalo punya 5 saudara yang semuanya sedang dalam kesulitan
finasial?” Tantri mencoba membuka tutup pintu air mineralnya, tapi mungkin
karena tangannya yang cukup berkeringat, menjadi sangat kesulitan.
Eksan
menegakkan duduknya lagi dan meminta kembali botol minuman itu. “Iya… tapi aku
tak menyangka hutang saudaramu itu banyak-banyak.” Sekali putar Eksan berhasil
membuka tutup botol minuman itu dan kembali menyodorkan ke Tantri.
“Namanya
juga orang kecil, adat gali lubang tutup empang, sampai kemudian lama-lama
semua berlubang dan jadilah danau yang sangat luas.”
Eksan
tertawa mendengar perumpamaan yang dipakai Tantri untuk mengungkapkan tentang
hutang. Tak sadar Eksan memperhatikan Tantri yang sedang menikmati setiap
tegukan air dalam botol yang dipegangnya. Dan Eksan sempat tergagap saat Tantri
kembali menatapnya.
“Besok
kita temui Mamaku.” Ucapan Eksan seperti sebuah putusan.
Tantri
tersedak, sampai terbatuk-batuk. Eksan geleng-geleng kepala dan menyodorkan
boks tisu ke arah Tantri.
“Kenapa?
Takut?” selidik Eksan, cukup takut juga kalo kemudian Tantri ciut nyali dan
membatalkan perjanjian lalu kabur. Tapi Eksan juga tak mau ambil pusing kalo
sampai Tantri melanggar perjanjian yang ada apalagi uang sudah ditransfer dan
bahkan beberapa sudah digunakan Tantri. Dan Eksan bukan orang bodoh sehingga
surat perjanjian yang mereka tanda tangani kemarin dibawah materai, jadi Eksan
bisa dengan mudah menyeret Tantri ke kantor polisi atas kasus penipuan dan
penggelapan uang.
Tantri
meneguk lagi air dalam botol.
“Mama
kamu gak suka makan orang, kan?”
“Kamu
pikir Mamaku orang barbar yang kanibal?” sungut Eksan tak suka dengan pemakaian
kata-kata Tantri.
Tantri
menutup botol minumnya dan meletakkannya ke meja.
“Kalo
begitu tak ada yang perlu ditakutkan. Kalo mau, sekarang pun tak apa-apa.”
Eksan tergelak tak percaya melihat reaksi Tantri
yang seakan benar-benar tak punya rasa takut. Padahal dilihat dari segi apapun
Tantri itu bukan sosok yang pemberani. Tantri terkesan sosok keibuan yang lemah
lembut apalagi ditunjang dengan cara berpakaiannya yang serba feminim.
“Besok
saja. Besok tunggu aku di depan cafĂ© ini jam 1 siang.” Eksan siap-siap bangkit.
“Jam
1 aku masih kerja.”
“Memang
kerja dimana?”
“Pabrik
dekat sini. Bitratrex
Eksan
tergelak, “Jadi kamu salah satu karyawan Bitratrex.?”
Tantri
menatap Eksan dengan kerutan di dahi.
“Itu
pabrik milik keluargaku, berhenti saja.”
“Kenapa
harus berhenti?”
“Karena
besok kamu harus menemuiku di sini jam 1 siang.”
Tantri
diam sebentar lalu mengangkat bahu carefree. “Oke.”
Eksan
tergelak mendapat raeksi sederhana itu.
“Kenapa?
Kamu tadi menyuruhku berhenti kan? Lagipula kamu sudah memberiku uang yang
banyak yang bahkan tak bisa aku kumpulkan meski 10 tahun bekerja.” Jawab Tantri
enteng.
“Aku
seperti sedang berbicara dengan daua orang berbeda watak secara bergantian.”
“Apa
kamu pikir aku ini bipolar?” Tantri mencibir kesal.
“Bukan,
kalo bipolar lebih ekstrem, aku hanya merasa terbohongi dengan penampilanmu
kemarin.”
Tantri
terbahak. “Don’t judge the book by its
cover, because you never will get the chance to find out what lies within it.”
