Rasanya memang tak ingin meninggalkan Bian yang
bahkan belum sadar meski sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Tapi aku punya
kewajiban yang harus aku kerjakan. Kasus Gie bersaudara perlu aku urus. Jadi
pagi ini setelah memberi kecupan selamat pagi pada Bian dan menceramahinya agar
segera membuka mata akupun keluar dari kamar. Diluar Anton tertidur dalam
duduknya. Membuatku tak sadar tersenyum.
Tim kepolisian cyber sepertinya memang sangat solider. Bahkan aku yang sebenarnya bukan tanggungjawab mereka saja juga dijaganya sedemikian rupa.
"Mau pergi?"
Aku menoleh, seorang laki-laki mendekat. Kemarin aku sempat melihatnya dalam rombongan yang datang saat memberitahukan soal hasil CCTV. Tapi aku tak cukup mengurusi siapa namanya.
"Hmm." Aku mengangguk dengan senyum kecil. "Aku punya kasus yang cukup rumit. Besok ada sidang jadi hari ini tugasku cukup banyak."
"Perlu aku antar?" tawarnya.
"Oh, tidak usah... " tolakku segera.
"Gak apa-apa, biar Farrel yang antar kamu, Yun," sahut Anton yang ternyata terbangun dan sedang meregangkan tangannya dengan menautkan keduanya dan mengangkatnya ke atas.
"Beneran gak usah, aku gak mau merepotkan kalian semua."
Kedua laki-laki itu malah tersenyum.
"Gak merepotkan sama sekali, justru kami bangga bisa membantumu. Sudah lama kami penasaran dengan gadis yang selama ini sudah membuat Bian begitu... " Anton seperti kesulitan mencari kata selanjutnya.
"Sempurna." sahut Farrel melengkapi.
Aku tergelak malu.
"Jadi, mari... " Lanjut Farrel mempersilahkanku berjalan lebih dulu.
Kututupi bias merona di pipiku diperlakukan seperti ini. "Oke, oke. " Kucoba menghentikan lebih cepat bias pipiku sebelum berubah makin merah seperti tomat. "Kalo Bian sadar, tolong segera hubungi aku ya!" pintaku pada Anton.
"Siiipp! Pasti!" Anton mengacungkan jari jempolnya.
Akupun melangkah diikuti Farrel.
"Apa mobil yang menabrak Bian sudah ketemu?" tanyaku tetap sambil berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang pagi ini lumayan ramai.
"Masih dalam pencarian. Pelakunya sangat teliti. Dia menutupi plat mobil dengan lakban hitam saat menggunakannya pagi itu, jadi cukup sulit mencari mobil mercy hitam di kota sebesar ini."
"Berarti pelakunya sudah merencanakannya dengan sangat matang."
Farrel mengangguk, "Kalo bukan orang yang jenius tak mungkin memikirkan sampai sedetail itu."
Kami sampai di parkiran, Farrel membukakan pintu mobil Xenia miliknya.
"Kita kemana dulu?" tanyanya seraya
memasang setbelt.
"Kantor. Aku perlu mengambil beberapa berkas sebelum menemui beberapa calon saksi." Aku juga memakai setbelt-ku.
"Finnaly, aku punya kesempatan bertemu si tuan muda yang manis." gumam Farrel menstater mesin mobilnya.
Dan aku tergelak lagi.
Ternyata aku benar-benar telah menjelma menjadi
artis di tim kepolisian cyber. Dan itu berkat pacarku sendiri, Bian. Congrate, Yuna!
***
“Beneran mau ikut masuk? Aku sudah seperti tuan putri yang kemana-mana dikawal bodyguard.” Tanyaku melepas setbelt.
Farrel tertawa, “Beneran, aku penasaran dengan yang namanya Nathan. Kemarin Ferry katanya dianggurin pas ngajak kenalan, kan?”
Gantian aku yang tertawa. “Nathan memang begitu orangnya, kalo tak suka bakalan diacuhkan.”
“Okelah, kalo begitu nanti aku tunggu di depan lift saja, yang penting aku bisa tau tampang si tuan muda yang manis itu.” Putus Farrel membuka pintu, menyusul tindakanku yang sudah lebih dulu membuka pintu.
Aku menahan gelakku karena sudah lebih dulu menangkap sebuah sosok yang sedang menatapku penuh kerutan di dahi. Rangga.
“Aku dengar Bian kecelakaan?” tanyanya melirik sedikit ke arah Farrel dan langsung dihadiahi senyum dari Farrel.
“Hmm,”
“Lalu?”
Aku mendesah disela langkah kakiku memasuki kantor.
“Cuma kecelakaan kan? Maksudnya bukan semacam terror kan?” Naluri kepo Rangga langsung mencuat seiring kami memasuki lift yang cukup penuh orang.
Aku memilih tak menjawab, Farrel sepertinya juga tak mau menyebar rumor yang masih sedang mereka selidiki kebenarannya. Dan sepanjang perjalanan kami memilih diam karena tak mungkin mengobrol dalam lift yang penuh seperti ini. Meski di lantai terakhir hanya tinggal kami bertiga.
“Acaramu hari ini kemana, Yun?” tanya Rangga saat pintu lift terbuka.
“Menemui beberapa orang yang bisa dijadikan saksi.” Jawabku melangkah keluar lift, tapi baru dua langkah aku menyadari sesuatu.
“Kamu beneran mau menunggu disini?” tanyaku pada Farrel yang hanya menjawab dengan senyum lebar. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
“Tunggu saja di kursi tunggu itu, aku perlu menata beberapa berkas soalnya.” Lanjutku menunjuk beberapa kursi yang berjejer di dekat jendela dengan ujung daguku, dan lagi-lagi hanya dijawab dengan senyum meski kali ini ditambahi dengan anggukan.
Aku melangkah lagi bersama Rangga,
“Kenapa kamu sampai dikawal rekannya Bian? Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Bian?”
