Awal pertemuanku dengan dia saat suatu pagi disebuah kelas 3 Sekolah Dasar. Tahun pelajaran sudah satu semester lebih dan dia datang sebagi murid pindahan.
Pagi itu, kelas yang biasanya berisi 20 siswa menjadi menyusut karena 3 teman absen tak masuk. Tapi saat dia memasuki ruang kelas bersama guru dan seorang wanita berkerudung, aneh, rasanya ruangan jadi bersinar benderang.
"Anak-anak, kita kedatangan murid pindahan," ujar Bu Nani, guru kelas 3. "namanya bagus sekali. Pelangi. Siapa anak-anak?"
"Pelangi... " koor semua penghuni kelas, mengalahkan kekompakan yel-yel suporter di lapangan sepak bola.
Ya, Pelangi. Nama anak cewek yang menurutku sangat pemalu bin penakut itu membuatku tak sendiri disini yang menyandang nama tak biasa. Meski namaku bisa dibilang menjadi pemenang dari deretan nama yang tak biasa. Ada yang bilang itu nama yang istimewa, meski tak sedikit yang mengatakan namaku terlalu tanggung. Hujan.
Hujan. Nama yang menurutku aneh. Aku sebenarnya ingin mengajukan protes, kalo perlu naik banding dengan emakku. Kenapa menamaiku Hujan. Kenapa bukan Rain saja? Kan lebih keren kaya artis korea yang dulu katanya membintangi drama korea Full House. Atau kalo tidak orang-orang akan mengira aku seperti The Rain, grup band yang cukup pepuler dengan lagu hits-nya dengan Endank Soekamti "Terlatih Patah Hati". Lebih keren kan? Bukan malah Hujan, yang kalo orang manggil malah nanggung. Masak Hu? Ada lanjutannya Hua Ce Lei, gitu mending. Kalo dilanjutin paling-paling malah Huha. Emang kepedesen? Atau kalo gak, masak Jan? Kalo yang lagi gondok sama aku bisa dilanjutin Jan*** (maaf, sensor). Kalo yang lagi rese, dijadiin Sarijan. Emang cucunya mbah Marijan rosa-rosa? Ckck.
Sayang, aku gak bisa protes, karena emakku udah meninggal seminggu setelah aku lahir. Mau protes ke pusaranya juga percuma. Malah bisa-bisa aku dikira orang gila teriak-teriak didepan makam.
Balik lagi ke Pelangi. Anak cewek berambut sebahu itu awalnya emang kelihatan seperti pemalu bin penakut. Pas disuruh nulis malah nangis sambil liatin jendela. Bukan karena liat burung kakak tua yang hinggap dijendela, tapi karena emaknya nunggu diluar. Ya, emaknya emang sengaja cuma nenangin dari luar. Alhasil suara tangisnya yang mengalahkan suara melengkingnya Withney Houston langsung pecah memenuhi ruang kelas. Dan emaknya langsung melesat masuk 'bak power Rangers waktu mendapat sirine bahaya.
Waktu itu aku sampe geleng-geleng kepala. Nih anak orang apa anak perangko sih? Maunya kok nempel aja sama emaknya?
Tapi aku juga sempat bersorak, asyiikk... akhirnya tak hanya punya teman nama yang tak biasa, tapi juga teman yang masih susah nangkep pelajaran. Jadi aku bakal ada temannya dianggap lemot. Ya, aku memang punya otak yang pas-pasan. Terlalu pas-pasannya aku sampe gak hafal Pancasila meski sudah kelas 3 SD. Parah kan?
Tapi ternyata aku salah. Diluar label anak penakut dan pemalu, semua yang kudugakan pada Pelangi tak ada yang benar. Dia tidak lemot, bahkan bisa digolongkan murid cerdas. Dia juga suka sekali tersenyum. Senyumnya selalu membuat dadaku dagdigdug. Seperti saat ini.
"Udah paham belum?" tanyamu setelah menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi tentang hukum archimedes.
Aku melongo, lalu menggeleng pelan. Gimana mau paham, kamu nyerocos aku malah sibuk mandangi bibirmu yang gak berhenti barang sedetik. Semua kosakata suara yang terdengar tak satupun masuk ke telingaku, apalagi sempat kupahami.
