Selasa, 12 September 2017

Tentang Kita & Mereka



Aku diam dengan bibir mencebik menatapmu sedikit jengkel. Dan kamu yang tahu aku sedang kesal malah tersenyum. Seakan-akan kekesalanku ini adalah hiburan tersendiri untukmu yang baru saja datang bahkan masih memakai seragam kerja dengan tulisan besar di bagian punggungnya, “Sahabat Mekanik”.

“Udah, gak usah cemberut gitu. Jelek ah!” katamu dengan mengacak-acak rambut sebahuku yang baru keramas dan belum kering betul. Setelah itu kamu beranjak menuju dapur.

Bagaimana tak kesal coba? Datang-datang langsung mensabotase laptop yang kebetulan tak kumatikan karena pikirku hanya kutinggal memasak nasi sebentar di magig com. Dan parahnya lagi seenaknya men-share ulang sebuah poster event yang kemarin ikut nyelip di dinding kronologi akun facebookku hasil tag seorang teman.

“Apa salahnya sih, Di, kan DL-nya juga masih rada lama. Unik pula temanya, daun dan petrichor.” Serumu dari dapur, sepertinya kamu sedang butuh makan. Sayang, hanya ada lauk yang tadi kubeli saat pulang kerja. Nasinya baru masuk magig com beberapa menit lalu.

“Yang suka begituan kan Abang, bukan aku.” Bibiku masih belum puas menggerucut.

Benar-benar mengesalkan kamu hari ini. Kenapa menyuruhku melakukan hal yang tak kusukai? Kalau aku tertarik dengan poster event cerpen  yang diselenggarakan sebuah penerbit indie itu, aku sudah ikut sejak melihatnya kemarin-kemarin. Tapi ini temanya “Daun dan Petrichor”. Oke kalau daun masih bisa aku tolerir, tapi petrichor? Itu berkaitan erat dengan hujan. Hal yang tidak pernah aku sukai. Dan sepertinya kamu sudah mengetahuinya. Kita kan sudah saling mengenal 2 tahun lebih.

Luis Gani. Itu nama yang kamu sebutkan saat pertama kali kita bertemu dulu. Sosok yang sangat baik, ramah, dan yang pasti sang penolongku yang tak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun. Meski ada kalanya—seperti saat ini—kamu sangat menyebalkan dan ingin sekali kumarahi. Tapi aku tak mau menjadi orang yang tak tahu diri dan tak tahu terimakasih. Rumah yang kutempati dengan nyaman ini adalah rumahmu. Laptop yang selama ini kupakai untuk mengembangkan hobiku hingga bisa menjadi kerja sampingan yang menyenangkan, juga milikmu. Bahkan pekerjaanku yang menjadi pendapatan utama hidupku, meski hanya sebagai seorang cleaning service di tempat kerjamu, juga karena bantuanmu saat mendapatkannya. Jadi, beginilah aku kalau kesal dengan tingkahmu. Kesal sendiri.

“Ya, sekali-kali gantilah genre ceritamu itu. Abang kadang juga ngeri kalo baca naskahmu. Masa cakep-cakep tega bunuh orang tuanya sendiri gara-gara cewek?” Kamu kembali dengan semangkok soto ayam yang rencananya mau kupakai untuk makan malam nanti. Mengomentari salah satu tokoh dalam novel yang sedang kuselesaikan diwaktu luang.

“Ya, namanya juga punya gangguan mental.” Sanggahku mengembalikan layar laptopku ke file Ms. Word yang memang sejak sepulang kerja tadi kugeluti demi meneruskan kisah si tuan muda manis yang terlalu mencintai seorang gadis.

Kamu ikut duduk di sebelahku, “Nah itu, kebanyakan buat tokoh-tokoh dengan gangguan mental jangan-jangan kamu nanti jadi salah satu kaya mereka. Kan nanti Abang jadi gak punya Diandra yang imut.”

Aku melirik judes ke arahmu yang masih saja tak bosan tersenyum. Dan aku diam tak berkutik menyadari senyummu itulah yang selama ini menemaniku saat aku merasa sebatang kara dan tak tahu harus kemana.