Mulai deh , interogasi ala Rangga. Aku memilih diam, apalagi mataku lebih terfokus pada ruangan advisor.
Tumben belum datang? Ah, biarlah!
Aku meletakkan tas kerjaku ke meja kubikel dan
bergegas menuju ruang berkas. Ada beberapa berkas yang harus kupelajari. Lalu
kuambil juga berkas-berkas yang masih belum tertata meski sudah terkumpul di
meja. Aku lupa, kemarin sebelum menerima telpon yang mengabarkan Bian
kecelakaan aku bermaksud mensortir beberapa file. Setelah semua kurasa sudah
kusatukan dalam sebuah map, aku langsung bangkit. Waktuku tak cukup banyak
untuk urusan yang sangat melelahkan hari ini. Jadi aku sepertinya harus
bergerak 2 x lebih cepat.
“Ngga, aku pergi dulu ya!” pamitku pada Rangga sambil lalu, tapi masih bisa kulihat Rangga mengangkat salah satu tangannya. Rangga sepertinya juga sibuk.
“Sudah?” tanya Farrel mendekat seiring langkahku yang juga mendekati pintu lift.
“Sudah, yuk!” jawabku merapatkan lagi langkahku persis ke depan pintu lift yang 2 lantai lagi sampai.
“Aku tak melihatnya.”
Kutatap Farrel, dan aku langsung tau siapa yang dimaksud Farrel.
“Oh, dia, sepertinya belum datang.” Kuserahkan
berkas map yang kubawa karena tangan Farrel sudah mengisyaratkan untuk membantu
membawa.
Dan saat pintu lift terbuka, mataku langsung menangkap seraut wajah tampan yang sepertinya juga sedang kaget itu. Ada Riska, Linda, dan Leni dibelakangnya.
Nathan melangkah tepat ke arahku membuatku mau tak mau mundur agar tidak berdiri berhimpitan dengannya.
“Mau kemana?” tanyanya dingin menatapku tajam.
Aku selalu takut dengan tatapan itu.
“Ng… itu, menemui calon saksi. Besok aku ada sidang,
jadi aku harus mempersiapkannya.” Kataku apa adanya, karena memang itu jadwalku
hari ini.
Dan benar saja perhatian Nathan teralih kearah Farrel. Matanya makin tajam yang membuatku makin takut.
“Siapa lagi dia?”
Sungguh, semua pertanyaannya seperti sebuah penegasan kalo aku ini hak miliknya yang tak boleh disentuh siapapun.
“Temannya Bian, dia hanya mengantarku.”
Farrel melangkah maju untuk mencegah pintu lift tertutup.
“Maaf, aku harus pergi.” Kataku mencoba melangkah ke samping tubuh tinggi itu, tapi ternyata Nathan juga mengikuti arah kakiku membuatku mau tak mau menatapnya dengan kerutan di dahi. Farrel di depanku yang masih terus menahan agar pintu lift tidak tertutup sampai tergelak kaget.
“Nat?”
“Jangan pergi!” katanya dingin.
Aku tergelak, “Aku harus pergi, besok aku ada sidang dan aku bahkan belum punya saksi yang bisa kuhadirkan. Kalo sampai…”
“AKU BILANG JANGAN PERGI!!!”
Suara Nathan menggelegar menyita semua perhatian
segala penjuru kantor. Aku mundur
selangkah. Tatapan itu bahkan tak pernah kulihat sebelumnya. Aku seperti
berhadapan dengan Jonathan Aryadhani yang lain.
Dan belum habis keterpanaanku akan kemarahan Nathan yang masih asing bagiku, Nathan mencengkeram lengan kiriku erat-erat dan membawanya dalam langkahnya.
“Nat, aakkhh…” Aku spontan menjerit karena cengkeraman Nathan sudah terlalu menyakitkan, belum lagi aku yang hampir terjatuh karena mengimbangi langkahnya.
“Hei…!!” Farrel berteriak sambil mengejar.
Nathan memutar badannya 90 derajat hingga aku kembali berputar nyaris terjungkal. Entah beruntung atau tidak karena cengkeraman tangan Nathan sudah seperti cengkeraman elang pada mangsanya. Kalo tidak aku pasti sudah terpelanting entah kemana. Kini Nathan dan Farrel berhadapan.
Selamat, Yuna, pagi ini kami menjadi tontonan gratis di kantor ini bersama seorang advisor ganteng dan seorang polisi macho.
“Gak bisa ya, gak kasar sama perempuan?”
“Siapa kamu?”
“Aku hanya orang yang tak suka melihat perempuan dikasari.”
“Dia Una-ku.” Tegas Nathan masih dengan tatapan menusuk.
Farrel tergelak. “Yang kutau dia pacarnya temanku, Fabian.”
Aku masih mencoba melepaskan diri dari cengkeraman itu tanpa harus mempedulikan percakapan mereka apalagi tatapan-tatapan seluruh penghuni kantor ini. Sampai kemudian…
“UNA!!!!” Bentaknya menatapku lekat kini.
Aku sampai tercekat oleh salivaku menemukan mata memerah karena amarah itu. Aku kelu, juga membeku.
“Don’t go, I need you!” desisnya menuntut. Benar-benar ciri khas Jonathan si tuan muda yang manis. Menuntut ‘bak iblis yang menyuruh manusia melakukan dosa dengan topeng malaikat yang begitu indah.
“Kumohon jangan pergi.” Kali ini suaranya melunak, tatapannya pun berangsur meredup.
Aku mencoba menata detak jantungku juga nafasku.
“Nat, besok aku ada sidang, aku harus
mempersiapkan itu. Jadi aku memang harus pergi.” Kujawab dengan sangat
hati-hati dan memilih kata-kata yang pas agar tidak membuatnya marah lagi.
“I need you, Una.” Suara Nathan terdengar lirih, penuh harap.