Eksan
terperangah mendengar ucapan Tantri, dia benar-benar seperti telah dibodohi.
Sejak awal Eksan sudah berfikir Tantri itu hanya wanita biasa dengan kepintaran
yang standar. Tapi ini, dia bahkan dengan fasihnya menggurui Eksan yang pernah
3,5 tahun kuliah manajemen di Inggris layaknya Mario Teguh yang sedang memberi
petuah di acara talk show yang
diampunya yang pernah membooming
sebelum inspirator itu terjun bebas akibat kesalahan masa lalunya yang
tiba-tiba mencuat tanpa diundang.
“Apa?
Apa aku tak boleh berbicara seperti itu?”
“Apa
pendidikan terakhirmu?”
Tantri
tergelak, seperti benar-benar tau kalo ada aura menyindir pada pertanyaan Eksan
barusan.
“Aku
memang bukan sarjana sepertimu, Tuan, tapi aku tak sedungu yang kamu pikirkan.
Jangan salahkan aku yang tak sebodoh yang kamu pikirkan, salahkan saja dirimu
yang menganggapku bodoh.”
Skak!
Sial,
umpat Eksan.
Eksan
merasa benar-benar sudah dibodohi. Eksan mengira Tantri hanya wanita yang
terlalu peduli pada saudara-saudaranya yang terlilit hutang sehingga mau
mengorbankan dirinya dalam sebuah perjanjian kawin kontrak dengan imbalan 1
milyar. Ya, hanya sebatas itu. Eksan tak menyangka Tantri juga cukup
terpelajar. Mungkin Tantri memang wanita pintar yang tak mampu menjadi
terpelajar hanya keberuntungan tak mau berpihak padanya.
“Pernah
lihat filmnya Julia Roberts yang Erin Brockovich?” tanya Tantri membuat dahi
Eksan mengkerut.
Apalagi
ini?
“Janda
gila itu?” tanya Eksan sedikit sarkas. Eksan tau tokoh film yang dimaksud
Tantri. Janda yang serba memaksakan diri menghadapi hidup yang sebenarnya sudah
jauh dari kemampuan dan pengetahuannya.
“Kenapa
menjulukinya janda gila? Dia itu hebat, mampu memecahkan masalah besar yang
nyaris tak ada yang berani menyelesaikannya. Dia juga mampu menghidupi ketiga
anaknya dengan segala kekurangannya.”
Ya,
Eksan mengakui film yang diambil dari kisah nyata itu. Kadang Eksan bahkan
ingin menjadi sutradara saja dan mengangkat kisah perjuangan dan ambisi
Mamanya. Hanya ingin melihat apa filmnya itu bisa se-booming film itu hanya karena itu diambil dari kisah nyata.
“Jangan
bilang kalo kamu mengidolakannya.”
“Sayangnya,
ya.”
Eksan
tergelak sambil melengos.
Bagus,
sepertinya Eksan benar-benar akan membuat film yang mengangkat kisah perjalanan
hidup Mamanya. Siapa tau wanita dihadapannya ini juga akan mengidolakan
Mamanya.
“Waktu
itu aku baru umur belasan, tapi saat melihat film itu di tivi aku seperti
seorang anak laki-laki umur 7 tahun yang menonton film Transformer pertama
kalinya.”
Kini
Eksan tak hanya tergelak, tapi juga terbahak. Sampai menyita beberapa
pengunjung kafe, meski hanya beberapa detik.
“
Aku juga suka saat Julia Robert saat dia main Runaway Bride serasi banget sama
Richard Gerre yang udah kelihatan matang.”
“Sekalian
saja suka dia pas main Pretty Woman, saat itu Richard Gerre pas
keren-kerennya.”
“Aku
juga liat yang itu. Meski pas film itu booming
aku belum lahir.”
“Sejak
kecil sepertinya kamu sudah salah tontonan.” Tebak Eksan.
“Yes, I guess that.
Bahkan aku masih ingat aku masih awal-awal masuk SD saat tak sengaja menemukan
kaset CD lagunya Guns ‘n Roses di
koleksi CDnya kakak temanku. Dan saat kami menontonnya aku langsung jatuh cinta
dengan Axl.”
