Jumat, 29 Januari 2016
Nama : Ari [Extended]
Desah nafas satu-satu mengiringi mataku yang berkeliaran seantereo ruang lobby hotel ini. Tapi sekalipun kumaksimalkan urat kornea mataku untuk menyorot semua sisi lobby tetap tak kutemukan sosok yang kumaksud; Airin.
Sedikit gemetar tanganku kembali menyentuh tombol hijau pada nomor yang sejak tadi terpampang di layar ponselku. Setelah terhubung tetap tak ada tanda-tanda pengangkatan. Bahkan sampai dering terakhir. Dan itu entah usaha yang keberapa kalinya.
Jangan pernah tinggalkan dia demi orang lain.
Ucapan yang lebih seperti mandat yang diberikan Marvel padaku waktu itu seperti meraung-raung meminta pertanggungjawaban. Memacu detak jantungku jauh lebih cepat hingga membuatku makin sesak nafas.
Harusnya tadi tak kupercayai omongan papa yang mengajakku menemui kliennya dari China. Harusnya tak kupercayakan Airin tadi bersama sepupu-sepupuku yang memang terlahir dengan darah tiran. Harusnya tadi sore kuturuti saja Airin yang menolak ikut. Harusnya tadi pagi tak kuiyakan undangan papa untuk acara konspirasi berkedok amal ini. Harusnya... Harusnya... Harusnya... Ya, hanya itu yang berputar-putar diotakku.
Aku berlari keluar hotel dan mendadak langkahku terhenti. Mataku tertuju pada sesorang yang duduk menekuk lututnya. Wajahnya tertunduk dalam-dalam.
Dan ada yang menghujam hatiku sampai tembus ke sisi sebelahnya. Benar-benar sakit.
Gemetar aku mendekati sosok terpekur itu. Airin.
Mungkin mendengar suara langkah sepatuku, kemudian Airin mendongak perlahan. Dan entah kenapa, langsung saja mata yang awalnya sendu itu tiba-tiba membelalak kaget. Airin langsung bangkit.
"Ri'."
Kentara sekali wajah sedih itu dipaksa disembunyikannya rapat-rapat. Meski tau aku sudah mengetahuinya.
"Di dalam gerah banget jadi aku keluar untuk cari angin." dalihnya tanpa kuminta.
Mataku tak bisa lepas dari wajahnya.
"Maskaramu luntur," kataku lirih.
"Oh, benarkah?'' Airin sedikit kebingungan, kurogoh sakuku dan mengeluarkan sebuah sapu tangan kecil. Kusodorkan padanya.
"Aku memang tidak pernah pakai beginian, jadi kurang paham tata caranya. Jadi tadi pas gatal aku langsung kucek mataku. " Perlahan di usapkannya sapu tangan itu pada kelopak matanya.
Aku makin trenyuh.
Sampai kapan kau terus-terusan bersikap baik-baik saja begini, Rin? Kurang beratkah penderitaanmu di dalam tadi?
"Udah, udah, gak apa-apa. Gak usah ditata lagi. Kita pulang saja," kataku akhirnya.
Aku harus mengakhiri lebih cepat penderitaan ini. Kalo tidak, bisa-bisa aku menangis dihadapan cewek ini
"Tapi nanti orang-orang di dalam mencarimu." Airin mencoba menahan tanganku yang hendak menggandengnya.
"Kenapa harus peduli???" geramku tak terkontrol. Nyaris ke status bentakan.
Airin diam. Bungkam. Terpaku di tempat.
Aku mendesah berat.
Sakit. Lagi kurasakan menoreh hatiku.
Maaf, Rin. Maaf.
Hanya dalam hati kata itu mampu kuucapkan. Suaraku tercekat mencekik urat leherku.
"Harusnya kau percaya waktu kubilang aku tak cocok di tempat seperti ini." Suara Airin lebih seperti kalimat judge.
Sekarang kedua tanganku ganti merengkuh pundaknya.
"Rin, gue... " kalimatku terpenggal oleh tatapan matanya yang menghunus tajam ke mataku. Aku tertunduk.
"Maaf."
Bahkan aku mendengar jelas kalo suaraku bergetar hebat. Bahkan hembusan lembut angin malam mampu menggigilkan tulang-tulangku. Bahkan aku tau ini adalah sesuatu yang sangat asing bagiku.
Lalu samar terdengar suara gelak tawa Airin.
"Kau seperti bukan Ari yang selama ini kukenal."
Aku menatap Airin.
Sungguh, mungkin dia memang sudah terlatih dalam hal mengembalikan keadaan yang buruk. Sisa-sisa air mata yang masih mencoba mengoyak maskara itu mewakili kenyataan bahwa yang terjadi di dalam tadi cukup mengagetkannya.
"Maaf."
Lagi, kata itu dengan lancar meluncur dari bibirku.
"Maaf, biasanya sori kan? Kenapa gaya bicaramu berubah kalo di depanku?" tanyanya ringan, jauh dari situasi dimana seseorang habis di bully.
Aku tak mampu memilih kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaannya. Aku diam.
Benar, tempat ini memang tak pantas untuk Airin. Terlalu banyak hal yang bisa membuat hatinya terluka. Harusnya aku tak perlu mengajaknya kesini, apapun alasannya. Apalagi jika alasannya hanya untuk memperkenalkannya pada papa dan keluarga yang lain.
Bodohnya aku.
"Kita pulang saja ya?!" ajakku lembut, menatapnya dengan sinar mata memohon.
