Minggu, 29 Oktober 2017

Kawin Kontrak



Eksan menyodorkan secarik kertas ke hadapan Tantri. Sebuah cek. Tantri mengambil kertas itu dan memandanginya dengan kerutan di dahinya yang terpayungi jilbab hitam sebagian. Ekspresinya bukan langsung bersorak girang seperti kebanyakan orang yang menerima cek, tapi lebih pada berfikir dulu, meneliti dulu, seakan-akan butuh beberapa menit untuk merealisasi apa ekspresi selanjutnya yang akan dimunculkannya.
"1 milyar, langsung bisa kamu cairkan atau ditransfer ke rekening pribadimu." Eksan menjelaskan diantara kegiatannya memberesi kertas cek dan bolpointnya, dimasukkan kembali ke dalam tas kerjanya. Lalu mengangkat cangkir kopinya.
Tantri terlihat makin serius meneliti secarik kertas persegi panjang itu.
"1 milyar itu berarti seribu juta kan? Berarti nolnya ada berapa ya?" Pertanyaan lugu Tantri berakibat Eksan tersedak kopi yang baru disesapnya. Untung saja tidak sampai muncrat.
"Yak, kamu ini lulusan apa sih, 1 milyar saja nolnya gak tau?" desis Eksan kesal.
Tantri mengedikkan bahunya cuek, "Bukannya gak tau."
"Trus?"

"Gak ingat."
Eksan sampai ingin menyiramkan isi cangkirnya pada wanita yang baru ditemuinya sejam lalu itu di sebuah taman sudut kota.
"Maklum, aku baru kali ini liat angka duit semilyar." lanjut Tantri tetap cuek.
Eksan mendesah dengan setengah tergelak, disesapnya lagi kopinya.

Sejam lalu Eksan dan Tantri tak sengaja bertemu di sebuah bangku taman sudut kota...
Eksan mengendurkan dasinya yang serasa mencekik lehernya. Dihempaskan tubuhnya pada sebuah bangku taman. Jadwal kunjungan ke beberapa pabrik seperti yang diperintahkan mamanya tadi pagi sungguh membuat Eksan ingin menenggelamkan diri ke danau di tengah taman itu. Makanya setelah keluar dari pabrik terakhir, Eksan menyuruh sopirnya untuk menurunkannya di luar taman ini. Dan sopirnya disuruh pulang saja.
"Tapi, Pak..." Sopirnya yang umurnya sebenarnya sebaya dengan Eksan hendak membantah.
"Kalo sampai rumah, dan Ibu suri tanya, bilang aku sedang ingin bertemu orang dan gak ingin diganggu. Beres kan?"
Si sopir mengangguk ragu. Dan saat mobil Marcedes metalik itu merayap lagi, Eksan baru menyadari kalo tas kerjanya masih ditentengnya.
"Aiishh... ini kenapa tadi kamu ikut sih?" bentaknya pada tas yang diangkatnya.
Bisa saja Eksan melemparkan tasnya ke semak-semak. Tapi Eksan teringat kalo di dalam tasnya ada beberap dokumen penting yang besok pagi pasti ditanyakan Mamanya. AKhirnya Eksan melangkah masuk ke taman menenteng tas kerja. Sudah mirip banget eksekutif muda yang baru pulang kantor.
Sore hari taman memang tepat sekali untuk bersantai. Banyak anak-anak dan orang-orang yang melepas penat atau sekedar jalan-jalan menunggu malam. Dan Eksan selalu suka berjalan-jalan di taman jam-jam seperti ini. Mengamati orang-orang dengan ekspresi yang beragam dan membayangkan kehidupan mereka yang sudah pasti berbeda dengan kehidupannya.
Eksan, dia putra tunggal seorang pengusaha sukses Arini Widyayanti. Mungkin banyak yang mengenal wanita tangguh itu. Terlebih di kalangan pebisnis di negeri ini. Benar, Eksan adalah putra tunggal seorang pengusaha wanita tersukses di negeri ini. Memiliki lebih dari 6 pabrik garmen dan makanan kaleng. Juga beberapa supermall dan puluhan usaha lainnya. Mungkin saking workholic-nya, sejak Papa Eksan meninggal saat Eksan baru menginjak SD, Arini tak pernah menikah lagi.
Dan meski Eksan tak se-workholic mamanya, tapi Eksan menjadi pribadi yang juga malas menikah. Jadi saat Mamanya mendesak untuk segera mencari pasangan karena umur Eksan sudah lebih dari 30 tahun, Eksan menjadi lebih malas pulang ke rumah.
"Mama gak peduli perempuan seperti apa pilihanmu. Yang penting kamu mencintainya. Mama gak akan menjodohkanmu dengan anak-anak relasi Mama. Mama gak butuh merger atau akuisisi seperti yang banyak pengusaha lakukan. Itu karena Mama sayang kamu, Eksaaann..."
Itu ceramah Arini kepada putranya beberapa hari lalu saat mereka makan malam. Dan Eksan malah sibuk menyesapi cangkang-cangkang lobster. Dan itu membuat sang Mama marah.
Eksan mendesah, nyaris meluruhkan tubuhnya penuh. Disandarkan kepalanya ke sandaran bangku. Menatap langit sore yang indah.

"Sebenarnya dulu Eksan punya pacar."
Ingatan Eksan kembali mengembara.
"Benarkah?" pekik sang Mama setengah histeris. Seakan-akan pernyataan itu sebuah titik terang kalo kisah percintaan putranya pernah terjadi. Sudah seperti sebuah keajaiban dunia.
Eksan memang terkesan seperti malas berhubungan dengan yang namanya perempuan. Temannya semua laki-laki, meski dia yakin dia bukan gay atau punya tanda-tanda menjadi gay. Mungkin karena teman-temannya juga tak ada yang punya kelainan gender. Eksan hanya malas berhubungan dengan kaum hawa. Karena baginya, satu wanita dalam hidupnya saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling.
Arini memang workholic, tapi sejak dulu selalu punya waktu untuk putra tunggalnya.  Itu yang membuat Eksan seperti selalu terikat  Mamanya.
"Tapi itu dulu, sekitar 7 tahun lalu, waktu Eksan masih kuliah. Dan Eksan bahkan lupa namanya."
Plaaakkk..
Arini memukul tangan putranya sedikit keras, membuat Eksan memekik.
"Maa... sakit!"
"Kamu ya, masa punya pacar sampai lupa namanya?"
Eksan nyengir seraya mengelus-elus tangannya yang baru menjadi korban pemukulan.
"Sebenarnnya bukan pacar sih, ya... kalo dianggap pacar, ya kaya pacar semalam lah. Lagian itu juga pas Eksan dipaksa ikut Mama ke daerah mana itu, yang banyak hutan jatinya?"
"Blora?"
"Apalah namanya, pokoknya selang beberapa bulan aku tanya kenalanku yang disana, katanya dia sudah menikah dan sedang hamil."
Arini tersedak air yang baru diminumnya.
"Hamil?"
Eksan manatap ekspresi Mamanya. Eksan tau sudah salah mengarang cerita fiksi di hadapan Mamanya.
"Jangan-jangan itu anakmu, San?"
Kini Eksan yang tersedak, bahkan Eksan tidak sedang minum atau makan apapun.
"Maa... "
"Katamu tadi dia cuma pacar semalam kan? Waktu itu kamu juga bercinta dengannya kan?"
Eksan menelan saliva-nya sedikit kesulitan.
Mampus gue!

Eksan mendesah lagi.
Akibat cerita fiksi yang diceritakan pada Mamanya secara tak berencana, akhirnya Eksan malah dipaksa Mamanya untuk mencari wanita itu dan memastikan anak itu cucunya atau tidak.
Susah memang kalo punya Mama yang sudah ingin punya Mantu dan cucu.
Kenapa sih Mama gak menjodohkanku dengan anaknya siapa pilihannya gitu? Kenapa malah buat aku susah begini?
Eksan menegakkan tubuhnya saat seorang wanita melewatinya dan duduk di bangku sebelahnya. Rok panjang, kaos panjang, jilbab besar.
Sudah seperti dandanan teroris, pikir Eksan saat matanya sempat mengikuti pergerakan wanita yang tangannya sedang memegang ponsel.
"Mbaaak... aku mana punya duit segitu? Lagian jatah bulanan udah aku tambahi, udah aku transfer kan? Ini ada juga cuma cukup untuk biayaku sebulan disini."
Eksan mencoba acuh dengan suara sedikit meninggi wanita itu. Dan kembali merebahkan kepalanya pada sandaran bangku, lalu memejamkan matanya.
"Iya... aku tau mbak, tapi... ini Kia bahkan minta tas baru juga aku janjiin bulan depan."
Eksan masih bisa mendengar percakapan wanita itu dengan seseorang di ponselnya yang dipanggilnya 'mbak' itu.
"Masa iya, aku perlu cari suami kaya raya biar hutang-hutang di rumah lunas?"
Mata Eksan langsung membelalak. Untung dia masih bisa menahan tubuhnya tak terlonjak. Lalu samar-samar Eksan mendengar suara isak. Eksan belum merubah posisinya, hanya menoleh sedikit ke arah wanita dibangku sebelah. Benar, kini wanita itu menutupi wajahnya. Sedang terisak lirih. Akhirnya Eksan menegakkan tubuhnya sempurna. Dirogohnya saku celananya, lalu dikeluarkannya bersama sebuah sapu tangan.
"Ambilah!" Ucap Eksan menyodorkan sapu tangannya ke arah wanita itu.
Perlahan wanita itu mendongak dan menatap Eksan dengan sisa air matanya.
Wajah natural tanpa maskara, eye shadow, eye liner, atau blush on. Jadi biarpun berlinang air mata gak akan seberantakan wajah wanita yang bermake-up lengkap.
"Terimakasih." katanya menerima sapu tangan itu dan dibuatnya untuk mengusap sisa-sisa air matanya.
Eksan masih diam-diam mengamati wanita disebelahnya ini. Lalu mendadak muncul sebuah ide. Ide gila mungkin.
"Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Eksan sok baik, sok akrab pula.
Padahal sebenarnya Eksan sangat dingin dengan yang namanya wanita. Kalo tak begitu, mana mungkin sampai tersiar khabar kalo ternyata dia seorang gay. Untung Eksan tak menggubris itu. Teman-temannya pun malah menertawakannya karena mereka tak pernah merasa diri mereka gay, terlebih menganggap Eksan gay. Eksan hanya tak suka bercinta. Itu saja. Mereka lebih suka menyindir Eksan sebagai biksu. Dan Eksan juga tak peduli sindiran itu.
Wanita yang kalo dilihat lewat mata laki-laki terbilang pas-pasan itu malah tergelak.
Ya, benar, sangat standar. Wajah tak jelek, tapi juga tak cantik. Mungkin dimata Eksan nilai plusnya karena wanita ini bisa terlihat seperti ini meski tanpa make-up. Berbeda dengan perempuan metropolitan pada umumnya yang kecantikannya meningkat 90% karena make-up. Kalo tak bermake-up mereka kebanyakan sangat jauh dari standar.
Penampilannya pun jauh banget dari standarisasi wanita kekinian. Kalo pun kini banyak perempuan kekinian memakai hijab, style busana mereka pun sangat beragam. Ada yang pake cardigan, bolero, atau apalah itu namanya. Tapi wanita di sebelah Eksan ini sangat simple banget. Rok panjang polos, kaos panjang biasa, dan jilbab besarnya juga biasa.
"Tidak, terimakasih. Ini saja sudah cukup." Wanita yang ditaksir Eksan umurnya sudah lebih dari 25 tahun itu tersenyum kecil memperlihatkan sapu tangan pemberiannya tadi.
"Eksan." Kini Eksan mengulurkan tangannya, mengawali perkenalan.
Wanita itu sedikit meragu, meski akhirnya menyambut uluran tangan Eksan. "Tantri."