Kutepuk tangannya yang masih mencengkeram lenganku satunya, dengan senyum yang kubuat sehangat mungkin.
“Tapi aku membutuhkanmu, Una…”
Sumpah, aku benar-benar selalu luluh jika Nathan sudah bersuara dan menatap dengan hopeless begitu. Tapi aku harus bagaimana? Giyar membutuhkanku besok, sehingga sekarang aku harus mengumpulkan kekuatan yang bisa membantunya untuk menyelamatkannya. Bahkan Bian juga membutuhkanku untuk secepatnya menyelesaikan urusanku hari ini agar bisa kembali menemaninya di rumah sakit.
Jadi perlahan tapi pasti aku melepas cengkeraman tangan Nathan, meski dengan senyum aku tau aku juga menahan tangis. Aku ternyata tetap tak tega melihat Nathan terluka. Apalagi itu karena aku.
“Maaf, aku pergi dulu,” pamitku dengan suara yang tiba-tiba kurasakan sedikit serak.
Tapi baru selangkah meninggalkannya…
“Kamu sudah berubah, kamu bukan lagi Una-ku yang dulu.” Lirihnya membuatku berusaha keras untuk tetap menahan tangisku agar tidak muncul.
“Semua memang harus berubah pada waktunya, Nat. Kita juga bukan anak kecil lagi.” Lalu aku melangkah, diikutin Farrel. Menuju lift yang kebetulan sudah mencapai lantai 15.
Lift terbuka, aku dan Farrel masuk, dan saat aku harus membalikkan tubuhku aku terpaksa harus melihat sosok dengan wajah menyedihkan dan tatapan yang nanar itu. Akhirnya kubiarkan air mataku keluar setelah pintu lift benar-benar tertutup.
Farrel menepuk bahuku pelan. Lift terus melaju turun dalam kebisuan kami.
Dan aku tetap selalu benci dengan perasaan ini.
***
Nafas lega, senyum lega, dan entah ucapan syukur yang bagaimana saat pintu di hadapanku terbuka dan menemukan seraut wajah tampan itu yang meski masih terlihat lemah tapi juga tersenyum saat melihatku.
Sejam lalu Anton mengabari kalo Bian sudah sadar.
“Yuna…” senyum Bian terasa seperti pelangi dilangit yang baru saja dihajar mendung pekat yang berakhir dengan hujan lebat, angin kencang dan petir menyambar tak karuan.
Aku nyaris berhambur memeluknya andai tak segera ingat dia baru saja tersadar dari masa kritis. Aku kebingungan seperti anak kecil saat melihat balon sabun beterbangan di sekitarnya. Antara membiarkan dan hanya melihatnya atau menyentuhnya dan melihatnya pecah dalam genggamanku.
Anton dan Farrel menahan tawa geli melihat tingkahku.
“Apa kami perlu keluar?” tanya Anton, dibalas dengan kekehan lemah Bian.
Akhirnya kutangkupkan kedua tanganku pada kedua pipinya, dengan hati-hati.
“Syukurlah, aku takut sekali kamu gak
sadar-sadar.”
Bian menarikku duduk di dekatnya.
“Akhirnya aku berhasil membuatmu takut
kehilanganku.”
Kupicingkan mataku.
Yeaahh… apalah itu my-man.
Sebahagai apapun dirimu mampu melihatku cemas,
ketakutan, hopeless tak ketulungan
tetap tak bisa menandingi kebahagiaanku saat membuka pintu tadi dan melihatmu
setengah bersender di ranjangmu, Fabian Dinendra.
“Sepertinya Yuna belum tau kalo Bian itu bisa sekuat kuda troya di medan perang troya.” Farrel tiba-tiba mulai membuat pipiku memanas.
“Apa lu kata, Rel? Yuna tau betul kalo pacarnya bisa seperti kuda troya beneran makanya selalu menghindar kalo diajak nikah.” Lalu tawa dari mereka menggema.
Jleebb rasanya.
Dan muka ini sepertinya sudah ungu, merah, hitam
atau apalah. Yang jelas mereka benar-benar membuatku ingin mencari buku panduan
nomor telepon keluaran PT. TELKOM yang paling lengkap se-indonesia dan
memukulkan ke kepala mereka satu-satu.
Mereka kumpulan orang-orang berotak encer tapi
menjadi akrab dengan mereka semua membuatku teringat karakter tokoh SAMUDRA
SINJI YUDANTHA di cerita I Did I Want
You yang ditulis sangat apik oleh
Bijou Troian di wattpad yang kubaca dengan penuh semangat di waktu luangku.
Keren, cerdas, tegas, tapi juga bengal dan tetap normal seperti laki-laki
kebanyakan yang otaknya ujung-ujungnya menuju kearah mesum.
Dan aku kemudian tak habis pikir, kalo pada kenyataannya keseharian Bian seperti ini kenapa saat bersamaku dia begitu kuat menahan diri tak ‘memakan’ku padahal kesempatan selalu bisa terbuka dengan sangat lebar sejak kulegalkan akses dia ke rumahku anytime? Oke, diluar dia memang sepertinya hobi banget memelukku sangat erat seakan aku ini mampu disatukan dengan bagian tulang rusuknya ‘bak kembar siam yang gancet, tentunya. Selain itu Bian lebih suka membiarkan tertidur dalam pelukannya tapi terbangun sudah tanpa dia yang beringsut turun selalu tanpa kuketahui.
“Tawa kalian bahkan bisa membangunkan pasien yang sudah di bawa ke kamar mayat dan mau disimpan di lemari pendingin.” Cetusku akhirnya, mencoba mengelabui mereka akan pias pipiku yang pasti sudah menjadi tontonan sekaligus hiburan gratis untuk mereka.
Sial! Umpatku dalam hati.
“Sepertinya sebentar lagi kita harus siap-siap cari baju untuk kondangan, Ton.” Sela Farrel dengan tawa sambil meletakkan berkas-berkas milikku yang dibawanya.