Airin tersenyum. Hal yang bahkan dulu tak pernah diperlihatkannya padaku.
Benar kata Marvel minggu lalu, tak ada yang bisa bertahan dengan tingkah-tingkah gilaku. Dan akhirnya Airin pun menyerah. Cewek yang awalnya selalu bersikap galak dan sinis padaku itu perlahan luluh. Bahkan siang tadi setuju saat kubilang akan kuajak ke sebuah acara amal yang diselenggarakan oleh firma milik papaku.
"Gak pa-pa, kau masuk aja lagi, aku bisa sms Marvel untuk jemput aku pulang." kilahnya.
"Emang tadi kesininya dianter Marvel? Gak kan? Jadi kenapa harus nyuruh Marvel anterin pulang?"
"Ya tapi kan didalam... "
"Rin!" sergahku menatap matanya lekat.
Airin menunduk.
"Kita pulang saja, oke? Lagian aku sebenarnya juga gak cocok dengan suasana di dalam. Penuh dengan wajah-wajah bertopeng."
Airin mendongak sedikit. Wajahnya sedikit meringis.
"Kenapa?" tanyaku lebih memperhatikan raut wajahnya yang seperti menahan sakit.
"High heels-nya dilepas gak pa-pa kan? Kakiku sakit, aku gak pernah pake beginian soalnya." Airin seperti mencoba menjabarkan arti raut wajahnya.
Kuperhatikan kakinya, Tumitnya memang sedikit memerah.
"Ya udah lepas aja, ntar pake sepatuku."
Ucapanku disambut tawa sumbangnya. Aku mengernyit tak mengerti.
"Norak ah, masa aku pake sepatumu? Ukuran kaki kita aja jauh beda." Airin melepas high heels-nya.
"Ya udah aku gendong sampai parkiran mobil, sini!" Kali ini kutepuk punggungku perlahan sebagai isyarat bahwa punggungku siap untuk menggendongnya.
Tawa Airin makin sumbang.
"Ini apaan sih, Ri'? Makin norak lagi. Masa iya orang bisa jalan malah digendong? Kaya main gobak sodor aja yang kalah nggendong yang menang. Udah ah, yuk jalan... " celotehnya hendak melangkah.
Aku tersenyum sendiri.
Mungkin, unikmu itulah yang membuatku mencintaimu, Rin.
"Ya udah, sini tak bawain high heels-nya ya!" seruku mengejar langkahnya seraya menyambar high heels yang ditentengnya.
"Gak usah... "
Airin mencoba menolak.
"Airin?" geramku menggertakkan gigiku pelan
"Ari?" Mata Airin melotot membalas panggilanku. Dengan tanpa melepas high heels yang ditentengnya.
"Airin, ngapain disini?"
Suara berwibawa dari dalam mobil yang baru saja lewat itu mengakhiri ritual kami. Sama-sama kaget, sama-sama menoleh ke sumber suara.
Aku memang benar-benar kaget melihat kali kedua wajah pria berwibawa itu. Ari Baskoro.
Mataku sedikit mengekor ke arah Airin. Mungkin saking kagetnya, high heels yang tadi dipertahankannya terlepas begitu saja. Sayangnya aku tak cukup persiapan menggantikan membawa high heels itu hingga akhirnya high heels itu malah terjatuh.
Airin menunduk. Ekspresi wajahnya lebih mirip seorang anak SMP yang ketahuan oleh ayahnya sedang berkencan diam-diam. Bahkan kakinya mundur selangkah.
Pria itu keluar dari mobil. Menatap Airin tetap lekat.
"Ari!"
Lagi, kekagetan menyerangku. Aku menoleh ke arah pintu masuk lobby hotel.
Papa menatapku garang.
"Papa?" desisku spontanitas.
"Papa?" susul pria yang berdiri tak jauh dariku itu seperti kaget.
"Jadi kau ini putra tunggal Hadi Anggoro?" lanjutnya menuntut penjelasan.
"Ari, masuk!" perintah lugas papa ikut menyusul, seperti tiba-tiba pria separuh baya itu sudah ikut menjulang tak jauh dariku.
"Pak Hadi Anggoro?" panggilan itu juga ikut menyusul.
Raut wajah keluarga tunggalku itu seketika berubah.
"Pak Ari Baskoro?"
Dan, akhirnya aku hanya menjadi penonton ekspresi tak percaya dua pria separuh baya itu. Saat pandanganku beralih ke Airin, kulihat ada berbagai rasa mengendapi wajahnya membuat intensitas tanya yang selama ini belum terungkap bertambah.
Rdb, 29.01.2016
Winarind@
Minggu, 03 Januari 2016
Last Cinderella
Ciiiiiittttt....
Suara gesekan antara ban dan kampas rem sepedaku menjadi irama tersendiri seiring kutekan kuat-kuat alat pengerem dibawah stang. Setelah itu mau tak mau kakiku menjajak tanah sedikit terseok. Bahkan hampir saja tubuh depanku menabrak stang sepeda.
Kutatap pelaku utama yang membuatku mengerem mendadak tadi. Sebuah Cevrolet hitam yang mengkilap menghadang sedikit menyerong berada tak lebih dari satu meter di depan ban sepedaku.
"Apa-apaan ini?" desisku setengah jengkel, tapi juga setengah paranoid.
Jangan-jangan dia depkolektor yang kadang nyari-nyari bapak? Mencegatku disini, lalu menculikku. Lalu aku dijual di arena tarfficking seperti yang banyak disiarkan di media, lalu...
