Jumat, 28 November 2014

BUKAN TENTANG DIA

             Kuseruput lemon tea didepanku sedikit. Rasa asamnya yang berbalut manis langsung menyeruak memenuhi rongga kerongkonganku. Hampir serupa dengan semua ulasan Tarinda tadi pagi, yang langsung meracuni seluruh relung hatiku.
" Kau benar tak mau pesan spagetti disini? Spagettinya mantap lho, spagetti ditempat mas Fajar kalah jauh. " Cerocos Ersan.
Aku menggeleng pelan sambil menyeruput lagi lemon tea ku, dengan perasaan yang masih campur aduk. Wajah Tarinda masih berlalu lalang di otakku.
" 2 tahun lebih kami pacaran. Ersan tau semua kesukaanku, lemon tea, spagetti, Padi,.."
Selebihnya kata-kata Tarinda seperti mengambang tak jelas kudengar. 
Yang buat aku heran kenapa semua kesukaan Tarinda sama persis dengan kesukaanku. Siapa itu Tarinda, bahkan aku baru kenal namanya 10 menit yang lalu saat dia mendatangi tempatku duduk dibangku taman ini. Yang mengaku mantan pacar Ersan.
Aku tergelak mengingat kejadian itu. Ternyata selama ini aku memang terlalu naif pada Ersan, blesteran jawa-sunda itu yang 2 bulan ini memang terlalu dekat denganku. Padahal kami bersama hanya karena pekerjaan yang harus kami selesaikan.
" Kau kenapa sih Di?" Tanya Ersan mulai risi dengan sikapku yang lebih banyak diam.
Kutatap Ersan sebentar, lalu pura-pura lebih sibuk mengaduk-aduk lemon tea.
" Aneh tau, biasanya cerewet banget, tapi ini malah.."
" Tadi pagi aku ketemu Tarinda." Selaku dingin, menghentikan ucapan Ersan. Aku mendongak dan menemukan Ersan menatapku lekat dengan sinar yang menurutku begitu aneh.
" Kenapa gak balikan lagi dengan dia?" Tanyaku sedikit menahan nafas.
" Gak." Jawab Ersan acuh,
" Kenapa?"
" Penting ya untuk aku jawab?" Intonasi Ersan jadi sedikit naik,
" Gak juga sih, cuma Tarinda kan cantik, putih, baik, sopan, dan yang pasti dia sudah mengenalmu dengan baik." Lanjutku, kali ini sedikit menahan sesak dadaku.
" Trus kenapa?" Sungut Ersan.
" Dulu, saking ngefansnya aku sama band Padi, Tiap Padi konser Ersan sampai bela-belain mengajukan diri meliput. Biar dapat foto eksklusif untuk aku." Kenang Tarinda
Trus, apa kaitannya denganku coba? Itu kan masa lalu kalian. Dengusku membathin jengkel.
" Ohya?" Tanggapku sedikit malas,
" Bahkan kalo bisa Ersan selalu mencari kesempatan emas agar mereka mau foto denganku." Tarinda tetap antusias bercerita. " Ersan memang yang peling mengerti aku"
Kulirik sedikit ke arah raut muka Tarinda yang cukup berubah drastis.
" Kenapa kalian berpisah?" Tanyaku datar,
Dan ekspresi yang ditunjukkkan Ersan sangat berbeda dengan raut muka Tarinda tadi pagi.
" Apa itu penting untuk kau tau?" Desis Ersan ketus.
Kuhindari tatapan geram yang tak kusukai  itu
" Tidak juga, aku hanya heran saja. Kalau kalian putus karena kau tak mencintainya lagi. Tak mungkin kau meratapinya setahun lebih."
" Hei..." Sergah Ersan
" Dan..." Kuangkat tanganku mencegahnya bicara " Kalo Tarinda yang tak mencintaimu lagi, kenapa juga dia masih mengingat semua kenangan kalian."
Ersan menatap lekat ke arahku, membuatku tiba-tiba rikuh.
" Percintaan tak segampang itu Di. Kau tak akan mengerti."
Aku tergelak.
" Aku ingin kembali pada Ersan."
Statemen lugas tadi pagi itu benar-benar seperti asamnya rasa lemon tanpa campuran gula.