Eksan
terpingkal kali ini. “Mendengar ceritamu dan melihat penampilanmu sekarang aku
punya kesimpulan yang pas untukmu, kamu seperti seorang gadis tomboy yang
bengal yang pada akhirnya bertobat dan memilih mengenakan hijab.”
“Kenapa
tak sekalian saja mengumpamakan aku seperti Lady Gaga yang bertobat dan
mengganti bikini dressnya dengan gamis panjang dan hijab syar’i?”
Eksan
terpingkal lagi.
Siang
itu mereka habiskan di sudut kafe dengan cerita masing-masing yang mengalir apa
adanya layaknya air mengalir di sungai yang jernih.
Tantri
percaya, Tuhan sudah mulai merealisasi rencanaNYA atas hidupnya yang berliku.
Dan Eksan percaya, ini akan menjadi kisah yang menarik untuk hidupnya yang
selama ini terlalu flat dirasa. Dan
satu lagi, Eksan tau kalo wanita dihadapannya ini tidak bodoh.
***
“Gugup?”
tanya Eksan saat akhirnya dia memberhentikan mobilnya di sebuah parkiran
restoran Jepang, tempat dimana sang Ibu suri ingin bertemu dengan wanita yang
dibicarakan putra tunggalnya kemarin malam, yang akan diperkenalkan sebagai
calon mantunya.
Tantri
menghela nafas panjang, dia makin kelihatan ayu dengan balutan gamis berbahan
kaos variasi layer dengan kombinasi list berwarna abu-abu. Pulasan make-up yang
sederhana makin menegaskan kalo Tantri bisa bersaing dengan gadis metropolitan
pada umumnya.
“Oke,
siap.” Katanya mantap.
Eksan
tersenyum lalu mendahului membuka pintu. Tantri bukan wanita manja yang
menunggu untuk dibukakan pintu. Tapi kain gamisnya yang cukup lebar dan high
heels-nya yang meski hanya 7 centi tapi sudah nyaris membuat Tantri nyaris
terpeleset.
“Kenapa
sih tadi tak pakai sandal flat saja? Aku paling benci pake heels, bahkan sekalipun itu wedges.” Gerutu Tantri
membenarkan posisi berdirinya sebelum menyusul langkah Eksan.
“Dunia
yang akan kamu tempati menuntutmu untuk terlihat lebih elegan. Dan salah satu
point penting terlihat elegan adalah alas kaki yang meninggi.” Ceramah Eksan
tetap melangkah masuk ke restoran bergaya jepang asli.
Tantri
mendesis, “Penting banget ya? Apa seperti Axl Guns ‘n Roses dengan gitar akustiknya? Jika Axl tanpa gitar kan
udah kaya model iklan shampoo.”
Eksan
berusaha keras menahan tawanya agar tidak muncrat. Ternyata ‘rekan bisnis’nya
ini pintar sekali berparodi.
Layaknya
restoran-restoran jepang pada umunya restoran ini juga bersekat-sekat dengan
sekat dari dinding kertas yang menurut Tantri sudah seperti rumah kardus. Sudah
dapat dibayangkan nanti dia akan duduk di bawah seperti duduk di thasyadud awal
dalam sholat. Kalo dalam sholat paling lama beberapa menit saja, bahkan kadang
kurang dari semenit. Tapi ini nanti pas akan lama. Tantri merutuk dalam hati.
Kenapa Mamanya Eksan tak sekalian mengajak mereka bertemu di angkringan lesehan
saja? Duduknya bisa lebih rileks.
Mereka
berhenti di depan sebuah pintu dengan seorang pelayan yang sudah siap
membukakan pintu.
“Mama
kamu orangnya bagaimana?” bisik Tantri gugup.
“Tenang,
Mamaku bukan orang barbar yang suka makan orang.” Eksan juga berbisik, dengan
sederet senyum yang masih berusaha ditahannya.