“Aku tuh gak bisa buat cerita yang mellow, Bang. Emang bisa tema petrichor dibuat genre psiko? Gak ‘kan?” Aku masih mencoba mengelak menuruti permintaanmu.

Anggap saja aku membenci hujan dan petrichor. Karena jika dua hal itu melintas dalam hidupku, sontak saja membuatmu nelangsa. Dua hal itu yang mengiringiku saat Ayah dan Ibuku direnggut dariku. Usai pemakaman Ayah dulu, hujan awal musim penghujan tiba-tiba turun dan membuat aroma petrichor menyeruak sempurna. Dan itu awal mula aku membenci aroma petrichor yang sebenarnya pernah sangat aku kagumi.

Dan aku kehilangan Ibu juga saat hujan di awal musim penghujan. Hujan yang disertai angin cukup kencang hingga mampu menggugurkan daun-daun pepohonan yang saat itu menjadi tempat Ibu tergeletak tak berdaya akibat tabrak lari. Usiaku saat itu masih terlalu labil untuk memikirkan hal lain selain menangis histeris diantara hujan dan daun-daun yang berjatuhan. Dan sekali lagi, aroma petrichor menyengat mengiringiku mendapat status baru dalam hidupku; sebatang kara.

Jadi, bagaimana bisa kamu menyuruhku membuat sebuah cerita romantis dengan tema daun dan petrichor? Karena semua cerita diantara dua hal itu adalah hal yang menyedihkan.
Kamu mendesah panjang meletakkan mangkok soto ditanganmu. Lalu kedua tanganmu merengkuh pundakku hingga membuatku terpaksa menghadapmu sempurna.

Luis Gani, usia kita terpaut lebih dari 5 tahun tapi mungkin karena status kita yang sama-sama sebatang kara-lah yang membuat kita bisa langsung cocok sejak awal. Kita saling mengisi, saling melengkapi, saling menemani, dan saling menjaga. Aku nyaris tak memikirkan apa arti aku bagimu. Hanya orang yang perlu kamu beri tempat tinggal hingga kamu sendiri rela tinggal di mess pabrik. Hanya  orang yang perlu kamu bantu mendapatkan pekerjaan agar tak terlalu merasa menyusahkanmu terus. Atau memang hanya orang yang perlu kamu kasihani karena terlihat sangat menyedihkan bagi seorang gadis lulusan SMP yang sebatang kara, tak punya tempat tinggal apalagi penghasilan. Yang pasti aku sangat bersyukur Tuhan mempertemukanku denganmu waktu itu. Punya tempat untuk ditinggali, punya pekerjaan dan juga bisa meraih impianku mengikuti KEJAR PAKET C, sebagai pengganti aku tak bisa meneruskan sekolah SMA. Aku mensyukuri tiap hal yang terjadi denganmu.

Dan aku masih ingat betul sore itu di sebuah halte bus saat angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun dari pohon akasia di pinggir jalan dan hujan awal musim yang…

Aku sedikit tersentak. Mataku membulat menatap wajahmu yang masih setia memperhatikanku dengan detail. Seperti ada tali penghubung yang membuatku teringat awal kami bertemu dulu dengan dua hal yang menjadi tema  dari pembicaraan kami sejak tadi. Daun dan petrichor.

“Apa cuma Abang yang masih ingat betul awal kita ketemu dulu? Sore dengan mendung tebal dan gerimis yang makin deras, lalu angin yang mampu membuat daun-daun yang menguning di pohon  sebelah halte berguguran seperti musim gugur di luar negeri? Lalu seiring gerimis yang berubah menjadi hujan membuat aroma petrichor tercium. Kamu udah gak ingat itu, Di?” Kini tanyamu seperti sebuah teguran, tuduhan, atau entahlah… yang pasti aku bisa menangkap semburat kekecewaan dalam suaramu.

Aku menunduk gelisah, merasa bersalah, “Mmm… aku, aku…”

Dan kedua tanganmu yang memegang bahuku menjadi menguat, seperti menyuruhku fokus menatapmu.