Kecamuk bathinku yang terlalu ketakutan langsung berubah heran saat yang keluar dari mobil mewah itu adalah sosok yang kukenal. Meski saat ini penampilannya begitu parlente dengan setelan jas hitam yang melekat pas ditubuh proporsionalnya dengan paduan kemeja abu-abu di dalamnya, tetap saja aku masih bisa mengenalinya dengan baik.
"Ze?" desisku lagi, kali ini sepenuhnya heran.
Ngapain juga tuh anak hadang jalan? Pake mobil siapa pula?
"Ikut aku sebentar In, " katanya segera, bahkan sebelum langkahnya tepat di depanku.
"A-apa?" Aku gelagapan saat tangannya mengisyaratkanku untuk turun dari sepedaku.
Ze setengah menarik tanganku turun dari sepedaku,
"Titipin sepedanya disini dulu," katanya lagi, menaruh sepedaku di depan sebuah stand jus buah di pinggir jalan dekat TKP.
Aku lebih sibuk dengan kebingunganku akan Ze yang secara sepihak menitipkan sepedaku pada pemilik stand jus buah itu dengan jaminan beberapa lembar uang yang kalo tak salah lihat berwarna biru. Terlebih akan kebingunganku akan kedatangan Ze yang dengan penampilan sangat jauh berbeda dari biasanya. Turun dari mobil mewah pula.
Seperti pesakitan, aku setengah digelandang Ze menuju mobil. Pintu mobil sebelahku dibuka, tubuhku setengah didorong masuk ke dalam mobil dengan sebelah tangannya memegangi bagian atas pintu, melindungi kepalaku dari benturan yang mungkin tak sengaja bisa terjadi. Dan aku masih sibuk dengan kebingunganku yang makin lama makin besar seperti bola es yang terus menggelinding. Dengan sigap Ze memutari moncong mobil, masuk dari pintu sebelah kemudi dan dengan sekali gerakan menghidupkan kembali mobil itu. Seakan-akan dia telah begitu khatam dengan barang mewah ini. Bahkan saat mensejajarkan posisi mobil ke arah yang seharusnya pun bisa dengan lihainya dia.
Aku sepenuhnya terbengong menatapnya, nyaris tanpa kedip.
"Kenapa? Kaget ya?" tanyanya, seperti tau kecamuk yang sedang kuhadapi saat ini. Bahkan ada sedikit senyum yang sempat dipamerkannya sebelum fokus kembali pada jalanan di depan yang ramai. Maklum, jam pulang kerja.
Ze, aku mengenalnya sekitar sebulan lalu. Tepat empat hari setelah aku resmi jadi OB di salah satu hotel dan spa yang paling terkenal di kota kecil ini.
Siang itu, di salah satu sudut di atap gedung. Tempat biasa yang aku tuju saat jam makan siang. Tentu saja untuk membuka jatah makan siangku yang akan kumakan setengah, dan setengahnya lagi akan kubawa pulang untuk kujadikan makan malam nanti. Tujuannya jelas agar biaya pengeluaranku bisa lebih kurampingkan. Dan juga, aku bisa melihat hamparan cakrawala yang selalu membuatku iri.
Dan siang itu, saat aku dengan langkah sedikit terburu-buru, aku malah mendapati ada orang lain di atap gedung itu. Hal yang sebelumnya tak pernah terjadi.
"Siapa ya?" tanyaku sedikit ragu.
Dan saat itu, Ze yang berpenampilan kasual, berdiri menempel pagar pembatas langsung menoleh.
"Kamu siapa?'' tanyanya, mengabaikan penuh pertanyaanku yang lebih dulu terlontar.
"Aku karyawan sini, OB. Aku biasa makan siang disini," paparku secepatnya merinci, karena perut dan detikan jam sedang berlomba.
"Kamu siapa?" tanyaku, mengulang lagi pertanyaanku yang pertama.
Ze saat itu malah mendesah, tak langsung menjawab pertanyaanku yang meski sudah kuulang.
"Aaa... karyawan sini juga ya? Bagian apa? Kok gak makan siang? Keburu habis lho ntar jam makan siangnya." cerocosku hampir tanpa jeda.
Ze hanya tersenyum menanggapi semua pertanyaanku.
Itulah awal pertemuanku dengan Ze.
Dan setelah itu, nyaris hampir setiap hari aku menemukannya lebih dulu di atap gedung sebelum aku datang. Pertemuan kedua, akhirnya dengan terpaksa kumakan jatah makan siangku dengannya. Tapi pertemuan selanjutnya Ze membawa sendiri jatah makan siangnya. Dan dengan hamparan cakrawala yang begitu indah dan angkuh, kami selalu menghabiskan setiap suapan kami.
"Kalo tak salah lihat dan tak salah ingat, kau sering membawa buku itu," katanya tak seperti pertanyaan, lebih ke pada bentuk penegasan hal yang sudah diketahui. Sudut matanya mengekor ke arah buku dongeng yang memang selalu kubawa. Setiap ada kesempatan aku memang selalu membaca buku dongeng hadiah dari ayah ketika aku masih kecil dulu.
"Oh, ini?" kataku mengangkat buku dongengku yang berjudul CINDERELLA itu. "Aku memang suka dongeng ini. Kisah gadis miskin upik abu yang kemudian bertemu pangeran kaya raya." lanjutku antusias.
Ze tergelak.
"Tapi aku juga benci," keluhku kemudian langsung menghilangkan gelak tawa Ze tadi.