Tantri
nyengir sebal. Dan saat pintu dibuka langsung terlihat oleh Tantri seorang
wanita anggun dengan rambut kecoklatan tertata sanggul modern yang apik. Tubuh
sedikit gempalnya yang singset terbalut baju berwaran hijau lumut dengan hiasan
bordiran kekuningan yang berkilau. Mungkin itu yang disebut baju sutra bersulam
benang emas.
Pasti
harganya bisa puluhan juta, pikir Tantri.
Seulas
senyum tercetak di bibir manis berpoleskan lipstick warna merah tua. Membuat
Tantri mau tak mau membalasnya meski sedikit canggung.
Bagi
Tantri ini seperti de javu saat pertama kalinya dia dulu diajak bertemu dengan
ibu mertuanya. Dulu.
Tatapan
mata Eksan menyadarkan Tantri untuk mengikuti langkah Eksan masuk ke dalam
bilik bersekat dinding kertas bergambar rumpun bambu khas etnik jepang.
“Jadi
ini calon mantu Mama, San?”
Glek.
Tantri
menelan salivanya sedikit tersendat. Antara gugup dan merasa bersalah. Wanita
di hadapannya itu benar-benar berharap putranya membawakan calon mantu
idamannya. Tapi siapa yang tahu kalo ternyata yang dikenalkannya hanya seorang
wanita yang disewanya untuk menjadi istri kontraknya selama 6 bulan dengan
imbalan 1 milyar?
“Mama
terlalu to the point deh.” Gusar
Eksan tak suka, memprotes.
Wanita
itu tersenyum anggun. Sungguh, sedikitpun tatapan matanya tak pernah bergeser
dari Tantri. Dan itu membuat Tantri makin gugup.
“Maa..
jangan dipelototin terus gitu, dia itu manusia bukan produk sampel yang mau
diluncurin.” Lagi-lagi Eksan memprotes tindakan Mamanya.
“Ih..
kamu bawel amat sih, San. Wajar dong Mama liatin wanita pertama yang kamu
kenalin ke Mama.” Si Mama juga memprotes, “Catet, ini pertama kalinya lho Mama
menyaksikan kamu datang sama seorang gadis.”
Eksan
berdehem menginterupsi, “Dia bukan gadis, Ma. Dia janda dengan seorang putri.”
Kalimat
interupsi itu sukses membuat Tantri menunduk sangat dalam. Kalo perlu Tantri
ingin menyembunyikan kepalanya ke ketiaknya seperti seekor kucing peliharaan
Kia di rumah.
“Gak
usah diperjelas gitu Mama juga udah tau. Ini kamu kok gak bisa jaga perasaan
perempuan sih?” Lalu sebelah tangan terawat dengan sebuah gelang giok warna
hijau terulur ke bahu Tantri. “Dimaklumi ya kelakuannya Eksan, dia memang nol
besar kalo soal urusan perempuan.” Katanya lembut, dengan tatapan yang akhirnya
membuat Tantri kembali mendongak.
Dan
Tantri makin merasa bersalah. Satu doa Tantri. Semoga mereka tidak kuwalat
karena telah membohongi wanita sebaik ini.
***
Eksan
masih mencoba mencari celah untuk bisa memperhatikan seraut wajah manis yang
malah selalu berusaha bersembunyi dibalik kerudung ibunya meski sepasang mata
legamnya yang bulat sesekali mencuri pandang.
“Kelakuanmu
sama saja dengan Mamamu kemarin.”
Eksan
seketika menegakkan pandangannya searah dengan tatapan protes Tantri.
“Itu
membuatnya takut.” Imbuh Tantri masih bernada sama.
“Tidak
ada mirip-miripnya denganmu.”
“Memang
tidak, dia mirip bapaknya.” Tantri lalu mengajak gadis kecil itu keluar dari
‘tempat persembunyiannya’.
“Kia,
kenalin, ini om Eksan.”
Eksan
siap-siap pasang muka ramah dan membungkuk mensejajarkan tinggi badan gadis
berkuncir dua yang masih takut-takut malu itu.
“Kia,
mau gak kalo om jadi Papanya Kia?” tanya Eksan ringan.