" Aku sadar aku pernah mengecewakannya karena meninggalkannya disini demi karierku, tapi kemudian aku sadar bahwa aku salah, karena tak ada yang bisa mengerti aku sebaik Ersan."
Dan curahan hati Tarinda tadi pagi menyadarkanku bahwa mungkin selama ini aku terlalu naif pada semua sikap Ersan. Mungkin saja dia melihat sosok tarinda dalam kesukaanku. Bodohnya aku.
Tapi.....Kenapa Ersan seperti tak suka dengan kepulangan Tarinda? Apa karena aku?
Heiii.....???! Hardikku, dan itu membuatku spontan tergelak bodoh.
Aku siap-siap beranjak.
" Kau mau kemana? Kau marah dengan sikapku tadi?" Berondong Ersan seperti usaha mencegahku pergi.
Aku diam sebentar, lalu mendesah meletakkan tasku lagi.
" Dengar Er, aku masih tak  mengerti alasan Tarinda menemuiku. Dia cerita semua kenangan kalian, dan dia juga katakan padaku tentang niat dia yang ingin kembali padamu. Dan aku tak peduli itu semua." Geramku, 
Ersan menatapku lekat, dengan sinar yang tak bisa kuterka mengartikan apa.
" Aku hanya tak suka aku dilibatkan dalam masalah kalian. Aku malah sadar satu hal, kalo aku ini hanya kau jadikan bayang-bayang Tarinda karena kesukaan kami yang sama" Lanjutku makin geram.
" Dian, aku...." Susul Ersan, tapi kemudian suaranya menghilang begitu saja.
Aku merasa ada perasaan aneh yang ingin diungkapkan Ersan, sangat aneh. Bahkan aku tak mengenali namanya.
" Aku tak mungkin lagi bersama Tarinda." Lanjut Ersan sedikit lirih sedikit menunduk.
2 bulan dekat dengan Ersan ternyata tak cukup membuatku mengerti jalan pikirannya, meski  hanya sedikit saja. Ersan memang pribadi yang misterius, tak banyak bicara. Tapi aku tak menyangka banyak sisi hatinya yang tak terjamah oleh orang lain.
" Er, aku tak pernah ingin jadi orang ketiga diantara kalian. Aku hanya orang baru yang tak sengaja lewat dalam kehidupanmu. Aku tak pernah sengaja punya kesukaan yang sama persis dengan Tarinda. Aku..."
" Dian, ini bukan tentang dia." Sergah Ersan dengan intonasi yang tinggi.
Mataku pun lekat menghujam pandangannya yang juga menatapku lekat. Menyiratkan ketidaksukaannya, entah pada apa.
" Aku juga tak pernah berharap kau punya kesukaan yang sama dengan dia. Awalnya aku juga tak bisa terima itu. Tapi percayalah, semua ini bukan tentang dia. Aku merasa nyaman dekat denganmu juga bukan karena kau juga menyukai lemon tea. spagetti, bahkan juga bukan karena kau fans Padi. Bukan, Di." Aku Ersan dengan suara tertahan.
Aku tergelak sedikit tak percaya, karena selama ini seperti dipermainkan kehidupan.
" Di...Kau tau kan makna dari namamu?"
Aku mengerutkan dahi.
" Dian artinya cahaya, lentera, dan kau, kehadiranmu seperti cahaya untuk duniaku. Aku memang terpuruk dengan kepergian Tarinda dulu. Dan memang terlalu lama meratapi semuanya di sudut duniaku yang gelap. Tapi sapaanmu 2 bulan lalu itu menyadarkanku bahwa kebahagiaanku tidak hanya pada Tarinda. Apa aku salah?" Lanjut Ersan membuatku terbengong tak bisa berfikir.
" Apa ini tidak terlalu naif?" Tanyaku akhirnya
Ersan tak menjawab, hanya mendesah panjang.
" Tarinda meninggalkanku karena ingin menjadi model terkenal di ibu kota. Dia bahkan tak peduli perasaanku waktu itu. Dia hanya peduli kebahagiaannya saat mendapat kesempatan itu. Baginya cinta hanya selingan, tak begitu penting. Apa aku harus menerima lagi orang yang  sudah meninggalkanku? Yang menganggapku tak begitu penting?" 
" Lalu kenapa aku? Apa karena kami punya banyak kesamaan?"
" Tidak."
" Lalu?"
" Apa itu penting?"
