Rabu, 30 November 2016

Let Me Know






Kuhempaskan tubuhku ke atas sofa yang sudah tak nyaman lagi. Benar, tak nyaman lagi. Karena baru saja pantat menempel sofa sudah terasa ada yang mengganjal. Saat kuperiksa, tanganku mendapati buku bacaan milik Namjoon hyung. Belum lagi di sandaran sofa tersampir baju dan jaket, entah punya siapa.

Sejak keputusan Bujangnim 2 minggu lalu bahwa dorm sementara waktu tidak akan ada orang asing, dorm berubah menjadi seperti toko usai dijarah orang-orang anarkis. Semua tidak pada tempatnya, semua merasa paling lelah dan tak sanggup memberesi barang-barangnya. Termasuk aku.
Jangan tanya lelahnya kami usai latihan. Belum lagi syuting film pendek, konser promo album, juga acara TV dan radio yang wajib kami hadiri. Semua menguras tenaga.


Bujangnim, kapan pengurus rumah tangganya datang?!” teriak Suga Hyung bernada memprotes dari ujung anak tangga sana. Lalu disusul gerutuannya yang sepertinya sedang mencari barangnya yang hilang, atau mungkin cuma terselip entah dimana.

Sejak kejadian 2 minggu lalu, saat pengurus rumah tangga dorm ketahuan men-stalker rencana besar BigHit tentang album terbaru kami, Bujangnim langsung ambil keputusan memvakumkan dorm dari orang-orang asing. Apapun alasannya. Bahkan sampai pacar Namjoon hyung dilarang kesini. Atau anggota keluarga yang sesekali memang mampir kesini menjenguk kami pun tidak diperbolehkan. Dorm mendadak seperti tempat isolasi seluruh personil BTS. Dan yang terparah adalah kesemrawutan kondisi  didalam dorm ini. Baju-baju berserakan seperti distrik cutting pabrik konveksi. Potongan-potongan baju bisa dijumpai disemua sudut ruangan.

“Berhitunglah sampai 100,” jawab Bujangnim sedikit terkekeh.

Yak, apa aku seperti anak SMA yang gagal ujian matematika?” sungut Suga tersinggung.

“Bukan, kau hanya dapat nilai sangat buruk di ujian etika berbahasa,” sahut JHope seenaknya berjalan kearah dapur melewati Suga yang makin bersungut. Apalagi disusul tawa para hyung lainnya yang tersebar di seluruh sudut ruangan; Namjoon duduk berselonjor di sofa dekat jendela; Jin yang sibuk entah mengeksekusi apa di balik meja pantry sana; V yang asyik dengan ponselnya; dan sebentar lagi JHope yang bakal merusuh kesibukan Jin di dapur. Aku sebagai maknae hanya menikmati kekonyolan itu dengan sedikit senyum disini.

Tunggu, dimana Jimin-ah?

Bujangnim, ada yang mencari.”

Semua mata langsung menatap kearah Jimin yang baru memasuki ruangan. Aku menelengkan kepalaku sedikit. Ada seseorang dibelakang Jimin. Dahiku mengkerut. Jimin dengan siapa? Kalimat itu yang kemudian seperti tornado menggulung-gulung otakku. Tapi sebelum semua melumatkan akal warasku, Bujangnim angkat suara.

“Oh, annyeong, Ahjuma…” seru Bujangnim mendekati Jimin dengan langkah lebar.

Ahjuma?

Aku yakin tak hanya aku yang bingung dengan yang sedang terjadi. Seorang Ahjuma yang sebenarnya belum terlalu pantas dipanggil Ahjuma memperlihatkan dirinya. Jimin sendiri beringsut pergi menuju kearahku. Lalu ikut menghempaskan tubuhnya di sampingku.

“Siapa, Hyung?” tanyaku langsung.

Jimin hanya mengangkat bahu. “Dia datang membawa surat maklumat dari sebuah agen ketenagakerjaan yang ditanda tangani Bujangnim.”

“Apa dia Ahjuma itu?” tanyaku lagi, tapi kali ini sedikit mengambang.

Ahjuma yang baru saja bersalaman sekaligus membungkuk dihadapan Bujangnim itu  memang belum begitu pantas dipanggil Ahjuma. Dialeknya pun terdengar sedikit aneh.

“Semuanya,…” Bujangnim membalikkan tubuhnya menghadap kearah kami, “Perkenalkan ini Nita, pengurus dorm yang baru. Dia tenaga kerja dari Indonesia, jadi maklumi kalo kurang bisa bahasa kita. Tapi dia sangat paham bahasa Inggris, jadi kalo dia tidak paham dengan bahasa kita, pakailah bahasa Inggris, arrasseo?!” lanjut Bujangnim memberi penjelasan.