Dan.... akhirnya dikafe inilah kemudian mereka berdua. Setelah secara to the point Eksan mengatakan maksud dan tujuannya.
"Jadi ini maksudnya, kamu mengajakku kawin kontrak?" tanya Tantri meletakkan kembali selembar cek yang sepertinya sudah puas ditelitinya.
"Semacam itulah. Kamu hanya perlu berperan sebagai pacarku dulu yang aku bahkan lupa namanya. Kukenalkan pada Mamaku. Kalo Mamaku langsung menyuruhku menikah, maka kita menikah. Setelah 6 bulan, kita bercerai. Kamu lanjutkan kehidupanmu, aku juga akan kembali pada kehidupanku. Simpel kan?" Eksan memaparkan semudah mungkin untuk dipahami.
"Aku punya anak."
Eksan berfikir dua detik.
"Owh, itu malah bagus."
Tantri mengerutkan dahinya.
"Menurut cerita yang kuceritakan pada Mamaku, pacarku itu sedang hamil dan Mamaku mengira itu adalah anakku."
Tawa Tantri meledak. "Maksudmu, anakku disini juga ikut berperan?"
Eksan mengangguk, "Anggap aja dia anakku. Lima tahun? Enam tahun?"
"Lima setengah."
"Perfect!"
Mata Tantri menyipit. Memandang Eksan sebagai orang yang kurang waras. Apa iya ada orang yang dengan mudah diajak berkoalisi hanya karena kepentingan yang serba kebetulan saling berhubungan? Berani membayar orang satu milyar hanya untuk jadi pacarnya? Jaman sekarang, sejuta pun bisa untuk menyuruh orang membunuh orang lain. Ini kenapa uang semilyar hanya dipakai untuk menyuruh orang menjadi pacarnya, kalo perlu istrinya untuk jangka 6 bulan saja?
"Kamu gila ya?" desis Tantri.
Eksan tergelak, "Apanya yang aneh? Dalam hal ini kita semua diuntungkan. Aku paling tidak akan terbebas dari kejaran Mama yang menyuruhku menikah selama 6-7 bulan. Dan kamu dapat uang satu milyar. Lebih untung daripada harus nyari suami kaya raya dulu kan?"
Tantri sedikit kaget mendengar kalimat terakhir itu. Ada sedikit bias malu menyergap pipinya. Apalagi ditambah tatapan Eksan yang terkesan begitu menyindir.
"Oke, deal." Tantri mengulurkan tangannya.
Kini Eksan yang terhenyak.
"Kenapa? Meragu?"
Eksan malah tergelak. " ternyata wanita sama saja, semua matre, mata duitan."
Tantri ketularan tergelak. "Semua kan? Jadi kenapa kaget kalo aku juga termasuk? Lagipula kamu sendiri yang mengajak membuat kesepakatan ini. Hanya wanita bodoh yang tak butuh uang karena sekarang apa-apa perlu uang."
Eksan mencoba mengacuhkan itu. Benar juga kata temannya, kalo wanita didebat dengan 1 kalimat, dia akan membalasnya 10 kalimat. Itu juga salah satu alasan Eksan menjauhi makhluk bernama wanita.
Wajah tertutup jilbab hitam itu meletakkan tangannya ke meja. Menjauhkan cangkir tehnya ke samping. Lalu menatap Eksan lekat.
"Dengar, saat ini, aku benar-benar butuh yang namanya uang. Aku punya 5 kakak yang sudah berkeluarga, tapi semuanya sedang kesulitan. Aku juga punya anak perempuan yang bahkan harus kutitipkan pada salah satu kakakku karena aku harus mencari uang."
"Lalu suamimu?" tanya Eksan sedikit ragu. Hal yang sejak tadi terlupa untuk dipikirkan Eksan. Bagaimana kalo Tantri masih punya suami? Sama saja dia mencari gara-gara dengan rumah tangga orang.
Tantri menunduk sedikit. "Sejak setahun lalu dia kabur dengan pacar lamanya, akhirnya aku menceraikan diri darinya."
Eksan terdiam beberapa detik meresapi kalimat Tantri yang terkesan angkuh meski kenyataannya rapuh.
"Jadi___"Tantri mengangkat wajahnya lagi, menatap Eksan dengan sinar keyakinan, "___tak ada salahnya kan aku menerima kesepakatan gila ini? Daripada aku gila mendengar keluhan para kakakku, juga mencoba mencukupi kebutuhanku yang makin menggila, aku lebih baik seperti ini kan? Dapat semilyar hanya dengan berperan sebagai istri orang selama 6 bulan." Tantri mengibaskan kertas ceknya tadi.
Mungkin bagi Eksan ini cukup beresiko kalo sampai Mamanya tau sudah dibohonginya. Eksan bukan bermaksud menguasai kekayaan mamanya, yang kata mamanya akan dilimpahkan padanya kalo mau menikah. Eksan hanya tak rela kalo sampai hasil kerja keras mamanya selama hidupnya malah dimanfaatkan orang-orang serakah macam om dan tantenya. Dan dengan memilih Tantri sebagai partner untuk misi ini memang sudah pas.
Tantri, jika Eksan lihat secara sekilas, adalah wanita yang polos. Dia mungkin matre, tergoda uang semilyar meski harus kawin kontrak dengan orang yang baru dikenalnya, tapi perlu digaris bawahi kalo dia tergoda uang untuk membereskan masalah keuangan keluarganya. Jadi ini cukup berbeda jika disamakan dengan wanita-wanita pada umumnya yang memang nyata-nyata matre. Yang bahkan rela menjadi simpanan para pengusaha untuk memenuhi hasrat seks juga hasrat berbelanja.
Eksan  disadarkan tatapan Tantri yang mendesak untuk segera menyambut uluran tangannya. Eksan mendesah panjang dan akhirnya mengangkat tangan kanannya. Mereka pun berjabat tangan.
"Oke, deal!" ucap mereka bersamaan.
Dan terjadilah kesepakatan itu.
***



“Ini duit apaan, Tan?” tanya Mbak Mia di seberang telpon, saat Tantri menelpon dan mengabari sudah mentransferkan uang sebesar 50 juta ke rekeningnya.
“Udah, gak usah banyak tanya, pokoknya sekarang beresi semua hutang-hutang Mbak Mia.” Tandas Tantri setengah jengkel karena merasa serba salah menghadapi kakaknya yang terlalu banyak terlilit hutang hingga membuat Tantri selama ini sering dikejar-kejar dimintai pertolongan untuk mencarikannya pinjaman.
“Ya gak bisa begitu dong, Tan. Ini duitnya banyak banget lho.”
“Utang Mbak Mia juga banyak kan?”
Diam. Tak ada sahutan.
“Pokoknya beresi semua hutang-hutang yang ada, aku mau menelpon Mbak Upik. Assalamuallaikum.” Lalu Tantri menutup pembicaraan.
Eksan yang sejak tadi memperhatikan itu kemudian mendorongkan sebotol air mineral ke arah Tantri.
“Minumlah dulu, sudah hampir sejam kamu menelpon kesana kemari seperti pekerja yang dikejar deadline.”gusar Eksan yang memang tak pernah suka melihat orang yang sibuk sendiri.
“Aku sudah cerita kan kalo punya 5 saudara yang semuanya sedang dalam kesulitan finasial?” Tantri mencoba membuka tutup pintu air mineralnya, tapi mungkin karena tangannya yang cukup berkeringat, menjadi sangat kesulitan.
Eksan menegakkan duduknya lagi dan meminta kembali botol minuman itu. “Iya… tapi aku tak menyangka hutang saudaramu itu banyak-banyak.” Sekali putar Eksan berhasil membuka tutup botol minuman itu dan kembali menyodorkan ke Tantri.
“Namanya juga orang kecil, adat gali lubang tutup empang, sampai kemudian lama-lama semua berlubang dan jadilah danau yang sangat luas.”
Eksan tertawa mendengar perumpamaan yang dipakai Tantri untuk mengungkapkan tentang hutang. Tak sadar Eksan memperhatikan Tantri yang sedang menikmati setiap tegukan air dalam botol yang dipegangnya. Dan Eksan sempat tergagap saat Tantri kembali menatapnya.
“Besok kita temui Mamaku.” Ucapan Eksan seperti sebuah putusan.
Tantri tersedak, sampai terbatuk-batuk. Eksan geleng-geleng kepala dan menyodorkan boks tisu ke arah Tantri.
“Kenapa? Takut?” selidik Eksan, cukup takut juga kalo kemudian Tantri ciut nyali dan membatalkan perjanjian lalu kabur. Tapi Eksan juga tak mau ambil pusing kalo sampai Tantri melanggar perjanjian yang ada apalagi uang sudah ditransfer dan bahkan beberapa sudah digunakan Tantri. Dan Eksan bukan orang bodoh sehingga surat perjanjian yang mereka tanda tangani kemarin dibawah materai, jadi Eksan bisa dengan mudah menyeret Tantri ke kantor polisi atas kasus penipuan dan penggelapan uang.
Tantri meneguk lagi air dalam botol.
“Mama kamu gak suka makan orang, kan?”
“Kamu pikir Mamaku orang barbar yang kanibal?” sungut Eksan tak suka dengan pemakaian kata-kata Tantri.
Tantri menutup botol minumnya dan meletakkannya ke meja.
“Kalo begitu tak ada yang perlu ditakutkan. Kalo mau, sekarang pun tak apa-apa.”
Eksan  tergelak tak percaya melihat reaksi Tantri yang seakan benar-benar tak punya rasa takut. Padahal dilihat dari segi apapun Tantri itu bukan sosok yang pemberani. Tantri terkesan sosok keibuan yang lemah lembut apalagi ditunjang dengan cara berpakaiannya yang serba feminim.
“Besok saja. Besok tunggu aku di depan cafĂ© ini jam 1 siang.” Eksan siap-siap bangkit.
“Jam 1 aku masih kerja.”
“Memang kerja dimana?”
“Pabrik dekat sini. Bitratrex
Eksan tergelak, “Jadi kamu salah satu karyawan Bitratrex.?”
Tantri menatap Eksan dengan kerutan di dahi.
“Itu pabrik milik keluargaku, berhenti saja.”
“Kenapa harus berhenti?”
“Karena besok kamu harus menemuiku di sini jam 1 siang.”
Tantri diam sebentar lalu mengangkat bahu carefree. “Oke.”
Eksan tergelak mendapat raeksi sederhana itu.
“Kenapa? Kamu tadi menyuruhku berhenti kan? Lagipula kamu sudah memberiku uang yang banyak yang bahkan tak bisa aku kumpulkan meski 10 tahun bekerja.” Jawab Tantri enteng.
“Aku seperti sedang berbicara dengan daua orang berbeda watak secara bergantian.”
“Apa kamu pikir aku ini bipolar?” Tantri mencibir kesal.
“Bukan, kalo bipolar lebih ekstrem, aku hanya merasa terbohongi dengan penampilanmu kemarin.”
Tantri terbahak. “Don’t judge the book by its cover, because you never will get the chance to find out what lies within it.”
Eksan terperangah mendengar ucapan Tantri, dia benar-benar seperti telah dibodohi. Sejak awal Eksan sudah berfikir Tantri itu hanya wanita biasa dengan kepintaran yang standar. Tapi ini, dia bahkan dengan fasihnya menggurui Eksan yang pernah 3,5 tahun kuliah manajemen di Inggris layaknya Mario Teguh yang sedang memberi petuah di acara talk show yang diampunya yang pernah membooming sebelum inspirator itu terjun bebas akibat kesalahan masa lalunya yang tiba-tiba mencuat tanpa diundang.
“Apa? Apa aku tak boleh berbicara seperti itu?”
“Apa pendidikan terakhirmu?”
Tantri tergelak, seperti benar-benar tau kalo ada aura menyindir pada pertanyaan Eksan barusan.
“Aku memang bukan sarjana sepertimu, Tuan, tapi aku tak sedungu yang kamu pikirkan. Jangan salahkan aku yang tak sebodoh yang kamu pikirkan, salahkan saja dirimu yang menganggapku bodoh.”
Skak!
Sial, umpat Eksan.
Eksan merasa benar-benar sudah dibodohi. Eksan mengira Tantri hanya wanita yang terlalu peduli pada saudara-saudaranya yang terlilit hutang sehingga mau mengorbankan dirinya dalam sebuah perjanjian kawin kontrak dengan imbalan 1 milyar. Ya, hanya sebatas itu. Eksan tak menyangka Tantri juga cukup terpelajar. Mungkin Tantri memang wanita pintar yang tak mampu menjadi terpelajar hanya keberuntungan tak mau berpihak padanya.
“Pernah lihat filmnya Julia Roberts yang Erin Brockovich?” tanya Tantri membuat dahi Eksan mengkerut.
Apalagi ini?
“Janda gila itu?” tanya Eksan sedikit sarkas. Eksan tau tokoh film yang dimaksud Tantri. Janda yang serba memaksakan diri menghadapi hidup yang sebenarnya sudah jauh dari kemampuan dan pengetahuannya.
“Kenapa menjulukinya janda gila? Dia itu hebat, mampu memecahkan masalah besar yang nyaris tak ada yang berani menyelesaikannya. Dia juga mampu menghidupi ketiga anaknya dengan segala kekurangannya.”
Ya, Eksan mengakui film yang diambil dari kisah nyata itu. Kadang Eksan bahkan ingin menjadi sutradara saja dan mengangkat kisah perjuangan dan ambisi Mamanya. Hanya ingin melihat apa filmnya itu bisa se-booming film itu hanya karena itu diambil dari kisah nyata.
“Jangan bilang kalo kamu mengidolakannya.”
“Sayangnya, ya.”
Eksan tergelak sambil melengos.
Bagus, sepertinya Eksan benar-benar akan membuat film yang mengangkat kisah perjalanan hidup Mamanya. Siapa tau wanita dihadapannya ini juga akan mengidolakan Mamanya.
“Waktu itu aku baru umur belasan, tapi saat melihat film itu di tivi aku seperti seorang anak laki-laki umur 7 tahun yang menonton film Transformer pertama kalinya.”
Kini Eksan tak hanya tergelak, tapi juga terbahak. Sampai menyita beberapa pengunjung kafe, meski hanya beberapa detik.
“ Aku juga suka saat Julia Robert saat dia main Runaway Bride serasi banget sama Richard Gerre yang udah kelihatan matang.”
“Sekalian saja suka dia pas main Pretty Woman, saat itu Richard Gerre pas keren-kerennya.”
“Aku juga liat yang itu. Meski pas film itu booming aku belum lahir.”
“Sejak kecil sepertinya kamu sudah salah tontonan.” Tebak Eksan.
“Yes, I guess that. Bahkan aku masih ingat aku masih awal-awal masuk SD saat tak sengaja menemukan kaset CD lagunya Guns ‘n Roses di koleksi CDnya kakak temanku. Dan saat kami menontonnya aku langsung jatuh cinta dengan Axl.”
Eksan terpingkal kali ini. “Mendengar ceritamu dan melihat penampilanmu sekarang aku punya kesimpulan yang pas untukmu, kamu seperti seorang gadis tomboy yang bengal yang pada akhirnya bertobat dan memilih mengenakan hijab.”
“Kenapa tak sekalian saja mengumpamakan aku seperti Lady Gaga yang bertobat dan mengganti bikini dressnya dengan gamis panjang dan hijab syar’i?”
Eksan terpingkal lagi.
Siang itu mereka habiskan di sudut kafe dengan cerita masing-masing yang mengalir apa adanya layaknya air mengalir di sungai yang jernih.
Tantri percaya, Tuhan sudah mulai merealisasi rencanaNYA atas hidupnya yang berliku. Dan Eksan percaya, ini akan menjadi kisah yang menarik untuk hidupnya yang selama ini terlalu flat dirasa. Dan satu lagi, Eksan tau kalo wanita dihadapannya ini tidak bodoh.
***