Tapi
Kia langsung menggeleng, sebelah tangannya menarik-narik jilbab ibunya.
“Ibu,
Omnya kaya Om Billy yang matanya suka dibikin item itu ya?” celetuk Kia sedikit
lirih, tapi Eksan cukup jelas mendengarnya hingga membuatnya mengerutkan dahi.
“Siapa?”
tanya Eksan menatap Tantri yang berusaha menahan senyum.
“Eh,
iya, ya, Kia… Ibu juga baru nyadar, kaya Om Billy kalo pas gak pake item-item
di kelopak matanya.”
Eksan
makin bingung dengan kedua Ibu-anak ini. Tantri malah mengajak putrinya duduk
yang seperti makin penasaran dengan Eksan. Kelihatan sekali dengan mata
bulatnya yang hampir tanpa jeda melepaskan diri dari inspeksinya menjelajah
seluruh penampilan Eksan.
“Pacar
kamu?” tanya Eksan ikut duduk, masih penasaran dengan ‘Om Billy’ yang mereka
maksud tadi.
“Billy
Joe Amstrong, Green Day.” Jawab Tantri meralat.
Eksan
kaget. Menatap gadis yang bahkan belum genap 6 tahun yang kini menikmati
semangkok strawberry snowflake milkshake sherbert yang oleh
Tantri tadi langsung diringkas dengan sebutan es salju strawberry.
“Apalagi?
Kaget juga anakku kenal Billy Amstrong?” Kini Tantri mengambil selembar tisu
dan melap sudut bibir anaknya yang sedikit belepotan.
“Dia
baru 5,5 tahun kan?”
Sumpah,
Eksan sepertinya sejak sekarang harus banyak-banyak mengkonsumsi Maxx Omega3 atau Alerten Q100 agar jantungku lebih kuat. Ini Ibu dan Anak memang
berbakat sekali membuat orang jantungan.
“Dia
terlalu menyukai lagu ‘Wake Me Up When September Ends’. Dia bahkan nyaris hafal
liriknya meski banyak yang masih keliru pengucapannya.” Papar Tantri tanpa ada
aura menyombong.
Eksan
diam memperhatikan lahapnya Kia menikmati sesuatu yang mungkin jarang sekali
dinikmatinya. Bagi Eksan, lagunya Green Day yang sangat booming tahun 2004 itu juga sempat membuatnya teringat Papanya.
Apalagi lagu itu katanya juga buah inspirasi Billy Amstrong karena teringat
akan ayahnya yang sudah meninggal saat usianya baru 10 tahun. Dan bagi bocah
sekecil Kia sungguh terlalu cepat kalo bisa mengerti akan chemistry lagu itu dengan sosok berlabel ‘ayah’.
“Apa
tak terlalu dini kalo dia sudah tau lagu-lagu semacam itu?” tanya Eksan lagi
disela adukan sedotan pada Caramel
macchiato miliknya.
“Sudah
terlanjur. Peninggalan bapaknya dulu. Waktu usianya baru 3 tahun sudah sering
diajak nyanyi lagu-lagu begituan sambil gitaran.” Tantri seperti setengah acuh
mengatakan secuil kenangan yang mungkin sedikit membuatnya jengah
Eksan
terdiam sebentar. Dari kalimat yang diucapkan Tantri tadi, dia mencoba
membayangkan betapa bahagianya keluarga yang sempat dimiliki Tantri. Betapa
sempurnanya hubungannya dengan suaminya. Tapi kenapa kemudian bisa berakhir?
Kenapa pada akhirnya Tantri harus menanggung beban hidup yang berat?
Bahkan
melihat gadis kecil bernama lengkap Zakia Permata Hati itu sudah pasti tak
hanya Tantri, tapi pasti bapaknya juga sangat bahagia dengan kehadirannya.
Apalagi Kia bisa tumbuh menjadi gadis kecil yang begitu mempesona. Dari segi
fisik juga psikis. Lalu kenapa pada akhirnya bapaknya tetap tega
meninggalkannya? Apa memang cinta hanya seperti itu?
Benar-benar
sulit dimengerti.
Demak, 29/10/2017


