Minggu, 31 Juli 2016
Duniaku [Mulai Berubah]
Wajah tampan disebelahku, yang kedua mata indahnya sedang menatapku lekat itu seperti terhipnotis untuk terus menatapku. Mungkin karena uraian 'jampi-jampi' yang baru saja aku lontarkan barusan.
"Jadi kamu sama Kae... " Suaranya mengambang tak jelas.
Owh, haruskah Candra se-shock itu mengetahui aku dan Kae saling kenal, bahkan beberapa kali bertemu?
Kae, dia seorang General Manager sebuah perusahaan real estate salah satu partner bisnis perusahaan milik papanya Candra.
Akhirnya setelah tepat 2 minggu aku menceritakan semua rahasia perasaanku pada Candra. Saking tak kuatnya aku menahan ini semua sendiri. Iya sih, aku memang terlanjur terbiasa apa-apa curhat pada Candra. Kebiasaan sejak kecil yang ternyata sudah menjadi kebutuhan. Mau gimana lagi, memang sudah takdir kami begini.
"Tunggu, tunggu... aku ingat, beberapa kali Kae pernah menyinggung kalo dia ketemu little mermaid. Jangan-jangan yang dimaksud itu kamu, Nai,"
Kini aku yang melongo menatap Candra.
What? Little mermaid?
"Perasaan dari dulu aku sukanya lumba-lumba, kenapa malah dijuluki duyung?" dengusku membuat Candra terkekeh.
"Jadi benar littel mermaid itu kamu?" Candra menuntut kepastian.
"Tanya aja yang bilang gitu, siapa tau little mermaid itu cewek lain?" sungutku tiba-tiba marah. Dan saat kedua bola mata Candra berbinar, aku sadar ada yang salah.
Aku jadi salah tingkah. Dan itu membuat senyum manis Candra mengembang,
"Ciee... yang lagi fall in love."
Sedetik aku tersentak.
Fall in love? Aku? Oh, no. Tapi... kutatap Candra yang masih senyam-senyum memandangiku. Kelihatan sekali ya ekspresi wajah anehku? Pasti Candra puas sekali karena akhirnya aku menghentikan sikap 'biarawati'ku. Aku akhirnya mencoba termakan rayuan gombal seorang laki-laki. Hahaha..., aku saja menertawakan diriku sendiri, apalagi orang lain. Belum lagi, siapa aku? Siapa Kae?
"Ndra, pinjem cermin yang gede dan bening dong! Di rumah cerminnya kecil, burem pula."
Candra mengernyitkan dahi. Bingung lagi nih orang. Tapi iya juga sih, apa hubungannya coba sama aku yang lagi jatuh cinta sama eksekutif muda Kae sama pinjem cermin gede? Haduuhh, emang begini ya reaksi dari penyakit 'fall in love'. Parah.
"Buat apaan?" Akhirnya Candra mengekspresikan keheranannya.
"Buat ngaca!"
Lagi-lagi Candra mengernyitkan dahinya.
"Soalnya aku gak tau diri, masa iya orang kaya aku mimpi pengen deket sama cowok mapan, tampan... " lanjutan kalimatku mengambang, "Deket kamu selama ini aja kalo bukan kita teman sejak kecil aja gak ada pantes-pantesnya. "
"Hei,. hei.. hei!" Mata bagus Candra membulat. Marah. AKu cuma mendesah seraya menghindari tatapan riskan itu.
Bagiku, Candra sudah seperti dewa penolong untuk semua aspek kehidupanku. Terlepas dari aku yang suka 'menggoda' Yunan, pacarnya. Mungkin, tanpa dia aku masih bisa hidup. Tapi andai tak ada dia, hidupku akan sangat susah sejak kecil.
Hidup sangat sederhana hanya dengan ibu yang sebagai OB di kantor milik Om Bayu, papanya Candra, membuatku selalu dekat dengan Candra. Terlebih mamanya Candra, tante Lena adalah teman baik ibu saat sekolah. Jadi sejak kecil, aku lebih sering ada di rumah mewah Candra ketika ibu bekerja. Terlebih mamanya Candra sangat ingin punya anak cewek. Ya, anggap saja aku 'mendompleng' kebahagiaan dari mereka. Sampai kini. Entah sampai kapan. Ironis. Saat aku ingin lebih terhormat, aku sadar kalo selama ini aku seperti benalu. Dan aku kesusahan melepaskan diri.
"Denger, Nai," Candra merangkul pundakku dengan pandangan mata menerawang ke angkasa yang penuh bintang. Aneh, dia ngomong sama aku apa sama bintang sih?
"Saat orang jatuh cinta, dia gak akan punya waktu untuk berfikir dengan siapa dia jatuh cinta. Seperti sang pangeran yang jatuh cinta dengan little mermaid hanya karena mendengar dia bernyanyi dengan suara yang sangat merdu."
Aku mengernyitkan dahi dengan lanjutan kata-kata Candra.
Little mermaid lagi? Kenapa semua suka little mermaid sih?
"Denger juga, Candra sayang, aku gak suka cerita little mermaid, aku juga gak suka jatuh! Little mermaid itu cuma dongeng nina bobo. Dan jatuh itu sakit." timpalku sedikit kesal karena bagian little mermaid yang belum juga hilang.