"Kenapa?"
Kulahap lagi jatah makan siangku yang masih tersisa.
"karena itu cuma dongeng, dan yang namanya dongeng gak akan jadi nyata."
"Kenapa nggak? Gak ada yang gak mungkin kan di dunia ini jika Tuhan berkehendak?"
Kutatap Ze beberapa detik.
"Coba kasih contoh ada gak cerita cinderella di dunia nyata?" tantangku keki.
Ze menghentikan makannya, matanya menerawang ke angkasa seperti berfikir keras.
"Mmm... kisah Tao Ming Tse dan Sancay."
Aku spontan terbahak mendengar jawaban Ze. Bukan soal tokoh yang disebutkan, tapi aneh saja dengar tokoh itu disebutkan oleh seorang cowok. Apa iya Ze ini drama addict?
"Kenapa?" Ze heran melihatku terpingkal tak kunjung usai.
"Pertama, itu bukan tokoh nyata, itu tokoh drama. Kedua, kok kamu tau kedua tokoh itu?"
Ze garuk-garuk kepala sambil nyengir.
"Oke, kalo gitu kisah Barbie Hsu yang dinikahi pengusaha sukses. Itu juga sempat disinggung sebagai kisah nyata cinderella."
"Saat itu Barbie Hsu sudah tenar jadi artis, jadi gak termasuk upik abu dong?" sanggahku tak setuju.
"Siti Nurhaliza yang dinikahi suaminya yang seorang datuk?"
Aku tergelak lagi.
"Nia Ramadhani yang dinikahi Aldi Bakrie?"
Kali ini kupicingkan mataku.
"Kamu ini cowok tapi kok hafal banget entertaiment ya?" selidikku membuat Ze nyengir lagi.
"Gak bisa kasih contoh nyata kan?" lanjutku setengah menodong.
"Kau mau jadi yang pertama?" tanyanya segera.
"Hah?" Aku kaget.
"Jadi cinderalla."
Aku terbahak,
Jangankan yang pertama, untuk jadi yang terakhir pun gak ada pikiran, Ze. Itu kan cuma dongeng. Lagian mana ada sekarang pangeran kaya raya suka sama OB? Kalo pun ada pengeran kaya, sukanya sama cewek-cewek cantik yang pake high heels dan gaun mahal. Yang setiap inchi tubuhnya selalu mendapat perawatan salon dan spa kaya di hotel ini.
Aku mendesah, sekalian menyeret kesadaranku yang sedang terduduk meringkuk di bangku mobil yang dikendarai Ze.
"Kamu bisa jelaskan apa yang terjadi?" pintaku setengah bertanya.
"Ini memang yang akan kulakukan." jawabnya dengan senyum, lalu membelokkan mobilnya ke halaman hotel dan spa tempatku bekerja.
"Kok kesini?" tanyaku heran.
Ze tak menjawab, dia malah buru-buru turun dari mobil dan setengah berlari menuju arah pintu disampingku. Dibukanya pintu itu dan menggandengku turun.
Seorang petugas valet dengan sigap mengurus mobil yang dibawa Ze tadi. Dengan hormat pula.
Benar-benar, keherananku seperti bola salju yang terus menggelinding.
Kuikuti langkah Ze sedikit berlari. Langkah Ze yang lebar memang dua kali dari langkah kakiku, apalagi dengan cengkeraman lima jarinya di pergelangan tanganku. Aku tak bisa berbuat banyak selain mengikuti.
Dan sepanjang perjalanan semua karyawan hotel menunduk hormat. Seakan-akan Ze adalah karyawan yang cukup punya jabatan tinggi disini. Bukan karyawan biasa yang seperti dulu dikatakannya.
"Siapa kamu sebenarnya?" Akhirnya aku tak mampu membendung rasa penasaranku. Kupaksa berhenti langkahku, diikuti langkahnya dan tolehan kepalanya.
"Beri aku penjelasan. Satu kalimat saja!" pintaku kesal.
"Dibalik pintu itu, semua akan lebih jelas." Ze menarikku lagi, melangkah lagi mendekati sebuah pintu besar dengan sebuah plat "Presiden Direktur".
Aku tak sempat tercengang apalagi menolak, langkah Ze terlalu cepat untuk dihentikan. Kami pun masuk ke ruang yang seumur-umur bekerja disini, belum sekalipun menginjakkan kaki ke ruangan petinggi tertinggi di hotel ini. Pemilik hotel mewah ini.
"Aku sudah datang membawanya."
Ucapan Ze begitu datar, seperti ucapan seorang teman kepada teman sejawatnya. Tak ada penekanan hormat apalagi takut. Padahal sosok di balik meja kayu ukiran besar itu adalah dedengkotnya hotel dan spa berlantai 15 ini.
Pak Harun Sudibyo, itulah nama yang kutau sebagai pemilik hotel ini. Dan meski sebulan lebih disini, inilah petama kalinya aku bertatap muka dengan pengusaha sukses dan konglomerat ini.
Senyum tipisnya mengembang seiring tubuh tegapnya yang meski sudah mulai tua itu bangkit dari duduknya.
"Namanya Inka, salah satu OB di hotel ini."
Aku menunduk menghindari tatapan menyelidik mata di depan itu. Meski senyum tipis tak pernah lepas dari bibir itu, tapi tetap saja aku keder.
"Anak muda, aku yakin kamu punya alasan yang kuat kenapa memilih seorang OB untuk kamu kenalkan pada Papa sekarang."
Deg!