“Gugup?” tanya Eksan saat akhirnya dia memberhentikan mobilnya di sebuah parkiran restoran Jepang, tempat dimana sang Ibu suri ingin bertemu dengan wanita yang dibicarakan putra tunggalnya kemarin malam, yang akan diperkenalkan sebagai calon mantunya.
Tantri menghela nafas panjang, dia makin kelihatan ayu dengan balutan gamis berbahan kaos variasi layer dengan kombinasi list berwarna abu-abu. Pulasan make-up yang sederhana makin menegaskan kalo Tantri bisa bersaing dengan gadis metropolitan pada umumnya.
“Oke, siap.” Katanya mantap.
Eksan tersenyum lalu mendahului membuka pintu. Tantri bukan wanita manja yang menunggu untuk dibukakan pintu. Tapi kain gamisnya yang cukup lebar dan high heels-nya yang meski hanya 7 centi tapi sudah nyaris membuat Tantri nyaris terpeleset.
“Kenapa sih tadi tak pakai sandal flat saja? Aku paling benci pake heels,  bahkan sekalipun itu wedges.” Gerutu Tantri membenarkan posisi berdirinya sebelum menyusul langkah Eksan.
“Dunia yang akan kamu tempati menuntutmu untuk terlihat lebih elegan. Dan salah satu point penting terlihat elegan adalah alas kaki yang meninggi.” Ceramah Eksan tetap melangkah masuk ke restoran bergaya jepang asli.
Tantri mendesis, “Penting banget ya? Apa seperti Axl Guns ‘n Roses dengan gitar akustiknya? Jika Axl tanpa gitar kan udah kaya model iklan shampoo.”
Eksan berusaha keras menahan tawanya agar tidak muncrat. Ternyata ‘rekan bisnis’nya ini pintar sekali berparodi.
Layaknya restoran-restoran jepang pada umunya restoran ini juga bersekat-sekat dengan sekat dari dinding kertas yang menurut Tantri sudah seperti rumah kardus. Sudah dapat dibayangkan nanti dia akan duduk di bawah seperti duduk di thasyadud awal dalam sholat. Kalo dalam sholat paling lama beberapa menit saja, bahkan kadang kurang dari semenit. Tapi ini nanti pas akan lama. Tantri merutuk dalam hati. Kenapa Mamanya Eksan tak sekalian mengajak mereka bertemu di angkringan lesehan saja? Duduknya bisa lebih rileks.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu dengan seorang pelayan yang sudah siap membukakan pintu.
“Mama kamu orangnya bagaimana?” bisik Tantri gugup.
“Tenang, Mamaku bukan orang barbar yang suka makan orang.” Eksan juga berbisik, dengan sederet senyum yang masih berusaha ditahannya.
Tantri nyengir sebal. Dan saat pintu dibuka langsung terlihat oleh Tantri seorang wanita anggun dengan rambut kecoklatan tertata sanggul modern yang apik. Tubuh sedikit gempalnya yang singset terbalut baju berwaran hijau lumut dengan hiasan bordiran kekuningan yang berkilau. Mungkin itu yang disebut baju sutra bersulam benang emas.
Pasti harganya bisa puluhan juta, pikir Tantri.
Seulas senyum tercetak di bibir manis berpoleskan lipstick warna merah tua. Membuat Tantri mau tak mau membalasnya meski sedikit canggung.
Bagi Tantri ini seperti de javu saat pertama kalinya dia dulu diajak bertemu dengan ibu mertuanya. Dulu.
Tatapan mata Eksan menyadarkan Tantri untuk mengikuti langkah Eksan masuk ke dalam bilik bersekat dinding kertas bergambar rumpun bambu khas etnik jepang.
“Jadi ini calon mantu Mama, San?”
Glek.
Tantri menelan salivanya sedikit tersendat. Antara gugup dan merasa bersalah. Wanita di hadapannya itu benar-benar berharap putranya membawakan calon mantu idamannya. Tapi siapa yang tahu kalo ternyata yang dikenalkannya hanya seorang wanita yang disewanya untuk menjadi istri kontraknya selama 6 bulan dengan imbalan 1 milyar?
“Mama terlalu to the point deh.” Gusar Eksan tak suka, memprotes.
Wanita itu tersenyum anggun. Sungguh, sedikitpun tatapan matanya tak pernah bergeser dari Tantri. Dan itu membuat Tantri makin gugup.
“Maa.. jangan dipelototin terus gitu, dia itu manusia bukan produk sampel yang mau diluncurin.” Lagi-lagi Eksan memprotes tindakan Mamanya.
“Ih.. kamu bawel amat sih, San. Wajar dong Mama liatin wanita pertama yang kamu kenalin ke Mama.” Si Mama juga memprotes, “Catet, ini pertama kalinya lho Mama menyaksikan kamu datang sama seorang gadis.”
Eksan berdehem menginterupsi, “Dia bukan gadis, Ma. Dia janda dengan seorang putri.”
Kalimat interupsi itu sukses membuat Tantri menunduk sangat dalam. Kalo perlu Tantri ingin menyembunyikan kepalanya ke ketiaknya seperti seekor kucing peliharaan Kia di rumah.
“Gak usah diperjelas gitu Mama juga udah tau. Ini kamu kok gak bisa jaga perasaan perempuan sih?” Lalu sebelah tangan terawat dengan sebuah gelang giok warna hijau terulur ke bahu Tantri. “Dimaklumi ya kelakuannya Eksan, dia memang nol besar kalo soal urusan perempuan.” Katanya lembut, dengan tatapan yang akhirnya membuat Tantri kembali mendongak.
Dan Tantri makin merasa bersalah. Satu doa Tantri. Semoga mereka tidak kuwalat karena telah membohongi wanita sebaik ini.
***


Eksan masih mencoba mencari celah untuk bisa memperhatikan seraut wajah manis yang malah selalu berusaha bersembunyi dibalik kerudung ibunya meski sepasang mata legamnya yang bulat sesekali mencuri pandang.
“Kelakuanmu sama saja dengan Mamamu kemarin.”
Eksan seketika menegakkan pandangannya searah dengan tatapan protes Tantri.
“Itu membuatnya takut.” Imbuh Tantri masih bernada sama.
“Tidak ada mirip-miripnya denganmu.”
“Memang tidak, dia mirip bapaknya.” Tantri lalu mengajak gadis kecil itu keluar dari ‘tempat persembunyiannya’.
“Kia, kenalin, ini om Eksan.”
Eksan siap-siap pasang muka ramah dan membungkuk mensejajarkan tinggi badan gadis berkuncir dua yang masih takut-takut malu itu.
“Kia, mau gak kalo om jadi Papanya Kia?” tanya Eksan ringan.
Tapi Kia langsung menggeleng, sebelah tangannya menarik-narik jilbab ibunya.
“Ibu, Omnya kaya Om Billy yang matanya suka dibikin item itu ya?” celetuk Kia sedikit lirih, tapi Eksan cukup jelas mendengarnya hingga membuatnya mengerutkan dahi.
“Siapa?” tanya Eksan menatap Tantri yang berusaha menahan senyum.
“Eh, iya, ya, Kia… Ibu juga baru nyadar, kaya Om Billy kalo pas gak pake item-item di kelopak matanya.”
Eksan makin bingung dengan kedua Ibu-anak ini. Tantri malah mengajak putrinya duduk yang seperti makin penasaran dengan Eksan. Kelihatan sekali dengan mata bulatnya yang hampir tanpa jeda melepaskan diri dari inspeksinya menjelajah seluruh penampilan Eksan.
“Pacar kamu?” tanya Eksan ikut duduk, masih penasaran dengan ‘Om Billy’ yang mereka maksud tadi.
“Billy Joe Amstrong, Green Day.” Jawab Tantri meralat.
Eksan kaget. Menatap gadis yang bahkan belum genap 6 tahun yang kini menikmati semangkok strawberry snowflake milkshake sherbert yang oleh Tantri tadi langsung diringkas dengan sebutan es salju strawberry.
“Apalagi? Kaget juga anakku kenal Billy Amstrong?” Kini Tantri mengambil selembar tisu dan melap sudut bibir anaknya yang sedikit belepotan.
“Dia baru 5,5 tahun kan?”
Sumpah, Eksan sepertinya sejak sekarang harus banyak-banyak mengkonsumsi Maxx Omega3 atau Alerten Q100 agar jantungku lebih kuat. Ini Ibu dan Anak memang berbakat sekali membuat orang jantungan.
“Dia terlalu menyukai lagu ‘Wake Me Up When September Ends’. Dia bahkan nyaris hafal liriknya meski banyak yang masih keliru pengucapannya.” Papar Tantri tanpa ada aura menyombong.
Eksan diam memperhatikan lahapnya Kia menikmati sesuatu yang mungkin jarang sekali dinikmatinya. Bagi Eksan, lagunya Green Day yang sangat booming tahun 2004 itu juga sempat membuatnya teringat Papanya. Apalagi lagu itu katanya juga buah inspirasi Billy Amstrong karena teringat akan ayahnya yang sudah meninggal saat usianya baru 10 tahun. Dan bagi bocah sekecil Kia sungguh terlalu cepat kalo bisa mengerti akan chemistry lagu itu dengan sosok berlabel ‘ayah’.
“Apa tak terlalu dini kalo dia sudah tau lagu-lagu semacam itu?” tanya Eksan lagi disela adukan sedotan pada Caramel macchiato miliknya.
“Sudah terlanjur. Peninggalan bapaknya dulu. Waktu usianya baru 3 tahun sudah sering diajak nyanyi lagu-lagu begituan sambil gitaran.” Tantri seperti setengah acuh mengatakan secuil kenangan yang mungkin sedikit membuatnya jengah
Eksan terdiam sebentar. Dari kalimat yang diucapkan Tantri tadi, dia mencoba membayangkan betapa bahagianya keluarga yang sempat dimiliki Tantri. Betapa sempurnanya hubungannya dengan suaminya. Tapi kenapa kemudian bisa berakhir? Kenapa pada akhirnya Tantri harus menanggung beban hidup yang berat?
Bahkan melihat gadis kecil bernama lengkap Zakia Permata Hati itu sudah pasti tak hanya Tantri, tapi pasti bapaknya juga sangat bahagia dengan kehadirannya. Apalagi Kia bisa tumbuh menjadi gadis kecil yang begitu mempesona. Dari segi fisik juga psikis. Lalu kenapa pada akhirnya bapaknya tetap tega meninggalkannya? Apa memang cinta hanya seperti itu?