"Kalo jatuh cinta beda lah, Naida! Berjuta rasanya." Candra nyaris meneriakkan kalimatnya itu tepat ke gendang telingaku.
Nah, itu dia! Berjuta rasanya. Antara rasa senang dan sedihnya campur aduk kaya adonan gado-gado. Sampai gak bisa menterjemahkan apa yang dirasa sebenarnya.
Aku mendesah, kini yang mendongak menatap hamparan bintang-bintang di atas sana. Dan sialnya, ada wajah tampan Kae disana, diantara bintang-bintang itu.
Tuhan, ini benar-benar parah!
"Harusnya waktu itu aku mengabaikan rengekanmu yang memintaku mengantarkan barangmu yang tertinggal." sesalku.
Candra mempererat rangkulannya, "That's Destiny, girl!"
Aku tergelak miris mendengar ucapan Candra kali ini.
Takdir?
Kata itu selalu kubenci sejak dulu. Aku yang ditakdirkan hidup tak seperti anak-anak kebanyakan-tanpa ayah-. Aku yang harus ikut banting tulang saat anak-anak lain sibuk belajar dan bermain. Dan sekarang aku juga masih benci kata itu.
Selama ini aku selalu menghindar karena malas sekali berurusan dengan yang namanya perasaan dengan lawan jenis. Bukannya aku lesbi, bukaaann... aku normal! Aku hanya mencoba tau diri. Aku tak seperti gadis-gadis itu. Aku cukup bahagia dekat dengan seorang cowok bernama Candra. Aku tak berharap dekat dengan cowok manapun. Karena menurutku jaman sekarang penampilan selalu utama. Sampai kemudian siang itu aku bertemu Kaenaru Adinata. Hufftt.. Aku mendesah panjang lagi berat.
Kae itu... Dia berbeda dengan orang-orang lainnya di dalam lift waktu itu-yang acuh dengan aku yang sedikit kewalahan membawa beberapa berkas dalam dus-. Dia dengan tampang SKSD langsung menawarkan diri membawakan dus yang kubawa. Dan karena aku Naida yang tak suka berurusan panjang dengan orang yang tak karib denganku, maka kutolak penawaran itu. Aku bahkan terpaksa keluar dari lift sebelum sampai di lntai tujuan tempat kantor Candra, dan melanjutkan dengan lift lain. Dan saat hendak memasuki ruangan Candra dengan dosis kemarahan setengah porsi, wajah 'penawar bantuan' yang kutolak beberapa menit sebelumnya itu kembali kulihat.
Setelah itu, semua berjalan seperti layaknya drama india. Siapa yang nyana, dalam hati aku juga menyukai alur ceritanya. Meski aku tak nyaman dengan episode selanjutnya.
Aku tergelak aneh, yang membuat Candra langsung memperhatikanku.
"Aku adalah lumba-lumba, Ndra. Aku tau dimana tempatku."
Candra menepuk-nepuk puncak kepalaku pelan, "Selalu ada pertama kali untuk segalanya, Nai. Anggap saja mulai sekarang kamu ber-reinkarnasi jadi little mermaid. Tapi, aku tak akan membiarkan ada tokoh nenek sihir, karena aku akan memberimu kaki, agar bisa ke daratan dan menemui pangeran, "
Aku melongo menatap Candra, dia membalasnya dengan senyum termanis. Tapi kemudian aku tertawa.
"Gombal!" dengusku melempar wajahnya dengan ujung dasinya sendiri, "Kelamaan pacaran sama Yunan, hidupmu jadi lebay," lanjutku melepas rangkulannya dan turun dari atas pagar rumahnya di sisi samping pintu gerbang yang tingginya hampir setinggi badanku.
Kudengar Candra mendengus kesal. Aku tetap berjalan keluar area rumahnya.
"Nai...!"
"Aku pulang dulu, titip salam buat om dan tante!" seruku tanpa menoleh.
"Kenapa gak masuk dulu?" susulnya ikut turun.
Aku membalikkan tubuhku 90 derajat tepat saat sampai di pintu pagar besi yang tingginya hampir 2x tinggiku.
"Salam juga buat Yunan ya... " godaku dengan kerlingan usil, Candra melotot kesal. Aku selalu suka menggoda cowok cakep itu. Aku terkekeh penuh kemenangan
Tapi saat aku membalikkan tubuhku hendak melangkah lagi, sebuah mobil mewah warna hitam berhenti tepat di sebelahku. Menghalangi langkahku. Dan saat seseorang keluar dari dalam mobil itu, aku melongo sedetik. Detik berikutnya aku menoleh ke arah Candra yang masih di tempatnya. Tapi kali ini dengan senyum yang...
"Aku sudah bilang kan, selalu ada pertama kali untuk segalanya," katanya penuh kemenangan.
"Hai, Nai."
Dan demi mendengar suara yang sudah ada tepat di depanku itu, aku mengembalikan posisiku lagi.
Dia, Kae.
Kaenaru Adinata.
Apa benar ini yang disebut TAKDIR?
BYL, 31.07.2016
Gak tau deh, awalnya mau buat sekuel cerita "DUNIAKU" yang aku post tahun 2015-an dulu, tapi malah jadi gaje kaya gini. Hadeeehh...
Langganan:
Komentar (Atom)