“What the hell this?!” geramku benar-benar, kini buku panduan telepon sepertinya harus kuganti pot bunga bougenvil bonsai diluar sana. Pasti itu bisa langsung menghentikan semuanya.
Lalu tawa lain terdengar, tawa Bian, antara
memias dan kesal yang kini kurasa. Apalagi kemudian tangan Bian mencubit pipiku
dan membiarkannya tetap disitu.
“Udah deh, suka amat ya bikin malu orang.” Protesku mengambil tangan Bian di pipiku dan menggenggamnya lembut.
Tawa tetap terdengar membuatku merutuk lirih meski dengan perasaan yang seringan kapas. Berbeda sekali dengan suasana hatiku sejak seharian ini. Apalagi saat insiden di kantor tadi.
“Apa kami ketinggalan yang menarik?”
Semua mata menoleh ke arah pintu. Sekitar 5-6 orang memasuki kamar, tak banyak yang kukenal. Hanya Ferry yang kemarin mengantarku pulang.
Aku turun dari tepian ranjang yang kududuki. Sepertinya salah satu dari mereka adalah salah satu petinggi. Mungkin Komandan atau apalah.
“Sudah baikan, Bi?” tanyanya menjabat tangan Bian.
“Sudah, Pak, terimakasih sudah menyempatkan datang.” Bian membalas jabatan itu.
Lalu mata berwibawa itu beralih ke arahku.
“Apa ini pengacara Yuna Sadina Latief yang
membuat Fabian Dinendra selalu tak berkutik?” Tanya itu diiringi uluran tangan
kekar. Aku menyambut malu-malu.
Akhirnya tak hanya aku yang kini menahan pias di pipi. Bian pasti juga menahan pias itu.
Sumpah, aku benar-benar yakin pipiku kini semerah
tomat.
Ini apa-apaan sih, bisa-bisanya KaSat cyber reskrim juga tau tentang diriku?
Selamat, Yuna, kamu benar-benar ‘manis’ dimata
mereka semua yang memenuhi ruangan ini.
Kulirik ke arah Bian dengan tatapan tajam membunuh. Yang diancam malah meringis.
“Ohya, sepertinya kita perlu bicara sedikit private.” Kata petinggi di satuan cyber itu.
“Oh, baiklah, saya juga ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya akan tunggu di luar.” Tanggapku mengambil map berkasku yang tadi diletakkan Farrel di atas nakas.
Yes! Akhirnya aku bisa kabur dari sarang penyamun yang sepertinya spesialisasi mengubah kulit pipiku menjadi semerah caos tomat. Kutatap Bian dengan anggukan kecil lalu meninggalkan ruangan itu.
Aku cukup menghargai sebuah privasi. Mungkin ada hal-hal di kepolisian yang bahkan tak perlu diketahui sekalipun itu oleh keluarga anggota. Apalagi aku hanya berstatus pacar. Lagipula mengetahui Bian sudah pulih seperti itu sudah bisa membuatku bisa kembali focus mengurusi kasusku yang nyaris berantakan. Aku butuh sedikit me time untuk mengurusi masalahku kasusku sendiri.
***
Kudorong meja makan yang penuh dengan peralatan makan dan sisa-sisanya ke ujung ranjang. Malam ini Bian sudah selesai dengan acara makannya dan tinggal menunggu waktunya minum obat. Masa pemulihan yang dilakukan tubuhnya terbilang sangat cepat. Tulang tengkoraknya retak di beberapa bagian, untung saja tidak ada pendarahan yang serius di otak, apalagi di otak kecil. Juga ada tiga tulang rusuk yang patah. Dan semua itu membuatku nyaris tak punya hati meski berkali-kali ditegaskan Bian bahwa semua akan baik-baik saja, secepatnya.
“Bagaimana dengan makanmu?” tanya Bian saat aku duduk di tepian ranjang tepat di depannya.
Sore tadi semua rekan Bian undur diri. Mungkin
malam nanti akan ada beberapa yang kembali ke sini sekedar menemaniku
mendampingi Bian.
Aku menunduk menyadari keadaanku. Sejak siang tadi setelah urusanku selesai aku memang langsung ke sini. Jadi baju yang melekat masih baju tadi pagi.
“Nanti Leni dan Rangga mau kesini, sekalian tadi Leni aku minta ambilkan baju. Aku juga sudah minta Rangga membelikanku makan.”
Bian membelai pipiku lembut dengan tatapan yang kadang membuatku jengah saking menyilaukannya tatapan itu.
“Apa aku perlu memberi hadiah sebuah ciuman?”
tanyanya membuatku tersenyum.
Dan aku memilih mendahului inisiatifnya. Ketangkupkan kedua tanganku pada kedua pipinya, lalu kucondongkan wajahku, menyisir pipi kirinya dengan bibirku, lalu pipi kanan dan berakhir di keningnya yang sedikit tertutup perban elatis yang menutupi seluruh kepalanya layaknya peci berwarna coklat susu.
“Ini hadiah karena kamu baik-baik saja.” Kataku menatapnya lembut dengan senyum yang kubuat semanis mungkin.
Bian tersenyum nakal, meraih kedua tanganku yang menghangat karena hawa pengap yang tiba-tiba menyeruak tubuhku.
“Jangan macam-macam, kepalamu baru saja dioperasi karena retak, tulang rusukmu juga masih dalam pemulihan akibat patah!” desisku cepat sebelum Bian punya pikiran ingin memelukku seperti biasa.
Bian memang kelewat suka menyatukan tubuhku dengan tubuhnya. Katanya, itu karena aku adalah tulang rusuknya yang hilang jadi wajar kalo dia suka menempatkanku dalam pelukannya. Pengandaian yang terlalu alay dan selalu mambuatku terbahak meski tak pernah mengelak saat dipeluknya seerat yang dia mampu. Karena aku juga menyukainya. Rasanya begitu nyaman berlama-lama dalam pelukan Bian.