Benar-benar sulit dimengerti.


Demak, 29/10/2017

Selasa, 12 September 2017

Tentang Kita & Mereka



Aku diam dengan bibir mencebik menatapmu sedikit jengkel. Dan kamu yang tahu aku sedang kesal malah tersenyum. Seakan-akan kekesalanku ini adalah hiburan tersendiri untukmu yang baru saja datang bahkan masih memakai seragam kerja dengan tulisan besar di bagian punggungnya, “Sahabat Mekanik”.

“Udah, gak usah cemberut gitu. Jelek ah!” katamu dengan mengacak-acak rambut sebahuku yang baru keramas dan belum kering betul. Setelah itu kamu beranjak menuju dapur.

Bagaimana tak kesal coba? Datang-datang langsung mensabotase laptop yang kebetulan tak kumatikan karena pikirku hanya kutinggal memasak nasi sebentar di magig com. Dan parahnya lagi seenaknya men-share ulang sebuah poster event yang kemarin ikut nyelip di dinding kronologi akun facebookku hasil tag seorang teman.

“Apa salahnya sih, Di, kan DL-nya juga masih rada lama. Unik pula temanya, daun dan petrichor.” Serumu dari dapur, sepertinya kamu sedang butuh makan. Sayang, hanya ada lauk yang tadi kubeli saat pulang kerja. Nasinya baru masuk magig com beberapa menit lalu.

“Yang suka begituan kan Abang, bukan aku.” Bibiku masih belum puas menggerucut.

Benar-benar mengesalkan kamu hari ini. Kenapa menyuruhku melakukan hal yang tak kusukai? Kalau aku tertarik dengan poster event cerpen  yang diselenggarakan sebuah penerbit indie itu, aku sudah ikut sejak melihatnya kemarin-kemarin. Tapi ini temanya “Daun dan Petrichor”. Oke kalau daun masih bisa aku tolerir, tapi petrichor? Itu berkaitan erat dengan hujan. Hal yang tidak pernah aku sukai. Dan sepertinya kamu sudah mengetahuinya. Kita kan sudah saling mengenal 2 tahun lebih.

Luis Gani. Itu nama yang kamu sebutkan saat pertama kali kita bertemu dulu. Sosok yang sangat baik, ramah, dan yang pasti sang penolongku yang tak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun. Meski ada kalanya—seperti saat ini—kamu sangat menyebalkan dan ingin sekali kumarahi. Tapi aku tak mau menjadi orang yang tak tahu diri dan tak tahu terimakasih. Rumah yang kutempati dengan nyaman ini adalah rumahmu. Laptop yang selama ini kupakai untuk mengembangkan hobiku hingga bisa menjadi kerja sampingan yang menyenangkan, juga milikmu. Bahkan pekerjaanku yang menjadi pendapatan utama hidupku, meski hanya sebagai seorang cleaning service di tempat kerjamu, juga karena bantuanmu saat mendapatkannya. Jadi, beginilah aku kalau kesal dengan tingkahmu. Kesal sendiri.

“Ya, sekali-kali gantilah genre ceritamu itu. Abang kadang juga ngeri kalo baca naskahmu. Masa cakep-cakep tega bunuh orang tuanya sendiri gara-gara cewek?” Kamu kembali dengan semangkok soto ayam yang rencananya mau kupakai untuk makan malam nanti. Mengomentari salah satu tokoh dalam novel yang sedang kuselesaikan diwaktu luang.

“Ya, namanya juga punya gangguan mental.” Sanggahku mengembalikan layar laptopku ke file Ms. Word yang memang sejak sepulang kerja tadi kugeluti demi meneruskan kisah si tuan muda manis yang terlalu mencintai seorang gadis.

Kamu ikut duduk di sebelahku, “Nah itu, kebanyakan buat tokoh-tokoh dengan gangguan mental jangan-jangan kamu nanti jadi salah satu kaya mereka. Kan nanti Abang jadi gak punya Diandra yang imut.”

Aku melirik judes ke arahmu yang masih saja tak bosan tersenyum. Dan aku diam tak berkutik menyadari senyummu itulah yang selama ini menemaniku saat aku merasa sebatang kara dan tak tahu harus kemana.

“Aku tuh gak bisa buat cerita yang mellow, Bang. Emang bisa tema petrichor dibuat genre psiko? Gak ‘kan?” Aku masih mencoba mengelak menuruti permintaanmu.

Anggap saja aku membenci hujan dan petrichor. Karena jika dua hal itu melintas dalam hidupku, sontak saja membuatmu nelangsa. Dua hal itu yang mengiringiku saat Ayah dan Ibuku direnggut dariku. Usai pemakaman Ayah dulu, hujan awal musim penghujan tiba-tiba turun dan membuat aroma petrichor menyeruak sempurna. Dan itu awal mula aku membenci aroma petrichor yang sebenarnya pernah sangat aku kagumi.

Dan aku kehilangan Ibu juga saat hujan di awal musim penghujan. Hujan yang disertai angin cukup kencang hingga mampu menggugurkan daun-daun pepohonan yang saat itu menjadi tempat Ibu tergeletak tak berdaya akibat tabrak lari. Usiaku saat itu masih terlalu labil untuk memikirkan hal lain selain menangis histeris diantara hujan dan daun-daun yang berjatuhan. Dan sekali lagi, aroma petrichor menyengat mengiringiku mendapat status baru dalam hidupku; sebatang kara.

Jadi, bagaimana bisa kamu menyuruhku membuat sebuah cerita romantis dengan tema daun dan petrichor? Karena semua cerita diantara dua hal itu adalah hal yang menyedihkan.
Kamu mendesah panjang meletakkan mangkok soto ditanganmu. Lalu kedua tanganmu merengkuh pundakku hingga membuatku terpaksa menghadapmu sempurna.

Luis Gani, usia kita terpaut lebih dari 5 tahun tapi mungkin karena status kita yang sama-sama sebatang kara-lah yang membuat kita bisa langsung cocok sejak awal. Kita saling mengisi, saling melengkapi, saling menemani, dan saling menjaga. Aku nyaris tak memikirkan apa arti aku bagimu. Hanya orang yang perlu kamu beri tempat tinggal hingga kamu sendiri rela tinggal di mess pabrik. Hanya  orang yang perlu kamu bantu mendapatkan pekerjaan agar tak terlalu merasa menyusahkanmu terus. Atau memang hanya orang yang perlu kamu kasihani karena terlihat sangat menyedihkan bagi seorang gadis lulusan SMP yang sebatang kara, tak punya tempat tinggal apalagi penghasilan. Yang pasti aku sangat bersyukur Tuhan mempertemukanku denganmu waktu itu. Punya tempat untuk ditinggali, punya pekerjaan dan juga bisa meraih impianku mengikuti KEJAR PAKET C, sebagai pengganti aku tak bisa meneruskan sekolah SMA. Aku mensyukuri tiap hal yang terjadi denganmu.

Dan aku masih ingat betul sore itu di sebuah halte bus saat angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun dari pohon akasia di pinggir jalan dan hujan awal musim yang…

Aku sedikit tersentak. Mataku membulat menatap wajahmu yang masih setia memperhatikanku dengan detail. Seperti ada tali penghubung yang membuatku teringat awal kami bertemu dulu dengan dua hal yang menjadi tema  dari pembicaraan kami sejak tadi. Daun dan petrichor.

“Apa cuma Abang yang masih ingat betul awal kita ketemu dulu? Sore dengan mendung tebal dan gerimis yang makin deras, lalu angin yang mampu membuat daun-daun yang menguning di pohon  sebelah halte berguguran seperti musim gugur di luar negeri? Lalu seiring gerimis yang berubah menjadi hujan membuat aroma petrichor tercium. Kamu udah gak ingat itu, Di?” Kini tanyamu seperti sebuah teguran, tuduhan, atau entahlah… yang pasti aku bisa menangkap semburat kekecewaan dalam suaramu.

Aku menunduk gelisah, merasa bersalah, “Mmm… aku, aku…”

Dan kedua tanganmu yang memegang bahuku menjadi menguat, seperti menyuruhku fokus menatapmu.

“Berhentilah membenci hujan, daun-daun yang berguguran, dan aroma petrichor. Meski Abang tau semua itu mengingatkanmu saat kehilangan kedua orang tuamu. Tapi pasti Tuhan memang sengaja mempertemukan kita dulu dalam suasana yang kamu benci, biar seiring berjalannya waktu kamu bisa mengerti tak semua yang membuatmu bersedih harus selalu kamu benci.”

Aku tertunduk lagi.

“Ya, kecuali kamu menyesal ketemu Abang.” Dan lanjutan kalimatmu disertai pelepasan rengkuhan kedua tanganmu pada pundakku membuatku menatapmu lagi dengan gelengan kepala tanda protes.

Kamu tersenyum, kini sebelah tanganmu terulur ke puncak kepalaku dan menepuk pelan, “Abang menyayangimu, Di. Jadi, sotonya Abang makan ya? Laper.”

Aku mendengus kesal lagi, kamu malah tertawa mengangkat kembali mangkok soto yang tadi sempat kamu taruh.

“Ngomongnya suka gak nyambung.” Aku beringsut menghadap ke arah layar laptop lagi, tapi sayup-sayup kudengar suara gemerisik dedaunan dari pohon kresen di belakang rumah membuatku tercenung beberapa detik.

“Bang…” panggilku makin menajamkan indra pendengaranku.

“Hmm.” Kamu masih sibuk menghabiskan soto dalam mangkok.

Lama-lama aku tak hanya mendengar suara gemerisik daun tapi juga merasakan ada suara tetes-tetes air diatas  genteng.

“Bang, hujan ya? Jemuranku…” Aku bermaksud buru-buru bangkit, tapi karena mungkin terlalu terburu-buru aku malah tersandung kakimu.

Duuukkk.

Aku sedikit memekik saat tubuhku kembali terduduk bahkan nyaris pada posisi tersungkur.

“Di…, hati-hati dong!” Kamu meletakkan mangkok ditanganmu dan beralih membantuku untuk kembali menegakkan tubuhku. Air hujan di luar semkain jelas tertangkap oleh mataku dari balik kaca jendela tak jauh dari tempat kami.

