Sabtu, 16 Mei 2015

DONGENG IBU PERI

               Alunan music Avril Lavigne dengan 'Smile'-nya  baru saja kumatikan. Ada sekitar 10 anak didikku yang berdiri dihadapanku masih terengah-engah dengan peluh cukup membanjiri tubuh mereka, tak beda dengan keadaanku. Kuraih handuk kecilku seraya melirik  sedikit ke arah sudut ruangan ditangga masuk ruangan ini. Sejak masih dipertengahan lagu tadi sebenarnya sudah kusadari kedatangan cowok tinggi tegap dengan paras menawan nan cool itu. Bahkan tak kuindahkan meski beberapa anak didikku sampai terpecah konsentrasinya.
" Oke, kita break dulu ya..." Ujarku meraih botol air mineral dan meneguk isinya sedikit.
Lalu barisan anak didikku bubar. Kubalikkan tubuhku mendapati sosok yang kukenal bernama Yuki itu menatapku dengan sinar sedikit menjengahkan. Kudekati dengan langkah berat.
" Ada apa?" Tanyaku meneguk lagi isi botol air mineralku, lalu duduk di anak tangga masuk gedung sekolah koreografi ini.
        Yuki, dia salah satu kenalanku dan juga pernah menjadi semacam anak didikku saat aku masih bekerja di 'PRIME' sebuah rumah produksi yang membesarkan namaku sebagai penata koreografi beberapa boyband dan artis popstar. 
" Apa itu benar?" Tanyanya seperti menahan marah.
Aku hanya berdehem pendek seraya meneguk lagi air mineralku dan mengelap peluh dileherku.
'' Jadi benar dia memecatmu? Apa itu rasional?" Nada suaranya meninggi.
" Bisa pelankan suaramu?" Geramku mendongak menatapnya protes.
Kentara sekali Yuki mendesah mengontrol emosinya. Dia lalu ikut duduk disebelahku.
" Apa dia lupa kalo sejak awal kau yang mengantarkan kami ke puncak karier hingga jadi bintang boyband seperti sekarang ini?"
Kutatap Yuki protes.
" Apa tujuanmu kesini? Mencari kebenaran itu atau berusaha menghiburku?" Tanyaku sinis.
" Dua-duanya." 
Aku tergelak.
" Kau marah padanya tapi melampiaskannya padaku?" Tanyanya 
" Tidak."
" Lalu?"
" Tidak ada."
" Apa karena aku tak bisa mencegah pemecatanmu?"
" Itu bukan salahmu. Aku hanya karyawan, kau hanya anggota, dan dia adalah leader grup."
Yuki menatapku sedih.
          Yuki adalah salah satu anggota boyband yang dikepalai oleh Genta. Boyband yang saat ini sedang booming dan meroket karena perpaduan lagu dan koreografi yang mengesankan. Aku terbilang sudah seperti ibu pengasuh untuk semua para personil boyband itu, bahkan diam-diam aku dan Genta mulai merajut hubungan. Mungkin itulah kesalahan terbesarku, mencampur urusan pribadi pada pekerjaanku.
" Genta memang banyak berubah sejak kita booming, tapi aku tak menyangka dia sampai tega memecatmu. Dia benar-benar...." Yuki tak melanjutkan ucapannya.
Aku mendesah panjang.
" Kau pernah dengar dongeng cinderella kan?" Tanyaku tanpa menatapnya. Yuki hanya berdehem pendek.
" Dalam dongeng itu yang terkenal adalah cinderella dan pangerannya. Apa kau tau bahwa peran ibu peri memang tak pernah menonjol bahkan diakhir cerita tetap menjadi tokoh yang terlupakan? Padahal ibu peri-lah yang mendandani cinderella menjadi cantik, memberinya sepatu kaca juga mengantarkan cinderella ke pesta dengan kereta kuda"
Yuki menatapku tanpa kedip.
" Jadi kau sudah tau bahwa kau memang akan terlupakan disetiap akhir kisah cinderella?" Tanyanya masih menatapku tanpa kedip.
Aku mengulum senyum
" Semacam itulah."
 Tak kusangka Yuki tergelak menanggapi ceritaku. Apa cerita ibu peri yang terlupakan memang terkesan lucu dimata mereka?
" Itulah yang tak pernah kupahami dari dirimu. Kau bertingkah seperti malaikat. Apa kau tak tau kalo bertingkah seperti malaikat itu menyakitkan?" Desis Yuki 
Aku mendelik " Aku tak mengerti yang kau bicarakan."