Dan laranganku yang sudah bernada hardikan itu membuat bibirnya maju satu centi. Membuatku mau tak mau tertawa lepas.
“Oh, ya, Yun, soal nomor telpon Mamanya Nathan.”
Kalimat datar Bian sukses membuatku menghentikan
tawaku seketika.
Nathan?
Seharian ini aku nyaris melupakan manusia super
egois tapi manis itu. Kecuali tadi pagi saat insiden di kantor itu. Pergelangan
tanganku tak seberapa sakit tapi mengingat itu hatiku kembali menyesak. Dan aku
tak pernah suka hatiku nelangsa karena satu manusia itu.
“Lihat, Nat, anak itu lucu kan? Pipinya dekik, seperti ada lubangnya.” Ucapku polos menunjuk seorang anak laki-laki yang lewat di depan kami saat kami asyik menikmati masing-masing satu cup eskrim yang dibelikan Ibu, imbalan untuk kejenuhan kami menunggu Ibu yang masih sibuk dengan seabrek belanjaannya di meja kasir.
Saat itu usiaku 9 tahun dan Nathan baru seminggu lalu masuk SD.
“Apa Una suka?” tanya Nathan disela giginya menggigit sendok eskrim.
Aku
mengangguk berkali-kali, “Lucu
banget. Coba pipi kamu ada dekiknya kaya gitu, Nat.”
Nathan diam sebentar, seakan meresapi rasa eskrim vanillanya yang bagiku sangat eneg, tapi bagi Nathan sangat lezat dan gurih. Dan aku sendiri mungkin memang sejak lahir menyukai coklat. Bahkan Tuhan juga berbaik hati sekali padaku yang kemudian membalurkan warna coklat pada seluruh tubuhku. Kecuali bagian rambut yang digantinya dengan warna hitam legam. Bahkan mataku pun sampai berwarna coklat keemasan. Hal yang selalu digandrungi Mama Ira, selain dia menyukaiku sebagai seorang wanita kecil yang selama ini dirindukan kedatangannya menyusul Nathan, tapi tak pernah kunjung ada.
“Buatnya gimana ya, Una?” tanya Nathan lagi.
“Apaan?” Aku sedikit bengong tak mengerti.
“Buat dekik itu?”
“Tauk, pake paku mungkin, ditujesin.” Jawabku polos sambil menggedikkan bahu dan kekehan panjang tentunya.
Jawaban anak kecil berusia 9 tahun kepada yang berusia 7 tahun.
Dan tak pernah ada yang menyangka, apalagi aku jika Nathan yang baru seminggu memakai seragam SD, omongan itu dianggapnya sebuah solusi untuk penuntasan rasa penasarannya.
“Ibuuukkkk…. IBUUUUKKKKK!” Aku berteriak sekeras yang kubisa dari dalam rumah pohon di belakang rumah. Kuharap Ibu yang ada sepuluh menit lalu berpamitan akan membuatkan kami sop brokoli campur macaroni dan menggorengkan jamur crispy untuk camilan kami, bisa mendengar lengkingan suaraku dan tak hanya dibalas dengan teriakan yang sama tanpa kedatangan.
“IBUUUKKK, NATHAAAANNNN…..!!!” Aku merasa urat leherku nyaris putus berteriak berkali-kali dari balik pintu bawah rumah pohon ini.
Tapi aku nyaris tak peduli. Yang lebih menyita kepedulianku adalah Nathan yang berguling-guling tak karuan sambil memegangi pipi kirinya yang terus saja mengeluarkan cairan kental berwarna merah yang kata orang-orang dinamai darah.
Tak jauh dari tempatku menangis hebat—tak kalah dengan raungan kesakitan Nathan---tergeletak sebuah paku berukuran tusuk gigi dengan sedikit darah di ujung lancipnya.
Aku tak
percaya Nathan mengabulkan inginku yang sembarangan kemarin, kalo saja Nathan
punya lesung pipit di pipinya. Aku makin tak percaya kalo jawaban ngawurku
tentang cara pembuatannya yang mungkin dengan cara paku yang ditujesin ke pipi,
benar-benar dipraktekkan oleh Nathan kecil.
Saat itu dan sampai sekarang yang terfikir olehku, hal itu adalah pemikiran polos anak-anak yang terlalu menyederhanakan segala hal. Dan mungkin dengan sedikit sulapan yang kini biasa disebut operasi plastik, bekas paku itu benar-benar berubah menjadi lesung pipit. Satu hal yang membuat Nathan menjadi sangat manis, dan sempurna.
“Yuna…”
Aku terseret dari ulasan masa laluku. Bian menatapku penuh selidik.
“Kenapa?” tanyaku sedikit merasa bersalah karena tatapan Bian menyemburatkan kecewa.
“Serius itu nomor mamanya Nathan?” tanya Bian lebih seperti ada sesuatu yang sangat menakutkan untuk diiyakan.
“Dia bilang begitu, di ponselnya juga nomor itu. Kenapa?” Aku tiba-tiba juga seperti ikut tergulung ketakutan, yang bahkan tak kutau ketakutan untuk hal apa.
“Pagi itu sebenarnya aku bermaksud menemuimu saat jam makan siangnya, semalaman aku menyelidiki nomor itu, dan___” Bian menggantung pernyataannya ‘bak seorang MC kuis di tivi yang menyisakan hasil pemenang untuk pariwara yang akan lewat memotong acara, menyisakan rasa gemas dan amarah para penontonnya.
“Dan… apa?” Ada yang menggedor-gedor sisi hatiku. Sesuatu yang sempat menggelitikku sejak awal yang kukira hanya rasa kangen dan geram yang melebur jadi satu dan tak bisa terpuaskan karena sambungan telepon yang tak pernah terangkat diujung sana.