Pelangi mendesah pasrah. Kedua tanganmu menjambak pelan rambutmu sendiri. Stres mungkin mengajariku.
"Gue dodol banget ya, Ngi?" tanyaku guilty
"Gak sih, cuma emang rada lemot,"
Aku tersenyum getir.
Bukannya sama aja tuh artinya?
"Ngapain sih dulu ambil jurusan IPA kalo otak pas-pasan? Malah nyusahin diri sendiri kan jadinya?" ngedumelmu seperti tak tau lagi gimana caranya untuk membantuku menaikkan nilai raport-ku semester ini.
Aku nyengir. Karena elu, Ngi. Hehehe
"Ya salah sendiri elu masuk IPA." sanggahku akhirnya yang membuat manik mata legammu langsung menancap ke dalam retina mataku.
"Kok gue?" protesmu kaget.
"Ya iyalah, elu kan pelangi, jadi mana ada pelangi kalo gak ada hujan?"
Tak!
Pulpen ditanganmu langsung mendarat sebentar di batok kepalaku. Aku meringis sambil mengusap-usap rambut kepalaku.
"Pabo!"
''Gak usah pake bahasa alien dehhh"
"Itu bahasa korea, dan korea masih ada di dalam peta dunia, belum keluar angkasa."
Aku nyinyir.
Pelangi memang begitu. Katanya dulu, awal-awal aku suka memprotes kalo dia menyelipkan bahasa-bahasa asing yang tak pernah kutau arti dan asalnya, dia selalu ceramah kalo buku dan internet bisa jadi ajang belajar otodidak yang hebat. Daripada aku jadi pemrotes mending jadi pengikut. Dengan ikut belajar otodidak melalui buku dan internet. Huahhh... males lah. Kurang kerjaan amat? Mantengin pelajaran di sekolah aja udah menguras tenaga, masih disuruh tambah buka buku dan internet?
Tapi ya, emang aku memaksakan diri masuk ke jurusan IPA karena Pelangi. Mungkin kedengarannya memang lebay, aku tak bisa jauh dari Pelangi. Mungkin karena sudah terbiasa dekat dengannya. Bayangin, kelas 3 SD sampe kelas 10, selalu bersama, selalu sekelas. Berangkat-pulang bareng, dirumah juga hampir selalu bermain bareng, kecuali kalo aku sibuk dengan kerja sampinganku di bengkelnya Bang Acong. Jadi ya... begitulah, keseharianku sudah terbiasa dengan kehadiran Pelangi. Dia sudah menjadi warna-warna indah di kehidupanku yang cukup kelam setelah kepergian emak dan mengharuskanku tinggal sendiri dengan abangku yang jarak umurnya 18 tahun lebih. Bang Awan.
"Kasih kopi campur sianida aja, Ngi, siapa tau otak ngrempelnya Hujan bisa sedikit encer!"Kalimat provokatif itu langsung membuatku menoleh cepat ke arah si pelaku, Bang Awan, keluargaku satu-satunya. Sayangnya, abangku satu itu terkesan lebih memihak pada Pelangi dalam segala hal.
Pelangi ngakak keras, dan mataku memutar cepat ke arahmu, protes.
"Suka ya aku mati kaya Mirna Salihin?" dengusku jengkel. Kalo dua orang beda umur ini sudah berkonsiprasi, aku tak mungkin bisa mengalahkannya.
''Ya elu sih, malah nyusahin Pelangi mulu. Kalo bidangnya otomotif ngapain belok ke asrama mbah Newton dkk? Sana minta les privat Bang Acong, dijamin dapat acungan jempol tujuh!"
Aku manyun.
"Itu karena gue takut Pelangi kesepian kalo gak gue temenin," Kata-kata itu meluncur begitu saja yang membuat gelak tawa Bang Awan dan Pelangi pecah.
"Elu yang takut Pelangi kesepian atau elunya yang gak bisa jauh dari Pelangi? Hah?" goda Bang Awan sudah menjulang di sebelahku mengacak-acak rambutku yang sedikit gondrong.
Sekilas kulihat pipimu memias.
Lalu Bang Awan duduk diantara kami.
"Oke, gimana kalo setelah lulus nanti Abang nikahin kalian?''
Spontan saja mataku membulat, begitupun matamu.
"Ih, Abang apa-an sih? Norak!" sungutku menahan malu.