“Jemuranku kehujanan.” Aku bangkit segera dan bergegas menuju arah pintu belakang rumah.

Tapi, sampai di depan pintu penghubung menuju area sepetak belakang rumah yang difungsikan untuk menjemur baju dan sebagian di hiasi berbagai tanaman dan bunga yang sesekali masih kurawat, aku terdiam.

Daun-daun dari pohon kresen yang menguning jatuh satu-satu mengiringi tetesan air langit yang makin deras. Dan perlahan aku bisa mencium aroma petrichor yang selama ini nyaris tak pernah kugubris keberadaannya.

“Momen yang sempurna, ‘kan?” tanyamu tiba-tiba sudah berdiri tepat di belakangku, merengkuh sebelah pundakku lembut.

Tak sadar aku tersenyum sendiri. Ini pertama kalinya aku kembali merasakan rasa yang lain mendapati daun berguguran, hujan dan aroma petrichor secara bersamaan begini. Bukan rasa yang nelangsa apalagi muak. Apa ini karena kamu?

“Tapi jemuranku kehujanan.”

Kamu tergelak merapatkan diri padaku, “Biar saja, nanti aku bantu mencucinya lagi.”

Kini aku yang tergelak.

“Apa kita angkat saja, sambil hujan-hujan?” tawarmu.

Aku berdecak singkat, “Hujan pertama, tak baik untuk kesehatan, bisa jadi termasuk hujan asam.”

“Ck__" Kini kamu gantian berdecak singkat, "__kamu kebanyakan teori, Di, yuk!!”

Aku menjerit saat tanganmu dengan kuat mendorong tubuhku keluar dari pintu. Yang kudengar kamu malah tertawa seperti mengiringi irama tetes air hujan yang makin deras.

“Abaaanggg…!!” decakku kesal.

Dan sebelum kekesalanku meluap seperti air hujan yang makin deras mengguyur, kamu memelukku erat. Seerat aroma petrichor menyeruak indra penciumanku. Memelukku bersama kenangan tentang mereka.




Demak, 06.09.2017
Winwin_Windarti


Sabtu, 26 Agustus 2017

Overdose-part 8


Rasanya memang tak ingin meninggalkan Bian yang bahkan belum sadar meski sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Tapi aku punya kewajiban yang harus aku kerjakan. Kasus Gie bersaudara perlu aku urus. Jadi pagi ini setelah memberi kecupan selamat pagi pada Bian dan menceramahinya agar segera membuka mata akupun keluar dari kamar. Diluar Anton tertidur dalam duduknya. Membuatku tak sadar tersenyum.

Tim kepolisian cyber sepertinya memang sangat solider. Bahkan aku yang sebenarnya bukan tanggungjawab mereka saja juga dijaganya sedemikian rupa.

"Mau pergi?"

Aku menoleh, seorang laki-laki mendekat. Kemarin aku sempat melihatnya dalam rombongan yang datang saat memberitahukan soal hasil CCTV. Tapi aku tak cukup mengurusi siapa namanya.

"Hmm." Aku mengangguk dengan senyum kecil. "Aku punya kasus yang cukup rumit. Besok ada sidang jadi hari ini tugasku cukup banyak."

"Perlu aku antar?" tawarnya.

"Oh, tidak usah... " tolakku segera.

"Gak apa-apa, biar Farrel yang antar kamu, Yun," sahut Anton yang ternyata terbangun dan sedang meregangkan tangannya dengan menautkan keduanya dan mengangkatnya ke atas.

"Beneran gak usah, aku gak mau merepotkan kalian semua."

Kedua laki-laki itu malah tersenyum.

"Gak merepotkan sama sekali, justru kami bangga bisa membantumu. Sudah lama kami penasaran dengan gadis yang selama ini sudah membuat Bian begitu... " Anton seperti kesulitan mencari kata selanjutnya.

"Sempurna." sahut Farrel melengkapi.
Aku tergelak malu.

"Jadi, mari... " Lanjut Farrel mempersilahkanku berjalan lebih dulu.

Kututupi bias merona di pipiku diperlakukan seperti ini. "Oke, oke. " Kucoba menghentikan lebih cepat bias pipiku sebelum berubah makin merah seperti tomat. "Kalo Bian sadar, tolong segera hubungi aku ya!" pintaku pada Anton.

"Siiipp! Pasti!" Anton mengacungkan jari jempolnya.

Akupun melangkah diikuti Farrel.

"Apa mobil yang menabrak Bian sudah ketemu?" tanyaku tetap sambil berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang pagi ini lumayan ramai.

"Masih dalam pencarian. Pelakunya sangat teliti. Dia menutupi plat mobil dengan lakban hitam saat menggunakannya pagi itu, jadi cukup sulit mencari mobil mercy hitam di kota sebesar ini."

"Berarti pelakunya sudah merencanakannya dengan sangat matang."

Farrel mengangguk, "Kalo bukan orang yang jenius tak mungkin memikirkan sampai sedetail itu."

Kami sampai di parkiran, Farrel membukakan pintu mobil Xenia miliknya.
"Kita kemana dulu?" tanyanya seraya memasang setbelt.

"Kantor. Aku perlu mengambil beberapa berkas sebelum menemui beberapa calon saksi." Aku juga memakai setbelt-ku.

"Finnaly, aku punya kesempatan bertemu si tuan muda yang manis." gumam Farrel menstater mesin mobilnya.

Dan aku tergelak lagi.
Ternyata aku benar-benar telah menjelma menjadi artis di tim kepolisian cyber. Dan itu berkat pacarku sendiri, Bian. Congrate, Yuna!

***


“Beneran mau ikut masuk? Aku sudah seperti tuan putri yang kemana-mana dikawal bodyguard.” Tanyaku melepas setbelt.

Farrel tertawa, “Beneran, aku penasaran dengan yang namanya Nathan. Kemarin Ferry katanya dianggurin pas ngajak kenalan, kan?”

Gantian aku yang tertawa. “Nathan memang begitu orangnya, kalo tak suka bakalan diacuhkan.”

“Okelah, kalo begitu nanti aku tunggu di depan lift saja, yang penting aku bisa tau tampang si tuan muda yang manis itu.” Putus Farrel membuka pintu, menyusul tindakanku yang sudah lebih dulu membuka pintu.

Aku menahan gelakku karena sudah lebih dulu menangkap sebuah sosok yang sedang menatapku penuh kerutan di dahi. Rangga.

“Aku dengar Bian kecelakaan?” tanyanya melirik sedikit ke arah Farrel dan langsung dihadiahi senyum dari Farrel.

“Hmm,”

“Lalu?”

Aku mendesah disela langkah kakiku memasuki kantor.

“Cuma kecelakaan kan? Maksudnya bukan semacam terror kan?” Naluri kepo Rangga langsung mencuat seiring kami memasuki lift yang cukup penuh orang.

Aku memilih tak menjawab, Farrel sepertinya juga tak mau menyebar rumor yang masih sedang mereka selidiki kebenarannya. Dan sepanjang perjalanan kami memilih diam karena tak mungkin mengobrol dalam lift yang penuh seperti ini. Meski di lantai terakhir hanya tinggal kami bertiga.

“Acaramu hari ini kemana, Yun?” tanya Rangga saat pintu lift terbuka.

“Menemui beberapa orang yang bisa dijadikan saksi.” Jawabku melangkah keluar lift, tapi baru dua langkah aku menyadari sesuatu.

“Kamu beneran mau menunggu disini?” tanyaku pada Farrel yang hanya menjawab dengan senyum lebar. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.

“Tunggu saja di kursi tunggu itu, aku perlu menata beberapa berkas soalnya.” Lanjutku menunjuk beberapa kursi yang berjejer di dekat jendela dengan ujung daguku, dan lagi-lagi hanya dijawab dengan senyum meski kali ini ditambahi dengan anggukan.
Aku melangkah lagi bersama Rangga,

“Kenapa kamu sampai dikawal rekannya Bian? Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Bian?”

Mulai deh , interogasi ala Rangga. Aku memilih diam, apalagi mataku lebih terfokus pada ruangan advisor.

Tumben belum datang? Ah, biarlah!
Aku meletakkan tas kerjaku ke meja kubikel dan bergegas menuju ruang berkas. Ada beberapa berkas yang harus kupelajari. Lalu kuambil juga berkas-berkas yang masih belum tertata meski sudah terkumpul di meja. Aku lupa, kemarin sebelum menerima telpon yang mengabarkan Bian kecelakaan aku bermaksud mensortir beberapa file. Setelah semua kurasa sudah kusatukan dalam sebuah map, aku langsung bangkit. Waktuku tak cukup banyak untuk urusan yang sangat melelahkan hari ini. Jadi aku sepertinya harus bergerak 2 x lebih cepat.

“Ngga, aku pergi dulu ya!” pamitku pada Rangga sambil lalu, tapi masih bisa kulihat Rangga mengangkat salah satu tangannya. Rangga sepertinya juga sibuk.

“Sudah?” tanya Farrel mendekat seiring langkahku yang juga mendekati pintu lift.

“Sudah, yuk!” jawabku merapatkan lagi langkahku persis ke depan pintu lift yang 2 lantai lagi sampai.

“Aku tak melihatnya.”

Kutatap Farrel, dan aku langsung tau siapa yang dimaksud Farrel.
“Oh, dia, sepertinya belum datang.” Kuserahkan berkas map yang kubawa karena tangan Farrel sudah mengisyaratkan untuk membantu membawa.

Dan saat pintu lift terbuka, mataku langsung menangkap seraut wajah tampan yang sepertinya juga sedang kaget itu. Ada Riska, Linda, dan Leni dibelakangnya.

Nathan melangkah tepat ke arahku membuatku mau tak mau mundur agar tidak berdiri berhimpitan dengannya.

“Mau kemana?” tanyanya dingin menatapku tajam.

Aku selalu takut dengan tatapan itu.
“Ng… itu, menemui calon saksi. Besok aku ada sidang, jadi aku harus mempersiapkannya.” Kataku apa adanya, karena memang itu jadwalku hari ini.

Dan benar saja perhatian Nathan teralih kearah Farrel. Matanya makin tajam yang membuatku makin takut.

“Siapa lagi dia?”

Sungguh, semua pertanyaannya seperti sebuah penegasan kalo aku ini hak miliknya yang tak boleh disentuh siapapun.
“Temannya Bian, dia hanya mengantarku.”

Farrel melangkah maju untuk mencegah pintu lift tertutup.

“Maaf, aku harus pergi.” Kataku mencoba melangkah ke samping tubuh tinggi itu, tapi ternyata Nathan juga mengikuti arah kakiku membuatku mau tak mau menatapnya dengan kerutan di dahi. Farrel di depanku yang masih terus menahan agar pintu lift tidak tertutup sampai tergelak kaget.

“Nat?”

“Jangan pergi!” katanya dingin.

Aku tergelak, “Aku harus pergi, besok aku ada sidang dan aku bahkan belum punya saksi yang bisa kuhadirkan. Kalo sampai…”

“AKU BILANG JANGAN PERGI!!!”
Suara Nathan menggelegar menyita semua perhatian segala penjuru kantor.  Aku mundur selangkah. Tatapan itu bahkan tak pernah kulihat sebelumnya. Aku seperti berhadapan dengan Jonathan Aryadhani yang lain.

Dan belum habis keterpanaanku akan kemarahan Nathan yang masih asing bagiku, Nathan mencengkeram lengan kiriku erat-erat dan membawanya dalam langkahnya.

“Nat, aakkhh…” Aku spontan menjerit karena cengkeraman Nathan sudah terlalu menyakitkan, belum lagi aku yang hampir terjatuh karena mengimbangi langkahnya.

“Hei…!!” Farrel berteriak sambil mengejar.

Nathan memutar badannya 90 derajat hingga aku kembali berputar nyaris terjungkal. Entah beruntung atau tidak karena cengkeraman tangan Nathan  sudah seperti cengkeraman elang pada mangsanya. Kalo tidak aku pasti sudah terpelanting entah kemana. Kini Nathan dan Farrel berhadapan.