Yang ada kurasakan tangan kekar Bian menggenggamku erat dan penuh. Seperti seorang teman yang mencoba menguatkan hati seorang istri yang baru ditinggal mati suami tercintanya, bahwa semua akan baik-baik saja. Kebohongan yang manis.
“Itu memang nomor rumah keluarga Tamam Aryadhani, nomor ponsel juga milik Ira Aryadhani.”
Aku bernafas lega, serasa baru saja dicekik
malaikat maut sampai nyawa mau lepas sudah sampai di ujung tenggorokan tapi
kemudian malaikat mautnya kasihan melihat mata coklatku lalu melepaskanku tanpa
syarat atau bahkan alasan.
“…tapi mereka sudah meninggal dua bulan lalu.”
Jdeeeeeeeeeeeeerrrr…
Aku mendongak kaget, menatap lekat ke mata legam Bian yang memang juga sedang menatapku.
“Sebelumnya mereka dinyatakan hilang selama hampir 2 minggu. Jasad mereka ditemukan di sebuah danau di dalam hutan. Di dalam mobil dengan tangan dan kaki terikat.”
Aku nyaris terhuyung limbung andai tangan lemah Bian tak menopang.
Apa? Mama Ira dan Om Dhani sudah meninggal 2 bulan lalu? Itu bahkan beberapa minggu sebelum Nathan tiba. Jadi Nathan juga masih mendapatinya. Lalu kenapa Nathan menyembunyikannya? Membiarkanku menelepon nomornya, membiarkanku membangun angan-angan akan bisa menyapa mesra wanita super anggun dan super sabar itu? Why? Why? WHY????
Kupegang erat-erat pinggiran ranjang yang kududuki. Kucoba mengatur ritme jantungku yang sepertinya kalang kabut mengikuti setiap desah nafasku yang memburu seperti baru saja dikejar anjing Herder.
“Don’t go, I need you!”
“Kumohon jangan pergi
“Jangan pergi, aku membutuhkanmu, Una.”
“Tapi aku membutuhkanmu, Una…”
Aku benar-benar nyaris limbung mengingat semua rengekan Nathan tadi pagi. Duniaku berhamburan seperti sebuah cermin yang baru terjatuh dari atas lantai 10 sebuah gedung.
“Selamat malaammm…”
Aku tak cukup merespon suara dari arah pintu. Dua suara. Laki-laki dan perempuan. Pasti itu Rangga dan Leni.
“Ngga, tolong Yuna.” Desis Bian segera.
Kudengar suara derap cepat yang menghampiriku. Ada suara kresek terlempar begitu saja sebelum kurasakan tangan Rangga memapah tubuhku yang mulai meluruh. Aku masih sadar, tapi tulang-tulangku seperti tersihir dan berubah menjadi lembek.
“Apa yang terjadi?” Entah pertanyaan itu Rangga tujukan untukku atau Bian, yang pasti Rangga pelan-pelan menurunkanku yang menggantung di tepi ranjang menuju sofa tak jauh di sisi ranjang. Disenderkan tubuhku yang benar-benar terasa seperti tak bertulang.
“Ngga… ponsel. Hape!” Kataku gelisah seperti baru kembali dari petualangan astralku dari dimensi lain, mencengkeram lengan Rangga yang mungkin kalo hari-hari biasa akan langsung memekik protes nan manja.
Rangga mengambilkan ponselku yang tergeletak di meja makan di ujung ranjang Bian.
“Apa yang terjadi?” Rangga bertanya lagi menatap Bian dan aku bergantian. Bian sama cemasnya dengan aku. Leni menuangkan air putih di gelas lalu duduk di sebelahku yang gemetaran memegang ponselku, mencari nama Nathan.
“Entahlah, kami tadi bicara soal Nathan.” Seepertinya Bian sama tak mengertinya dengan Rangga dan Leni.
“Mau telpon siapa?” tanya Leni menyodorkan ujung gelas ke bibirku.
“Nathan.”
“Percuma.” Ucap Leni dan Rangga hampir bersamaan.
Aku mendongak, pertama menatap Rangga lalu beralih ke Leni. Dahiku mengkerut.
“Kenapa?” Bian yang mewakili tanyaku, seperti tau aku tak cukup sanggup menanyakan pertanyaan itu saking gemetarnya tubuhku yang entah kenapa begitu memikat ketakutan untuk menerjangku tanpa ampun.
“Setelah kamu pergi tadi pagi, Nathan seperti orang kesetanan. Dia masuk ke ruangannya, menghancurkan apapun dihadapannya. Apapun yang melekat di tubuhnya. Bahkan tempered glass juga dihantamnya dengan kursi, untung hanya retak, tak sampai pecah.” Cerita Rangga.
“Dan ponselnya sepertinya juga ikut remuk.”
Kututup mulutku yang mangap total. Air mataku megucur lebih cepat 10 x dari tetes cairan infus Bian. Tangan di mulutku cukup ampuh membuat isakku tak begitu terdengar.
“Don’t go, I need you!”
“Kumohon jangan pergi”
“Jangan pergi, aku membutuhkanmu, Una.”
“Tapi aku membutuhkanmu, Una!”
Rengekan Nathan kembali menyerangku tanpa ampun.
Tuhan, aku menyakiti Nathan. Aku menyakiti anak
itu. Dia membutuhkanku. Dia menyembunyikan kesedihan dan rasa kehilangannya.
Dia membutuhkanku untuk menghilangkan rasa sakit itu dan aku malah
mengacuhkannya begitu kejam?
Tuhan ini lebih menyakitkan saat melihatnya melukai sendiri pipi putih mulusnya hanya untuk membuat dekik pipi yang kubayangkan akan sangat indah saat juga ada di pipinya. Ini lebih menakutkan saat melihatnya berlumuran darah menutup rapat matanya dan diam saja saat aku berteriak memanggil namanya berulang kali saat insiden di depan rumah makan Padang waktu itu.