Dan abangku itu hanya tertawa ngakak.
"Mending Abang tuh yang mikirin nikah, masa udah 36th lebih masih... " suaraku menghilang seiring tawa abangku yang sudah menjadi orang tua tunggalku itu menghilang.
Aku salah bicara.
Bodoh, bodoh, bodoh.
Aku sudah melukai perasaan orang itu.
Perlahan senyum canggung menghiasi bibir yang tak pernah sekalipun menyentuh rokok itu. Tangannya menepuk bahuku pelan.
"Sebelum Abang bisa menjadikanmu orang, Abang belum memikirkan hal begituan."
Setelah kepergian mama, seminggu setelah kelahiranku, laki-laki inilah yang kemudian mengurusku. Saat itu dia masih kelas 12. Dia bahkan membawaku ke sekolah, menitipkannya ke ibu kantin saat jam pelajaran berlangsung. Mau gimana lagi, saat itu Bang Awan tak punya cukup uang untuk menggaji baby sitter. Untunglah setelah lulus Bang Awan langsung mendapat pekerjaan di tempat Bang Acong, Sampai sekarang.
"Emang selama ini gue bukan orang?'
Tak!
Lagi, ujung pulpen ditangan Pelangi mendarat di batok kepalaku. Aku meringis kesal diiringi tawa lirih Bang Awan.
"Sejak kecil liat tingkah kalian, Abang tuh selalu terhibur."
"Kaya liat Opera Van Java ya, Bang?" celetukmu, entah polos atau memang nglantur. Ditanggapi dengan tawa abangku yang makin keras.
"Udah, udah, perut gue udah mau kram nih. Yang jelas ya dek, elu sepertinya emang kudu pindah jurusan mumpung baru satu semester. Gak usah takut Pelangi ilang cuma karena kalian beda jurusan, lebay amat."
Tuh kan, nyindir juga ujung-ujungnya?
Aku manyun. Tapi kemudian aku mikir, nih cerita kok jadi berantakan gini sih? Kenapa malah jadi nyeritain kisah ngenes hidupku dan Abangku? Lalu soal cewek di sebelah Abangku itu??
"Kalian denger ya, kalian itu seperti emang udah ditakdirkan ketemu. Nama kalian yang unik, itu emang udah menandakan kalian emang udah jodoh."
Kali ini aku yang ngakak keras. Sendirian. Kamu ataupun Abangku melongo.
"Lucu juga gak kenapa bisa ketawa gitu? Ada yang korselt syaraf otakmu ya, Jan? Sono di sambung dulu sama las karbit," selorohmu lagi, membuatku ingin mendaratkan tanganku ke puncak kepalamu, tapi keburu ditahan Bang Awan.
"Tapi habis SMA kayaknya Mama ngajak aku ke Kalimantan, "
Deg!
Mataku seketika lekat melihatmu yang baru saja mengucapkan sebuah kalimat yang menurutku lebih mengerikan dari putusan hakim pada tersangka narkoba kelas kakap yang menyatakan akan dihukum mati.
"Kalimantan?" tanya Bang Awan lebih dulu menguasai keadaan. Kamu mengangguk pelan.
"Mama punya teman yang bekerja di tambang minyak disana, katanya disana bisa kuliah sambil kerja. Mama disana juga bisa mengembangkan usaha kerajinan rotannya. Jadi... "
Aku tergelak.
Tiba-tiba, dan aku nyaris tak menyadari apalagi mengerti arti gelak tawaku yang hanya secuil itu.
Ya, mungkin memang seperti hakikat pelangi, datang cuma sebentar dan akan pergi saat semua semakin jelas. Jelas disini adalah jelasnya perasaanku yang ternyata takut jauh darimu.
Gak adil banget kan? Ketika aku merasa sangat takut jauh darimu, sangat yakin tak mampu hidup baik tanpa dirimu, kamu malah mengultimatuman sesuatu yang berbeda.
Dan seperti cerita ini, kisah ini pun menggantung. Entah kapan berakhir atau sekedar berlanjut.
Byl, 18.04.2016
22:07
Tau gak dari mana idenya? Pas nganterin Arin sekolah ada temannya yang dipanggil bu guru, kirain namanya Hujan, ee... ternyata salah denger karena ternyata namanya Wildan, hahaha