Selamat, Yuna, pagi ini kami menjadi tontonan gratis di kantor ini bersama seorang advisor ganteng dan seorang polisi macho.

“Gak bisa ya, gak kasar sama perempuan?”

“Siapa kamu?”

“Aku hanya orang yang tak suka melihat perempuan dikasari.”

“Dia Una-ku.” Tegas Nathan masih dengan tatapan menusuk.

Farrel tergelak. “Yang kutau dia pacarnya temanku, Fabian.”

Aku masih mencoba melepaskan diri dari cengkeraman itu tanpa harus mempedulikan percakapan mereka apalagi tatapan-tatapan seluruh penghuni kantor ini. Sampai kemudian…

“UNA!!!!” Bentaknya menatapku lekat kini.

Aku sampai tercekat oleh salivaku menemukan mata memerah karena amarah itu. Aku kelu, juga membeku.

Don’t go, I need you!” desisnya menuntut. Benar-benar ciri khas Jonathan si tuan muda yang manis. Menuntut ‘bak iblis yang menyuruh manusia melakukan dosa dengan topeng malaikat yang begitu indah.

“Kumohon jangan pergi.” Kali ini suaranya melunak, tatapannya pun berangsur meredup.

Aku mencoba menata detak jantungku juga nafasku.
“Nat, besok aku ada sidang, aku harus mempersiapkan itu. Jadi aku memang harus pergi.” Kujawab dengan sangat hati-hati dan memilih kata-kata yang pas agar tidak membuatnya marah lagi.

I need you, Una.” Suara Nathan terdengar lirih, penuh harap.

Kutepuk tangannya yang masih mencengkeram lenganku satunya, dengan senyum yang kubuat sehangat mungkin.

“Tapi aku membutuhkanmu, Una…”

Sumpah, aku benar-benar selalu luluh jika Nathan sudah bersuara dan menatap dengan hopeless begitu. Tapi aku harus bagaimana? Giyar membutuhkanku besok, sehingga sekarang aku harus mengumpulkan kekuatan yang bisa membantunya untuk menyelamatkannya. Bahkan Bian juga membutuhkanku untuk secepatnya menyelesaikan urusanku hari ini agar bisa kembali menemaninya di rumah sakit.

Jadi perlahan tapi pasti aku melepas cengkeraman tangan Nathan, meski dengan senyum aku tau aku juga menahan tangis. Aku ternyata tetap tak tega melihat Nathan terluka. Apalagi itu karena aku.

“Maaf, aku pergi dulu,” pamitku dengan suara yang tiba-tiba kurasakan sedikit serak.

Tapi baru selangkah meninggalkannya…

“Kamu sudah berubah, kamu bukan lagi Una-ku yang dulu.” Lirihnya membuatku berusaha keras untuk tetap menahan tangisku agar tidak muncul.

“Semua memang harus berubah pada waktunya, Nat. Kita juga bukan anak kecil lagi.” Lalu aku melangkah, diikutin Farrel. Menuju lift yang kebetulan sudah mencapai lantai 15.

Lift terbuka, aku dan Farrel masuk, dan saat aku harus membalikkan tubuhku aku terpaksa harus melihat sosok dengan wajah menyedihkan dan tatapan yang nanar itu. Akhirnya kubiarkan air mataku keluar setelah pintu lift benar-benar tertutup.

Farrel menepuk bahuku pelan. Lift terus melaju turun dalam kebisuan kami.
Dan aku tetap selalu benci dengan perasaan ini.

***



Nafas lega, senyum lega, dan entah ucapan syukur yang bagaimana saat pintu di hadapanku terbuka dan menemukan seraut wajah tampan itu yang meski masih terlihat lemah tapi juga tersenyum saat melihatku.

Sejam lalu Anton mengabari kalo Bian sudah sadar.

“Yuna…” senyum Bian terasa seperti pelangi dilangit yang baru saja dihajar mendung pekat yang berakhir dengan hujan lebat, angin kencang dan petir menyambar tak karuan.

Aku nyaris berhambur memeluknya andai tak segera ingat dia baru saja tersadar dari masa kritis. Aku kebingungan seperti anak kecil saat melihat balon sabun beterbangan di sekitarnya. Antara membiarkan dan hanya melihatnya atau menyentuhnya dan melihatnya pecah dalam genggamanku.

Anton dan Farrel menahan tawa geli melihat tingkahku.

“Apa kami perlu keluar?” tanya Anton, dibalas dengan kekehan lemah Bian.

Akhirnya kutangkupkan kedua tanganku pada kedua pipinya, dengan hati-hati.
“Syukurlah, aku takut sekali kamu gak sadar-sadar.”

Bian menarikku duduk di dekatnya.
“Akhirnya aku berhasil membuatmu takut kehilanganku.”

Kupicingkan mataku.
Yeaahh… apalah itu my-man.
Sebahagai apapun dirimu mampu melihatku cemas, ketakutan, hopeless tak ketulungan tetap tak bisa menandingi kebahagiaanku saat membuka pintu tadi dan melihatmu setengah bersender di ranjangmu, Fabian Dinendra.

“Sepertinya Yuna belum tau kalo Bian itu bisa sekuat kuda troya di medan perang troya.” Farrel tiba-tiba mulai membuat pipiku memanas.

“Apa lu kata, Rel? Yuna tau betul kalo pacarnya bisa seperti kuda troya beneran makanya selalu menghindar kalo diajak nikah.” Lalu tawa dari mereka menggema.

Jleebb rasanya.
Dan muka ini sepertinya sudah ungu, merah, hitam atau apalah. Yang jelas mereka benar-benar membuatku ingin mencari buku panduan nomor telepon keluaran PT. TELKOM yang paling lengkap se-indonesia dan memukulkan ke kepala mereka satu-satu.
Mereka kumpulan orang-orang berotak encer tapi menjadi akrab dengan mereka semua membuatku teringat karakter tokoh SAMUDRA SINJI YUDANTHA di cerita I Did I Want You yang ditulis sangat apik oleh Bijou Troian di wattpad yang kubaca dengan penuh semangat di waktu luangku. Keren, cerdas, tegas, tapi juga bengal dan tetap normal seperti laki-laki kebanyakan yang otaknya ujung-ujungnya menuju kearah mesum.

Dan aku kemudian tak habis pikir, kalo pada kenyataannya keseharian Bian seperti ini kenapa saat bersamaku dia begitu kuat menahan diri tak ‘memakan’ku padahal kesempatan selalu bisa terbuka dengan sangat lebar sejak kulegalkan akses dia ke rumahku anytime? Oke, diluar dia memang sepertinya hobi banget memelukku sangat erat seakan aku ini mampu disatukan dengan bagian tulang rusuknya ‘bak kembar siam yang gancet, tentunya. Selain itu Bian lebih suka membiarkan tertidur dalam pelukannya tapi terbangun sudah tanpa dia yang beringsut turun selalu tanpa kuketahui.

“Tawa kalian bahkan bisa membangunkan pasien yang sudah di bawa ke kamar mayat dan mau disimpan di lemari pendingin.” Cetusku akhirnya, mencoba mengelabui mereka akan pias pipiku yang pasti sudah menjadi tontonan sekaligus hiburan gratis untuk mereka.
Sial! Umpatku dalam hati.

“Sepertinya sebentar lagi kita harus siap-siap cari baju untuk kondangan, Ton.” Sela Farrel dengan tawa sambil meletakkan berkas-berkas milikku yang dibawanya.

What the hell this?!” geramku benar-benar, kini buku panduan telepon sepertinya harus kuganti pot bunga bougenvil bonsai diluar sana. Pasti itu bisa langsung menghentikan semuanya.
Lalu tawa lain terdengar, tawa Bian, antara memias dan kesal yang kini kurasa. Apalagi kemudian tangan Bian mencubit pipiku dan membiarkannya tetap disitu.

“Udah deh, suka amat ya bikin malu orang.” Protesku mengambil tangan Bian di pipiku dan menggenggamnya lembut.

Tawa tetap terdengar membuatku merutuk lirih meski dengan perasaan yang seringan kapas. Berbeda sekali dengan suasana hatiku sejak seharian ini. Apalagi saat insiden di kantor tadi.

“Apa kami ketinggalan yang menarik?”

Semua mata menoleh ke arah pintu. Sekitar 5-6 orang memasuki kamar, tak banyak yang kukenal. Hanya Ferry yang kemarin mengantarku pulang.

Aku turun dari tepian ranjang yang kududuki. Sepertinya salah satu dari mereka adalah salah satu petinggi. Mungkin Komandan atau apalah.

“Sudah baikan, Bi?” tanyanya menjabat tangan Bian.

“Sudah, Pak, terimakasih sudah menyempatkan datang.” Bian membalas jabatan itu.

Lalu mata berwibawa itu beralih ke arahku.
“Apa ini pengacara Yuna Sadina Latief yang membuat Fabian Dinendra selalu tak berkutik?” Tanya itu diiringi uluran tangan kekar. Aku menyambut malu-malu.

Akhirnya tak hanya aku yang kini menahan pias di pipi. Bian pasti juga menahan pias itu.
Sumpah, aku benar-benar yakin pipiku kini semerah tomat.

Ini apa-apaan sih, bisa-bisanya KaSat cyber reskrim juga tau tentang diriku?
Selamat, Yuna, kamu benar-benar ‘manis’ dimata mereka semua yang memenuhi ruangan ini.

Kulirik ke arah Bian dengan tatapan tajam membunuh. Yang diancam malah meringis.

“Ohya, sepertinya kita perlu bicara sedikit private.” Kata petinggi di satuan cyber itu.

“Oh, baiklah, saya juga ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya akan tunggu di luar.” Tanggapku mengambil map berkasku yang tadi diletakkan Farrel di atas nakas.

Yes! Akhirnya aku bisa kabur dari sarang penyamun yang sepertinya spesialisasi mengubah kulit pipiku menjadi semerah caos tomat. Kutatap Bian dengan anggukan kecil lalu meninggalkan ruangan itu.

Aku cukup menghargai sebuah privasi. Mungkin ada hal-hal di kepolisian yang bahkan tak perlu diketahui sekalipun itu oleh keluarga anggota. Apalagi aku hanya berstatus pacar. Lagipula mengetahui Bian sudah pulih seperti itu sudah bisa membuatku bisa kembali focus mengurusi kasusku yang nyaris berantakan. Aku butuh sedikit me time untuk mengurusi masalahku kasusku sendiri.

***


Kudorong meja makan yang penuh dengan peralatan makan dan sisa-sisanya ke ujung ranjang. Malam ini Bian sudah selesai dengan acara makannya dan tinggal menunggu waktunya minum obat. Masa pemulihan yang dilakukan tubuhnya terbilang sangat cepat. Tulang tengkoraknya retak di beberapa bagian, untung saja tidak ada pendarahan yang serius di otak, apalagi di otak kecil. Juga ada tiga tulang rusuk yang patah. Dan semua itu membuatku nyaris tak punya hati meski berkali-kali ditegaskan Bian bahwa semua akan baik-baik saja, secepatnya.

“Bagaimana dengan makanmu?” tanya Bian saat aku duduk di tepian ranjang tepat di depannya.
Sore tadi semua rekan Bian undur diri. Mungkin malam nanti akan ada beberapa yang kembali ke sini sekedar menemaniku mendampingi Bian.

Aku menunduk menyadari keadaanku. Sejak siang tadi setelah urusanku selesai aku memang langsung ke sini. Jadi baju yang melekat masih baju tadi pagi.

“Nanti Leni dan Rangga mau kesini, sekalian tadi Leni aku minta ambilkan baju. Aku juga sudah minta Rangga membelikanku makan.”

Bian membelai pipiku lembut dengan tatapan yang kadang membuatku jengah saking menyilaukannya tatapan itu.
“Apa aku perlu memberi hadiah sebuah ciuman?” tanyanya membuatku tersenyum.

Dan aku memilih mendahului inisiatifnya. Ketangkupkan kedua tanganku pada kedua pipinya, lalu kucondongkan wajahku, menyisir pipi kirinya dengan bibirku, lalu pipi kanan dan berakhir di keningnya yang sedikit tertutup perban elatis yang menutupi seluruh kepalanya layaknya peci berwarna coklat susu.

