Selasa, 18 Oktober 2016
Someone Like Him
Bekerja adalah salah satu sarana pelarian yang paling sempurna. Paling tidak menurutku. Sudah pasti akan mengurangi beban masalah, dan tentunya dapat uang juga. Dan itulah pilihan yang kupilih selama bertahun-tahun. Bekerja menjadi tempat pelarian teraman selama ini.
Dan saat dia yang punya nama yang sama seperti dia-yang-namanya-tak-ingin-kusebut itu datang melintasi hari-hariku tanpa mampu ketolak, beban itu kian berat. Rasa membuncah yang tak kutau apa namanya itu kian menyiksa relung-relung hatiku.
Aku ingin membencinya. Dan andai dengan hanya membencinya bisa mengurangi rasa membuncah itu, aku pasti akan lebih senang.
Tapi ternyata semua tak semudah itu. Semakin aku mencoba membenci dia. Aku semakin merasakan rasa yang membuncah itu melilitku setiap kali bertemu.
Aku mendesah panjang, lagi berat. Suasana lenggang dan lapang area parkir kampus siang ini tak membuat rasa sesak yang menyerangku sejak beberapa menit lalu, berkurang.
Mata legam 'bak mata elang itu menatapku intens.Seakan ingin mencabik-cabik keangkuhanku.
"Aku benci namamu. Aku benci nama Ari!" Sungutku dengan nada yang lebih tinggi. Sekedar ingin menunjukkan bahwa aku benar-benar marah.
Tapi siapa yang mau kubohongi kalo hatiku sendiri menyangkalnya?
Dia kelihatan kaget. Tapi kemudian tegelak.
Tuhan, kenapa Kau mesti ciptakan makhluk seperti ini? Kalo pun Engkau memang harus menciptakannya, harusnya Engkau tak perlu mempertemukannya denganku. Apa penderitaanku akan sosok yang serupa dengannya masih kurang membuatMU puas? Kenapa harus ada dia juga?
"Jadi selama ini kau selalu cetus padaku hanya karena namaku Ari?"
Ya, dia tak percaya. Dan memang seperti itu seharusnya reaksi yang normal ditunjukkan.
Mana ada orang dibenci hanya karena namanya, apalagi hanya karena namanya sama dengan nama orang yang dibencinya. Yang bahkan tak punya hubungan apapun.
Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan. Sikap arogan, sok bossy, dan kharismatik-nya membuatku selalu teringat dia-yang-namanya-tak-ingin-kusebut. Dan itulah yang selalu membuatku tersiksa saat harus melihatnya.
"Apa itu tidak kekanak-kanakan? Di dunia ini banyak sekali orang yang bernama Ari?"
Aku melengos.
Aku nyaris tak sanggup menahan rasa membuncah yang semakin membuatku frustasi ini. Apa kebencian ini tak cukup kuat? Lalu apa aku harus membunuhnya? Memutilasinya biar rasa membuncah ini mereda dan tak menyengsarakanku lagi?
"Bahkan tak sedikit artis yang punya nama Ari. Ari Lasso, Ari Untung, Ari Wibowo. Nah... iya kan?" Nada suaranya masih sebuah protesan atas alasanku selalu bersikap grumpy padanya.
Tuhan, bisakah aku minta sedikit break seperti pada pertandingan basket yang sering dimaninkan Kris? Aku benar-benar tak sanggup menanggapi rasa yang makin melilitku ini.
"Apa tidak ada alasan yang lebih rasional? Sejak dulu kalo dengan aku selalu begitu. Apa aku beda jauh dengan Kris, Dito, atau Marvel yang biasa bercanda denganmu? Hah?"
Masih kudengar protesannya diantara langkah kakiku meninggalkannya. Aku tak yakin sanggup menahan tangan atau kakiku untuk tidak mencederainya jika tak segera meninggalkan tempatku.
Oh, oke, lagi-lagi aku memang jadi sosok pengecut. Yang bisanya hanya melarikan diri.
Apa aku memang perlu harus memberinya alasan yang lebih rasional?
"Siapa suruh kau punya nama seperti ayahku?"
Deg!
Jangankan dia. Aku pun tak percaya bisa mengatakan itu?
Ayah?
Oh, rasanya... sakit!
Ya, sangat sakit. Hanya untuk mengucapkan satu kata itu.
Dan untuk mengurangi rasa sakit itu, lagi-lagi pelarianku hanya pada tempat bekerja. Rasa lelah cukup ampuh mengikis rasa sakit itu.