       Yuki, di grupnya yang beranggotakan 4 orang, dialah yang paling terkesan sederhana dan pasif. Dia lebih banyak diam dan menurut. Dia seperti hanya melakukan yang sudah ditetapkan apa yang harus dikerjakannya. Aku tak cukup memahaminya dibanding Hans dan Joe, dua personil lainnya, dan tentu saja aku sangat mengenal Genta, leader grup band itu.
" Apa hubungan kalian selama ini juga hanya sebuah dongeng sebelum tidur yang akan berakhir jika anak-anak sudah terlelap? Apa kau juga sudah tau kalo hubungan kalian akan berakhir begini? Kau terlupakan dan tercampakkan?" Nada suara Yuki begitu menderu.
" Apa kau pikir di dunia ini ada wanita yang akan memulai percintaan setelah mengetahui akhirnya seperti apa? Tidak Ki, itulah mengapa hubungan kami tak akan bisa diperbaiki. Aku juga sadar akulah yang salah, mencampur perasaan dengan pekerjaan. Aku yang salah, itulah kenapa aku siap menerima ini semua."
" Apa kau tak merasa ini tak adil bagimu?" Desis Yuki lagi.
Aku tersenyum apatis.
" Diperlakukan tak adil, tidak dianggap, dicampakkan, dilupakan, aku sudah terbiasa dengan hal-hal semacam itu sejak kecil, jadi tenang saja, aku tak masalah menerimanya lagi sebagai alasan keluar dari PRIME." Jawabku masih dengan sisa senyum.
      Tapi tidak Yuki, dia menatapku dengan pandangan nanar seolah mewakili luka hatiku yang mampu kusembunyikan rapat diruang terdalam di hatiku. Ya, memang bohong namanya jika aku tak terluka Genta mencampakkanku bahkan tanpa perundingan dengan anggota lain. Alasan pribadi yang memang terkesan konyol itu membuatku menyerah dan memutuskan langsung angkat kaki saat Genta mengusirku.
" Aku punya penata koreografi yang lebih bagus lagi agar performa kami tetap terjaga." Ucap Genta waktu itu, saat aku menemuinya di kantor yang sudah sepi.
" Kenapa memakai alasan konyol? Bukannya karena anak produser itu?" Tanyaku dengan suara sedikit bergetar.
Genta menunduk sebentar.
" Ok, ya, karena itu juga. Tapi produser itu telah menyiapkan penata koreografi sendiri, tentunya yang lebih handal di bidangnya."
Aku tersenyum kecut.
" Ya, benar, memang sudah waktunya kau berpijak pada batu loncatan yang lain." Kataku kemudian, lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan itu dengan menahan tangis.
Aku tergelak mengingat kejadian yang masih sering melintas di otakku itu. 
" Aku takut kau benar-benar terluka karena sikap Genta." Cemas Yuki lirih.
Kupicingkan mataku.
" Yang aku tau kebencian dari orang yang sangat terluka itu sangat menakutkan. Ketika cinta hancur menjadi benci, semua hal buruk bisa saja terjadi. Semua penuntut balas di dunia ini adalah orang yang terluka."
" Hei.....!" Protesku mengangkat daguku tinggi.
" Kau pikir aku psikopat? Aku kan sudah bilang kalo aku ini adalah ibu peri. Yang akan selalu tersenyum saat tokoh utama berakhir bahagia. Tak apa aku terlupakan, tapi paling tidak aku bisa tersenyum bangga, bahwa akulah yang membuat  tokoh utama menjadi sangat indah saat menjemput impiannya." Kataku seantusias mungkin.
Yuki menyeringai.
" Sampai akhirpun kau masih membodohiku. Ternyata selain koreografi kau juga pandai berakting." Dengus Yuki kesal seraya bangkit.
" Aku pulang."
Aku tergelak.
" Hei, kau tadi bilang kesini mau menghiburku kan? Apa itu yang disebut menghibur? Tampangmu sangat masam." Kataku dengan rentetan tawa.
" Aku sangat manis kenapa kau malah menyebutku masam? Kau tak lihat sejak tadi anak-anak didikmu memperhatikanku?" Kekesalan Yuki masih berlanjut, langkahnya menuju pintu keluar.
Tawaku makin keras. Sebelum tubunya tenggelam dibalik pintu Yuki menatapku lagi, kali ini dengan senyum manis. Kubalas dengan senyum manis pula. Lalu tubuh itu menghilang. Aku mendesah seiring senyumku juga ikut menghilang.
        Ya, sejak awal peranku hanya sebagai ibu peri. Yang hanya berakting sejenak menolong cinderella agar bisa pergi ke pesta sang pangeran untuk menjemput impiannya. Yang sudah pasti akan terlupakan di akhir cerita. Tapi meskipun selalu terlupakan, bukan ibu peri namanya jika tak bisa tetap tersenyum melihat cinderella berakhir bahagia dengan pangeran impiannya.