“Ini hadiah karena kamu baik-baik saja.” Kataku menatapnya lembut dengan senyum yang kubuat semanis mungkin.

Bian tersenyum nakal, meraih kedua tanganku yang menghangat karena hawa pengap yang tiba-tiba menyeruak tubuhku.

“Jangan macam-macam, kepalamu baru saja dioperasi karena retak, tulang rusukmu juga masih dalam pemulihan akibat patah!” desisku cepat sebelum Bian punya pikiran ingin memelukku seperti biasa.

Bian memang kelewat suka menyatukan tubuhku dengan tubuhnya. Katanya, itu karena aku adalah tulang rusuknya yang hilang jadi wajar kalo dia suka menempatkanku dalam pelukannya. Pengandaian yang terlalu alay dan selalu mambuatku terbahak meski tak pernah mengelak saat dipeluknya seerat yang dia mampu. Karena aku juga menyukainya. Rasanya begitu nyaman berlama-lama dalam pelukan Bian.

Dan laranganku yang sudah bernada hardikan itu membuat bibirnya maju satu centi. Membuatku mau tak mau tertawa lepas.

“Oh, ya, Yun, soal nomor telpon Mamanya Nathan.”
Kalimat datar Bian sukses membuatku menghentikan tawaku seketika.

Nathan?
Seharian ini aku nyaris melupakan manusia super egois tapi manis itu. Kecuali tadi pagi saat insiden di kantor itu. Pergelangan tanganku tak seberapa sakit tapi mengingat itu hatiku kembali menyesak. Dan aku tak pernah suka hatiku nelangsa karena satu manusia itu.

“Lihat, Nat, anak itu lucu kan? Pipinya dekik, seperti ada lubangnya.” Ucapku polos menunjuk seorang anak laki-laki yang lewat di depan kami saat kami asyik menikmati masing-masing satu cup eskrim yang dibelikan Ibu, imbalan untuk kejenuhan kami menunggu Ibu yang masih sibuk dengan seabrek belanjaannya di meja kasir.

Saat itu usiaku 9 tahun dan Nathan baru seminggu lalu masuk SD.

“Apa Una suka?” tanya Nathan disela giginya menggigit sendok eskrim.
Aku mengangguk berkali-kali, “Lucu banget. Coba pipi kamu ada dekiknya kaya gitu, Nat.”

Nathan diam sebentar, seakan meresapi rasa eskrim vanillanya yang bagiku sangat eneg, tapi bagi Nathan sangat lezat dan gurih. Dan aku sendiri mungkin memang sejak lahir menyukai coklat. Bahkan Tuhan juga berbaik hati sekali padaku yang kemudian membalurkan warna coklat pada seluruh tubuhku. Kecuali bagian rambut yang digantinya dengan warna hitam legam. Bahkan mataku pun sampai berwarna coklat keemasan. Hal yang selalu digandrungi Mama Ira, selain dia menyukaiku sebagai seorang wanita kecil yang selama ini dirindukan kedatangannya menyusul Nathan, tapi tak pernah kunjung ada.

“Buatnya gimana ya, Una?” tanya Nathan lagi.

“Apaan?” Aku sedikit bengong tak mengerti.

“Buat dekik itu?”

“Tauk, pake paku mungkin, ditujesin.” Jawabku polos sambil menggedikkan bahu dan kekehan panjang tentunya.

Jawaban anak kecil berusia 9 tahun kepada yang berusia 7 tahun.

Dan tak pernah ada yang menyangka, apalagi aku jika Nathan yang baru seminggu memakai seragam SD, omongan itu dianggapnya sebuah solusi untuk penuntasan rasa penasarannya.

“Ibuuukkkk…. IBUUUUKKKKK!” Aku berteriak sekeras yang kubisa dari dalam rumah pohon di belakang rumah. Kuharap Ibu yang ada sepuluh menit lalu berpamitan akan membuatkan kami sop brokoli campur macaroni dan menggorengkan jamur crispy untuk camilan kami, bisa mendengar lengkingan suaraku dan tak hanya dibalas dengan teriakan yang sama tanpa kedatangan.

“IBUUUKKK, NATHAAAANNNN…..!!!” Aku merasa urat leherku nyaris putus berteriak berkali-kali dari balik pintu bawah rumah pohon ini.

Tapi aku nyaris tak peduli. Yang lebih menyita kepedulianku adalah Nathan yang berguling-guling tak karuan sambil memegangi pipi kirinya yang terus saja mengeluarkan cairan kental berwarna merah yang kata orang-orang dinamai darah.

Tak jauh dari tempatku menangis hebat—tak kalah dengan raungan kesakitan Nathan---tergeletak sebuah paku berukuran tusuk gigi dengan sedikit darah di ujung lancipnya.
Aku tak percaya Nathan mengabulkan inginku yang sembarangan kemarin, kalo saja Nathan punya lesung pipit di pipinya. Aku makin tak percaya kalo jawaban ngawurku tentang cara pembuatannya yang mungkin dengan cara paku yang ditujesin ke pipi, benar-benar dipraktekkan oleh Nathan kecil.

Saat itu dan sampai sekarang yang terfikir olehku, hal itu adalah pemikiran polos anak-anak yang terlalu menyederhanakan segala hal. Dan mungkin dengan sedikit sulapan yang kini biasa disebut operasi plastik, bekas paku itu benar-benar berubah menjadi lesung pipit. Satu hal yang membuat Nathan menjadi sangat manis, dan sempurna.

“Yuna…”

Aku terseret dari ulasan masa laluku. Bian menatapku penuh selidik.

“Kenapa?” tanyaku sedikit merasa bersalah karena tatapan Bian menyemburatkan kecewa.

“Serius itu nomor mamanya Nathan?” tanya Bian lebih seperti ada sesuatu yang sangat menakutkan untuk diiyakan.

“Dia bilang begitu, di ponselnya juga nomor itu. Kenapa?” Aku tiba-tiba juga seperti ikut tergulung ketakutan, yang bahkan tak kutau ketakutan untuk hal apa.

“Pagi itu sebenarnya aku bermaksud menemuimu saat jam makan siangnya, semalaman aku menyelidiki nomor itu, dan___” Bian menggantung pernyataannya ‘bak seorang MC kuis di tivi yang menyisakan hasil pemenang untuk pariwara yang akan lewat memotong acara, menyisakan rasa gemas dan amarah para penontonnya.

“Dan… apa?” Ada yang menggedor-gedor sisi hatiku. Sesuatu yang sempat menggelitikku sejak awal yang kukira hanya rasa kangen dan geram yang melebur jadi satu dan tak bisa terpuaskan karena sambungan telepon yang tak pernah terangkat diujung sana.

Yang ada kurasakan tangan kekar Bian menggenggamku erat dan penuh. Seperti seorang teman yang mencoba menguatkan hati seorang istri yang baru ditinggal mati suami tercintanya, bahwa semua akan baik-baik saja. Kebohongan yang manis.

“Itu memang nomor rumah keluarga Tamam Aryadhani, nomor ponsel juga milik Ira Aryadhani.”
Aku bernafas lega, serasa baru saja dicekik malaikat maut sampai nyawa mau lepas sudah sampai di ujung tenggorokan tapi kemudian malaikat mautnya kasihan melihat mata coklatku lalu melepaskanku tanpa syarat atau bahkan alasan.

“…tapi mereka sudah meninggal dua bulan lalu.”

Jdeeeeeeeeeeeeerrrr…

Aku mendongak kaget, menatap lekat ke mata legam Bian yang memang juga sedang menatapku.

“Sebelumnya mereka dinyatakan hilang selama hampir 2 minggu. Jasad mereka ditemukan di sebuah danau di dalam hutan. Di dalam mobil dengan tangan dan kaki terikat.”

Aku nyaris terhuyung limbung andai tangan lemah Bian tak menopang.

Apa? Mama Ira dan Om Dhani sudah meninggal 2 bulan lalu? Itu bahkan beberapa minggu sebelum Nathan  tiba. Jadi Nathan juga masih mendapatinya. Lalu kenapa Nathan menyembunyikannya? Membiarkanku menelepon nomornya, membiarkanku membangun angan-angan akan bisa menyapa mesra wanita super anggun dan super sabar itu? Why? Why? WHY????

Kupegang erat-erat pinggiran ranjang yang kududuki. Kucoba mengatur ritme jantungku yang sepertinya kalang kabut mengikuti setiap desah nafasku yang memburu seperti baru saja dikejar anjing Herder.

“Don’t go, I need you!”

“Kumohon jangan pergi

“Jangan pergi, aku membutuhkanmu, Una.”

“Tapi aku membutuhkanmu, Una…”

Aku benar-benar nyaris limbung mengingat semua rengekan Nathan tadi pagi. Duniaku berhamburan seperti sebuah cermin yang baru terjatuh dari atas lantai 10 sebuah gedung.

“Selamat malaammm…”

Aku tak cukup merespon suara dari arah pintu. Dua suara. Laki-laki dan perempuan. Pasti itu Rangga dan Leni.

“Ngga, tolong Yuna.” Desis Bian segera.

Kudengar suara derap cepat yang menghampiriku. Ada suara kresek terlempar begitu saja sebelum kurasakan tangan Rangga memapah tubuhku yang mulai meluruh. Aku masih sadar, tapi tulang-tulangku seperti tersihir dan berubah menjadi lembek.

“Apa yang terjadi?” Entah pertanyaan itu Rangga tujukan untukku atau Bian, yang pasti Rangga pelan-pelan menurunkanku yang menggantung di tepi ranjang menuju sofa tak jauh di sisi ranjang. Disenderkan tubuhku yang benar-benar terasa seperti tak bertulang.

“Ngga… ponsel. Hape!” Kataku gelisah seperti baru kembali dari petualangan astralku dari dimensi lain, mencengkeram lengan Rangga yang mungkin kalo hari-hari biasa akan langsung memekik protes nan manja.

Rangga mengambilkan ponselku yang tergeletak di meja makan di ujung ranjang Bian.

“Apa yang terjadi?” Rangga bertanya lagi menatap Bian dan aku bergantian. Bian sama cemasnya dengan aku. Leni menuangkan air putih di gelas lalu duduk di sebelahku yang gemetaran memegang ponselku, mencari nama Nathan.

“Entahlah, kami tadi bicara soal Nathan.” Seepertinya Bian sama tak mengertinya dengan Rangga dan Leni.

“Mau telpon siapa?” tanya Leni menyodorkan ujung gelas ke bibirku.

“Nathan.”

“Percuma.” Ucap Leni dan Rangga hampir bersamaan.

Aku mendongak, pertama menatap Rangga lalu beralih ke Leni. Dahiku mengkerut.

“Kenapa?” Bian yang mewakili tanyaku, seperti tau aku tak cukup sanggup menanyakan pertanyaan itu saking gemetarnya tubuhku yang entah kenapa begitu memikat ketakutan untuk menerjangku tanpa ampun.

“Setelah kamu pergi tadi pagi, Nathan seperti orang kesetanan. Dia masuk ke ruangannya, menghancurkan apapun dihadapannya. Apapun yang melekat di tubuhnya. Bahkan tempered glass juga dihantamnya dengan kursi, untung hanya retak, tak sampai pecah.” Cerita Rangga.

“Dan ponselnya sepertinya juga ikut remuk.”

Kututup mulutku yang mangap total. Air mataku megucur lebih cepat 10 x dari tetes cairan infus Bian. Tangan di mulutku cukup ampuh membuat isakku tak begitu terdengar.

“Don’t go, I need you!”

“Kumohon jangan pergi”

“Jangan pergi, aku membutuhkanmu, Una.”

“Tapi aku membutuhkanmu, Una!”

Rengekan Nathan kembali menyerangku tanpa ampun.
Tuhan, aku menyakiti Nathan. Aku menyakiti anak itu. Dia membutuhkanku. Dia menyembunyikan kesedihan dan rasa kehilangannya. Dia membutuhkanku untuk menghilangkan rasa sakit itu dan aku malah mengacuhkannya begitu kejam?