“Berhentilah membenci hujan, daun-daun yang berguguran, dan aroma petrichor. Meski Abang tau semua itu mengingatkanmu saat kehilangan kedua orang tuamu. Tapi pasti Tuhan memang sengaja mempertemukan kita dulu dalam suasana yang kamu benci, biar seiring berjalannya waktu kamu bisa mengerti tak semua yang membuatmu bersedih harus selalu kamu benci.”

Aku tertunduk lagi.

“Ya, kecuali kamu menyesal ketemu Abang.” Dan lanjutan kalimatmu disertai pelepasan rengkuhan kedua tanganmu pada pundakku membuatku menatapmu lagi dengan gelengan kepala tanda protes.

Kamu tersenyum, kini sebelah tanganmu terulur ke puncak kepalaku dan menepuk pelan, “Abang menyayangimu, Di. Jadi, sotonya Abang makan ya? Laper.”

Aku mendengus kesal lagi, kamu malah tertawa mengangkat kembali mangkok soto yang tadi sempat kamu taruh.

“Ngomongnya suka gak nyambung.” Aku beringsut menghadap ke arah layar laptop lagi, tapi sayup-sayup kudengar suara gemerisik dedaunan dari pohon kresen di belakang rumah membuatku tercenung beberapa detik.

“Bang…” panggilku makin menajamkan indra pendengaranku.

“Hmm.” Kamu masih sibuk menghabiskan soto dalam mangkok.

Lama-lama aku tak hanya mendengar suara gemerisik daun tapi juga merasakan ada suara tetes-tetes air diatas  genteng.

“Bang, hujan ya? Jemuranku…” Aku bermaksud buru-buru bangkit, tapi karena mungkin terlalu terburu-buru aku malah tersandung kakimu.

Duuukkk.

Aku sedikit memekik saat tubuhku kembali terduduk bahkan nyaris pada posisi tersungkur.

“Di…, hati-hati dong!” Kamu meletakkan mangkok ditanganmu dan beralih membantuku untuk kembali menegakkan tubuhku. Air hujan di luar semkain jelas tertangkap oleh mataku dari balik kaca jendela tak jauh dari tempat kami.

“Jemuranku kehujanan.” Aku bangkit segera dan bergegas menuju arah pintu belakang rumah.

Tapi, sampai di depan pintu penghubung menuju area sepetak belakang rumah yang difungsikan untuk menjemur baju dan sebagian di hiasi berbagai tanaman dan bunga yang sesekali masih kurawat, aku terdiam.

Daun-daun dari pohon kresen yang menguning jatuh satu-satu mengiringi tetesan air langit yang makin deras. Dan perlahan aku bisa mencium aroma petrichor yang selama ini nyaris tak pernah kugubris keberadaannya.

“Momen yang sempurna, ‘kan?” tanyamu tiba-tiba sudah berdiri tepat di belakangku, merengkuh sebelah pundakku lembut.

Tak sadar aku tersenyum sendiri. Ini pertama kalinya aku kembali merasakan rasa yang lain mendapati daun berguguran, hujan dan aroma petrichor secara bersamaan begini. Bukan rasa yang nelangsa apalagi muak. Apa ini karena kamu?

“Tapi jemuranku kehujanan.”

Kamu tergelak merapatkan diri padaku, “Biar saja, nanti aku bantu mencucinya lagi.”

Kini aku yang tergelak.

“Apa kita angkat saja, sambil hujan-hujan?” tawarmu.

Aku berdecak singkat, “Hujan pertama, tak baik untuk kesehatan, bisa jadi termasuk hujan asam.”

“Ck__" Kini kamu gantian berdecak singkat, "__kamu kebanyakan teori, Di, yuk!!”

Aku menjerit saat tanganmu dengan kuat mendorong tubuhku keluar dari pintu. Yang kudengar kamu malah tertawa seperti mengiringi irama tetes air hujan yang makin deras.

“Abaaanggg…!!” decakku kesal.

Dan sebelum kekesalanku meluap seperti air hujan yang makin deras mengguyur, kamu memelukku erat. Seerat aroma petrichor menyeruak indra penciumanku. Memelukku bersama kenangan tentang mereka.




Demak, 06.09.2017
Winwin_Windarti