Tapi, sayangnya aku dan dia masih dalam satu lingkup langit yang sama. Lebih spesifiknya, satu kampus. Jadi aku tak cukup berkuasa menjauh darinya lebih lama dari yang bisa kuusahakan.
Siapa suruh satu kampus?
Pernah sisi hatiku memojokkanku begitu. Tapi, lagi-lagi aku hanya bisa protes pada Tuhan. Karena UMPTN yang kuikuti ternyata hanya memberiku pilihan kampus ini. Kampus yang sama dengannya.
"Kau sudah sarapan?" tanyaku pada Kris.
Hari ini aku datang bersama Kris. Bukan aku yang mengatur, tapi mereka sendiri.
Ya, dalam segala kesengsaraan yang nyaris merajai lembar hidupku, paling tidak aku masih bisa bersyukur punya tiga sahabat yang amat sangat sayang padaku. Oke, kadang mereka lebih mengarah pada sikap terlalu mengkhawatirkanku. Mereka menganggapku seperti gelembung sabun yang harus dijaga agar tidak pecah.
Hari ini Marvel harus ke Rumah sakit tempat tujuan magangnya nanti. Jauh lebih pagi dari jam masuk kampus, dan Dito tidak ada kuliah pagi dan masih sibuk menyelesaikan essai-nya minggu ini. Jadi Kris-lah yang bertanggungjawab membawaku ke kampus.
"Sudah." jawabku menggamit lengan cowok seksi macam artis-artis korea itu. Andai aku tak mengenalnya sejak seragam kami masih putih-biru, aku pasti sudah jatuh cinta dengan Kris. Dan anehnya, Kris tak pernah menjaga jarak denganku meski tau masih banyak cewek-cewek seksi nan cantik yang ingin menggamit lengannya. Berani taruhan, mereka bahkan rela melakukan apapun agar punya kesempatan duduk di jok belakang motor ninja Kris seperti aku. Jadi wajar, banyak mata cewek-cewek itu menatapku sinis saat melihatku menempel pada Kris.
"Sarapan energen, maksudnya?" sinis Kris mengajakku duduk di bangku dekat penjual siomay.
Aku cuma nyengir.
Mau gimana lagi? Itu solusi paling mudah, dan juga murah. Itu lebih baik daripada Ibu yang hanya sarapan segelas teh manis dan dua keping biskuit.
"Kenapa gak sekalian ntar siang minum okky jelly drink, trus malemnya promag? Makin irit kan?"
Aku tergelak.
Meski dalam hati meringis malu.
Haruskah aku sebegini irit?
Sesak dadaku.
"Bang, siomay, dua!" Lantang suara Kris memesan siomay pada penjualnya.
"Satu aja, bang!" ralatku langsung membuat mata Kris mendelik.
"Sepiring berdua, biar lebih romantis," bisikku sedikit menggoda.
Kris langsung tau maksudku, matanya mengekor ke arah tangga masuk kampus. Rombongan adik kelas para fans Kris di lapangan basket yang tergabung dalam cheerleaders kampus baru saja menaiki anak tangga. Kris menatapku dengan wajah sedikit merengut. Aku tergelak senang.
Ya, beginilah salah satu cara aku mencari oksigen kebahagiaan. Bersama mereka, orang-orang yang menyayangi dan kusayangi.
Dan tanpa sadar sekilas aku melihatnya disana. Dia. Berdiri diujung balkon gedung kampus searah dengan tempatku saat ini. Itu cukup ampuh membuatku kembali merasakan rasa yang membuncah menyesakkan dadaku.
Tuhan, apa salahnya hingga aku harus selalu membencinya? Apa memang begini aturan dariMU?
Byl, 18/10/2016
Mau niru Stephenie Meyer, buat cerita yang sudah ada dengan versi lain. Tapi sampai segini otak udah mandeg. Oke, kapan-kapan dilanjut, hehehe
Minggu, 09 Oktober 2016
Chagiya...[Ending?]
Yudok jitge baen neoui hyanggie
bari mukkin nan nae kkumui noye gata
gaseum sok han pyeon bulkkoccgateun gieok yeongicheoreom sarajyeo....
(Hurt, EXO)
Seperti yang sudah kuduga, aku tak bisa hidup seperti sebelum bertemu Gendhis. Sebelah hatiku ada yang hancur berantakan tak bisa direnovasi model apapun.
Berserakan di segala sisi.
Tak terselamatkan.