Aku spontan mendongak.
"Papa?" Desisku tanpa suara. Kuarahkan mataku perlahan ke wajah Ze.
"Karena sejak kecil, apapun yang kamu pilih sudah masuk dalam daftar alasanmu yang akurat. Meski itu selalu mencengangkan banyak orang, tapi akan selalu bisa Papa terima." ungkap Pak Harun manggut-manggut.
"Yang pasti Papa sangat berterimakasih pada gadis ini yang bisa membawamu kembali kesini, tanpa harus Papa paksa," lanjut beliau sedikit terkekeh, diselingi senyum Ze.
Dan yang pasti, aku seperti orang dungu di sini. Benar-benar tak mengerti arah pembicaraan ayah-anak ini.
Ayah-anak? Untuk satu hal itu saja aku masih belum mengerti dengan akal yang kumiliki. Kenapa tiba-tiba Ze yang kukenal sebagai teman makan siang di atap gedung hotel ini ternyata adalah putra dari presiden direktur hotel ini?
"Papa harus pergi, ada pertemuan pemegang saham dari Cina. Senang bertemu denganmu, Inka. Lain waktu kita ngobrol lebih leluasa lagi." pamit Pak Harun mencoba menatap wajahku yang sengaja kusembunyikan dari pandangannya.
"Kamu, tanggung jawab yang benar karena sudah buat Inka kaget seperti itu. Anak orang ini." lanjut Pak Harun seperti mengomeli Ze, meski dengan nada ringan.
"Iya, iya." sahut Ze sambil menarikku untuk duduk di sofa.
"Siapa kamu sebenarnya?" todongku segera setelah pintu yang membawa Pak Harun itu menghilang dibaliknya.
Ze tersenyum simpul.
"Aku Ze, lengkapnya Zeus."
Zeus? Satu kata itu terlalu familiar ditelingaku selain yang kutau itu adalah nama dewa tertinggi di peradaban Yunani.
Yah, nama hotel ini!
Aku menatap Ze cepat.
"Ya." Satu kata Ze seperti mengungkapkan bahwa dia tau arti dari kekagetanku.
"Nama hotel ini memang diambil dari namaku. Zeus!"
Aku tergelak.
Aku merasa selama ini telah dibodohi oleh teman makan siangku di atap gedung. Atau mungkin, akulah yang memang terlalu bodoh. Ya, mungkin akulah yang memang terlalu bodoh. Bodoh karena menganggap Ze adalah salah satu karyawan di hotel ini. Bodoh karena tak pernah menanyakan siapa nama lengkap Ze. Bodoh karena tak pernah mencari tau siapa itu Ze. Bodoh, bodoh, bodoh...
"Kenapa?" tanya Ze menatapku penuh selidik.
Kenapa? Harusnya aku yang tanya itu. Kenapa tak sejak awal Ze cerita kalo dia itu Zeus, putra dari pemilik hotel dan spa Zeus ini? Kenapa dia malah mengiyakan waktu aku bilang dia adalah salah satu karyawan di hotel ini?
''Sekarang, jangan berfikir untuk jadi yang terakhir, kalo bisa jadi yang pertama. Tapi sekalipun itu pertama atau yang terakhir, tetap tak akan mengubahnya. Cinderella." lanjutnya tersenyum.
Kutarik perlahan genggaman tangannya yang sejak tadi tak sempat kupikirkan.
Jika ini mimpi, kenapa ini terlalu nyata kurasakan? Tapi jika ini nyata, kenapa begitu indah? Bukankah sesuatu yang terlalu indah bisa jadi adalah hal yang tak nyata?
Cinderella? Seorang OB yang bahkan menyisihkan jatah makan siangnya untuk bekal makan malamnya, kemudian duduk dengan seorang putra mahkota konglomerat macam Harun Sudibyo?
"Kenapa aku?" tanyaku menuntut.
Ze mendesah panjang.
"Apa semua hal harus ada alasan?"
"Tentu saja."
"Kamu punya alasan kenapa menyukai sekaligus membenci dongeng cinderalla?"
"Ya."
"Kau juga punya alasan kenapa begitu menyukai menatap hamparan langit."
"Ya."
"Tentang kenapa selalu menyisihkan jatah makan siangmu?"
Aku sedikit tercekat untuk pertanyaan itu.
Ze memang mengetahui tentang aksiku yang sedikit memalukan, tentang sebagian jatah makan siang yang kubungkus dan kubawa pulang untuk jatah makan malamku.
"Ya.'' jawabku hampir tak terdengar.
"Tapi kau tak bisa mendapatkan alasan untuk menerima aku yang mencintaimu tanpa alasan yang jelas?"
"Hah?" sahutku spontan, membuatnya tergelak tepat di depan hidungku.
Apa di dunia ini ada yang tanpa alasan?
Kurasa tak ada.
Suka ataupun benci, tetap ada alasannya. Apalagi ini soal kenapa aku harus jadi cinderella . Dan meskipun itu hanya sebagai last cinderella tetap saja tak bisa tanpa alasan.
Rdb,03.01.2016
Winarinda
Suara gesekan antara ban dan kampas rem sepedaku menjadi irama tersendiri seiring kutekan kuat-kuat alat pengerem dibawah stang. Setelah itu mau tak mau kakiku menjajak tanah sedikit terseok. Bahkan hampir saja tubuh depanku menabrak stang sepeda.
Kutatap pelaku utama yang membuatku mengerem mendadak tadi. Sebuah Cevrolet hitam yang mengkilap menghadang sedikit menyerong berada tak lebih dari satu meter di depan ban sepedaku.