" Cukup penting, paling tidak bagiku. Karena aku tak mau dianggap seperti bayang-bayang Tarinda."
" Harus berapa kali lagi kubilang, ini bukan tentang dia, Di!"
Aku diam. Menikmati sisa kemarahan Ersan yang tadi sempat membuyar.
" Kenapa begitu banyak hal yang kau sembunyikan dalam hidupmu, Er? Kenapa banyak sudut dalam kehidupanmu yang begitu tak terjamah orang lain? Aku bahkan lebih bisa memahami Tarinda yang baru kukenal tadi pagi daripada kau yang sudah 2 bulan akrab." Keluhku kesal
" Kadang ada beberapa hal yang tak perlu dijelaskan dengan kata-kata yang jelas. Karena semua bisa diperjelas seiring berjalannya waktu. Untuk saat ini kau hanya cukup tau, kau jauh lebih berarti untuk hidupku daripada Tarinda. Dia hanya masa lalu, dan kau, aku ingin kau jadi masa depanku."
Tak sadar aku tersenyum mendengar penuturan Ersan barusan.
'' Tak apa kan kalo masa depan yang akan kita tuju belum begitu jelas?'' Tanyanya seperti takut sebuah keraguan.
Aku nyaris tersenyum setuju, sebelum kemudian wajah cantik Tarinda melintas.
" Lalu Tarinda?" Tanyaku membuat raut muka Ersan sedikit memburam.
" Dia yang memutuskan meninggalkanku , aku tak punya kewajiban memikirkan bagaimana dia selanjutnya."
" Kau kejam sekali."
" Apanya yang kejam?" Ersan tak mengerti dengan tuduhanku.
" Tak peduli Tarinda."
Ersan tergelak, 
" Aku bukan Tuhan yang harus selalu peduli perasaan semua orang. Aku juga punya kehidupan yang tak mungkin dipikirkan orang lain. Hidup itu memang penuh keegoisan Di."
Aku termangu lagi. Tapi kali ini lebih lama. Banyak hal yang tak kumengerti dari Ersan.
" Er, aku..." Kutata hatiku sejenak " Aku tak bisa." Lanjutku bangkit.
Ersan sontak kaget.
" Maaf, tapi kau sendiri kan yang bilang, percintaan tak segampang itu. Aku tak mempermasalahkan masa depan yang akan kita tuju belum jelas, karena memang tak ada yang tau apa yang akan terjadi nanti. Tapi aku justru takut tak bisa memahamimu sampai kapanpun.''
Sepi beberapa detik, mungkin Ersan sedang menggerutu dalam hati.
" Tarinda yang merasa sangat memahami dirimu pun akhirnya menyerah, meski dengan jalan yang terpilih. Yang tak bisa kau terima. Sedang aku, sedikitpun aku tak bisa memahamimu Er. Aku tak mau memaksakan diriku mencoba memahami banyak sisi hidupmu yang kau rahasiakan, karena aku tau pada akhirnya aku pun pasti menyerah seperti Tarinda. Aku ataupun Tarinda, bukan orang yang kau percaya boleh memasuki duniamu yang sangat istimewa itu Er."
Ersan tergelak sinis
" Ini tidak adil Di. "
" Maksudmu aku kejam?" Ralatku,
" Bukan maksudku membuat karma untukmu Er. Tidak, itu bukan hakku, karena aku hanya manusia bukan Tuhan. Aku hanya tak punya kewajiban memikirkan perasaan orang lain sememntara aku mengorbankan perasaanku. Bukankah hidup itu penuh dengan keegoisan?"
Bungkam, Ersan tak menanggapi semua 'ceramahku'.
Aku perlahan beringsut meninggalkan tempat itu tanpa berkata lagi pada Ersan yang seperti sibuk menelaah semua kata-kataku.
Mungkin aku memang terlalu kejam, tapi kadang memang ada beberapa hal yang tak perlu penjelasan karena seiring waktu berjalan akan menjadi jelas dengan sendirinya. Tapi yang pasti aku menolak Ersan bukan karena kedatangan Tarinda. Kedatangan cewek cantik itu hanya sesuatu yang memperjelas alasanku. Seperti halnya lemon tea, asam yang bercampur manis, manis yang terbalut asam. Mungkin begitulah sebenarnya jabaran dari percintaan.