Perpisahan yang tak direncana dan tak pernah kuduga-meski hanya dalam angan terburukku-itu benar-benar menjadi luka menyayat paling perih dari yang kukira. Ini benar-benar membuatku seperti mematahkan sebelah sayapku ketika aku yakin aku bisa terbang melebihi burung-burung di atas sana.
Gendhis, dia hanya gadis biasa dari negeri bernama Indonesia yang jaraknya 5280 kilometer, atau mungkin malah lebih. Menurut In Sung-Hyung, Indonesia itu sangat menawan, terlebih di kota Bali tempat dia dulu pernah syuting drama di sana tahun 2004. Dan gadis-gadisnya begitu mempesona. Untuk bagian ini aku mengakuinya sendiri. Karena bagiku, Gendhis memang jauh lebih mempesona dari yeoja manapun yang selama ini kutemui.
Ahh... Gendhis lagi.
Setiap kali aku mengingat yeoja berkulit gelap eksotik dengan mata legamnya, hatiku merebak nelangsa. Kesakitan tak berujung itu kian mencekik urat leherku. Aku nyaris seperti robot. Melakukan apa yang jadi kewajiban, selebihnya hanya diam membisu dengan tatapan kosong disudut ruangan tanpa teman..
Untung kegiatanku terbilang sangat padat usai kepergiannya yang seperti meninggalkan gempa berkekuatan 8 skala richter. Aku harus menuntaskan peranku di drama It's Okay That's Love bersama In Sung-hyung. Belum lagi konser-konser EXO yang begitu menguras tenaga. Semua malah seperti pelarian bagiku. Bisa dibilang aku malah terlalu bersemangat dengan semua yang kulakukan. Hanya satu tujuanku, semoga itu bisa 'membunuh' bayang-bayang Gendhis yang masih melekat di otakku.
Ya, 'membunuhnya' meski aku tau dia akan tumbuh lagi beberapa saat kemudian. Tapi paling tidak, ada kata 'mati' tersemat di bayang-bayangnya. Dan aku juga tau meski itu cuma beberapa saat.
"Indonesia? Kita juga konser ke Indonesia? Di kota mana?" tanyaku serius, mengguncang kedua bahu Kai.
"Kamu kenapa, Dio? Aneh, tau. Interest banget dengar kata Indonesia." desis Kai mengerutkan dahinya.
Aku sedikit gelagapan sambil melepas cengkeraman tanganku di bahunya.
"Mmmm... soalnya itu, In Sung-hyung sering cerita padaku soal indahnya Indonesia. Dan itu waktu tahun 2004, bayangkan saja sekarang kaya apa." dalihku , berharap Kai atau siapapun mempercayainya.
"Aha?!" delik Kai mengangkat sebelah alisnya, air mukanya menunjukkan dia tak percaya. Ya, aku bisa baca itu.
Tapi aku bisa apa? Aku tak bisa memberitahu siapapun akan alasan yang sebenarnya. Aku tak mungkin cerita di negara itu ada yeoja manis bernama Gendhis yang sangat ingin kutemui. Yang sangat kurindui beberapa bulan ini.
Lagipula, jika akhirnya aku ke Indonesia, kecil kemungkinan bahkan mustahil mengharap bertemu Gendhis. Itu sama seperti mencari jarum ditumpukan jerami.
Ingatkan aku bahwa ini bukan sebuah drama yang keajaiban bisa terjadi di tempat-tempat tak terduga, di saat-saat jiwa raga ingin menyerah, atau hanya di akhir cerita. Aku bahkan tak tau kisah ini berakhir atau belum. Ingatkan aku bahwa ini benar-benar elegi yang melilitku sendiri. Tak mampu atau-mungkin- tak mau kulepas.
Aku benar-benar telah berubah menjadi orang yang malas,Sangat malas. Malas melupakannya. Malas mencoba mengakhirinya dengan memulai yang baru. Malas melarangnya saat datang seperti badai tornado. Meski kadang aku punya keinginan kuat membunuhnya. Tapi tetap saja aku malas berjuang keluar dari lingakaran hitam ini.
Intinya, aku tetap kacau.
Dan setelah tahun berganti, semua tetap tak ada yang berubah.
Aku tetap merindukan Gendhis. Tetap berharap ada keajaiban memercik di elegi ini. Tetap berharap Gendhis kembali.
"Kalian, ingatkan aku untuk menjadi orang pertama menghasut kalian untuk tidak mendukung Dio main drama bergenre aneh!" Ultimatum Kai di ruang bersantai kami langsung menjadi pusat perhatian.