"Apa-apaan ini?" desisku setengah jengkel, tapi juga setengah paranoid.
Jangan-jangan dia depkolektor yang kadang nyari-nyari bapak? Mencegatku disini, lalu menculikku. Lalu aku dijual di arena tarfficking seperti yang banyak disiarkan di media, lalu...
Kecamuk bathinku yang terlalu ketakutan langsung berubah heran saat yang keluar dari mobil mewah itu adalah sosok yang kukenal. Meski saat ini penampilannya begitu parlente dengan setelan jas hitam yang melekat pas ditubuh proporsionalnya dengan paduan kemeja abu-abu di dalamnya, tetap saja aku masih bisa mengenalinya dengan baik.
"Ze?" desisku lagi, kali ini sepenuhnya heran.
Ngapain juga tuh anak hadang jalan? Pake mobil siapa pula?
"Ikut aku sebentar In, " katanya segera, bahkan sebelum langkahnya tepat di depanku.
"A-apa?" Aku gelagapan saat tangannya mengisyaratkanku untuk turun dari sepedaku.
Ze setengah menarik tanganku turun dari sepedaku,
"Titipin sepedanya disini dulu," katanya lagi, menaruh sepedaku di depan sebuah stand jus buah di pinggir jalan dekat TKP.
Aku lebih sibuk dengan kebingunganku akan Ze yang secara sepihak menitipkan sepedaku pada pemilik stand jus buah itu dengan jaminan beberapa lembar uang yang kalo tak salah lihat berwarna biru. Terlebih akan kebingunganku akan kedatangan Ze yang dengan penampilan sangat jauh berbeda dari biasanya. Turun dari mobil mewah pula.
Seperti pesakitan, aku setengah digelandang Ze menuju mobil. Pintu mobil sebelahku dibuka, tubuhku setengah didorong masuk ke dalam mobil dengan sebelah tangannya memegangi bagian atas pintu, melindungi kepalaku dari benturan yang mungkin tak sengaja bisa terjadi. Dan aku masih sibuk dengan kebingunganku yang makin lama makin besar seperti bola es yang terus menggelinding. Dengan sigap Ze memutari moncong mobil, masuk dari pintu sebelah kemudi dan dengan sekali gerakan menghidupkan kembali mobil itu. Seakan-akan dia telah begitu khatam dengan barang mewah ini. Bahkan saat mensejajarkan posisi mobil ke arah yang seharusnya pun bisa dengan lihainya dia.
Aku sepenuhnya terbengong menatapnya, nyaris tanpa kedip.
"Kenapa? Kaget ya?" tanyanya, seperti tau kecamuk yang sedang kuhadapi saat ini. Bahkan ada sedikit senyum yang sempat dipamerkannya sebelum fokus kembali pada jalanan di depan yang ramai. Maklum, jam pulang kerja.
Ze, aku mengenalnya sekitar sebulan lalu. Tepat empat hari setelah aku resmi jadi OB di salah satu hotel dan spa yang paling terkenal di kota kecil ini.
Siang itu, di salah satu sudut di atap gedung. Tempat biasa yang aku tuju saat jam makan siang. Tentu saja untuk membuka jatah makan siangku yang akan kumakan setengah, dan setengahnya lagi akan kubawa pulang untuk kujadikan makan malam nanti. Tujuannya jelas agar biaya pengeluaranku bisa lebih kurampingkan. Dan juga, aku bisa melihat hamparan cakrawala yang selalu membuatku iri.
Dan siang itu, saat aku dengan langkah sedikit terburu-buru, aku malah mendapati ada orang lain di atap gedung itu. Hal yang sebelumnya tak pernah terjadi.
"Siapa ya?" tanyaku sedikit ragu.
Dan saat itu, Ze yang berpenampilan kasual, berdiri menempel pagar pembatas langsung menoleh.
"Kamu siapa?'' tanyanya, mengabaikan penuh pertanyaanku yang lebih dulu terlontar.
"Aku karyawan sini, OB. Aku biasa makan siang disini," paparku secepatnya merinci, karena perut dan detikan jam sedang berlomba.
"Kamu siapa?" tanyaku, mengulang lagi pertanyaanku yang pertama.
Ze saat itu malah mendesah, tak langsung menjawab pertanyaanku yang meski sudah kuulang.
"Aaa... karyawan sini juga ya? Bagian apa? Kok gak makan siang? Keburu habis lho ntar jam makan siangnya." cerocosku hampir tanpa jeda.
Ze hanya tersenyum menanggapi semua pertanyaanku.
Itulah awal pertemuanku dengan Ze.
Dan setelah itu, nyaris hampir setiap hari aku menemukannya lebih dulu di atap gedung sebelum aku datang. Pertemuan kedua, akhirnya dengan terpaksa kumakan jatah makan siangku dengannya. Tapi pertemuan selanjutnya Ze membawa sendiri jatah makan siangnya. Dan dengan hamparan cakrawala yang begitu indah dan angkuh, kami selalu menghabiskan setiap suapan kami.
"Kalo tak salah lihat dan tak salah ingat, kau sering membawa buku itu," katanya tak seperti pertanyaan, lebih ke pada bentuk penegasan hal yang sudah diketahui. Sudut matanya mengekor ke arah buku dongeng yang memang selalu kubawa. Setiap ada kesempatan aku memang selalu membaca buku dongeng hadiah dari ayah ketika aku masih kecil dulu.