Semua bersorak gembira. Di pikiran kami pasti semua sama, akhirnya berakhir juga masa kelam dorm yang berantakan. Tak akan ada lagi kegiatan ekstrakulikuler dengan mesin cuci, setrika atau di dapur yang hanya untuk membuat secangkir kopi atau memanggang sekeping roti.

Satu persatu dari kami mendekat. Jimin lebih dulu bangkit dan menarik lenganku. Membawaku setengah memaksa untuk ikut mendekat.

Dia memang belum pantas dipanggil Ahjuma. Harusnya diapnggil Nunna saja. Paling umurnya belum ada 30 tahun. Owh, jadi seperti ini tampang eksotik orang Indonesia yang terkenal itu? Kulitnya cukup gelap meski tak segelap kulit orang-orang Indian sana. Tapi jika dibandingkan dengan kami memang seperti 1:7. Cukup kontras.

Namjoon hyung yang memang paling fasih berbahasa Inggris langsung angkat bicara seperti petugas interview. Dan memang Ahjuma ini sudah sefasih Namjoon hingga melihat mereka melakukan sesi tanya jawab seperti menonton film holllywood.

Hyung, emang bahasanya negara Indonesia itu bahasa Inggris ya?” tanyaku berbisik di telinga Jimin, sambil tak lepas mengamati gesture bibir Ahjuma itu yang sesekali melebar membuat senyuman. Senyum yang manis tak kalah dengan senyumnya Suga. Sikap yang menunjukkan dia ramah.

“Tidak, cuma disana bahasa Inggris sudah menjadi bahasa pokok yang harus dipelajari apalagi jika prospek kerja yang dituju luar negeri.”

Pikirku, wah, hebat bener. Untuk menjadi tenaga kerja yang disini hanya sebagai pengurus rumah tangga harus bisa menguasai bahasa internasional? Ckckck.

“Anggap saja itu keuntungan kita, punya pengurus dorm dengan bonus guru bahasa Inggris,” sela Suga terkekeh.

Aku cuma nyengir mendengar selengek’an Suga yang emang menjadi ciri khasnya. Bukankah Namjoon juga guru bahasa Inggris yang kompeten? Untuk apa ambil resiko belajar dengan orang yang saat kita bicara bahasa ibu dia bisa saja salah mengerti karena kurang menguasai pemahaman bahasa kita?

Ah, apapun itulah, bagiku yang penting aku tak perlu kerja laundry saat badan sudah letih. Dan ada banyak makanan yang bisa kumakan setiap saat. Terlebih saat bangun pagi.

“Ucapkan selamat tinggal untuk kkimbab-mu dipagi hari, Kukki-ya,” Tiba-tiba Jin sudah merangkulku dan mengacak-acak rambutku.

“Dan yang terpenting, jangan menggigitku lagi kalo lapar, karena sekarang pasti akan selalu ada makanan.” imbuh Jimin seperti menyinggungku.

Dan saat aku nyengir menanggapi kasih sayang para hyungku ini, kulihat sorot mata penuh kilauan yang hangat dari sepasang mata legam itu. Alisnya cukup tebal untuk ukuran perempuan, dan masih asli. Hal yang sudah langka ditemui di negara ini. Kecuali pada anak-anak dibawah 10 tahun.

Aku sedikit bisa menangkap perbincangan antara Bujangnim, Namjoon hyung dan Ahjuma baru itu. Tentang aturan dan apa saja yang harus dikerjakannya. Dan singkat kata. Dalam sekejap seluruh ruangan ini kembali ke bentuk yang seharusnya. Aku bisa kembali duduk dengan nyaman di sofa.




“Tinggali aku makanan di kulkas sebelum pulang.” Kataku dengan bahasa Inggris. Aku tak begitu mahir bahasa Inggris jadi tadi aku ‘menata’nya dengan bantuan kamus.

Ne. Ada gyeram jjim juga dakjjim, tinggal panasi sebentar di microwave. Ada pudding juga. Buah juga sudah diiris. Semua ada di kulkas.”

Sial, aku sudah susah payah pakai bahasa Inggris, kenapa dia malah menjawab dengan bahasa Korea yang megap-megap?

“Maafkan Kkuki, dia memang terkenal pencari makanan disini. Maklum, masih dalam masa pertumbuhan.” Jin hyung tiba-tiba sudah menjulang di ujung pantry sana menyesap sedikit lemon tea dalam cangkirnya.

Aku melotot kearah Hyung tertua kami itu. Tapi yang kulihat Ahjuma didepanku itu malah mengulum senyum. Seakan benar-benar paham yang tadi Jin hyung katakan. Atau mungkin memang sebenarnya dia paham betul dengan bahasa korea.