Aku hanya menatap sebentar saat kurendahkan majalah yang kubaca. Setelah itu kuposisikan ke tempat semula. Sekaligus mengabaikan tatapan mata yang lain.
Aku benar-benar tak peduli.
Dalam kurun waktu setahun sejak kepergian Gendhis, aku sudah resmi berubah menjadi orang yang lebih menyebalkan dengan ke-diam-anku.
"Waegeura?" tanya Sehun tak sabar menahan penasarannya atas sikap Kai padaku.
"Masih tanya kenapa?"
Kai mendesis seperti menahan giginya agar tidak diremukkannya sendiri.
"Kalian tak lihat dia?" Kini Kai menujuk ke arahku. Yang sudah
jelas-masih- tak kupedulikan.
"Waktu main di It's Okay
That's Love, dia jadi seperti sosok halusinasi yang sering menghilang.
Muncul tiba-tiba, tapi lebih seringnya menghilang entah kemana, Seperti
tertelan ke dimensi lain."
Itu karena aku menemui
Gendhis di apartemen yang jauh dari perkiraan kalian semua. Tempat yang
ya..., seperti di dimensi yang lain.
"Dan sekarang, waktu dia
main di drama Hello Monster sebagai Lee Joon Young, dia juga sudah
seperti monster." Kali ini nada bicara Kai sudah mirip sebuah pengaduan
seorang costumer pada costumer service akan produk abal-abal yang sudah
dibelinya.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan, Kai?" sahut Chanyeoul yang sibuk mengelap, lebih tepatnya mengelus-elus, gitar kesayangannya.
"Ani, kalian
tidak tau saja karena bukan teman sekamarnya. Lha, aku? Kalian gak akan
mengalami gimana cemasnya aku tiap malam. Membayangkan tiba-tiba saat
aku sudah terlelap dia menggorok leherku seperti cara psikopat yang dia
perankan?" Dan ungkapan kekhawatiran Kai malah berbuah tawa membahana di
ruangan ini. Membuat wajah tampan itu merengut kesal. Mata bulan
sabitnya tinggal segaris kecil. Nyaris tak terlihat terbuka.
Akhirnya kutatap Kai dengan mata penuh, lagi lama.
"Omo, lihat itu, dia bahkan bisa mengatakan hal seperti itu tanpa ekspresi!" Itu yang masih sempat kudengar keluar dari bibir Kai, sebelum aku menghilang dibalik pintu.
Andai.
Ya, andai aku bisa menjadi psikopat seperti yang disangkakan Kai. Aku pasti sangat bersyukur. Tokoh Lee Joon Young yang kuperankan-meski hanya pada saat usia muda-sangat membuatku seperti mendapat air dalam dahagaku yang teramat sangat. Seperti sebuah takdir, peran itu benar-benar membuatku mampu menjadi diriku yang kumau. Paling tidak untuk saat ini. Saat aku benar-benar meratapi kehancuranku akan kepergian Gendhis yang sudah tidak baru lagi.
Dan kurasa hanya Kai yang sedikit mencium kejanggalan itu.
Mungkin karena dia teman sekamarku di dorm.
Atau mungkin hanya karena dia tak nyaman dengan sikap-makin-tak-peduliku-dengan-sekitar.
Yang pasti, aku tetap sendirian menikmati pahit getir kesedihan tak berujung ini.
Gendhis sudah seperti sosok Han Kangwoo yang tak akan pernah jadi nyata tapi begitu sempurna menggerogoti kesadaranku. Tapi dilain waktu dia juga seperti Lee Hyun kecil yang lewat kegelisahan ayahnya yang tak sengaja terbaca olehku, membuat aku jatuh cinta dengan rasa penasaranku yang membuncah minta dipuaskan. Dan semakin ke depan, ternyata tidak ada ujung kepuasan itu. Lee Hyun dan Gendhis sama-sama membuatku terpuruk makin dalam seiring berjalannya waktu. Dan sekali lagi, ini seperti takdir. Gendhis seperti Han Kangwoo saat bersamaku dulu. Dan setelah pergi, dia seperti Lee Hyun yang membuatku selalu terobsesi.
Dan itu sama-sama menyakitkan.
BYL, 09/10/2016
Ini semua hasil belajarku cara membuat diksi yang panjang dari baca novelnya Stepheni Meyer MIDNIGHT SUN. Dan aku cukup puas, hehehe
How about you, readers?
Langganan:
Komentar (Atom)