"Oh, ini?" kataku mengangkat buku dongengku yang berjudul CINDERELLA itu. "Aku memang suka dongeng ini. Kisah gadis miskin upik abu yang kemudian bertemu pangeran kaya raya." lanjutku antusias.
Ze tergelak.
"Tapi aku juga benci," keluhku kemudian langsung menghilangkan gelak tawa Ze tadi.
"Kenapa?"
Kulahap lagi jatah makan siangku yang masih tersisa.
"karena itu cuma dongeng, dan yang namanya dongeng gak akan jadi nyata."
"Kenapa nggak? Gak ada yang gak mungkin kan di dunia ini jika Tuhan berkehendak?"
Kutatap Ze beberapa detik.
"Coba kasih contoh ada gak cerita cinderella di dunia nyata?" tantangku keki.
Ze menghentikan makannya, matanya menerawang ke angkasa seperti berfikir keras.
"Mmm... kisah Tao Ming Tse dan Sancay."
Aku spontan terbahak mendengar jawaban Ze. Bukan soal tokoh yang disebutkan, tapi aneh saja dengar tokoh itu disebutkan oleh seorang cowok. Apa iya Ze ini drama addict?
"Kenapa?" Ze heran melihatku terpingkal tak kunjung usai.
"Pertama, itu bukan tokoh nyata, itu tokoh drama. Kedua, kok kamu tau kedua tokoh itu?"
Ze garuk-garuk kepala sambil nyengir.
"Oke, kalo gitu kisah Barbie Hsu yang dinikahi pengusaha sukses. Itu juga sempat disinggung sebagai kisah nyata cinderella."
"Saat itu Barbie Hsu sudah tenar jadi artis, jadi gak termasuk upik abu dong?" sanggahku tak setuju.
"Siti Nurhaliza yang dinikahi suaminya yang seorang datuk?"
Aku tergelak lagi.
"Nia Ramadhani yang dinikahi Aldi Bakrie?"
Kali ini kupicingkan mataku.
"Kamu ini cowok tapi kok hafal banget entertaiment ya?" selidikku membuat Ze nyengir lagi.
"Gak bisa kasih contoh nyata kan?" lanjutku setengah menodong.
"Kau mau jadi yang pertama?" tanyanya segera.
"Hah?" Aku kaget.
"Jadi cinderalla."
Aku terbahak,
Jangankan yang pertama, untuk jadi yang terakhir pun gak ada pikiran, Ze. Itu kan cuma dongeng. Lagian mana ada sekarang pangeran kaya raya suka sama OB? Kalo pun ada pengeran kaya, sukanya sama cewek-cewek cantik yang pake high heels dan gaun mahal. Yang setiap inchi tubuhnya selalu mendapat perawatan salon dan spa kaya di hotel ini.
Aku mendesah, sekalian menyeret kesadaranku yang sedang terduduk meringkuk di bangku mobil yang dikendarai Ze.
"Kamu bisa jelaskan apa yang terjadi?" pintaku setengah bertanya.
"Ini memang yang akan kulakukan." jawabnya dengan senyum, lalu membelokkan mobilnya ke halaman hotel dan spa tempatku bekerja.
"Kok kesini?" tanyaku heran.
Ze tak menjawab, dia malah buru-buru turun dari mobil dan setengah berlari menuju arah pintu disampingku. Dibukanya pintu itu dan menggandengku turun.
Seorang petugas valet dengan sigap mengurus mobil yang dibawa Ze tadi. Dengan hormat pula.
Benar-benar, keherananku seperti bola salju yang terus menggelinding.
Kuikuti langkah Ze sedikit berlari. Langkah Ze yang lebar memang dua kali dari langkah kakiku, apalagi dengan cengkeraman lima jarinya di pergelangan tanganku. Aku tak bisa berbuat banyak selain mengikuti.
Dan sepanjang perjalanan semua karyawan hotel menunduk hormat. Seakan-akan Ze adalah karyawan yang cukup punya jabatan tinggi disini. Bukan karyawan biasa yang seperti dulu dikatakannya.
"Siapa kamu sebenarnya?" Akhirnya aku tak mampu membendung rasa penasaranku. Kupaksa berhenti langkahku, diikuti langkahnya dan tolehan kepalanya.
"Beri aku penjelasan. Satu kalimat saja!" pintaku kesal.
"Dibalik pintu itu, semua akan lebih jelas." Ze menarikku lagi, melangkah lagi mendekati sebuah pintu besar dengan sebuah plat "Presiden Direktur".
Aku tak sempat tercengang apalagi menolak, langkah Ze terlalu cepat untuk dihentikan. Kami pun masuk ke ruang yang seumur-umur bekerja disini, belum sekalipun menginjakkan kaki ke ruangan petinggi tertinggi di hotel ini. Pemilik hotel mewah ini.
"Aku sudah datang membawanya."
Ucapan Ze begitu datar, seperti ucapan seorang teman kepada teman sejawatnya. Tak ada penekanan hormat apalagi takut. Padahal sosok di balik meja kayu ukiran besar itu adalah dedengkotnya hotel dan spa berlantai 15 ini.
Pak Harun Sudibyo, itulah nama yang kutau sebagai pemilik hotel ini. Dan meski sebulan lebih disini, inilah petama kalinya aku bertatap muka dengan pengusaha sukses dan konglomerat ini.
Senyum tipisnya mengembang seiring tubuh tegapnya yang meski sudah mulai tua itu bangkit dari duduknya.