Tuhan ini lebih menyakitkan saat melihatnya melukai sendiri pipi putih mulusnya hanya untuk membuat dekik pipi yang kubayangkan akan sangat indah saat juga ada di pipinya. Ini lebih menakutkan saat melihatnya berlumuran darah menutup rapat matanya dan diam saja saat aku berteriak memanggil namanya berulang kali saat insiden di depan rumah makan Padang waktu itu.

Entah bagaimana awalnya atau caranya, tiba-tiba aku merasakan tubuh hangat Bian mendekapku. Tangannya yang salah satunya terlilit selang infus mendekapku lembut dan perlahan menyandarkan kepalaku ke dadanya yang begitu tak pantas berbalut seragam pasien rumah sakit bermotif garis-garis layaknya zebra cross kehabisan cat hitam. Lalu sebelah tangannya yang lain membelai pelan kepalaku.

“Nathan, Bi… Nathan…” Hanya itu yang mampu kuucapkan selebihnya lebih suka bersarang di dalam dadaku, berjubel dan membuatku sesak nafas tak tertahankan.

Tak ada sahutan apapun, komentar apalagi ceramah tak penting. Semuanya memilih diam seperti lebih suka menjadi penonton atas tangisanku yang mungkin masih tak jelas kenapa menangisi Nathan.

***


Aku mendesah panjang di depan pintu apartemen Nathan. Antara cemas dan heran kenapa aku malam-malam bisa menyuruh Rangga mengantarku datang kesini. Bukankah sejak awal aku harus menemani Bian yang masih dalam masa pemulihan?

“Dia menyembunyikan kematian orang tuanya mungkin biar kamu gak sedih. Itu berarti dia memang sangat menyayangimu.”

Begitu kata Bian tadi saat aku sudah mulai tenang. Meski pada akhirnya Bian sempat mendapat ceramah dari suster yang datang mengecek rutin keadaannya, karena ulah Bian yang memaksakan diri turun dari tempat tidur, berjalan, bahkan memelukku. Untung Bian memang punya metabolisme yang sangat baik hingga tak begitu menimbulkan masalah serius.

“Kalo kamu mencemaskannya, temui dia. Dia memang membutuhkanmu.” Dan Bian mengatakan itu tanpa ada aura kecemburuan yang tersirat.

Tak cuma aku, pasti Rangga dan Leni juga bingung dengan sikap Bian yang terlalu malaikat. Dan seperti musafir yang memang butuh oase, aku mengiyakan saran Bian. Hingga tanpa ganti baju atau makan aku langsung mengajak Rangga untuk mengantarku kesini. Bahkan tak kupedulikan tatapan protes Rangga. Bukankah Bian saja tak apa-apa dan malah menyarankan?

Aku mengetuk pelan pintu di hadapanku. Sepi tak ada sahutan. Tapi saat hendak ku ketuk lagi, pintu itu perlahan terbuka.

Kucoba untuk tak mengekspresikan kekagetanku saat menemukan wajah kusut seperti orang yang baru kehilangan semua harta bendanya akibat kebakaran yang tak terduga.

“Nat,” Kucoba mengukir lengkungan di bibirku, jika tak sampai menjadikannya seperti senyum paling tidak bisa menunjukkan pada Nathan kalo aku datang dengan menawarkan kebahagiaan.

Nathan menanggapi itu dengan dingin, bahkan meninggalkanku begitu saja, meski dengan pintu dibiarkan terbuka. Aku menarik nafas pendek sebelum akhirnya ikut masuk mengikuti langkahnya.

“Kenapa lampunya gak nyala?” tanyaku bingung dengan keadaan rumah yang gelap gulita.

“Hmm…”

Kuraba dinding di sebelahku, mencari-cari letak saklar lampu yang belum kutau pasti tempatnya. Maklum aku belum hapal betul apartemen Nathan. Kesini juga baru beberapa kali, itupun gak pernah malam jadi gak ada acara nyari-nyari saklar lampu. Tapi akhirnya ketemu juga saklarnya, dan sekali jentikan jari ruangan menjadi benderang.

Yang terlihat pertama Nathan sedang meringkuk di atas sofa.  Sudah seperti anak kecil yang sedang keletihan dan malas melakukan apapun. Aku mendekat.

“Sudah makan?” tanyaku akhirnya, karena sepertinya Nathan memang sedang malas melakukan apapun bahkan untuk mengawali pembicaraan.

“Belum.” Jawabnya tetap tak mengubah posisinya.

Lalu aku sadar bahwa pakaian Nathan masih seperti tadi pagi, hanya tanpa jas hitamnya. Dasinya juga sudah nyaris terlepas. Dan kakinya hanya terbungkus kaos kaki abu-abu.

“Seorang Nathan tidak boleh telat makan.  Kubuatkan makanan, punya apa di kulkas?” tanyaku seraya bangkit, tapi aku kemudian malah memekik pelan saat tangan Nathan menyambarku tanpa mengubah posisi tidurnya dan membuatku terduduk lagi.

“Jangan pergi!” pintanya lirih, perlahan tubuhnya berubah posisi.

Ya Tuhan… aku seperti es krim yang terpapar sinar matahari siang, meleleh, mendapati wajah letih dan mata sayu itu.

“Aku hanya akan membuatkanmu makanan, oke?”

Dan tanpa aku duga, tubuh itu setengah bangkit dan memelukku. Aku terpaku beberapa detik. Sebelum aku makin terhanyut dengan suasana melankolis ini, kuangkat sebelah tanganku dan menepuk punggung kurus itu pelan. Tapi aku bingung harus menggunakan kata-kata seperti apa untuk menghiburnya. Kenyataan ditinggal kedua orang tua yang sangat mencintai dan dicintainya? Itu pasti tak pernah mudah untuk dilalui. Aku bahkan merasa kurang pantas hanya melontarkan kalimat ‘Yang sabar ya!’ atau sejenisnya. Karena itu terlalu kamuflase.

Dan Nathan bukan tipe penyuka hal-hal yang terkesan kamuflase.
Akhirnya kubiarkan Nathan memelukku sesuka dia, sekalipun aku sedikit tak nyaman dengan posisi yang ada.

“Una, jangan pergi! Kalo Una pergi, nanti Nathan sendirian.” Rengek Nathan siang itu saat aku dan Ibu akhirnya harus berpamitan dengan keluarga Aryadhany yang telah kami tinggali selama 2 tahun lebih.

Nathan memegang lenganku erat, bahkan dengan kedua tangannya.

“Nathan gak sendirian kok, kan dirumah masih ada Mama sama Papa. Lagian Ibu dan Yuna kan cuma pindah rumah, nanti pasti masih bisa sering ketemu dan kumpul-kumpul. Iya kan, Yuna?” papar Mama Ira mencoba menenangkan kegalauan hati Nathan.

“Kenapa sih Una harus pergi?!” kesal Nathan dengan tatapan tajam.

“Yuna sekarang punya ayah baru,” jawabku melirik sosok pria disebelah Ibu, yang sebenarnya sudah cukup lama kukenal hanya aku tak menyangka pria itu kemudian harus kupanggil ayah. Tapi aku menyukainya.

“Papa juga bisa jadi ayah Una, iya kan, Pa?”

Dan semua tertawa.


Aku tersenyum mengingat kenangan saat aku dan Ibu berpamitan. Saat itu Nathan juga memelukku sekenanya, dan tak mau melepaskan. Seperti sekarang ini.

“Nat,” panggilku lirih dan lembut, selembut aku membelai rambutnya yang sedikit bergelombang meski tetap lembut terawat.

“Hmm,” sahutannya pun tak kalah lirih.

“Makan yuk, aku juga belum makan, lapar.” Ajakku seadanya  karena aku memang belum sempat makan meski kalo boleh jujur aku tak cukup merasakan lapar. Melihatnya cukup baik-baik saja—diluar keadaannya seperti anak kecil yang pemalas begini—rasa laparku bisa kuacuhkan sejauh yang kumau.

Akhirnya Nathan melerai pelukannya, kembali merebahkan tubuhnya pada sofa. Matanya menatapku lekat.

“Asal bersamamu aku tidak butuh makan.”

Aku tergelak mendengar gombalannya, lalu bangkit dan melangkah meninggalkannya menuju dapur.

“Simpan kalimatmu itu untuk pacarmu nanti!” seruku membuka pintu kulkas.

Aku terpaku sejenak mendapati isi kulkas hanya terdiri dari dua hal; sayuran dan buah.

Nathan memang sudah menjadi vegetarian.

Aku mendesah panjang. Aku bukannya anti vegetarian, tapi aku hanya tak begitu menyukainya. Apalagi kalo hanya harus mengkonsumsinya tanpa campuran daging.

“Kenapa malah bengong di depan kulkas?”

Aku sedikit kaget, menoleh kearahnya yang sudah duduk dengan dagu diletakkan di punggung sofa, seperti menganalisa keadaanku. Aku kembali menatap isi kulkas.

“Bilang saja kamu bingung mau masak apa.”

Aku nyengir sendiri membenarkan. Aku memang bukan tipe wanita pecinta dapur. Sampai sekarangpun aku lebih suka membeli makanan daripada pulang kerja masih harus repot-repot memasak. Bagiku masih banyak hal yang lebih penting kuurusi daripada menghabiskan waktu luangku di dapur. Dan asal tahu saja, kalo Bian menginap justru dia yang lebih banyak mencoba hal-hal baru dengan dapurku. Untung Bian selalu memaklumi pilihanku yang menomor duakan dapur.

“Begitu kok nawarin orang makan, minggir!” katanya sudah ada di belakangku, mengisyaratkanku untuk menyingkir.

“Kamu gak mau buat salad sayur dan buah seperti di restoran itu kan?” tanyaku sedikit cemas.

Nathan menatapku dengan mata berbinar, sangat kontras dengan tatapannya saat membuka pintu tadi.
Dan antara lega juga menyesal mendapati itu. Lega karena Nathan paling tidak sudah tak lagi seperti yang kucemaskan tadi. Menyesal karena kecemasanku saat di rumah sakit tadi malah seperti sesuatu yang menggelikan kalo diingat. Aku bahkan bisa menyisihkan kekalutanku akan kenyataan Mama Ira dan Om Dani sudah meninggal dan membuat sosok di hadapanku kini menjadi sebatang kara.

Benar saja, Nathan mengeluarkan semua sayuran dan buah dari kulkas,
Selamat datang hidup vegetarian!

***


Aku mengernyitkan dahi seiring langkah kakiku berhenti saat langkahku yang mengikuti Nathan menuju mobilnya di gedung parkiran apartemen ini.

“Mobilmu bukannya Mercedes Benz?” tanyaku bingung karena tombol alarm yang baru ditekan Nathan malah terhubung pada sebuah Fortuner hitam yang mengkilap. Kuda besi yang menjadi target impianmu untuk 1-2 tahun ini. Dan Nathan adalah satu-satunya orang yang selalu bisa membuatku ‘bertekuk lutut’ karena selalu bisa membuatku iri karena bisa dengan mudah lebih dulu memamerkan apa yang sudah lama aku impikan.

“Ganti.”

Mataku ganti memicing.

Ganti? Enak benar ngomongnya, ganti mobil ratusan juta sudah kaya ganti baju seratusan ribu?

“Kenapa? Trus yang Mercy?”

Nathan menatapku disela tangannya membuka pintu mobil untukku.

“Aku antar pulang dulu biar kamu bisa ganti baju, karena menyeretmu ke toko baju pun percuma kalo kamu gak mau.” Nathan mengalihkan topic pembicaraan.

Dan aku bisa apa kalo Nathan sudah tak mau membahas sesuatu? Bahkan sekedar mencari celah untuk membicarakan tentang tragedy orang tuanya pun tak pernah bisa kau dapatkan. Nathan seperti benar-benar menutup semua akses masuk ke dalam kesedihan hidupnya untuk siapapun, termasuk aku

Aku mendesah pasrah, lalu masuk ke mobil.

***


Demak, Agst' 2017
Winwin_Windarti