Entah bagaimana awalnya atau caranya, tiba-tiba aku merasakan tubuh hangat Bian mendekapku. Tangannya yang salah satunya terlilit selang infus mendekapku lembut dan perlahan menyandarkan kepalaku ke dadanya yang begitu tak pantas berbalut seragam pasien rumah sakit bermotif garis-garis layaknya zebra cross kehabisan cat hitam. Lalu sebelah tangannya yang lain membelai pelan kepalaku.
“Nathan, Bi… Nathan…” Hanya itu yang mampu kuucapkan selebihnya lebih suka bersarang di dalam dadaku, berjubel dan membuatku sesak nafas tak tertahankan.
Tak ada sahutan apapun, komentar apalagi ceramah tak penting. Semuanya memilih diam seperti lebih suka menjadi penonton atas tangisanku yang mungkin masih tak jelas kenapa menangisi Nathan.
***
Aku mendesah panjang di depan pintu apartemen Nathan. Antara cemas dan heran kenapa aku malam-malam bisa menyuruh Rangga mengantarku datang kesini. Bukankah sejak awal aku harus menemani Bian yang masih dalam masa pemulihan?
“Dia menyembunyikan kematian orang tuanya mungkin biar kamu gak sedih. Itu berarti dia memang sangat menyayangimu.”
Begitu kata Bian tadi saat aku sudah mulai tenang. Meski pada akhirnya Bian sempat mendapat ceramah dari suster yang datang mengecek rutin keadaannya, karena ulah Bian yang memaksakan diri turun dari tempat tidur, berjalan, bahkan memelukku. Untung Bian memang punya metabolisme yang sangat baik hingga tak begitu menimbulkan masalah serius.
“Kalo kamu mencemaskannya, temui dia. Dia memang membutuhkanmu.” Dan Bian mengatakan itu tanpa ada aura kecemburuan yang tersirat.
Tak cuma aku, pasti Rangga dan Leni juga bingung dengan sikap Bian yang terlalu malaikat. Dan seperti musafir yang memang butuh oase, aku mengiyakan saran Bian. Hingga tanpa ganti baju atau makan aku langsung mengajak Rangga untuk mengantarku kesini. Bahkan tak kupedulikan tatapan protes Rangga. Bukankah Bian saja tak apa-apa dan malah menyarankan?
Aku mengetuk pelan pintu di hadapanku. Sepi tak ada sahutan. Tapi saat hendak ku ketuk lagi, pintu itu perlahan terbuka.
Kucoba untuk tak mengekspresikan kekagetanku saat menemukan wajah kusut seperti orang yang baru kehilangan semua harta bendanya akibat kebakaran yang tak terduga.
“Nat,” Kucoba mengukir lengkungan di bibirku, jika tak sampai menjadikannya seperti senyum paling tidak bisa menunjukkan pada Nathan kalo aku datang dengan menawarkan kebahagiaan.
Nathan menanggapi itu dengan dingin, bahkan meninggalkanku begitu saja, meski dengan pintu dibiarkan terbuka. Aku menarik nafas pendek sebelum akhirnya ikut masuk mengikuti langkahnya.
“Kenapa lampunya gak nyala?” tanyaku bingung dengan keadaan rumah yang gelap gulita.
“Hmm…”
Kuraba dinding di sebelahku, mencari-cari letak saklar lampu yang belum kutau pasti tempatnya. Maklum aku belum hapal betul apartemen Nathan. Kesini juga baru beberapa kali, itupun gak pernah malam jadi gak ada acara nyari-nyari saklar lampu. Tapi akhirnya ketemu juga saklarnya, dan sekali jentikan jari ruangan menjadi benderang.
Yang terlihat pertama Nathan sedang meringkuk di atas sofa. Sudah seperti anak kecil yang sedang keletihan dan malas melakukan apapun. Aku mendekat.
“Sudah makan?” tanyaku akhirnya, karena sepertinya Nathan memang sedang malas melakukan apapun bahkan untuk mengawali pembicaraan.
“Belum.” Jawabnya tetap tak mengubah posisinya.
Lalu aku sadar bahwa pakaian Nathan masih seperti tadi pagi, hanya tanpa jas hitamnya. Dasinya juga sudah nyaris terlepas. Dan kakinya hanya terbungkus kaos kaki abu-abu.
“Seorang Nathan tidak boleh telat makan. Kubuatkan makanan, punya apa di kulkas?” tanyaku seraya bangkit, tapi aku kemudian malah memekik pelan saat tangan Nathan menyambarku tanpa mengubah posisi tidurnya dan membuatku terduduk lagi.
“Jangan pergi!” pintanya lirih, perlahan tubuhnya berubah posisi.
Ya Tuhan… aku seperti es krim yang terpapar sinar matahari siang, meleleh, mendapati wajah letih dan mata sayu itu.
“Aku hanya akan membuatkanmu makanan, oke?”
Dan tanpa aku duga, tubuh itu setengah bangkit dan memelukku. Aku terpaku beberapa detik. Sebelum aku makin terhanyut dengan suasana melankolis ini, kuangkat sebelah tanganku dan menepuk punggung kurus itu pelan. Tapi aku bingung harus menggunakan kata-kata seperti apa untuk menghiburnya. Kenyataan ditinggal kedua orang tua yang sangat mencintai dan dicintainya? Itu pasti tak pernah mudah untuk dilalui. Aku bahkan merasa kurang pantas hanya melontarkan kalimat ‘Yang sabar ya!’ atau sejenisnya. Karena itu terlalu kamuflase.
Dan Nathan bukan tipe penyuka hal-hal yang terkesan kamuflase.
Akhirnya kubiarkan Nathan memelukku sesuka dia,
sekalipun aku sedikit tak nyaman dengan posisi yang ada.
“Una, jangan pergi! Kalo Una pergi, nanti Nathan sendirian.” Rengek Nathan siang itu saat aku dan Ibu akhirnya harus berpamitan dengan keluarga Aryadhany yang telah kami tinggali selama 2 tahun lebih.