"Namanya Inka, salah satu OB di hotel ini."
Aku menunduk menghindari tatapan menyelidik mata di depan itu. Meski senyum tipis tak pernah lepas dari bibir itu, tapi tetap saja aku keder.
"Anak muda, aku yakin kamu punya alasan yang kuat kenapa memilih seorang OB untuk kamu kenalkan pada Papa sekarang."
Deg!
Aku spontan mendongak.
"Papa?" Desisku tanpa suara. Kuarahkan mataku perlahan ke wajah Ze.
"Karena sejak kecil, apapun yang kamu pilih sudah masuk dalam daftar alasanmu yang akurat. Meski itu selalu mencengangkan banyak orang, tapi akan selalu bisa Papa terima." ungkap Pak Harun manggut-manggut.
"Yang pasti Papa sangat berterimakasih pada gadis ini yang bisa membawamu kembali kesini, tanpa harus Papa paksa," lanjut beliau sedikit terkekeh, diselingi senyum Ze.
Dan yang pasti, aku seperti orang dungu di sini. Benar-benar tak mengerti arah pembicaraan ayah-anak ini.
Ayah-anak? Untuk satu hal itu saja aku masih belum mengerti dengan akal yang kumiliki. Kenapa tiba-tiba Ze yang kukenal sebagai teman makan siang di atap gedung hotel ini ternyata adalah putra dari presiden direktur hotel ini?
"Papa harus pergi, ada pertemuan pemegang saham dari Cina. Senang bertemu denganmu, Inka. Lain waktu kita ngobrol lebih leluasa lagi." pamit Pak Harun mencoba menatap wajahku yang sengaja kusembunyikan dari pandangannya.
"Kamu, tanggung jawab yang benar karena sudah buat Inka kaget seperti itu. Anak orang ini." lanjut Pak Harun seperti mengomeli Ze, meski dengan nada ringan.
"Iya, iya." sahut Ze sambil menarikku untuk duduk di sofa.
"Siapa kamu sebenarnya?" todongku segera setelah pintu yang membawa Pak Harun itu menghilang dibaliknya.
Ze tersenyum simpul.
"Aku Ze, lengkapnya Zeus."
Zeus? Satu kata itu terlalu familiar ditelingaku selain yang kutau itu adalah nama dewa tertinggi di peradaban Yunani.
Yah, nama hotel ini!
Aku menatap Ze cepat.
"Ya." Satu kata Ze seperti mengungkapkan bahwa dia tau arti dari kekagetanku.
"Nama hotel ini memang diambil dari namaku. Zeus!"
Aku tergelak.
Aku merasa selama ini telah dibodohi oleh teman makan siangku di atap gedung. Atau mungkin, akulah yang memang terlalu bodoh. Ya, mungkin akulah yang memang terlalu bodoh. Bodoh karena menganggap Ze adalah salah satu karyawan di hotel ini. Bodoh karena tak pernah menanyakan siapa nama lengkap Ze. Bodoh karena tak pernah mencari tau siapa itu Ze. Bodoh, bodoh, bodoh...
"Kenapa?" tanya Ze menatapku penuh selidik.
Kenapa? Harusnya aku yang tanya itu. Kenapa tak sejak awal Ze cerita kalo dia itu Zeus, putra dari pemilik hotel dan spa Zeus ini? Kenapa dia malah mengiyakan waktu aku bilang dia adalah salah satu karyawan di hotel ini?
''Sekarang, jangan berfikir untuk jadi yang terakhir, kalo bisa jadi yang pertama. Tapi sekalipun itu pertama atau yang terakhir, tetap tak akan mengubahnya. Cinderella." lanjutnya tersenyum.
Kutarik perlahan genggaman tangannya yang sejak tadi tak sempat kupikirkan.
Jika ini mimpi, kenapa ini terlalu nyata kurasakan? Tapi jika ini nyata, kenapa begitu indah? Bukankah sesuatu yang terlalu indah bisa jadi adalah hal yang tak nyata?
Cinderella? Seorang OB yang bahkan menyisihkan jatah makan siangnya untuk bekal makan malamnya, kemudian duduk dengan seorang putra mahkota konglomerat macam Harun Sudibyo?
"Kenapa aku?" tanyaku menuntut.
Ze mendesah panjang.
"Apa semua hal harus ada alasan?"
"Tentu saja."
"Kamu punya alasan kenapa menyukai sekaligus membenci dongeng cinderalla?"
"Ya."
"Kau juga punya alasan kenapa begitu menyukai menatap hamparan langit."
"Ya."
"Tentang kenapa selalu menyisihkan jatah makan siangmu?"
Aku sedikit tercekat untuk pertanyaan itu.
Ze memang mengetahui tentang aksiku yang sedikit memalukan, tentang sebagian jatah makan siang yang kubungkus dan kubawa pulang untuk jatah makan malamku.
"Ya.'' jawabku hampir tak terdengar.
"Tapi kau tak bisa mendapatkan alasan untuk menerima aku yang mencintaimu tanpa alasan yang jelas?"
"Hah?" sahutku spontan, membuatnya tergelak tepat di depan hidungku.
Apa di dunia ini ada yang tanpa alasan?
Kurasa tak ada.
Suka ataupun benci, tetap ada alasannya. Apalagi ini soal kenapa aku harus jadi cinderella . Dan meskipun itu hanya sebagai last cinderella tetap saja tak bisa tanpa alasan.
Rdb,03.01.2016
Winarinda
Langganan:
Komentar (Atom)