Gwaenchanha, kalo di daerah saya di Indonesia kami menyebutnya nyemego,” katanya lebih dari kata berbahasa korea

“Nye… apa?” Jin mendekat dengan pertanyaan semi penasaran campur heran dengan penggunakan istilah yang masih asing itu.

Nyemego, dari bahasa daerah saya tinggal. Semacam… mudah lapar.”

Aku melongo. Tak hanya karena penjelasannya tapi karena penggunaan kalimatnya yang pas dan sesuai dengan EYD bahasa korea. Tawa Jin menghentikan semua ekspresiku.

Ini Ahjuma apa cuma pura-pura bilang gak begitu menguasai bahasa Korea? Buktinya baru saja dia bisa ngomong dengan lancar beberapa kalimat?

Dahiku mengerut samar. Jangan-jangan Bujangnim tertipu lagi seperti yang sudah-sudah. Sebelum kejadian pengurus dorm yang men-stalker rencana kegiatan kami itu, sebenarnya sudah ada kejadian yang tak kalah membuat kami ambil ‘kuda-kuda’. Seorang Ahjuma berumur 40an. Tak satupun dari kami yang punya pikiran ada bahaya mengancam saat Bujangnim menerima Cv  pengurus dorm kala itu. Sampai seminggu kemudian kami menyadari bahwa Ahjuma itu punya anak gadis, dan dia seorang fans yang sudah mendekati obsesif. Tak bisa dibayangkan apa aja yang akan terjadi andai hal itu tak segera diketahui.

Bukannya negative thinking dengan Ahjuma ini, hanya saja aku cukup punya kekhawatiran yang kata orang-orang biasa disebut intuisi.

“Sudah jam 9 malam, kalo begitu saya pamit pulang dulu,” katanya, kali ini memakai bahasa Inggris.

Jin yang sudah ada disampingku merangkul pundakku mengangguk dengan senyum kecil dan cangkir yang diangkatnya sedikit.

“Yak, kau tak punya sesuatu untuk diucapkan pada Ahjuma sebelum dia pulang?” tanya Jin padaku meski matanya tak lepas memperhatikan Ahjuma yang melepas celemek dan melipatnya lalu memasukkan ke dalam salah satu laci di pantry.

Aku menatap Jin tak mengerti.

Aisshh… jinjja, Ahjuma sudah menyiapkanmu makanan tengah malam, dan kau tak punya satu kalimatpun untuk diucapkan sebelum dia pulang?” Lanjutan suara Jin bernada tak percaya.

Aku menatap Ahjuma yang sudah siap-siap menenteng tasnya yang lebih mirip tas tempat keperluan bayi.

Khamsahamnida, Ahjuma.” Kataku setengah hati. Entah karena apa.

Dan Ahjuma menanggapi dnegan senyum tipis, lalu ditundukkan kepalanya.

Annyeonghi kaseyo…” lanjutku seiring Ahjuma melangkah menuju pintu keluar.
Tapi aku masih bingung kenapa Jin menatapku seakan aku ini membuat kesalahan bessr yang seharusnya harus segera mengejar .

Wae guerae?”

Jin menggeleng pelan, “Sepertinya kau juga perlu ikut ujian etika berbahasa, seperti Suga. ”

Aku tak paham dengan ucapan Jin hyung. Apalagi saat dia menepuk bahuku dan beringsut pergi.

Chukhae, Khukhi.” Sebelum tubuhnya berbalik

Mwo?
Chukhae?
Selamat untuk apa?
Kenapa dengan keadaan ini? Apa yang salah? Apa salahku?



Iseng-iseng aja buat fanfict BTS, saking terpesonanya sama the golden maknae Jeon Jungkook. Tapi gak tau kenapa malah jadinya si ‘aku’ Jungkook sendiri. Whatever lah, penting jadi, hehehe…
Judul sengaja aku ambil dari judul-judul lagu mereka. Let Me Know sendiri aku ambil dari album kedua mereka Dark & Wild
Ditunggu aja part selanjutnya, ok? Tto manayo


BYL, 28 Nov’ 2016



Note:
Hyung = panggilan kakak laki-laki(> laki-laki)
Bujangnim = manajer
Annyeong = sapaan hallo, apa khabar
Ahjuma = panggilan kepada wanita yang sudah berumur (=tante)
Arrasseo = mengerti, paham
Nunna = panggilan kakak perempuan(> laki-laki)
Kkimbab = nasi gulung
Gyerram jjim = telur kukus ala korea
Dakjjim = ayam sayur korea
Gwaenchanha = tidak apa-apa, tak masalah
Aish jinjja = Benar-benar… (bernada jengkel)
Khamsahamnida = terimakasih (formal)
Annyeonghi kaseyo = selamat jalan
Wae geurae = kenapa ?
Chukhae = selamat
Mwo = ada apa?