Nathan memegang lenganku erat, bahkan dengan kedua tangannya.
“Nathan gak sendirian kok, kan dirumah masih ada Mama sama Papa. Lagian Ibu dan Yuna kan cuma pindah rumah, nanti pasti masih bisa sering ketemu dan kumpul-kumpul. Iya kan, Yuna?” papar Mama Ira mencoba menenangkan kegalauan hati Nathan.
“Kenapa sih Una harus pergi?!” kesal Nathan dengan tatapan tajam.
“Yuna sekarang punya ayah baru,” jawabku melirik sosok pria disebelah Ibu, yang sebenarnya sudah cukup lama kukenal hanya aku tak menyangka pria itu kemudian harus kupanggil ayah. Tapi aku menyukainya.
“Papa juga bisa jadi ayah Una, iya kan, Pa?”
Dan semua tertawa.
Aku tersenyum mengingat kenangan saat aku dan Ibu berpamitan. Saat itu Nathan juga memelukku sekenanya, dan tak mau melepaskan. Seperti sekarang ini.
“Nat,” panggilku lirih dan lembut, selembut aku membelai rambutnya yang sedikit bergelombang meski tetap lembut terawat.
“Hmm,” sahutannya pun tak kalah lirih.
“Makan yuk, aku juga belum makan, lapar.” Ajakku seadanya karena aku memang belum sempat makan meski kalo boleh jujur aku tak cukup merasakan lapar. Melihatnya cukup baik-baik saja—diluar keadaannya seperti anak kecil yang pemalas begini—rasa laparku bisa kuacuhkan sejauh yang kumau.
Akhirnya Nathan melerai pelukannya, kembali merebahkan tubuhnya pada sofa. Matanya menatapku lekat.
“Asal bersamamu aku tidak butuh makan.”
Aku tergelak mendengar gombalannya, lalu bangkit dan melangkah meninggalkannya menuju dapur.
“Simpan kalimatmu itu untuk pacarmu nanti!” seruku membuka pintu kulkas.
Aku terpaku sejenak mendapati isi kulkas hanya terdiri dari dua hal; sayuran dan buah.
Nathan memang sudah menjadi vegetarian.
Aku mendesah panjang. Aku bukannya anti vegetarian, tapi aku hanya tak begitu menyukainya. Apalagi kalo hanya harus mengkonsumsinya tanpa campuran daging.
“Kenapa malah bengong di depan kulkas?”
Aku sedikit kaget, menoleh kearahnya yang sudah duduk dengan dagu diletakkan di punggung sofa, seperti menganalisa keadaanku. Aku kembali menatap isi kulkas.
“Bilang saja kamu bingung mau masak apa.”
Aku nyengir sendiri membenarkan. Aku memang bukan tipe wanita pecinta dapur. Sampai sekarangpun aku lebih suka membeli makanan daripada pulang kerja masih harus repot-repot memasak. Bagiku masih banyak hal yang lebih penting kuurusi daripada menghabiskan waktu luangku di dapur. Dan asal tahu saja, kalo Bian menginap justru dia yang lebih banyak mencoba hal-hal baru dengan dapurku. Untung Bian selalu memaklumi pilihanku yang menomor duakan dapur.
“Begitu kok nawarin orang makan, minggir!” katanya sudah ada di belakangku, mengisyaratkanku untuk menyingkir.
“Kamu gak mau buat salad sayur dan buah seperti di restoran itu kan?” tanyaku sedikit cemas.
Nathan menatapku dengan mata berbinar, sangat kontras dengan tatapannya saat membuka pintu tadi.
Dan antara lega juga menyesal mendapati itu. Lega karena Nathan paling tidak sudah tak lagi seperti yang kucemaskan tadi. Menyesal karena kecemasanku saat di rumah sakit tadi malah seperti sesuatu yang menggelikan kalo diingat. Aku bahkan bisa menyisihkan kekalutanku akan kenyataan Mama Ira dan Om Dani sudah meninggal dan membuat sosok di hadapanku kini menjadi sebatang kara.
Benar saja, Nathan mengeluarkan semua sayuran dan buah dari kulkas,
Selamat datang hidup vegetarian!
***
Aku mengernyitkan dahi seiring langkah kakiku
berhenti saat langkahku yang mengikuti Nathan menuju mobilnya di gedung
parkiran apartemen ini.
“Mobilmu bukannya Mercedes Benz?” tanyaku bingung karena tombol alarm yang baru ditekan Nathan malah terhubung pada sebuah Fortuner hitam yang mengkilap. Kuda besi yang menjadi target impianmu untuk 1-2 tahun ini. Dan Nathan adalah satu-satunya orang yang selalu bisa membuatku ‘bertekuk lutut’ karena selalu bisa membuatku iri karena bisa dengan mudah lebih dulu memamerkan apa yang sudah lama aku impikan.
“Ganti.”
Mataku ganti memicing.
Ganti? Enak benar ngomongnya, ganti mobil ratusan juta sudah kaya ganti baju seratusan ribu?
“Kenapa? Trus yang Mercy?”
Nathan menatapku disela tangannya membuka pintu mobil untukku.
“Aku antar pulang dulu biar kamu bisa ganti baju, karena menyeretmu ke toko baju pun percuma kalo kamu gak mau.” Nathan mengalihkan topic pembicaraan.
Dan aku bisa apa kalo Nathan sudah tak mau membahas sesuatu? Bahkan sekedar mencari celah untuk membicarakan tentang tragedy orang tuanya pun tak pernah bisa kau dapatkan. Nathan seperti benar-benar menutup semua akses masuk ke dalam kesedihan hidupnya untuk siapapun, termasuk aku
Aku mendesah pasrah, lalu masuk ke mobil.
***
Demak, Agst' 2017
Winwin_Windarti

